
Beberapa hari yang lalu. Saat Lilyer sedang menggantikan semua barang - barang, yang ada di dalam kamar Mercia. Tiba - tiba Lilyer menemukan sebuah benda yang bersinar. Benda itu terlihat sudah ada sejak lama, di bawah loker meja Mercia.
Terlihat Mercia sedang duduk di dekat kaca jendela besar. Sudah beberapa hari terlewati, setelah Mercia dan Karvein. Saling menyatakan perasaan masing - masing.
Tok! Tok! Suara ketukan pintu. Terlihat Lilyer menghampiri Mercia yang sedang duduk santai.
"Tuan putri, saya menemukan ini. Saat membersihkan kamar anda, " Ucap Lilyer memberikan sebuah benda bersinar, kepada Mercia.
"Hm? Apa ini? " Tanya Mercia kepada Lilyer.
"Saya tidak tau benda apa ini, tapi jika di lihat ini bukanlah barang yang berbahaya, " Jawab Lilyer menjelaskan.
"Baiklah akan aku periksa nanti. Aku pergi dulu, " Ucap Mercia sambil pergi melewati kaca jendela kamarnya.
"Setidaknya lewatlah pintu. Jika Yang mulia raja akan murka, " Gumam Lilyer.
Di tengah kota. Mercia berhenti sejenak dalam perjalannya. Mercia melihat para muridnya sedang berjalan bersama. Mercia merasa ingin menghampirinya, tapi Mercia masih ada misi yang harus di selesaikannya.
"Hais... Kenapa akhir - akhir ini aku selalu memikirkan mereka, " Gumam Mercia sambil memperhatikan muridnya, yang sedang pergi bersama.
Mercia mulai melupakan urusan pribadinya. Secara kebetulan Karvein muncul di sekitar Mercia.
"Mercia! " Panggil Karvein kepada Mercia.
"Karvein? " Tanya Mercia.
Mercia langsung menghampiri Karvein yang sedang patroli.
"Apa kamu sudah menemukan orang yang mencurigakan? " Tanya Mercia kepada Karvein.
"Belum ada peringatan apa pun, " Jawab Karvein serius.
Mercia mulai berpikir. Sebenarnya apa tujuan penyusup itu, datang ke wilayah enam kerajaan besar. Apakah dia juga mengincar mana sihir langka, seperti Juuri.
Ah...!? Terdengar suara jeritan dari arah barat. Mercia dan Karvein yang mendengar suara, jeritan itu langsung pergi mengarah ke arah suara itu berasal.
Terlihat Leona dan kedua temannya sedang melindungi seorang gadis kecil. Dari serangan monster - monster yang menyebabkan kerusakan besar. Mercia menghampiri para muridnya dan membantu melindungi para penduduk sekitar.
"Apa yang terjadi di sini Leona? " Tanya Mercia pada Leona dengan wajah cemas.
"Senior! Kami tadi hanya kebetulan lewat. Tiba - tiba saja orang - orang menjadi seperti itu, dan menyerang orang sekitar, " Jelas Xiery sambil melindungi seorang gadis kecil dari monster itu.
Mercia mulai mengundur waktu dengan cara menyerang monster itu tanpa melukainya. Mercia menunggu Hyerin dan yang lainnya sampai datang untuk membantu, memeriksa keadaan tubuh monster - monster itu.
Karena di jelaskan oleh Leona. Kalau monster itu adalah para penduduk, yang terkena racun khusus. Mercia menunggu Hyerin, untuk memeriksa apakah tubuh monster itu bisa di sembuhkan atau tidak.
"Mercia, mereka semua tidak bisa di pulihkan lagi. Jenis racun yang ada dalam tubuh mereka bersifat abadi. Jadi tidak bisa di sembuhkan lagi, " Jelas Hyerin yang baru saja datang membantu.
"Baiklah, aku mengerti, " Jawab Mercia sambil mengeluarkan pedang kaca es nya.
"Senior, bagaimana menangani mereka yang terkena racun ini, " Ucap Leona khawatir dengan para penduduk yang terkena racun.
"Bawa semua orang ke tempat yang aman. Di sini biar aku yang mengurusnya, " Ucap Mercia menyuruh para muridnya mengamankan semua orang.
Mercia yang sudah mengeluarkan pedangnya, dengan sadisnya Mercia menebas semua monster dengan pedangnya sendiri.
Leona melihat adegan yang tak terduga dari seniornya, yang selalu terlihat polos dan lemah lembut. Merasa terkejut karena melihat dengan matanya sendiri.
Mercia yang terlihat menyeramkan dengan penuh dilumuri darah. Tetesan darah merah di pedang kacanya. Tatapan yang penuh kebencian. Sudah cukup di sebut sebagai monster Norea.
"Sungguh menyebalkan. Banyak sekali bau amis darah. Sungguh tidak bisa di maafkan, " Gumam Mercia yang penuh noda darah di sekujur tubuhnya.
Setelah Mercia selesai menyelesaikan urusannya. Mercia yang masih di nodai banyak darah. Langsung pergi meninggalkan kode yang berarti misi selesai.
Leona yang melihat Mercia langsung pergi. Setelah membunuh semua monster. Leona pergi mengikuti Mercia.
"Huh... sungguh senior yang kejam yah. Aku selalu menyembunyikan sifat sadis ku pada semua junior. Karena jika aku menunjukkan sisi kejamku, semua junior akan takut padaku, Aku tidak punya pilihan lain, " Ucap Mercia.
"Kau tidak perlu menyalahkan diri sendiri. Kau pernah berkata padaku. Semua orang memiliki rahasianya sendiri. Aku, kau, semua orang memiliki sesuatu yang tak bisa di katakan. Untuk kebaikan semua orang, " Jelas Leona yang tiba - tiba datang.
Leona yang melihat semua noda darah pada mercia, langsung memberikan sebuah sapu tangan kepada Mercia.
"Ini, bersihkan darah itu. Jika tidak semua orang akan menganggapmu penjahat, " Cetus Leona memberikan sapu tangan pada Mercia.
"Terima kasih. Kau sungguh murid yang mengerti perasaan gurunya, " Ucap terima kasih Mercia pada Leona, sambil tersenyum.
"Anda sungguh menyedihkan putri. Padahal di hadapan anda adalah seorang junior, " Ucap Lilyer yang tiba - tiba muncul.
Leona terkejut dari mana datang Lilyer. Tanpa suara atau tanpa terlihat. Leona merasa semua orang yang ada di sekitar seniornya itu, adalah orang - orang berbahaya. Sama dengan kepribadian seniornya itu.
"Putri, anda di panggil oleh Yang mulia raja ke ruang bacanya, " Ucap Lilyer.
"Hah... apa harus sekarang? Aku sangat lelah karena pertarungan tadi, " Keluh Mercia kelelahan.
Lilyer yang mendengar keluhan atasannya itu. Langsung menatap dengan penuh aura amarah. Mercia yang merasakan aura amarah Lilyer itu. Langsung bangkit dari duduknya dan pergi menuju istana utama Norea.
"Leona, aku pergi dulu. Oh iya, selesaikan secepatnya tugas dariku itu. Jangan sampai lupa dengan tugas mu itu, Karena ada masalah di tengah kota, " Ucap Mercia yang mulai pergi menjauh bersama Lilyer.
Ruang baca Kevin. Terlihat Kevin yang sedang duduk di kursi kayu. Kevin terlihat di penuhi aura kesal, karena adik satu - satunya yang selalu berbuat seenaknya.
Mercia hanya diam dengan santai melihat saudaranya yang terlihat kesal.
"Mercia, apa kau tidak bisa bersikap sewajarnya, sebagai seorang putri terhormat Norea. Lihatlah karena ulahmu, banyak tempat - tempat di ibu kota hancur, " Ucap Kevin menceramahi kelakuan Mercia.
"Hah.. kenapa kau menyalahkan ku. Ini semua salah penyusup itu, karena menyebarkan racun tanpa penawar itu, " Jawab Mercia keras kepala.
Mercia yang terus - terusan menjawab ceramahan Kevin tanpa berhenti. Kevin yang sudah mencapai batas kesabarannya. Langsung memerintahkan Lilyer untuk menjaga Mercia supaya tidak keluar istana selangkah pun.
"Hei! Perintah macam apa itu! Cepat keluarkan aku, aku tidak ingin diam di istana membosankan ini, " Teriak Mercia dengan keras kepala.