
Musim dingin yang telah tiba, seluruh penjuru negara enam kerajaan besar di penuhi dengan salju putih yang lembut dan dingin. Terlihat Mercia yang sedang menyiram bunga mawar kaca, di rumah kaca istana Norea.
Mercia mengenakan pakaian yang tebal sedang menyiram bunga sambil bersenandung.
"Yoo! Eve, apa kau sudah selesai menyiram bunganya? Jika sudah cepatlah pergi ke ruang makan. Ayah dan Kak Raiya menunggumu untuk sarapan bersama, " Ucap kevin yang tiba - tiba muncul entah dari mana.
"Baiklah aku akan segera ke sana, kenapa kau juga tidak menunggu di ruang makan saja? " Tanya Mercia kepada kevin dengan wajah putih pucat.
"Tentu saja karena aku di suruh memanggilmu... hm? Mercia? ada apa denganmu kenapa kau pucat sekali, ayo cepat masuk hangatkan badanmu dan makan sup untuk menghangatkan tubuhmu, " Ucap kevin dengan cemas melihat Mercia yang putih pucat.
Kevin yang melihat Mercia putih pucat itu langsung memapah Mercia masuk ke dalam istana.
Ruang makan istana Norea
"Mercia kenapa kau harus memaksakan dirimu untuk menyiram bunga, tugas seperti itu bisa di kerjakan oleh pelayan dan di mana Lilyer? " Ucap Raiya sambil memberikan Mercia semangkuk sup hangat.
"Lilyer sedang mengerjakan tugas yang ku perintahkan, jangan salahkan Lilyer dia hanya melaksanakan tugas nya, " Jawab Mercia sambil meminum sup hangat nya.
Michelle yang melihat Mercia pucat lemah itu merasa terlalu membebaskannya sebagai putri kesayangannya itu.
"Mercia, selama penyakitmu bereaksi ayah akan membatasi waktu bebasmu sampai penyakitmu sembuh lagi. Ayah tidak akan membiarkanmu keluar dari dalam istana, " Ucap Michelle dengan raut wajah serius.
"Ayah aku baik - baik saja. Jadi jangan cemaskan keadaanku, aku bukan wanita lemah yang harus ayah cemaskan setiap waktu, " Cetus Mercia sambil meletakkan mangkung yang di isi sup hangat itu.
"Mercia! Berhentilah keras kepala, ayah melakukan ini karena khawatir padamu sebagai anak perempuan satu - satunya yang ayah miliki. Jadi berhentilah membantah dan dengarkan perkataan ayah sekali, " Cetus kevin dengan kesal kepada Mercia.
"Sudahlah aku sudah selesai, aku akan kembali ke kamarku, " Ucap Mercia sambil pergi menjauh.
"Mercia!? Apa kau mendengarkanku, Mercia!? Uh... kenapa anak satu ini sangat di penuhi dengan sikap angkuhnya itu, " Ucap kevin dengan lantang.
"Sudahlah Kevin, Mercia tidak akan bisa pergi dengan penjagaan ketat, kalaupun dia melawan dia tidak punya tenaga banyak dengan kondisinya yang sekarang ini. Lebih baik kau pergi perintahkan semua Ksatria untuk melakukan patroli, aku merasa akan ada sesuatu yang terjadi, " Ucap Michelle memerintahkan kevin untuk patroli bersama para Ksatria.
"Paman aku akan bicara pada Mercia dan memberikan tugas pada beberapa penyihir untuk memperketat penjagaan perbatasan negara, " Jelas Raiya sambil bangkit dari duduknya.
"Baiklah, tolong jaga dia jika sesuatu terjadi, " Ucap Michelle sambil menggosokkan kepalanya karena merasa pusing dengan tingkah laku putrinya itu.
Kamar Mercia
Terlihat Mercia yang sedang menatap ke luar jendela sambil memainkan anak - anak catur nya.
"Ayah tidak mengerti dengan kondisi ku yang sekarang sebagai pemimpin tim, pemimpin tim tidak bisa terlihat lemah di hadapan anggota tim lainnya, " Ucap Mercia dalam hatinya dengan raut wajah yang kesal.
Mercia dengan memberanikan diri membuka kaca jendela kamarnya dan melihat ke arah tempat jatuhnya salju itu.
Mercia tidak melihat ada apa pun atau seorang pun di atas sana. Mercia langsung masuk ke dalam kamarnya dengan kebingungan. Tiba - tiba saat Mercia berbalik...
Ahh...!? Terdengar suara jeritan dari arah kamar Mercia, Raiya yang baru saja ingin ke kamar Mercia dengan cepatnya langsung menuju ke kamar Mercia.
Raiya langsung membuka pintu kamar Mercia. Raiya langsung terkejut melihat tidak ada siapa pun di kamar Mercia, dan di pastikan kalau jeritan tadi adalah suara Mercia. Raiya dengan cepatnya langsung melaporkan hilangnya Mercia tanpa jejak sedikit pun dan hanya tertinggal para Ksatria penjaga yang sudah mati karena mana sihirnya di ambil tanpa sisa.
Ruangan Michelle
"Apa!? Hah... Cepat panggil kevin untuk kembali dan kerahkan semua penyihir, Ksatria dan hubungi kerajaan lima lainnya kalau negara di serang secara mendadak. Mercia... bertahanlah sebentar seseorang pasti akan menyelamatkanmu! " Ucap Michelle sambil bangkit dari duduknya dan langsung pergi menuju ke tempat serangan terjadi.
Para penduduk di evakuasi di tempat yang aman para penyihir di kerahkan semua untuk pencarian dan penyerangan pada lawan.
Juuri akhirnya memperlihatkan dirinya di saat yang tidak tepat yaitu di hari di mana Mercia waktunya saat - saat lemah. Juuri secara diam - diam menculik Mercia untuk mengambil mana sihir yang ada pada pedang dan tubuhnya, akan tetapi karena mana sihir yang harus di keluarkan oleh Juuri terlalu banyak dan membutuhkan waktu yang lama untuk membuka segel yang ada pada pedang kaca es mawar Mercia.
Karena membutuhkan waktu yang lama, Juuri memilih untuk menghabisi semua orang - orang yang akan mengganggunya dan sekaligus untuk membawa Karvein yang memiliki mana sihir yang sama langkanya dengan Mercia.
"Cih! Dasar kau licik Juuri, tidak aku sangka kau akan mulai bergerak di saat Mercia lemah. Seharusnya aku tidak terlalu percaya padamu saat itu, dimana Mercia sekarang kembalikan dia padaku, " Ucap Karvein yang sedang berhadapan dengan Juuri.
"Hm... Kau seharusnya memang tidak harus percaya sepenuhnya pada orang asing seperti ku ini. Jika kau ingin menyelamatkan tuan putri berhargamu itu, kau harus mengalahkan aku terlebih dahulu, " Kata Juuri dengan sombong.
"Karvein! Cepat cari Mercia biarkan aku yang mengurus dia, " Ucap Michelle yang baru saja datang ke medan pertempuran yang tidak imbang itu.
"Tidak, kau tidak bisa mengalahkan nya sendirian dia sangat ku... " Ucap Karvein yang terpotong oleh serangan dadakan dari Juuri.
" Berhentilah berdiskusi dan lawan aku, baru kalian bisa menyelamatkan tuan putri Eve kalian itu, " Ucap Juuri dengan tatapan menghina.
***
Terlihat Mercia yang terikat di sebuah gua yang dalam di hutan. Mercia yang merasa lemah karena penyakit kutukannya itu.
"Mercia apa kau tidak apa apa? " Tanya Kirai yang tiba - tiba muncul dengan wujud kecilnya.
"Kirai... maaf aku sekarang merasa sangat tidak berdaya dan lemah, aku bukanlah tuan yang hebat untukmu, " Ucap maaf Mercia kepada Kirai dengan perasaan yang merasa bersalah.
"Mercia! Sadarlah hari sebentar lagi akan terang kau akan segera pulih. Norea sekarang di serang habis oleh Juuri, ayahmu sudah tidak berdaya lagi dengan kondisi tubuhnya yang kelelahan, kau harus cepat lepas dari ikatan ini dan pergi selamatkan negara yang hancur karena Juuri. Bukankah kau sudah berjanji dengan Karvein untuk melindungi dunia dan teman - temanmu, " Jelas Kirai menghibur Mercia yang merasa bersalah.
"Terima kasih, aku pasti akan menyelamatkan teman - temanku, " Jawab Mercia dengan sambil tersenyum.