
Pada saat Audrey berada di kamar, secara tiba-tiba kepalanya terasa seperti akan meledak. Dengan kuat ia memegang kepalanya dan pingsan di lantai yang dingin.
[ Setiap hari aku selalu mendengar bisikan dari Ayah dan Ibu “ Nak kenapa kau lahir? Nak kenapa kau tidak mati saja? “ itulah yang selalu aku dengar. Namun, aku tidak pernah menghiraukannya, karena apa yang Ayah dan Ibu selalu ucapkan saat aku masih di dalam kandungan adalah semangatku. Aku bisa mendengar semuanya, itulah keistimewaanku. “ Aku menantikan anak kita lahir. Dia akan menjadi anak yang kuat dan di segani kelak “ itulah yang Ayah katakan. Namun, aku mengecewakannya dan terlahir dengan mederian rusak dan tubuh cacat. Aku sadar akan hal itu, namun tak ada yang bisa aku lakukan.
Saat Ibu meninggal tak lama setelahnya Ayah menikah lagi. Aku sangat kesal dengan hal itu, Ayah jadi berubah dia tidak pernah menganggapku ada setelah itu. Ayah bahkan lebih menyayangi Cassandra daripada aku yang putri kandungnya. Aku mencari tau mengapa Ayah lebih menyayanginya? Dan aku sadar ternyata Cassandra berbakat dalam sihir. Ayah menikahi wanita itu karena tertarik dengan bakat milik Cassandra, walau awalnya hanya ingin mengadopsinya namun wanita itu memberikan syarat lain, yaitu menikahinya-
Aku-aku juga ingin terlahir dengan bakat seperti itu. Tapi takdir berkata lain, aku benar-benar sampah. Semua orang mengenalku sebagai sampah dan barang cacat yang mengotori nama keluarga. Lalu harus apa aku? Mati? Aku jadi membayangkan betapa indahnya jika aku mati, semua orang juga pasti akan senang dengan itu kan? Sedandainya aku terlahir normal apa Ayah akan bangga? Apa semua orang akan menyayangiku juga? Pasti indah. Tapi itu tidak akan pernah terjadi, aku tau itu.
Selama mereka berbisik, memandangku rendah, menghinaku dan Ayah yang tak menganggapku ada…Aku memilih diam dan tidak memasukannya kedalam hati. “ Aku bisa melaluinya?! “ hanya itu yang bisa ku ucakan. Aku rindu keluargaku dulu, sangat harmonis walau hanya kebohongan. Aku merasa senang akan hal itu- ]
Ingatan Audrey asli terus bermunculan, hingga Audrey terbangun pada keesokan harinya. Tangannya mengepal erat, matanya lembap “ Dasar menyedihkan. Kenapa kau tidak melawan? Ohh apa karena kau tau kau tidak akan bisa? Kenapa kau berharap banyak tentang kasih sayang yang tulus? Sejatinya tidak ada yang seperti itu di dunia ini “ menatap lurus ke depan, berfikir Audrey adalah anak yang malang dan sangat menyedihkan.
Tidak ada yang benar-benar menyayanginya dalam hidupnya. “ Memang apa salahnya menjadi cacat? Lagipula itu bukan keinginanmu kan? Hahhh kau tenang saja aku akan membalaskan semua dendamu Audrey “ matanya kembali tertutup dan saat terbuka dari dada kiri hingga mata kirinya muncul tanda semerah darah.
Sraak
Di sebuah lorong yang gelap Audrey berjalan, suasana kacau dan kumuh. Banyak pengemis dan bandit berkeliaran. Audrey berhenti di sebuah tempat yang cukup luas dengan suara rantai dan teriakan di mana-mana. Seseorang menghampiri Audrey “ Pelanggan, seperti apa yang anda butuhkan? “ Audrey menatapnya sekilas lalu menatap sekitar,
“ Aku akan pergi melihat-lihat dulu “ orang itu mengangguk dan menuntun Audrey.
Di sepanjang jalan Audrey melihat setiap sel yang penuh dengan budak, di sepanjang jalan Audrey tidak menemukan sesuatu yang istimewa. Tiba di ujung, sel yang lebih banyak di tunjukan kepada Audrey “ Anda bisa memilih, ini adalah budak-budak dengan kualitas yang lebih baik daripada yang ada di depan “ Audrey berjalan secara perlahan dan menyusuri lorong sel yang gelap di ikuti oleh pria tadi. Audrey berhenti tepat di ujung lorong dan berbalik menatap pria yang di belakangnya “ Aku akan mengambil semua, pisahkan yang perempuan. Aku akan memilih sendiri untuk yang perempuan “ pria itu tersenyum lebar dan melakukan perintah Audrey.
Dengan tenang Audrey menunggu di luar menatap setiap budak yang ada.
Kereta tidak menuju ke kediaman Darold melainkan ke tempat lain dan masuk ke dalam hutan. Kereta berhenti di depan pintu masuk hutan terlarang, kusir meminta para b*dak keluar. Para b*udak menatap ketakutan pada Audrey, mereka berfikir Audrey akan mebunuh mereka atau semacam menjadikan mereka tumbal melihat Audrey yang membawa mereka ke hutan terlarang. Audrey menggiring merka agar masuk, tak jauh dari pintu masuk hutan terlarang suasana sangat berbeda. Mereka menatap kagum pada hamparan rumput hijau, tak jauh dari mereka berdiri sebuah bangunan bernuansa kayu berdiri dengan kokoh.
Audrey berbalik dan menatap mereka, “ Mulai hari ini kalian akan tinggal disini. Tidak ada yang tau mengenai tempat ini jadi kalian akan aman “ salah seorang b*dak dengan ragu menatap Audrey, “ Ada yang ingin kau tanyakan? “ walau awalnya ragu dan takut b*dak itu memberanikan diri bertanya “ Untuk apa anda membeli kami semua? “ Audrey diam sejenak.
“ Tujuanku membeli kalian semua adalah untuk menjadikan kalian bawahanku. Saat kalian tinggal disini semua kebutuhan kalian akan aku tanggung, kalian tidak perlu khawatir soal makanan dan pakaian. Aku akan melatih kalian dan kalian harus setia padaku “ para b*dak berbisik entah kenapa mereka seperti melihat secerah cahaya pada Audrey “ Kami akan setia?! “ mereka serempak menganggu. Audrey tersenyum menatap mereka.
Audrey duduk di sebuah meja makan dengan para b*dak yang ia beli. “ Apa kalian punya nama? “ tidak mungkin Audrey terus memanggil mereka b*dak kan? “ Kami tidak punya nama, tapi beberapa ada yang punya nama “ Audrey mengangguk dan meminta mereka yang memiliki nama untuk menyebutkannya, dan hanya tiga orang yang memiliki nama. Audrey tidak memiliki bakat untuk membuat nama, jadi ia meminta mereka masing-masing untuk menyebutkan nama yang mereka inginkan.
Seorang pelayan datang dan menyiapkan makanan untuk Audrey dan semuanya “ Mulai sekarang kalian bukan lagi b*dak. Kalian adalah orang-orangku, selama kalian setia padaku kalian akan mendapatkan perlindungan dariku “ semua menatap Audrey dengan senang, beberapa menangis dan dalam hati mereka bersumpah untuk menjadi bawahan Audrey yang setia. Suasana di meja makan begitu hangat, mereka semua dengan lahap memakan semua yang ada di meja. Tawa riang terdengar di seluruh ruangan. Audrey merasa hangat melihat senyum orang-orang di depannya, bahkan beberapa masih seorang remaja.
Saat hari menjelang malam, Audrey pamit untuk pulang. Semua orang mengantar Audrey hingga pintu depan dan melambaikan tangan dengan senyuman, bukti mereka senang dengan keberadaan Audrey. Audrey tidak kembali ke istana duke, dan berhenti di sebuah gua. Aura hitam pekat mengelilingi tubuh Audrey, dengan perlahan ia mengarahkan tangannya pada sebuah batu besar di depannya. Seketika batu itu hancur lebur. Semalaman Audrey berlatih mengendalikan sihirnya. Pada pagi harinya istana duke di buat panik dan ribut karena Audrey yang menghilang. Para pelayan dan ksatria berkeliling dan mencarinya di setiap sudut namun tak kunjung menemukannya.
Caesar tidak begitu khawatir, ia masih merasakan bahwa Audrey masih aman, dan dengan tenang bermain bersama Elen dan Arcel di dalam kamar Arcel.
Gua itu membeku dengan lapisan es tebal di sekelilingnya. Setelah Audrey mengalami pembekuan nadi, awalnya ia mengira hanya akan memperbaiki mederiannya, namun secara tidak terduga Audrey mendapatkan elemen es di dalam dirinya. Hal yang tidak ia duga tapi membuatnya cukup senang. Walau hal yang cukup asing baginya belajar dan menggunakan sihir, Audrey cukup cepat mempelajarinya dengan baik setelah berhasil memperbaiki mederiannya.
Dalam beberapa hari Audrey tidak pulang dan tetap berlatih di gua, tanpa ia sadari istana duke dalam keributan beberapa hari. Jefford marah dan merusak semua yang ada di sekitarnya, dalam hatinya ia khawatir dengan putrinya yang entah pergi kemana. Seketika ia mengingat kejadian di ruang makan, saat Audrey bertemu dengan Angela. “ Ini pasti gara-gara itu. Audrey tidak menginginkannya, jadi dia pasti kabur karena merasa kecewa denganku “ terduduk lesu menatap langit-langit kamarnya.
Maaf kalau banyak typo
Jangan lupa like yaa