Reborn As A Duke's Daughter

Reborn As A Duke's Daughter
Perjalanan



Audrey dan salah satu murid senior, yang di tunjuk oleh guru akademi untuk menjemput guru kelas khusus berpedang , sedang dalam perjalanan. Mereka berada di suatu tempat, melewati bukit luas di pinggiran kota. Kereta sudah mulai melambat dengan perlahan, menuju perbatasan antar kerajaan.


Tidak sampai lima meter kereta berhenti. Audrey dan Tamus-murid senior turun dari kereta, berjalan mendekati salah satu rombongan di dekat tembok perbatasan. Tamus lebih dulu menyapa dan memberi salam pada guru tersebut. " Selamat siang Pak Wilson, saya Tamus murid senior di akademi, dan ini junior saya di akademi " menoleh ke arah Audrey, " Siang Pak Wilson, saya Audrey. Langit sudah mendung, sebaiknya kita lebih cepat kembali ke akademi " sembari mengeluarkan portal sihir.


Dalam perjalanan menjemput Pak Wilson, mereka masih menggunakan kereta dan dua portal sihir kelas rendah dan, karena Audrey mengaku hanya memiliki satu portal sihir kelas atas yang tersisa. Pak Wilson dan para rombongan mendekat ke portal sihir, tak lama Audrey mengaktifkannya. Portal bersinar sebentar lalu membuat mereka menghilang.


Tidak sampai lima belas menit, mereka semua muncul kembali di depan gerbang akademi. Para rombongan merasa terkesan dengan portal sihir kelas atas tersebut, tidak jauh beda dengan Pak Wilson dan Tamus yang juga merasakan hal yang sama. Penjaga gerbang segera membuka pintu gerbang setelah melihat mereka.


Baru saja mereka masuk ke dalam akademi, hujan mulai turun dan dengan segera semua berlari masuk ke dalam gedung. Beberapa guru menyambut mereka di pintu masuk.


" Tuan Wilson selamat datang. Bagaimana perjalanan anda saat menuju kemari "


" Mengesankan, aku merasa terhormat bisa merasakan perjalanan dengan portal sihir kelas atas. Terima kasih kepada kepala sekolah dan akademi "


" Syukurlah. Tapi semua itu berkat murid kamu yang memberikan portal sihir itu "


" Eh siapa? " Pak Wilson nampak terkejut dan bertanya dengan penasaran. Guru tersebut mempersilahkan Pak Wilson untuk duduk sesaat setelah sampai di ruang tamu.


" Dia Audrey, murid junior di akademi. Dia juga ikut menjemput anda tadi "


" Ah maksud nyonya Kelly gadis berwajah dingin itu? Apa alasannya sampai dia memberikan portal sihir kelas atas? " kembali penasaran.


" Kami tidak tau pasti. Tapi saat memberikan penawaran, dia hanya memberikan syarat agar ikut menjemput anda. Oh dia juga murid yang mendaftar ke kelas khusus anda, mungkin dia ingin mengenal guru yang akan mengajarnya nanti " nyonya Kelly menyeruput teh hangat yang telah tersaji. Sedikit malu karena semua itu tidak dapat di sediakan oleh akademi, sampai harus menerima bantuan dari siswanya.


" Begitukah? Jika memang iya, maka aku sangat berterima kasih padanya. Lalu dia benar-benar memiliki kemampuan berpedang? " nyonya Kelly hanya mengangkat bahu tak tahu.


Audrey berjalan dengan santai di tangga menuju lantai dua. Tangannya menggenggam batu hitam halus dengan erat, senyuman miring terpatri di bibirnya. ' Sudah dapat ' memasukan batu tersebut ke dalam sakunya.


Tujuannya menjemput Pak Wilson dan merelakan portal sihir kelas atas, hanya untuk mendapatkan batu hitam itu.


Batu itu menempel di pedang yang di sebut pedang baja hitam. Pedang itu sendiri bukanlah pedang yang istimewa dan hanya pedang biasa berwarna hitam. Yang membuatnya kuat dan memiliki aura tebal adalah batu yang berada di saku celana Audrey sekarang.


Pedang itu adalah hadiah dari Kerajaan tetangga. Dan Pak Wilson yang bertugas mengambilnya. " Aku sungguh beruntung kali ini. Aku akan meminta Zeppelin untuk membuat pedang dari batu ini untuk Uta nantinya " langkahnya terhenti saat mendengar obrolan seseorang.


" Tidak. Bukankah itu rencana yang sempurna? Lagi pula aku dengar dia hanya rakyat jelata saja, tidak perlu takut "


" Tapi aku sudah tau haha " kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar asrama. Baru saja Audrey membuka pintu, kamar terlihat berantakan. Audrey menatap heran beberapa pakaian Isabella yang berceceran di atas kasur dan lantai.


Dengan perlahan Audrey memunguti nya, lalu menatanya kembali di dalam almari. Duduk di depan meja belajarnya, Audrey membuka beberapa surat.


*Dari Arcel untuk kakak tercinta.


Aku sangat merindukan kakak. Bagaimana keadaan kakak di sana? Semua baik kan? Tuan duke, Elen, Caesar, mereka semua sehat. Elen semakin jarang bicara kecuali padaku dan Caesar. Sepertinya dia masih tidak Terima kakak pergi ke akademi, beberapa kali aku menjumpainya menangis diam-diam di kebun belakang. Tapi aku tidak menemuinya, aku hanya memperhatikannya saja.


Aku mendapat pujian dari guru Baplo, dia mengatakan nilai ku semakin baik. Guru pedang ku juga mengatakan hal yang sama. Tuan duke memberikan ku pedang sebagai hadiah. Pedangnya sangat bagus dan tajam. Tuan duke tidak terlalu sibuk seperti dulu, dia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.


Aku sangat merindukan kakak, cepatlah pulang ya. Aku akan menyambutmu nanti.


Sampai jumpa. Salam hangat Arcel untuk kakak tercinta*


Audrey tersenyum membaca surat dari Arcel. Adiknya yang satu ini semakin hari semakin cerdas, lalu merasa sedih setelah mengetahui keadaan Elen yang masih tidak terima dia pergi. Audrey menyimpan surat tersebut dengan baik di dalam laci. Lalu mengambil kertas dan pena untuk membuat surat balasan. Kadang saat menulis Audrey tertawa pelan, dia menceritakan kesehariannya di akademi, walau tidak semuanya.


Muncul bayangan di belakang Audrey, kemudian Audrey menyerahkan surat yang selesai dia tulis. " Antar sampai ke istana duke, letakan diam-diam di atas meja Arcel nanti " setelah mengatakan itu, bayangannya langsung menghilang.


Audrey menatap surat yang dikirim oleh Erden. Dia membacanya sebentar lalu membakar surat tersebut. Jarinya mengetuk meja perlahan, berfikir tentang isi surat dari Erden.


" Yang mulia Grena anda setuju kan dengan rencana kami? " yang di panggil Grena dia menyeruput teh miliknya. Meletakan cangkir teh dengan perlahan, lalu menatap orang di depannya.


" Kau yakin akan berhasil? "


" Anda tenang saja, saya yakin seratus persen rencana ini akan berhasil. Bukankah anda juga membencinya? " siswa tersebut tersenyum penuh arti. Grena menatap tak suka saat mendengar pertanyaan itu.


" Kalau begitu lakukan "


Setelah mendapatkan persetujuan, siswa tersebut berterima kasih dan pergi dari ruangan. Meninggalkan Grena yang menatap diam cangkir tehnya, diam-diam meremat lengannya sendiri. " Ku harap rencana ini akan berhasil. Perempuan itu, dia benar-benar membuatku muak. Gara-gara dia posisiku sebagai putri Mahkota terancam ck " tatapan matanya penuh dengan kebencian, dengan penuh amarah dia melempar cangkir tehnya ke lantai, membuatnya pecah berkeping-keping, " Perempuan itu, dia akan merasakan akibatnya "


Maaf kalau banyak typo


Jangan lupa like yaa