Reborn As A Princess Of Norea

Reborn As A Princess Of Norea
Misi pertama junior



Setelah beberapa hari berlalu. Mercia kembali melatih ke tiga muridnya, Leona, Fanny, dan Xiery. Mercia kembali melatih muridnya di saat - saat kesibukkannya sebagai penyihir tingkat tinggi, hanya untuk memeriksa jurus sihir yang sudah di ciptakan muridnya.


"Jadi bagaimana, apa kalian sudah membuat satu jurus sihir khusus milik kalian? " Tanya Mercia kepada ketiga muridnya dengan tatapan mengharapkan.


"I-itu, senior maaf! Kami masih belum mampu membuatnya, " Jawab mereka bertiga bersamaan.


"Sudahlah, aku maafkan untuk kali ini saja, " Ucap Mercia memaafkan para muridnya.


"Terima kasih master! " Ucap mereka bertiga dengan lantang.


"Master? Ahaha, kalian membuatku tidak nyaman dengan panggilan semacam itu, " Tawa kecil Mercia tersipu malu.


Setelah Mercia melatih para muridnya, Mercia di panggil ke kantor ketua academy. Mercia di beri perintah untuk membiarkan para junior yang ia latih itu. Untuk menjalankan misi pertamanya.


Mercia merasa misi pertama yang di tawarkan Raiya terlalu dini untuk mereka, yang masih belum resmi sebagai penyihir. Karena Mercia merasa waktu yang di berikan Raiya, untuk melaksanakan misi itu tidak terlalu tepat. Di hari itu adalah hari di malam tanpa bulan.


Mercia tidak bisa mengikuti mereka karena ia akan merasa lemah di hari itu. Raiya tetap ingin para junior Mercia pergi melaksanakan misi itu. Untuk berjaga - jaga Raiya juga akan mengikut sertakan Mary dan Hyerin, sebagai pengganti Mercia.


Jika mereka masih belum kembali dalam sehari, saat Mercia pulih Raiya akan mengirim Mercia sebagai bala bantuan.


"Haih... baiklah. Aku tidak akan melarangnya lagi. Selama mereka aman aku akan tenang, " Ucap Mercia yang pasrah.


"Baiklah kalau kau sudah menyetujuinya. Panggil muridmu itu ke sini, " Ucap Raiya kepada Mercia.


"Lilyer sudah memanggil mereka, " Kata Mercia sambil duduk dan menikmati teh melati favoritenya.


Beberapa menit kemudian. Leona, Fanny, dan Xiery datang secara bersamaan bersama Lilyer.


"Master ada apa anda memanggil kami? " Tanya Xiery kepada Mercia dengan sopan.


"Kalian akan mendapatkan misi pertama kalian. Ini adalah pengalaman pertama kalian dalam misi sebenarnya, " Jelas Mercia kepada ketiga muridnya itu.


"Baiklah, aku ingin kalian bertiga menjalankan misi yang cukup berbahaya ini dengan sukses. Tenang saja aku juga akan menyuruh dua senior tinggi, untuk menemani kalian dalam misi ini. Mary dan Hyerin akan menemani kalian dalam misi tingkat tinggi ini. Misi ini akan di laksanakan di sekitar perbatasan sungai Norea. Apa ada pertanyaan lagi? " Ucap Raiya menjelaskan semua tentang misi secara singkat.


"Anu... ketua kenapa hanya senior Mary dan senior Hyerin saja yang menemani? Apakah senior Mercia tidak ikut dalam misi? " Tanya Fanny kebingungan.


"Mercia akan menjadi bala bantuan kalian. Jika kalian dalam sehari masih belum selesai Mercia akan menyusul, " Jawab Raiya.


"Kenapa senior Mercia menjadi bala bantuan Kenapa tidak mengikuti misi secara resmi? " Tanya Leona penasaran.


"Yah karena aku ada sesuatu yang harus ku urus. Jadi aku akan pergi jika kalian dalam sehari masih belum kembali. Karena ada kemungkinan ada masalah, " Jawab Mercia dengan jelas.


Setelah Mercia mengatakan semua yang harus ia katakan. Mercia langsung keluar dari kantor ketua academy, dan pergi kembali ke istana utama Norea.


"Sebenarnya apa yang di pikirkan oleh Raiya itu. Kenapa bisa - bisanya dia memberikan misi kepada penyihir tingkat rendah. Bahkan mereka masih belum resmi menjadi penyihir," Ucap Mercia dalam hatinya.


Setelah lamanya Mercia memikirkan misi tingkat tinggi para juniornya. Mercia tertidur pulas. Karena terlalu lelah, di tambah besok adalah malam tanpa bulan.


Keesokan harinya, hari di mana Leona, Fanny, dan Xiery. Akan melakukan misi tingkat tinggi pertama.


Terlihat Mercia yang sudah bangun dari tidurnya. Mercia yang baru saja bangun itu, langsung memikirkan apakah para murid kesayangannya itu sudah pergi atau masih bersiap - siap.


"Putri, apakah anda sudah bangun? " Tanya Lilyer baru saja datang, sambil membawa beberapa sarapan untuk Mercia.


"Lilyer. Apakah mereka sudah pergi? " Tanya Mercia kepada Lilyer.


"Mereka sudah pergi beberapa menit yang lalu. Anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka. Putri Mary dan putri Hyerin pasti akan melindungi mereka, " Jelas Lilyer menenangkan kekhawatiran Mercia, sambil memberikan beberapa roti tawar dan secangkir teh kepada Mercia.


Mendengar ucapan Lilyer, Mercia langsung menghilangkan kecemasannya dalam sesaat. Mercia berusaha memikirkan sesuatu yang positif, dan melupakan pikiran negatifnya.


Setelah Mercia membersihkan tubuhnya. Mercia duduk di tempat yang ia biasa duduki. Mercia teringat dengan benda yang di berikan Lilyer saat membersihkan kamarnya.


Mercia mengeluarkan benda yang berbentuk seperti crystal yang bersinar, dari laci meja kamarnya. Saat Mercia memandang benda tersebut, Mercia merasakan sesuatu yang tak asing dari benda itu.


Ia merasa seperti pernah melihat benda yang sangat mirip dengan benda yang di pegangnya itu.


"Di mana aku melihat benda yang sama dengan benda ini. Benda ini sungguh seperti pernah ku temui di suatu tempat yang sangat tidak asing. Tapi aku tidak bisa mengingat di mana aku melihatnya, " Gumam Mercia melihat benda itu dengan seksama.


"Putri bukankah benda itu terlihat sangat mirip dengan crystal kunai abadi? Hanya berbeda warna saja, " Ucap Lilyer sambil membawakan teh melati kepada Mercia.


"Hah! Itu dia! Ini sangat mirip dengan crystal kunai abadi. Hanya saja warna crystal kunai abadi berwarna ungu. Sedangkan ini berwarna biru gelap, seperti langit malam, " Ucap Mercia mengeluarkan kunai abadinya.


Mercia yang baru saja menyadarinya. Langsung pergi ke kantor ketua academy. Mercia ingin Raiya memeriksa seberapa kemiripan crystal kunai abadi dan crystal biru langit, menggunakan piring sihirnya.


Sesampainya Mercia di kantor ketua academy. Mercia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.


"Raiya! Aku ingin kau memeriksa seberapa kemiripan crystal ini!? " Ucap Mercia dengan lantang sambil membanting pintu dengan keras.


Raiya yang sedang menandatangani sebuah dokumen penting itu langsung tidak sengaja mencoret nya. Karena terkejut dengan kedatangan Mercia yang mendadak.


"Mercia! Apa kau tidak bisa mengetuk lebih dulu sebelum masuk!? Seharusnya kau itu istirahat di istana, " Ucap Raiya dengan lantang.


Raiya hanya bisa pasrah dan langsung memeriksa crystal yang di bawa Mercia.