
Satu tahun kemudian
Mercia sebagai putri keluarga kerajaan sudah seharusnya bertunangan dengan seorang pria dari kerajaan lainnya. Kevin sebagai wali baru dari Mercia, ingin Mercia mendapatkan seorang pria yang layak.
Mercia selalu menolak semua ajakan para pria yang sudah di atur oleh kevin. Kevin yang merasa sudah seharusnya membuat acara kencan buta untuk Mercia. Tetapi Mercia selalu menolak semua pria kencan buta nya.
Ruangan kevin
"Eve!Apa kau ingin jadi perawan tua! Lihatlah temanmu yang lainnya sudah bertunangan dengan pangeran mahkota enam kerajaan besar. Sedangkan kau? Hah... sudahlah bisa - bisa aku darah tinggi karena kau, " Kesal Kevin yang menghawatirkan masa depan adik kesayangannya.
"Oh! apa kau sudah selesai? Kalau sudah aku mau pergi dulu yah... bye, " Ucap selamat tinggal Mercia dan langsung pergi dengan ekspresi datar.
"Yang mulia. Lebih baik anda biarkanlah dulu masalah pria. Apakah anda tidak tau putri Mary dan Putri Hyerin bertunangan dengan rasa cinta bukan rasa menginginkan derajat tinggi, " Ucap seorang asisten Kevin. Oh iya, asisten kevin adalah seorang penyihir hebat yang menyelamatkan Mercia saat melawan Juuri. Pria berjubah hitam.
"Jika yang mulia berkenan saya akan mengajukan pendapat untuk mengundang seseorang kecan buta dengan putri secara diam - diam. Alasannya adalah pertemuan yang tidak bisa anda hadiri karena sibuk dan putri Mercia menghadiri pertemuan itu untuk anda. Putri pasti akan menurutinya. "
***
Dengan rasa kesal Mercia mengoceh tidak jelas di dalam kamarnya sambil memainkan game terbaru. Semenjak kevin menjadi raja baru Norea, enam kerajaan besar sudah menjadi lebih modern dan canggih.
Norea sekarang sedang dalam puncak teknologi, dan juga atas bantuan asisten kevin bernama Akito. Akito adalah seorang pria dari masa depan, hampir sama dengan Mercia. Bedanya Akito adalah penyihir yang berasal dari masa depan secara langsung. Sedangkan Mercia hanya jiwanya yang berpindah dimensi.
***
"Apa - apaan si Kevin itu. Apa karena sekarang dia merupakan raja perdamaian Norea jadi suka memerintah! " Kesal Mercia sambil meminum secangkir teh.
"Ciachi!? Ada misi baru untuk kita, " Teriak Mary yang tiba - tiba membuka pintu dengan keras.
"Puft... Uhuk! uhuk! Mary apa kau tidak bisa tenang sedikit, " Ucap Mercia yang tersedak karena teriakan Mary.
"Ah... maaf, maaf. Ciachi tim kita di panggil ke ruang ketua, " Jelas Mary meminta maaf kepada Mercia.
***
Mercia langsung mengambil rompi putihnya dan langsung pergi keluar menuju Lagend academy.
Sesampainya di kantor ketua academy. Mercia yang baru saja sampai di depan kantor ketua academy langsung menendang pintu tanpa ragu.
" lYo! Ada apa kau memanggil kami, hm? " Sapa Mercia dengan kasar kepada Raiya.
"Mercia! Apa kau tidak bisa memperlihatkan sopan santun... " Kata Raiya yang terpotong.
"Cantik.... " Gumam seorang gadis muda di hadapan Mercia.
Raiya yang tadinya mencemaskan sikap buruk Mercia yang akan mempengaruhi junior di hadapannya itu. Raiya langsung terdiam tanpa kata - kata. Karena semua murid academy yang mendaftar tidak ada yang normal.
Raiya memberikan misi ringan untuk tim 12. Misi itu adalah mengawasi para junior mengelilingi academy.
"Maaf, tapi aku harus ada yang kulakukan. Aku harus menggantikan kevin menemui seseorang, " Jawab Mercia menolak.
"Oh... baiklah. Mary, Hyerin kalian urus para junior berdua, " Perintah Raiya.
***
Di tempat pertemuan. Terlihat Mercia yang sedang menunggu seseorang sembari meminum teh melati. Teh melati adalah teh yang paling di sukai Mercia. Mercia yang merasa kesal karena terus - terusan menunggu dan tak ada tanda seseorang datang.
"Hm? Ku pikir kau tidak mungkin akan perawan tua. Karena banyak laki - laki yang suka padamu, " Bisik Karvein yang tiba - tiba muncul.
Mercia yang sedang mengeluh panjang lebar itu. Terkejut dan menumpahkan cangkir teh secara tak sengaja. Mercia mendengar bisikan dari karvein di telinganya, terlihat merona.
"Jangan berbisik di telingaku, " Ucap Mercia merona.
"Ternyata kau sangat sensitif yah, " Kata Karvein dengan penuh rasa ingin menggoda.
Karvein langsung duduk di depan kursi Mercia sambil menatapnya.
"Sedang apa kau di sini. Aku tidak ada waktu untuk meladenimu. Hush.. hush.. " Ucap Mercia mengusir Karvein pergi.
"Hm? Kenapa aku harus pergi? Bukankah kau akan kencan denganku sepanjang hari? " Tanya Karvein sambil memiringkan kepalanya.
Mercia dengan terpaksa kencan seharian dengan Karvein. Karvein terlihat sangat senang karena bersama dengan Mercia seharian. Tanpa misi, tanpa penghalang. Berjalan berduaan dengan perempuan yang di sukainya terasa seperti sudah bersama.
Mercia hanya melihat karvein yang tersenyum sendiri tanpa alasan. Langsung menanggapi bahwa karvein itu aneh.
"Ada apa dengannya. Apa dia aneh, tapi aku tidak tau kalau dia itu sangat aneh. Yah biarkan saja hanya sehari. Sehari bersamanya bukanlah... apa - apa... Mungkin. " Gumam Mercia dalam hatinya yang merasa ragu bersama dengan karvein seharian.
Karvein melihat Mercia yang hanya melamun, dan berpikir apakah Mercia tidak senang berjalan bersama dengannya.
"Mercia, apa kau mau ikut denganku ke suatu tempat? " Tanya Karvein kepada Mercia dengan penuh harapan.
Mercia yang melihat Karvein memohon seperti anak anjing yang manis. Langsung menerimanya tanpa sadar.
Sesampainya di tujuan. Mercia terkejut ternyata ada tempat sebagus ini di belakang tanaman rambat. Rumput hijau yang luas, bunga - bunga yang berwarna warni, dan danau buatan dengan teratai di atasnya.
"Apa kau mau menaiki perahu itu bersamaku Mercia? " Tanya Karvein mengajak Mercia menaiki perahu yang ada di pinggir danau.
"Boleh saja... " Jawab Mercia sambil terdiam karena baru pertama kali Mercia melihat tempat yang seindah itu.
Mercia dan karvein langsung menaiki perahu bersama. Mercia yang sedikit takut menaiki perahu. Langsung di bantu oleh Karvein dengan memegang tangannya.
Karvein merasa penuh kesenangan yang di tahan karena memegang tangan Mercia yang kecil dan juga halus.
Beberapa menit menaiki perahu tanpa sedikitpun suara. Suasana yang canggung tanpa kata - kata. Mercia dan Karvein ingin memulai pembicaraan, tapi tidak tau ingin memulai dari mana.
"Mercia... Karvein..." Kata Mercia dan karvein bersamaan.
"Ah... maaf. Kau duluan saja. Apa yang mau kau bicarakan, " Ucap Mercia mengajukan Karvein.
Karvein yang tadinya hanya mengeluarkan suasana canggung. Langsung mulai mencairkan suasana dengan pertanyaannya.
"Mercia... menurutmu cinta itu apa? " Tanya karvein dengan tiba - tiba.
"Hah? Ah... aku juga tidak terlalu mengerti tentang Cinta atau jatuh cinta. Menurutku cinta itu adalah rasa kasih sayang lawan jenis. Orang yang selalu menemanimu kapan saja. Saat sedih, senang, susah, atau pun mudah. Tidak ada batas menemani orang yang kau cintai. Itu lah cinta menurutku, " Jawab Mercia panjang lebar menjelaskan.
Karvein melihat raut wajah Mercia yang memelas langsung merona.
"Baiklah. Ayo kita bersenang - senang. Aku akan mentraktirmu karena sudah menemaniku, Eve, " Ucap Karvein bangkit dari duduknya sambil tersenyum ke arah Mercia.
Mercia yang mendengar Karvein memanggilnya dengan nama tengah langsung merasa sangat malu.