Reborn As A Duke's Daughter

Reborn As A Duke's Daughter
Panggilan dari Pangeran Yuiko



Setelah memecat kepala pelayan dan kepala koki, Audrey berjalan ke kamarnya untuk menemui Caesar yang sedang menunggunya. Saat berjalan di lorong Audrey menoleh ke arah jendela, melihat ke arah gerbang samping. Pengawal mendorong kepala pelayan dan kepala koki keluar, lalu menutup gerbang tanpa mempedulikan teriakan mereka.


Di dalam kamar, Caesar duduk dengan tenang menunggu Audrey datang. Saat pintu terbuka, Caesar menoleh dan menyambut Audrey.


" Nona " Audrey duduk di depan Caesar, meminta pelayan menyiapkan teh. " Caesar. Maaf membuatmu menunggu lama " Audrey merasa tidak enak membuat Caesar menunggunya lama sejak tadi. " Tidak masalah nona " tak lama pelayan kembali membawa nampan bersisi teh.


" Caesar, bagaimana keadaan Elena? Aku dengar Elena kembali ke kuil suci, lalu mendapatkan tugas pertamanya dan pergi ke luar ibukota. Aku tidak sempat untuk mengucapkan salam perpisahan " Audrey mengingat wajah Elena, sudah lama dia tidak bertemu dengannya.


" Elena baik-baik saja, di bilang akan memberikan anda oleh-oleh saat menyelesaikan tugasnya " Audrey mengangguk. " Caesar aku ingin bertanya, menurutmu kenapa Dewa menurunkan dalil untukku? "


Caesar menggeleng " Saya juga tidak mengetahui alasan dibalik itu. Tapi yang pasti apa yang di pilih oleh Dewa adalah hal yang baik. Mahluk fana seperti saya tidak akan pernah paham dengan apa yang Dewa pikirkan dan rencanakan "


" Lalu, akankah ada orang lain yang akan mendapat dalil Dewa sepertiku? " Caesar diam namun lagi-lagi menggeleng " Saya juga tidak tau itu. Namun, dalil Dewa tidak akan turun pada orang sembarangan. Tidak semua mahluk fana mendapat perhatian dari para Dewa " Caesar menjawab apa adanya. Walau dia seorang pendeta suci tingkat tinggi, dia juga tidak paham dengan kapan dalil Dewa akan turun dan kepada siapa itu ditunjukkan.


" Aku paham. Apa dalil Dewa dapat di palsukan? Maksudku, pasti ada banyak orang yang ingin memanfaatkan dalil Dewa. Bisa saja akan ada orang yang akan melakukan segala cara untuk memalsukan dalil Dewa, entah itu orang luar atau orang dalam "


" Untuk memalsukan dalil Dewa itu tidak akan bisa. Dewa selalu mengawasi umatnya, hal buruk seperti itu tidak akan pernah luput dari pengawasan nya. Jika ada yang berani memalsukan dalil Dewa, maka dalam waktu cepat dia akan mendapat kemalangan yang sangat menyedihkan " Audrey dan Caesar mengobrol cukup lama. Caesar merasa bersemangat dengan topik obrolan ini, dia merasa Audrey sanga peduli dengan Dewa.


Keesokan harinya di istana pangeran, pangeran Yuiko sedang duduk di meja belajar. Namun, dia tidak bisa fokus sama sekali dengan buku yang sedang ia baca sekarang. Guru yang sedang mengajarnya menatap bingung, karena tidak biasanya pangeran Yuiko tidak fokus saat dalam pelajaran.


" Pangeran, apa ada masalah atau sesuatu yang tidak anda pahami? " pangeran Yuiko menatap gurunya dan menggeleng, " Kurasa lebih baik kita akhiri saja untuk hari ini " menutup bukunya. Guru pangeran hanya mengangguk, melihat pangeran Yuiko yang tidak fokus dalam belajar kali ini, guru merasa lebih baik membiarkan pangeran untuk istirahat.


Setelah guru keluar, pangeran Yuiko memanggil seorang pelayan. Dia menyuruh pelayan itu untuk pergi ke istana Duke dan menjemput Audrey. Pelayan itu bergegas untuk pergi ke istana Duke.


" Nona. Seorang pelayan istana pangeran meminta izin untuk menemui anda " Audrey mengalihkan perhatiannya dari Elen, " Minta dia untuk menunggu sebentar. Aku akan menemuinya setelah selesai memasang pakaian Elen " pelayan itu mengangguk dan undur diri.


Setelah memasangkan pakaian pada Elen, Audrey menggendongnya dan membawanya menuju ruang tamu. " Nona, maaf mengganggu waktu anda. Pangeran meminta saya untuk menjemput anda ke istana pangeran " pelayan itu membungkuk.


Baru lusa kemarin dia bermain ke istana pangeran dan sekarang pangeran memanggilnya lagi. Audrey mengangguk, lalu menyuruh pelayan itu kembali terlebih dulu. Audrey segera bersiap, saat akan meninggalkan Elen bersama dengan Caesar dan Arcel.


Elen enggan untuk melepaskan kerah baju Audrey " Waaaa " merengek dan ingin menangis. Audrey tidak tega melihat wajah Elen saat ini " Baiklah ayo ikut " mendengar itu Elen tertawa riang.


Di istana, Elen menatap sekitar namun kembali asik dengan bros Audrey. Pengeran sedang berdiri di dekat kolam air mancur menunggu Audrey. " Anda menunggu saya? " Audrey menatap pangeran yang terlihat gugup. " Siapa yang menunggumu?! Aku hanya-hanya melihat air mancur saja " menatap ke arah lain.


" Tadi anda bilang anda tidak menunggu saya, jadi mana yang benar? " Audrey diam-diam tersenyum dengan sikap tsundere pangeran Yuiko. " Ah aku tidak menunggumu, maksudku aku merasa kau sangat lama?! Kau membuatku menunggu Ah bukan itu jadi- " pangeran terus mengoceh mencoba untuk menjelaskan apa yang sedang ia maksud.


Pangeran mengajaknya untuk pergi ke ruang bermain " Disini banyak mainan, adikmu bisa bermain di sini " mengeluarkan beberapa kotak mainan yang ada di rak. " Kalau begitu ayo kita sparring lagi " pangeran menggenggam tangan Audrey. " Saya tidak bisa meninggalkan Elen sendiri. Kita sparring nya nanti saja " Audrey menolak dengan lembut.


" Tapi aku ingin sparring sekarang?! Ayoo " pangeran menarik tangan Audrey, lalu mengambil alih Elen dan meletakkan nya di karpet bersama dengan mainan. " Lihat, dia senang bermain di sini. Tak akan ada masalah jika meninggalkan nya disini, aku akan menyuruh pelayan dan ksatria untuk menjaganya " menunjuk Elen yang asik bermain dengan berbagai mainan. Audrey menghela nafas lalu mengangguk.


Di area latihan keduanya memegang sebuah pedang kayu. Saat ini para ksatria masih melakukan latihan, mereka diam-diam menatap Audrey dan pangeran Yuiko. " Mereka berdua akan melakukan apa? " tanya seorang ksatria kepada temannya, yang lain hanya menggeleng.


Saat selesai bersiap Audrey dan Pangeran mulai mengayunkan pedang dan saling menyerang. Suara benturan antara pedang kayu terdengar cukup keras, pedang kayu masing-masing mereka aliri dengan mana. Semakin lama gerakan mereka semakin cepat. Ksatria yang melihat sparring itu melongo tak percaya.


Mungkin jika itu hanya pangeran mereka sudah biasa, namun kali ini yang membuat mereka menatap tak percaya adalah seorang putri Duke yang lihai bermain pedang.


" Mereka bermain dengan menakjubkan "


" Siapa nona muda itu? Dia mengayunkan pedang dengan cepat tanpa ragu "


" Bukankah itu putri Duke? "


" Mereka bermain dengan seimbang "


Tanpa memperdulikan omongan para ksatria, Audrey dan pangeran Yuiko terus saling menyerang. Pedang mereka sudah mulai retak lantaran tak mampu menahan kuatnya aliran mana dan benturan. Keduanya berhenti menyerang saat pedang kayu yang mereka gunakan hancur. " Sangat menyenangkan. Tak banyak yang bisa bermain dengan seimbang denganku " pangeran Yuiko menatap pedang keduanya yang hancur, sebuah pujian muncul untuk Audrey.


" Saya tersanjung dan merasa terhormat dengan pujian anda " Audrey diam-diam menghilangkan jejak mana pada pedang kayunya. " Kau panggil aku Yuiko saja, tidak perlu embel-embel pangeran. Kita sudah menjadi teman, dan aku sangat menyukai permainan pedangmu " mereka berdua mengobrol sebentar dan meninggalkan area latihan.


Keduanya pergi menuju ruang bermain, dan melihat Elen sedang tertidur bersama tumpukan mainan. Setelah menggendong Elen, Audrey pamit untuk pulang karena Elen sudah kelelahan hingga tertidur.


Maaf kalau banyak typo


Jangan lupa like yaa