Reborn As A Duke's Daughter

Reborn As A Duke's Daughter
Pesta perburuan



Setelah sadar Audrey mendapati para pendeta mengelilinginya sambil berlutut, hal itu membingungkan Audrey. “ Apa yang terjadi “ bingung karena tak mengetahui apa yang sedang terjadi selama ia tak sadarkan diri. Caesar maju dan mencium tangan Audrey dengan lembut. “ Semoga berkat anda menyertai seluruh kerajaan “ Audrey diam menatap Caesar “ Apa yang sebenarnya terjadi, berapa lama aku tak sadarkan diri “ tanya Audrey menatap Caesar. “ Dalil Dewa telah turun dan anda tidak sadarkan diri selama lima belas hari “ Caesar berbicara dengan sopa. Audrey merasa agak aneh dengan hal itu, walau Ceasar selalu bersikap sopan namun tetap bersikap santai dan tidak kaku seperti sekarang. ‘ Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tak sadar?? ‘ Audrey semakin bingung menatap para pendeta yang berlutut di depannya. “ Kalian sampai kapan akan berlutut, cepat bangun “ para pendeta yang mendengar perintah Audrey bangkit dan tertekan oleh tatapan dingin Audrey yang begitu menusuk, “ Keluar, aku akan mandi “ dan semua keluar tanpa terkecuali.


Setelah semua orang keluar Audrey segera mengecek keadaan nadinya. “ Bagus aku sudah sepenuhnya melewati nadi beku, dan sekarang mederianku juga pulih. Inilah alasan Audrey asli dak dapat membangkitkan kekuatan, mederian tubuh ini rusak sehingga tidak berfungsi “ Bangkit dan mandi lalu mengganti pakaian. Audrey keluar dan menuju ruang keluarga bersama dengan Caesar, di sana para pendeta dan ksatria suci menunggunya. “ Jadi apa isi dalil Dewa itu “ Audrey tak ingin basa-basi dan segera mengetahui isi dalil Dewa itu. Setelah membacanya Audrey cukup dibuat terkejut ‘ Apa-apaan ini?! Ini tak ada dalam buku kenapa tiba-tiba keturunan Dewan?! Bahkan Clara yang menjadi prontagonis dalam cerita ini bukan keturunan Dewa?! ‘ entah harus senang atau tidak Audrey sangat bingung. ‘ Kenapa alurnya jadi semakin berantakan?! Sial ‘ karena diamnya Audrey para pendeta dan ksatria merasa sedikit tertekan.


Helaan nafas panjang terdengar “ Lupakan, mau menolak atau tidak terima juga percuma ini semua takdir “ meletakan buku suci itu “ Jadi, apa yang akan kalian lakukan dengan hal ini “ para pendeta saling menatap lalu menatap Caesar, “ Tidak banyak, pihak kuil suci tidak akan menekan atau membatasi bahkan mengatur hidup anda. Kami hanya akan melindungi anda. Dan kuil suci akan selalu terbuka untuk anda, itu juga rumah anda “ seorang pendeta menjawab, Audrey mengangguk mengerti ‘ Bagus juga mendapat dukungan penuh dari kuil suci ‘.


Istana duke masih di jaga oleh ksatria suci.


Audrey berlari kecil menuju ruang belajar setalah mendengar guru Baplo datang berkunjung. “ Guru “ guru Baplo berdiri dan menghampiri Audrey, “ Bagaimana keadaanmu sekarang? Guru mendengar kabar kau mengalami pembekuan nadi dan baru sadar pagi tadi. Apa semua baik-baik saja? “ raut wajah guru Baplo nampak khawatir “ Ya aku baik-baik saja, aku sangat tersentuh guru mengkhawatirkanku. Maaf membuat guru khawatir “ Audrey senang dengan reaksi guru Baplo, itu tandanya Audrey cukup istimewa bagi guru Baplo.


“ Tentu aku khawatir, kau adalah murid yang aku akui. Pembekuan nadi adalah peristiwa yang berbahaya, dua puluh tahun lalu sudah ada korban akibat hal itu dan masih belum di temui apa penyebabnya “ meminum teh dan bernafas lega mengetahui muridnya baik-baik saja.


Audrey hanya bisa tersenyum, ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah memakan kelopak anggrek bulan beku itu. Sekarang setelah mederiannya pulih hanya perlu beberapa hal lagi agar Audrey bisa membangkitkan kekuatan ‘ Sampai saat ini semua berjalan lancar, tapi aku tidak tau apa semua akan baik-baik saja saat mereka datang ‘ Audrey diam-diam menghela nafas. Karena tak begitu yakin apakan semua akan tetap baik-baik saja mengingat alur cerita yang banyak berubah setelah dia datang.


“ Sebaiknya kelas libur sampai kau benar-benar baik-baik saja “ guru Baplo menatap Audrey dengan serius “ Guru aku sudah baik-baik saja. Lagi pula sudah dua minggu aku tidak belajar karena tak sadarkan diri, aku rindu mendapat tugas dari guru “ Audrey menatap guru Baplo dengan antusias.


Jefford kembali dari istana Raja pada malam hari. Berlari cepat untuk menemui putrinya setelah mendapat kabar Audrey telah sadar “ SAYANG “ memeluk Audrey dengan erat. Nampak kantong mata hitam di bawah matanya, wajah yang nampak kelelahan sekarang nampak begitu bahagia. Jefford berusaha menahan air matanya “ Apa ada yang terasa tidak nyaman? “ menggenggam kedua tangan Audrey dan menatapnya dengan senang sekaligus cemas, “ Aku baik-baik saja. Sepertinya Ayah lah yang sedang butuh istirahat, Ayah pasti lelah. Maaf membuat Ayah khawatir “ tangannya mengelus pipi Jefford dengan lembut “ oh syukurlah, terima kasih Tuhan putriku baik-baik saja “ lalu kembali memeluk Audrey dengan erat.


Pada malam harinya Jefford memaksa untuk tidur bersama putrinya, ia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Audrey.


Dua hari setelahnya Audrey pergi ke toko untuk membeli tali, ia akan membuat pita untuk di ikatkan pada pedang Jefford saat pesta perburuan nanti. “ Caesar menurutmu warna apa yang bagus “ Audrey menunjukan tiga pilihan warna dan dengan seksama Caesar memikirkan warna yang paling bagus. “ Hm Bagaimana jika yang berwarna perak dan emas? Warnanya sama dengan rambur duke juga rambut anda, warna emas juga sama dengan warna mata duke “ Audrey mengangguk lalu membayar untuk kedua pita itu. Dari toko Audrey tidak langsung pulang dan pergi menuju kuil suci untuk berdoa.


Tak lama kereta berhenti dan Audrey kembali di buat terpukau oleh pemandangan asri dan bangunan putih kokok di depannya. Udara di sekitar di penuhi oleh kekuatan suci dan membuat hati Audrey menghangat. Berjalan memasuki kuil suci, hanya ada beberpa perabot dan kekuatan suci terasa lebih pekat daripada sebelumnya. Caesar langsung menuntun Audrey menuju ruang berdoa, dan seharian Audrey berdoa sampai dini hari. Suasana begitu khusyuk, entah apa yang merasukinya membuatnya tiba-tiba begitu khusyuk berdoa padahal Audrey tidak memiliki keyakinan tentang hal seperti ini sebelumnya. Saat matahari terbit Audrey menyudahi doanya dan berkelilin di sekitar kuil. Kekuatan suci yang melimpah membuatnya enggan untuk pergi karena merasa nyaman.


“ Nona kita harus segera kembali, anda harus bersiap untuk pesta perburuan lusa “ Audrey mengangguk dan berjalan berdampingan bersama Caesar. “ Anda tak perlu sedih. Anda bisa kapan saja datang kemari jika ingin, bagaimana pun kuil ini juga menjadi rumah anda “ Audrey kembali mengangguk. Dalam perjalanan Audrey tertidur karena semalaman ia terlalu fokus berdoa. Saat sampai di istana duke, Audrey duduk di karpet kamarnya dan dengan telaten membuat pita untuk Jefford lusa. “ Aku bertanya-tanya kenapa aku bisa masuk ke dalam buku dan menjadi Audrey. Tak pernah terpikirkan olehku bahwa setelah kematian bukannya ke akhirat malah masuk ke sebuah buku “ manatap pita yang selesai ia buat dan tersenyum bangga. “ Setelah aku mendapatkan apa yang ku mau di pesta perburuan, aku akan meminta izin untuk berlatih pedang “ lalu menyimpan pita tersebut dalam sebuah kotak.


Lusa, di area perburuan cukup ramai. Karena setelah Audrey mengalami pembekuan nadi tubuhnya mengalami sedikit perubahan, seperti tinggi badan yang naik dan fitur wajah yang lebih tegas. Audrey awalnya tak meyangka hal itu akan berdampak pada tubuhnya, namun ia cukup menikmati itu. Karena hal itu juga, Audrey harus memesan gaun dan pakaian baru. Sekarang Audrey menjadi pusat perhatian lantaran berita pembekuan nadi dan dalil Dewa yang berhubungan dengan Audrey. Ditambah fitur wajahnya yang sangat mirip dengan Jefford menarik beberapa pasang mata. Mereka cukup terpesona dengan Audrey.


“ Ayah kuharap kau akan menjadi pemenangnya “ mengikatkan pita pada pedang Jefford, dengan tegas Jefford mengangguk penuh percaya diri. “ Ayah akan membakan rubah putih untukmu “ Audrey tersenyum dan mengangguk sambil melihat Jefford dan peserta lain pergi masuk ke dalam hutan. Saat sedang asik menikmati teh, seorang anak kecil jatuh di hadapan Audrey. Dengan cepat Audrey membantunya berdiri, melihat luka di lutuh anak itu. “ Apa itu sakit? “ menatap anak yang tetap tenang itu, dengan enteng anak itu menggeleng. “ Dimana orang tuamu “ berniat mengantar anak itu kembali, takut dia masuk ke dalam hutan dan menemui hewan buas. “ Tidak ada, aku datang sendiri “ menatap Audrey, anak itu tetap tenang. Mata berwarna biru terang itu mengingatkan Audrey pada salah satu karakter dalam buku ini ‘ Pangeran ketujuh ‘ sedikit terkejut menjumpai karakter yang hanya muncul beberapa kali. Dalam buku pangeran ketujuh akan mati mengenaskan sebentar lagi.


Belum selesai berfikir, tempat ini menjadi ramai karena monster level tiga tiba-tiba muncul. Para lady dan beberapa bangsawan yang tak memiliki kekuatan sihir berlarian menyelamatkan diri. Monster itu memiliki tubuh cukup besar berlari menuju kearah Audrey. Karena terkejut, Audrey tak dapat menghentikan monster itu melukai pangeran ketujuh. Setelah tersadar Audrey berlari mengambil pedang salah satu pengawal dan melawan monster itu. Ini bukan pertama kalinya Audrey memegang pedang, walau ia lebih serimg memegang pistol ia cukup mahir dengan pedang. ‘ Menusuk tepat di dada kirinya akan melumpuhkannya ‘ dengan cepat Audrey berlari mendekati moster itu dan mengincar dada kirinya. Kulit monster itu cukup keras dan tak dapat di tembus hanya dengan pedang biasa “ Apa ada pemilik elemen es?! “ beberapa orang di sekitar menggeleng. Audrey cukup kualahan menangani monster tersebut namun, tak lama seseorang berteriak “ AKU MEMILIKINYA “ Audrey menatap orang itu dan mengangguk.


“ Kau, lapisi pedangku dengan es buat e situ setebal dan setajam mungkin “ orang itu mengangguk dan melakukan seperti yang diinstruksikan Audrey. Setelah pedangnya di lapisi oleh es, Audrey kembali menusukan pedangnya pada monster itu, hanya dalam dua kali tusukan dan berhasil menembus kulit monster itu. Setelah monster itu mati, Audreymembelah dada monster itu dan mengambil Kristal kecil berwarna orange gelap lalu menyimpannya. Area tunggu yang di serang monster dengan cepat tedengar oleh Raja dan dengan segera mengirim para ksatria dan beberapa penyihir untuk melihatnya.


Namun yang mereka dapat adalah monster itu sudah mati dan tak ada korban jiwa. Audrey mengingat pangeran ketujuh dan pergi mencarinya, dia terbaring lemah dengan luka pada kaki dan wajahnya. Audrey segera membawanya ke tempat yang lebih aman dan memberi tahu asisten Raja mengenai pangeran ke tujuh. ‘ Takdir anak ini memang mati, tapi setelah melihatnya aku tidak tega membiarkannya begitu saja ‘ duduk dan berusaha mengobati luka pada kaki dan wajah pangeran ketujuh. Raja yang mengetahui keturunannya terluka segera menemuinya di tempat evakuasi.


Maaf kalau banyak typo


Jangan lupa like yaa