Reborn As A Duke's Daughter

Reborn As A Duke's Daughter
Pengumuman kelas khusus



Pagi hari ruang kelas Audrey ramai setelah mendengar bahwa hari ini, akan di umumkan hasil seleksi awal kelas khusus. Semua begitu menantikan hasilnya, berharap mereka lulus.


" Aku tidak sabar untuk itu "


" Hm, kau benar. Aku ingin masuk ke kelas khusus itu. Ku dengar gurunya begitu tampan, aku jadi tidak sabar "


" Ohh kau hanya melihat gurunya, bagaimana dengan pelajarannya? "


" Aku tidak peduli. Walau aku tidak mendapat nilai yang bagus, Ayah akan melakukan sesuatu untuk itu "


" Wahh kau berbuat curang ternyata "


Obrolan antara para siswi yang sedang bergosip membuat Audrey mendengus kesal. Anak perempuan yang terlalu di manja, membuatnya terlihat bodoh dan tidak berguna. Merasa kurang adil bagi murid dari kalangan rakyat biasa, mereka mungkin akan mengalami kesulitan nanti.


" Aku tadi mengintip sedikit kertas berisi hasil seleksinya. Ada namaku di sana, aku sangat senang?! " pekik Isabella pelan, dengan antusias menceritakan betapa senangnya dia.


" Kenapa kau bisa mengintip? " tanya Audrey penasaran, memandang Isabella yang masih tersenyum senang.


" Oh hasilnya ada di perpustakaan. Yang mendata adalah kepala sekolah secara pribadi, dia meminta kepala perpustakaan untuk kembali menyalin hasilnya, untuk jaga-jaga. Dan sebagai asisten di sana, aku menawarkan diri untuk menolong, dan beruntungnya aku bisa mengintip sedikit " jelasnya. Audrey mengangguk mengerti, berfikir apakah dia akan lolos seleksi awal.


Tak lama guru pengejar masuk, suasana kelas yang awalnya ramai seketika tenang. Guru menempelkan hasilnya di papan pengumuman, lalu mengumumkan hasilnya.


Seperti kata Isabella, dia lolos seleksi awal. Pada bagian akhir guru mengumumkan hasil seleksi awal kelas berpedang. Audrey sedikit gugup, menunggu guru mengumumkan hasilnya.


" Yang lolos seleksi untuk kelas berpedang dari kelas ini ada delapan siswa. Erickson, Malkin, Robert, James, Henryk, Calvin, Leo, dan Audrey " setelah itu guru meletakan kertas di atas meja, menatap setiap siswa-siswi yang begitu antusias. Namun saat nama Audrey di sebutkan, mereka diam kebingungan.


" Bu, kenapa nama siswi perempuan juga di sebutkan sebagai hasil seleksi awal kelas khusus berpedang? " salah satu siswa mengangkat tangan. Guru kembali memeriksa hasilnya, tidak ada kesalahan. Di belakang nama Audrey terdapat nama keluarga yang terkenal dengan keahlian pedangnya. Hanya saja beberapa guru yang mengetahuinya.


" Tidak ada kesalahan, semuanya sudah melalui seleksi yang ketat " memberikan isyarat singkat agar siswa-siswi kembali tenang.


" Ibu yakin tidak ada kesalahan?! " menolak untuk percaya, dia adalah siswa yang namanya tidak disebutkan tadi, artinya dia tidak lolos seleksi awal kelas khusus. Menatap jengkel pada Audrey yang duduk tenang. " Tidak ada. Kalian bisa mulai masuk kelas khusus setelah informasi lebih lanjut. Persiapkan diri kalian untuk tes masuk nanti "meninggalkan kelas dengan suara riuh parah siswa.


Mereka kembali memandang Audrey yang masih tenang dan membaca buku. Isabella mendengus pelan, dia sudah menduga hal ini akan terjadi. Baru saja di umumkan Audrey sudah menjadi bahan gosip, bahkan saat Audrey masih berada di kelas.


" Kenapa dia masuk kelas khusus? "


" Entahlah aku juga tidak paham. Mungkin dia hanya rakyat jelata, jadi tidak paham etika "


" Mungkin kau benar "


" Hei tidak mungkin perempuan memegang pedang, bisa saja dia menyogok guru agar di loloskan "


" Kalau dia rakyat jelata, mana mungkin dia mampu untuk menyogok? Bisa saja dia menggunakan tubuhnya untuk itu hihihi " Tawa penuh ejekan terdengar. Beberapa siswa-siswi mulai bergosip, dan beberapa hanya diam tidak peduli.


Siswa yang tidak lolos seleksi awal menghampiri Audrey, lalu menggebrak meja.


" Hei?! Kau pasti menyogok kan?! " menatap kesal pada Audrey yang masih tenang.


" Sudah cukup. Kau sendiri yang tidak lolos, kenapa marah padaku? Mungkin guru lebih tau mana yang cocok memegang pedang dan tidak. Kalau mau protes, temui kepala sekolah sana " Audrey menarik tangan Isabella keluar kelas. Siswa tadi hanya menggeram marah, wajahnya merah padam.


" Aku sudah menduga ini akan terjadi. Padahal baru mendengar pengumuman, tapi sudah seperti ini. Kau tidak papa? " Isabella menatap Audrey khawatir. Mereka berjalan di koridor yang masih sepi. Entah akan kemana, yang jelas mereka bolos kelas, terganggu dengan kelas yang ramai.


" Tidak papa. Aku juga sudah menduganya dari awal. Tapi aku tidak peduli, mau mereka bergosip atau apapun, selama tidak melewati batas aku tidak peduli " langkahnya terhenti di bawah pohon besar, tanpa pikir panjang Audrey duduk menyandar di barang pohon. Dan Isabella mengikuti.


Suasana yang Audrey suka, dia selalu merasa nyaman saat duduk di bawah pohon seperti ini. " Gosip tentangmu akan menyebar di akademi, di kelas kita ada anggota dari penerbit berita di akademi. Mungkin dia akan menjadikan ini topik panas "


" Biarkan saja, lagi pula banyak tidak mengenalku " Audrey memejamkan matanya. Angin berhembus pelan menggoyangkan helai rambutnya. Isabella terpesona saat melihat visual Audrey yang tidak main-main.


" Kau sendiri pasti sangat senang lolos seleksi awal. Kau sudah melakukan persiapan untuk tes nanti? " mengalihkan topik, Audrey menatap Isabella yang sedang melamun.


" Ah iya aku sudah mempersiapkannya. Aku tidak perlu banyak berlatih, karena sejak awal aku yakin kalau aku cukup mahir mendesain juga menjahit " ucapnya antusias. " Ibuku pandai menjahit, jadi dia selalu mengajariku sejak kecil. Keluargaku juga memiliki butik yang berada di pusat kota, aku akan sangat senang jika bisa meneruskan bisnis keluargaku " Audrey dengan setia mendengarkan cerita Isabella. Diam-diam dia merindukan Elena yang lama tidak bertemu.


Selama menjalani tugasnya, Elena sering berpindah-pindah tempat, jadi sedikit sulit untuk menghubunginya. Kadang kala Elena akan mengirim surat, dan Audrey membalas. Audrey tidak bisa mengirim surat lebih dulu, karena tidak mengetahui tempat tujuan Elena selanjutnya. Dan hanya bisa menunggu surat dari Elena sendiri.


" Kenapa kau melamun? " Isabella menghentikan ceritanya, menatap Audrey bingung. " Bukan apa-apa, aku hanya merindukan teman kecilku " Isabella berbinar ingin mendengar cerita Audrey. Jarang sekali Audrey tersenyum lembut seperti ini.


" Ceritakan?! Aku sangat ingin mendengarnya sekarang " Audrey hanya menggeleng pelan.


" Tidak akan. Aku akan tidur sebentar, kau bangunkan aku nanti " Isabella hanya mengangguk seraya mendengus kesal.


.......


.......


.......


" Keretanya akan tiba cukup lama. Bagaimana ini? "


" Kenapa tidak membeli portal sihir saja? "


" Harganya cukup mahal, portal sihir kelas rendah juga akan memakan waktu yang lama untuk sampai "


" Bagaimana dengan mage akademi? "


" Level mereka masih belum bisa membuat portal sihir. Hanya mage dari menara sihir yang bisa, tapi tetap saja harganya akan sangat mahal "


" Memang berapa anggaran akademi saat ini? Bukannya cukup? "


" Anggaran akademi akan terkuras jika membeli portal sihir, lagipula anggaran nya sudah di data untuk beberapa hal, jadi tidak bisa dirubah "


Maaf kalau banyak typo


Jangan lupa like yaa