
Suara langkah kaki terdengar sepanjang lapangan. Para bawahan Audrey berlari mengitari lapangan dengan nafas tersengal. Beberapa Ksatria mengawasi mereka dari pinggir, begitu pula Audrey yang ikut mengawasi namun dari jarak jauh.
Kali ini sesi latihan fisik sebelum mereka mulai berlatih pedang. Semua laki-laki mengikuti latihan dan beberapa perempuan yang memiliki fisik kuat. Semua terbaring di atas tanah dengan nafas memburu. Beberapa perempuan membawa minuman dari dapur.
Terlihat keringat mereka mengucur deras dan kembali bersemangat setelah istirahat dan minum sebentar. Audrey yang melihat dari kejauhan cukup puas untuk langkah pertama. Dia masuk ke dalam kastil untuk melihat yang lain. Perempuan yang lain lebih memilih untuk mengembangkan bakat mereka, dan Audrey menyetujuinya. Beberapa memiliki bakat menjahit, memasak dan berkebun.
Walau bukan bakat spesial Audrey cukup senang, setidaknya tidak ada yang menjadi beban. Ada dua orang yang cukup menarik perhatian Audrey saat masuk ke dalam ruang belajar. Dua perempuan yang memiliki bakat dalam bidang pengobatan dan berdagang.
" Tuan " mereka menoleh melihat Audrey masuk ke dalam ruang belajar.
" Apa yang sedang kalian pelajari sekarang? " Audrey menatap beberapa buku di atas meja ada beberapa coreta di atas kertas putih yang berhamburan. " Kami sedang belajar seperti yang guru minta. Karena kami memang sudah bisa membaca dan menulis, kami langsung mempelajari apa yang ada di dalam buku " jelas mereka.
" Kau sudah pernah mencoba berdagang? " Audrey menunjuk pada salah satu di antaranya, perempuan dengan kuncir kuda. Dia mengangguk " Sebelum di tangkap dan di jadikan b*dak, saya pernah bersekolah dan belajar berbisnis di sana. Walau tidak sampai tamat dan berhenti di tengah-tengah "
" Siapa namamu? " Audrey sedikit penasaran dengan masa lalunya, bagaimana dia bisa tertangkap dan berakhir menjadi b*dak.
" Anda bisa memanggil saya Sofia " Audrey mengangguk dan kembali bertanya " Bagaimana kau bisa berakhir di tempat penjualan b*dak Sofia? " Audrey menyamankan duduknya bersiap untuk mendengar cerita Sofia.
Sofia diam mengenang hari-hari sebelum dia tertangkap dan masuk ke tempat perdagangan b*dak. " Saya tidak begitu ingat. Sebelum saya tertangkap, hari itu desa kami memang mengalami masalah. Tapi tidak banyak yang tau apa masalahnya. Sebelumnya saya dan putri saya sedang menjaga toko. Tiba-tiba di luar ramai dan banyak warga yang berlarian " Sofia menunduk, dia merasa sedih mengingat kejadian itu. Karena pada hari itu juga putrinya menghilang entah kemana.
" Jika kau tidak nyaman bercerita maka jangan di lanjutkan " Audrey memahami keadaan Sofia, mengingat dia membicarakan putrinya dia pasti sedih. Sofia menggeleng dan melanjutkan ceritanya.
" Karena ketakutan saya tidak melihat keadaan di luar. Dengan cepat kami masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang di toko. Saya menyembunyikan putri saya di bawah lemari, karena memang sering ada bandit hampir semua warga menyiapkan tempat persembunyian di rumahnya. Karena tempatnya yang kecil dan hanya muat untuk satu orang, saya tidak ikut bersembunyi disana. Dengan cepat saya menutup pintu kamar dan kembali ke toko untuk menutupnya "
" Tapi saat saya kembali ke toko, semua sudah hancur berantakan. Di luar juga sepi dan banyak barang yang hancur. Walau takut saya tetap melihat keadaan di luar. Setelah itu saya tidak tau apa yang terjadi dan hanya mendengar teriakan putri saya dari dalam, juga beberapa warga lain yang di tangkap. Dan saat membuka mata saya berada di balik sel bersama banyak orang, ternyata itu tempat perdagangan b*dak " Sofia menangis mengingat suara teriakan putrinya.
Saat berada di tempat perdagangan b*dak, Sofia mencari keberadaan putrinya. Dia ingat jika putrinya juga di tangkap saat itu, beberapa bulan dia mencari namun tidak pernah menemukannya.
Audrey mencerna cerita Sofia. Pantas saja Sofia selalu merawat anak-anak yang lain dengan senang. Mungkin itu mengingatkannya pada putrinya. " Maaf membuatmu mengingat hal yang menyedihkan " Audrey merasa tidak enak pada Sofia yang saat ini sedang menangis.
" Tidak papa. Mungkin sudah takdir, saya hanya berharap putri saya baik-baik saja " Sofia berhenti menangis dan menatap Audrey. " Terima kasih sudah membeli saya tuan. Di sana saya dan yang lain selalu di siksa, terutama perempuan. Mereka hanya akan di beli untuk di jadikan budak *** "
Yang lain menyahut " Benar. Awalnya kami takut saat di bawa keluar, kami mengira yang membeli kami adalah bangsawan mesum. Kami tidak mau berakhir menjadi b*dak ***. Tapi kami bersyukur yang membeli kami itu anda, selain anda juga perempuan anda juga memperlakukan kami dengan baik " yang lain ikut mengangguk.
Mereka bersyukur Audrey lah yang membeli mereka. Mereka mendapat tempat tinggal yang nyaman, makanan, pakaian dan kehidupan yang lebih tenang. Tidak masalah jika mereka hanya menjadi pelayan, itu sudah cukup untuk membayar budi mereka pada Audrey.
" Tidak perlu berterima kasih. Aku sama saja dengan yang lain, aku juga membeli kalian. Hanya saja aku tidak sekejam itu sampai harus menyiksa kalian. Aku lebih suka membuat kalian berguna untukku " Audrey tidak ingin dirinya di pandang sebagai malaikat. Karena pada dasarnya dia bukan malaikat. Audrey tidak ingin munafik mengatakan dirinya berbeda dengan yang lain, dan membeli mereka dengan alasan nuraninya.
" Kami paham. Di dunia ini memang tidak ada yang namanya makan siang gratis. Tapi kami tetap bersyukur, apa yang anda lakukan sudah cukup bagi kami. Anda mengeluarkan kami dari tempat penyiksaan itu, memberi kami tempat tinggal dan sebagainya " Sofia tersenyum tulus pada Audrey.
" Yang Sofia katanya benar. Kami akan merasa tidak enak jika hanya menjadi beban bagi anda. Kami malah senang kami bisa berguna untuk anda tuan " yang lain mengangguk setuju. Bagaimanapun bagi mereka Audrey adalah malaikat. Memang Audrey tidak pernah menyuruh mereka untuk menganggap dirinya sebagai keluarga.
Tapi mereka suka dengan sikap Audrey yang tidak munafik dan bermuka dua. Audrey bersikap apa adanya dan itu yang mereka suka. " Terima kasih " Audrey tersenyum. Senang rasanya memiliki orang yang bersikap tulus padamu.
Di lapangan, seorang pemuda menjadi pusat perhatian. Dia mengayunkan pedang kayunya dengan cepat. Cukup lihai untuk orang yang pertama kalinya mengayunkan pedang. Audrey menghampiri mereka. Melihat cara pemuda itu mengayunkan pedang kayu, Audrey tidak yakin kalau ini pertama kalinya.
" Nona " Ksatria di samping Audrey menyapa. Melihat tampang Audrey yang serius menatap ke arah kerumunan. Dia juga ikut menatap, ternyata Audrey sedang memperhatikan pemuda yang tengah menjadi pusat perhatian itu. " Dia cukup berbakat untuk pemula " Ksatria itu memujinya. Audrey mengangguk setuju.
Sesi latihan selesai dan semuanya sedang beristirahat. Audrey menghampiri pemuda tadi yang sedang duduk di bawah pohon.
" Ini pertama kalinya kau memegang pedang, kau yakin? " Audrey bertanya. Pemuda itu mendongak dan terkejut dengan kehadiran Audrey " Tuan " dia buru-buru menyapa dengan sopan. Sedikit malu karena sekarang dia berkeringat dan kotor.
" Jadi, ini pertama kalinya kau memegang pedang? " Audrey kembali bertanya. Pemuda itu mengangguk " Benar, saya baru kali ini memegang pedang. Apa saya melakukan kesalahan? " sedikit gugup menatap Audrey. Walau Audrey lebih muda darinya, tetap saja dia adalah atasannya dan juga aura yang Audrey pancarkan sangat kuat.
" Tidak. Kau tidak melakukan kesalahan. Permainan mu bagus, terus kembangkan " Audrey berjalan menjauh. Pemuda itu berdebar menatap punggung tegap Audrey. Dia merona tak kala mendengar pujian dari Audrey ' Tuan memujiku. Aku haru lebih baik lagi ' memegang dadanya yang terus berdebar.
Setelah menyelesaikan semua latihan hati ini, mereka semua beristirahat dengan nyaman. Hujan mengguyur daratan cukup deras. Audrey menatap keluar, dia merindukan Ayahnya, biasanya saat hujan Marcel akan memasak sup tahu dan mereka akan makan bersama.Dari dapur tercium aroma lezat. Audrey menoleh saat Sofia memanggilnya.
" Tuan kami membuat sup. Sekarang sedang hujan akan sangat cocok jika makan sup hangat " Audrey meneguk ludahnya. Lalu mengikuti Sofia menuju ruang makan.
' Sup kacang? ' Audrey diam-diam merasa senang, walau bukan sup tahu tapi ini membuatnya mengingat Ayahnya. Mereka semua makan dengan nikmat. Sup kacang merah membuat mereka merasa hangat, dikala hujan mengguyur deras di luar.
" Sup kacangnya enak, siapa yang memasaknya? " Audrey tidak bohong, sup ini rasanya enak dengan cita rasa yang khas.
Perempuan dengan rambut coklat pendek mengangkat tangan, " Saya yang membuatnya. Saya senang anda menyukainya " dia tersipu malu karena senang. Audrey mengangguk dan melanjutkan makannya.
Beberapa dari mereka menganggap Audrey masih tetap lah anak-anak. Kadang Audrey bertingkah polos namun selalu dewasa. Dari beberapa sisi Audrey terlihat kesepian dan merindukan sesuatu. Mereka tidak ingin tau dan hanya akan membuat Audrey nyaman di sini.
Maaf kalau banyak typo
Jangan lupa like yaa