
Pagi hari yang di penuhi dengan pertumpahan darah dan kerusakan yang besar. Terlihat Karvein dan Michelle yang masih bertempur dengan Juuri, Michelle yang sudah memiliki umur yang cukup tua terlihat sangat lemah karena banyaknya mana sihir yang di keluarkan nya.
Karvein yang terus menerus melawan Juuri tanpa henti, Karvein yang seharusnya sudah menyelamatkan Mercia sekarang tidak bisa menyelamatkannya karena harus melawan Juuri dan mengulurkan waktu untuk Mercia.
Sedangkan Mercia yang masih terikat dan belum pulih sepenuhnya, berusaha memotong tali yang mengikatnya dengan sihir kaca esnya yang di ubah menjadi lebih tajam untuk memotong tali tersebut.
"Cih, kenapa tali ini susah sekali untuk di potong. Apa ini terbuat dari tulang manusia?" Ucap Mercia dengan nada kesal.
"Sedikit lagi Mercia berusahalah, kalau kau ingin mati sebelum pertempuran ini berakhir, lebih baik kau mati di tanganku saja, " Cetus kirai yang berusaha membantu Mercia memotong tali sekeras tulang itu.
Beberapa menit kemudian akhirnya Mercia bebas dari ikatan Juuri dan pergi menuju ke medan pertempuran dengan cepat dan di bantu oleh kirai menaiki tubuhnya yang di penuhi bulu elang berwarna birunya.
"Sepertinya tawanan ku sudah lepas, waktunya menyerang bagian yang paling di amankan, " Ucap Juuri menyeringai licik.
Juuri yang menyeringai licik mengarahkan serangannya ke arah para penduduk di evakuasi dan di amankan. Tapi sayangnya serangan Juuri di tangkis oleh penghalang Mercia yang baru saja datang.
"Juuri... ternyata berani juga kau menghancurkan negara tempat lahirnya aku, " Ucap Mercia dengan raut wajah yang kesal.
"Heh! padahal aku ingin memisahkan kalian berdua dan membunuh semua manusia yang menggangu. Kalau begitu... aku akan merencanakan serangan yang baru, yaitu... membunuh raja Norea yang terhormat! " Ucap Juuri dengan mendadak menyerang Michelle yang perhatiannya teralihkan pada Mercia.
Michelle yang tidak menyadari serangan dadakan dari Juuri itu langsung terpuruk dan di penuhi dengan darah yang mengalir. Mercia yang melihat ayahnya terpuruk sekarat langsung berlari menuju ke arah Michelle yang penuh luka dan darah yang mengalir.
"Ayah!? Ayah... maaf, maafkan aku ayah, aku selalu membantah perintahmu dan tidak pernah menuruti semua kemauanmu maafkan aku, ini semua salahku, " Ucap Mercia sambil mengalirkan air mata di wajahnya yang putih halus itu.
"Mercia... seharusnya ayah yang meminta maaf padamu, karena tidak mengerti apa yang kau mau dan jarang menemanimu maafkan aku Mercia, aku bukanlah ayah yang becus menjadi ayahmu. Uhuk... Uhuk... " Ucap maaf Michelle yang merasa dirinya tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk Mercia sambil batuk mengeluarkan darah.
"A.. ayah! bertahanlah, Hyerin! Hyerin! " Mercia berteriak mencari Hyerin untuk mengobati ayahnya, akan tetapi Michelle sudah tidak tertolong dengan umurnya yang sudah tua dan mana sihir yang di keluarkannya terlalu banyak.
"Mercia... Hyerin terluka karena saat menyembuhkan para penduduk ia di serang oleh panah suci kakaknya sendiri yang di kendalikan oleh Juuri, " Ucap Karvein yang memelas merasa bersalah kepada Mercia.
Mercia yang mendengar teman - temannya yang terluka tidak sadarkan diri, merasa sangat kesal kepada dirinya sendiri yang berjanji akan melindungi semua temannya dan dunia dari kehancuran. Pada akhirnya semua tetap hancur karena dirinya.
"Mau sekuat apa pun kau, kau hanyalah seorang gadis kecil yang selalu berlindung di bawah seorang laki - laki, " Ucap Juuri meremehkan Mercia dengan sombong.
Mercia yang mendengar ucapan Juuri itu langsung tersadar bahwa dirinya hanyalah seorang gadis yang selalu berlindung di belakang punggung teman - temannya.
Juuri yang terkejut melihat segel mawar Norea yang ada pada dahi Mercia. Juuri yang melihatnya langsung merasa bernafsu lebih tinggi untuk mengambil mana sihir yang dimiliki Mercia.
"Mercia! Jangan sembarangan membangkitkan segel itu di saat keadaan tubuhmu yang belum pulih itu, Mercia!? " Teriak kevin dari kejauhan yang melihat Mercia di penuhi amarah yang luar biasa.
Karvein yang melihat Mercia mengeluarkan aura mana sihir yang besar, langsung membantu Mercia dan mengeluarkan pedang hitam api miliknya.
"Mercia, apa kau ingin menggabungkan mana sihirmu dengan mana sihir milikku dan membentuk kombinasi gabungan sihir yang kita buat bersama untuk menghancurkan Juuri? " Ucap Karvein dengan raut wajah yang serius.
"Dengan senang hati aku menerima kehormatan ini yang mulia pangeran, " Ucap Mercia sambil menyeringai.
Mercia dan karvein dengan kompaknya mengeluarkan mana sihir secara bersamaan dari pedang kaca es mawar dan pedang hitam api.
"Double magic sword!? " Icap Mercia dan Karvein secara bersamaan, dan mengarahkan serangan pada Juuri.
Sayangnya serangan Mercia dan karvein hanya sedikit mengenai Juuri. Juuri yang bernafsu tinggi akan adanya mana sihir, langsung menyerang balik dengan bola hitam yang di buatnya dari mana sihir khusus nya yaitu mana sihir bayangan.
Mercia yang terkena bola bayangan milik Juuri langsung terjatuh dan batuk mengeluarkan darah, karena serangan sihir bayangan Juuri mengenai bagian tubuh Mercia yang terkena sihir es beberapa tahun lalu.
Karvein yang melihat Mercia menderita kesakitan, karvein langsung menghampiri Mercia dan memanggil Armado untuk melindungi Mercia.
Juuri yang merasa di saat - saat itulah dia mengambil kesempatan menyerang Mercia. Karvein yang tersadar serangan Juuri langsung melindungi Mercia menggunakan tubuhnya sendiri.
Mercia yang melihat karvein tertusuk oleh tongkat tajam Juuri dan mengeluarkan banyak darah dari lukanya.
"K-kenapa! kenapa kau malah melindungiku yang hampir mati ini. Kenapa kau menusukkan serangan itu kepada tubuhmu sendiri. Kenapa tidak kau biarkan saja aku mati, sekarang... kau, kau terluka karena aku yang tak berguna ini. Berhentilah melindungiku! lindungi saja orang yang membuatmu bahagia. Kenapa kau rela untuk orang yang selalu merepotkan mu!? " Teriak Mercia sambil menangis melihat karvein terluka karena melindunginya.
"Hahaha! Sudah ku katakan berkali - kali Mercia, kau hanya akan memberikan kehancuran, kegelapan, dan kehampaan pada dunia dan orang - orang yang menyayangimu, " Ucap Juuri sambil menyeringai licik.
"Mercia... jangan dengarkan dia, aku melindungimu karena kau hanya bisa di lindungi oleh tanganku sendiri bukan tangan pria lain. Kau juga bukan seseorang yang tidak berguna seperti yang ada dalam pikiranmu. Kau adalah sang dewi masa depan yang akan melindungi dunia dari semua bahaya. Jadi berhentilah berbicara omong kosong, bantu aku cabut tongkat ini, " Jelas karvein sambil tersenyum kepada Mercia.
Mercia berhenti menangis dan menghapus air matanya yang mengalir itu. Mercia langsung mencabut tongkat yang menancap pada tubuh karvein dan mulai menyerang Juuri menggunakan strategi yang matang.