
Beberapa hari setelahnya, Audrey kembali dan meninggalkan gua yang telah hancur. Jefford langsung menemui Audrey setelah asistennya mengatakan bahwa Audrey telah kembali.
Suara langkah kaki terdengar nyaring dari lantai atas, Audrey menatap ke arah tangga menunggu seseorang yang sedang turun. Jefford dengan tergesa-gesa memeluk Audrey " Apa kau baik-baik saja? Ayah khawatir denganmu yang tiba-tiba menghilang " Audrey membalas pelukan Jefford dan memenangkan nya.
" Aku baik-baik saja " Audrey melepaskan pelukan Jefford, menatap wajah Ayahnya yang kusut lalu membuang nafas " Aku akan kembali ke kamar terlebih dulu. Lalu aku akan menemui Ayah setelahnya, ada yang ingin Ayah bicarakan denganku kan? " Jefford mengangguk, melihat punggung putrinya menjauh.
" Sebentar lagi akan ada pendaftaran akademi. Aku akan mendaftar dan lulus bagaimanapun caranya " berendam dan menikmati air hangat yang perlahan terasa dingin setelah bersentuhan dengan kulitnya. Mengingat penampilan Ayahnya yang nampak kacau, Audrey tersenyum tipis. Setelah cukup lama berendam, Audrey mengenakan pakaian santai dan menuju ruang kerja Jefford.
Saat masuk Audrey melihat kepala pelayan yang sedang mengobrol bersama dengan Jefford. Melihat kedatangan Audrey kepala pelayan izin untuk undur diri, melewati Audrey dan melirik nya lalu tersenyum. Audrey merasakan keanehan dari kepala pelayan, namun menghiraukan nya untuk sekarang.
" Sepertinya Ayah tidak tidur dengan benar beberapa hari ini " melihat kantung mata hitam di mata Ayahnya. Jefford hanya tersenyum tipis " Bukan masalah besar. Saat kau menghilang Ayah sangat khawatir, Ayah menyuruh ksatria dan para pelayan untuk mencarimu, namun tidak juga menemukan mu. Ayah lega kau pulang dan tidak terluka sedikitpun " Jefford menghembuskan nafas lega.
" Ayah " menatap Jefford serius " Ayah sungguh ingin menikah dengan wanita itu? " Audrey ingin memastikan keputusan Ayahnya, walau dalam alur cerita asli Jefford akan menikah dengan Angela lalu lahirlah protagonis. Jefford diam nampak berfikir, setelah Audrey menghilang beberapa hari ini Jefford merasa keputusan nya untuk menikah kembali tidak baik, dan hal itu menyakiti hati putri semata wayangnya.
" Tidak. Ayah tidak akan menikah dengannya. Ayah sadar Ayah terlalu terburu-buru mengambil keputusan tanpa memikirkanmu. Lagipula Ayah masih mencintai ibumu " Audrey tersenyum mendengar jawaban sang Ayah, " Jika Ayah ingin menikah kembali aku tidak masalah, bagaimanapun Ayah pasti merasa kesepian. Jika ada wanita yang Ayah cintai kelak, tolong katakan padaku dulu. Asal bukan wanita janda itu, kupikir masih bisa dipertimbangkan "
Jefford tertawa kecil mendengar ucapan Audrey " Putri Ayah sangat baik " senang sekaligus bangga dengan pemikiran Audrey yang lebih dewasa dan perhatian terhadapnya. Suasana kaku yang ada pada keduanya seketika tergantikan kembali dengan suana hangat. " Ayah, aku mendengar kalau akan ada pendaftaran untuk masuk akademi, bisa aku ikut mendaftar? " Jefford awalnya ingin menolak, namun melihat tatapan Audrey Jefford menghela nafas dan mengangguk.
" Ayah akan buatkan surat rekomendasi untukmu " Audrey mengangguk senang dan memeluk Jefford. Tak lama asisten Jefford mengetuk pintu, setelah Jefford mengizinkannya masuk, asisten itu menyampaikan surat langsung dari istana. Jefford membacanya sekilas lalu meletakkannya kembali, asisten itu izin untuk undur diri.
" Apa isinya? " Audrey menatap penasaran pada surat itu. " Raja memintamu untuk menjadi teman bermain pangeran keempat, usianya tidak jauh berbeda denganmu hanya selisih beberapa bulan saja. Kau mau menerimanya? Jika tidak Ayah akan menolaknya " Audrey berfikir sebentar, mengingat Arcel juga pangeran namun tidak di anggap.
Audrey merasa ingin menolak namun berfikir kembali mungkin akan ada keuntungan yang akan ia dapat dari hal ini. ' Berteman dengan anggota keluarga kerajaan mungkin hal yang menguntungkan. Lagi pula aku harus menyembunyikan Arcel sampai dia mencapai usia dewasa ' Audrey mengangguk-ngangguk " Baiklah aku mau, Ayah tidak perlu menolaknya "
Pada keesokan harinya, Audrey pergi ke istana para pangeran menggunakan kereta kerajaan yang secara khusus menjemput Audrey. Istana para pangeran berada di sebelah kanan istana utama tempat Raja dan Ratu.
Audrey berjalan menyusuri lorong panjang yang langsung menghadap ke arah taman kerajaan, dipandu langsung oleh kepala pelayan di istana pangeran. Dengan ramah kepala pelayan menceritakan sedikit tentang pangeran ke empat, agar Audrey tidak kesulitan saat bergaul dengannya.
" Pangeran keempat bisa di bilang cukup arogan namun dia anak yang jujur. Pangeran keempat lebih suka mengekspresikan diri secara langsung tanpa memikirkan orang lain, dan tipe yang tidak pandai berbohong. Ini pertama kalinya pangeran keempat mendapat teman yang diatur oleh Raja, dia tidak memiliki teman selama ini "
Audrey menoleh ke belakang lalu berjalan ke arah meja teh tempat dimana pangeran keempat sedang tidur. Diam duduk menatapnya, rambut pangeran yang berwarna coklat keemasan bergerak karena hembusan angin. Audrey dengan setia tetap menunggu hingga pangeran keempat bangun.
" Ha?! Siapa kau?! " terkejut karena saat bangun didepannya Audrey sudah duduk sambil menatapnya.
" Yang mulia perkenalkan saya Audrey Celeste Darold. Yang mulia Raja meminta saya untuk menjadi teman bermain anda mulai sekarang " Audrey dengan sopan mengucapkan salam. Pangeran keempat menggebrak meja, Audrey sedikit terkejut dengan suaranya yang keras.
" Oh Ayahanda sudah memberitahu ku. Tidak kusangka kau akan datang hari ini " mengangguk-angguk. " Itu karena saya sedang tidak sibuk hari ini " membalas dengan senyum ramah.
" Jadi kalau kau sibuk kau tidak akan bermain denganku walau aku memanggilmu? " Audrey mengangguk. " Memangnya kau sibuk apa? Aku yang seharusnya lebih sibuk, aku kan pangeran " entah kenapa nada bicaranya menunjukkan rasa bangga.
" Saya tau kalau anda pangeran. Tapi saya lebih sibuk daripada anda yang mulia " Audrey menjawab apa adanya.
" Aku tidak peduli?! Saat aku ingin bermain denganmu kau harus datang walau kau sibuk. Kau tidak boleh mengabaikan perintahku " tersenyum bangga.
" Kalau begitu saya ingin bertanya. Sebenarnya Raja meminta kita untuk menjadi teman bermain, sebagai teman tidak ada yang namanya perintah, lalu anda tidak menganggap saya teman tapi bawahan? " pangeran keempat diam, dia nampak berfikir.
" Bukan seperti itu, tapi ughh sudahlah lupakan. Aku tidak akan menganggapmu teman " Audrey ingin tertawa mendengar jawaban itu ' Dasar tsundere ' menggeleng dan tersenyum maklum.
" Saya sudah memperkenalkan diri, sekarang giliran anda " - Audrey
" Bukankah kau sudah tau? Aku pangeran keempat di Kerajaan ini " menatap bingung Audrey. " Iya saya tau. Tapi akan lebih bagus jika anda memperkenalkan diri secara langsung, saya akan merasa senang dan terhormat "
" Baiklah. Aku pangeran keempat, namaku Yuiko Jian Fairuz " Audrey mengangguk " Senang berteman dengan anda " setelah itu keduanya saling diam. Hanya menikmati teh dengan biskuit tanpa adanya percakapan.
" Apa kau bisa bermain pedang? " pangeran Yuiko bertanya penasaran. Audrey mengangguk " Ya saya bisa, anda ingin berduel? sparing? " pangeran Yuiko berfikir, " Kau yakin kau bisa? Perempuan bermain pedang? Kau bahkan tidak akan bisa mengayunkan pedang "
" Bagaimana kalau kita coba? " pangeran Yuiko tersenyum remeh " Oke "