
Paginya Mercia masih terbaring di ranjang dengan Mochi di sampingnya. Hari sudah mulai terang perlahan - lahan Mercia berusaha membuka matanya yang masih mengantuk. Mercia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang dan memakai sandal rumahan.
Karena kemarin Mercia tidak sempat membersihkan diri. Lalu Mercia berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Setelah Mercia selesai mandi. Ia membuka pintu ruang pakaian dan melepaskan pakaian mandinya.
Setelah memakai pakaian Mercia duduk di tepi ranjang membangunkan Mochi yang masih tertidur.
"Mochi bangunlah, kita akan pergi jalan - jalan di ibu kota, " ucap Mercia sambil menepak tubuh Mochi yang bulat dan gemuk itu. Mochi pun membuka matanya dan melompat ke pangkuan Mercia. Mercia pun memeluk tubuh Mochi dengan satu genggam dan tersenyum.
Setelah memandikan Mochi Mercia turun ke lantai satu dan berjalan ke arah ruang makan. Tampaklah Kevin yang sedang menyantap sarapannya. Roti isi selai dan segelas susu. Mercia pun duduk di samping Kevin dan memakan sarapan yang sama dengan Kevin, yaitu beberapa helai roti isi selai dan teh melati sebagai minumnya.
"Mercia, kalau sarapan itu bukan meminum teh. Minumlah susu ini, jika kamu meminum teh setiap hari itu tidak akan sehat untuk tubuhmu, " saran Kevin sambil memberikan segelas susu putih kepada Mercia. Mercia pun meminum susu yang di berikan Kevin sampai habis.
Setelah Mercia selesai memakan sarapannya. Mercia memberikan beberapa gula kepada Mochi. Kevin pun pergi ke ruang kerjanya setelah sarapannya habis. Setelah selesai Mercia dan Mochi pergi berkeliling di ibu kota. Saat berkunjung di toko manisan Mercia tidak sengaja bertemu Karvein yang baru saja kembali dari misinya. Mercia pun pergi berkeliling bersama Karvein sebagai kencan.
"Apa kamu tidak melakukan misi hari ini?" tanya Karvein ingin tahu.
"Tidak, aku berencana ingin bergabung lagi dengan Mary dan Hyerin. Akhir - akhir ini banyak sekali hal yang terjadi, " balas Mercia enteng. Di sela - sela perbincangan mereka berdua. Tiba - tiba Mochi keluar dari katung kecil Mercia. Mochi pun melompat ke pundak sebelah kiri Mercia dan menatap tajam Karvein.
"Ini Mochi. Dia hewan yang menetas dari crystal biru yang ku temukan, " balas Mercia jujur sambil mengelus ujung kepala Mochi.
Mercia dan Karvein pun berjalan menuju ke taman tersembunyi. Yang hanya di ketahui oleh mereka berdua. Suasana hening tanpa suara sedikit pun.
"Mercia! " panggil Karvein dengan keras. Mercia yang sedang duduk di rumput hijau pun terkejut dan menoleh ke arah Karvein. Karvein terlihat sangat gugup dan susah berbicara.
"Ada apa? Kamu membuatku terkejut saja!" balas Mercia menghadapkan wajahnya ke hadapan Karvein.
"Mercia.... apa kamu mau bertunangan denganku?" tanya tiba - tiba Karvein. Mercia yang mendengarnya pun langsung membelalak menatap Karvein dengan tatapan tajam.
"Karvein, kamu pasti di ancam oleh Kevin kan? Katakan saja padaku, aku akan menghajarnya, " balas Mercia sewot. Karvein yang mendengarnya pun tertawa lepas sampai air matanya menetes.
"Tidak, tidak. Aku serius. Aku ingin bertunangan denganmu sebelum kamu diambil orang lain. Dan juga... kalau pun Kevin mengancamku aku akan melaksanakannya asalkan itu kamu, " ucap Karvein setelah menghentikan tawanya. Karvein sangat serius ingin bertunangan dengan Mercia. Karvein merasa Mercia dari hari ke hari tampak sangat jauh dari hatinya karena mereka sangat sibuk dengan misi.
Jadi Karvein memutuskan untuk bertunangan dengan Mercia. Walaupun Mercia terlihat tidak terlalu peduli. Tapi, jauh di dalam hatinya Mercia sangat mencintai Karvein.