
Keesokan harinya, di luar istana duke terdengar suara teriakan keras. Beberapa pelayan berbisik sambil diam-diam mengintip sumber teriakan itu. Audrey melihat dari jendela kamarnya, seorang wanita yang ia kenal berteriak dan berusaha menerobos masuk ke dalam. Namun, ksatria penjaga menghentikannya. Terlihat di samping wanita itu berdiri seorang anak perempuan.
Audrey diam-diam tersenyum mengejek. ' Ayah tidak mengingkari janjinya ' menutup tirai lalu berganti pakaian. Saat menuju ruang makan, Audrey meminta pelayan untuk membiarkan wanita itu masuk dan menunggu di ruang tamu. " Biarkan dia masuk dan menunggu di ruang tamu. Jangan biarkan dia membuat keributan atau sarapan ku akan terganggu " pelayan itu mengangguk dan segera keluar menuju pintu gerbang.
Audrey memakan sarapannya dengan tenang. Duke saat ini sedang pergi ke istana atas perintah Raja. Jadi, kali ini Audrey yang akan mengurus wanita itu, sekaligus mempermainkan nya. Setelah menyelesaikan sarapannya, Audrey berjalan menuju ruang tamu di lantai bawah.
Sebelum masuk, Audrey mengintip dari sela-sela pintu. Wanita itu nampak menahan marah dan meremat gaunnya dengan erat, anak perempuan yang ia bawa hanya menatap sekeliling dengan pandangan kagum. Audrey tertawa kecil, merasa tingkah mereka yang sangat memalukan ' Orang seperti mereka ingin masuk ke dalam keluarga Darold? Memang tidak tahu diri '
Saat mendengar suara langkah kaki, Angela buru-buru mengubah ekspresi marahnya menjadi menyedihkan. Lalu menatap ke arah pintu dengan penuh harap. Namun, ekspresi nya langsung berubah saat mengetahui Audrey yang masuk bukan Duke.
" Apa yang kau lakukan disini?! " dengan marah menatap Audrey. Sedangkan Audrey tidak kepeduliannya terus berjalan masuk dan duduk di kursi utama. " Bukankah sudah jelas? Ini istana ku, sudah pasti aku sini. Yang seharusnya bertanya itu aku, kenapa ada lalat yang masuk kesini "
" Dimana tuan Duke " tidak ingin membuat keributan dengan Audrey, dan mencari keberadaan Duke. Karena yang Angela butuhkan sekarang ada Duke.
" Ayah tidak ada. Dan walaupun ada, memangnya kau siapa ingin mencari seorang Duke? " entah kenapa Audrey merasa senang melihat ekspresi Angela yang menahan marah. Wajahnya bahkan sampai memerah.
" Kau?! Dimana tuan duke. Aku ingin bertemu dengannya sekarang " berdiri mengepalkan kedua tangannya erat. " Ayah tidak ada. Katakan kenapa kau ingin bertemu dengan Ayahku? Oh apakah karena Ayah tidak ingin menikah mu lagi? " tersenyum mengejek.
" ITU KAU?! INI SEMUA GARA-GARA KAU J*LANG?! KAU PASTI YANG MENGHASUT TUAN DUKE KAN?! " berteriak marah.
" Untuk apa aku menghasut Ayah? Hei masih tidak sadar diri? Kau itu bukan apa-apa bagi Ayahku, ingat. Jika aku tidak setuju maka Ayah juga tidak akan. Jika disuruh memilih antara aku anaknya satu-satunya, dan kau yang wanita rendahan, seorang janda, rakyat jelata yang tak tahu malu... Tentu akan memilihku. Pel*cur " pada akhir kalimatnya Audrey berbisik tepat di telinga Angela. Membuat Angela kesal bukan main.
Angela mengangkat tangannya dan dengan cepat ingin menampar Audrey. Namun, ular besar muncul dan melilit Angela dan membuatnya kesulitan bernafas. Audrey menatap ular itu, lalu menoleh ke arah pintu. Elen merangkak mendekati Audrey. Tertawa riang saat berhasil berdiri dengan berpegangan pada kaki Audrey.
Audrey mengangkat Elen dan mencium pipi gembilnya " Apa Elen kecilku sedang melindungi ku saat ini? Kau sangat menggemaskan sayangg " Ular itu perlahan menghilang, menjatuhkan Angela ke lantai dengan wajah pucat akibat kehabisan nafas. Tak lama Caesar masuk dengan wajah cemas " Elen?! " menatap Audrey dan Elen yang berada di gendongannya.
" Elen tidak papa. Caesar boleh aku minta tolong? Hapus ingatan wanita ini dan juga bocah yang ketakutan di sana, saat ular itu muncul " Audrey menatap Angela yang pingsan dan anak perempuan yang menatap ketakutan pada Audrey. Caesar mengangguk, walau seharusnya menghapus ingatan tidak boleh di lakukan sembarangan. Namun, karena ini permintaan Audrey maka tanpa pikir panjang ia akan melakukannya.
Setelah menghapus ingatan keduannya, Audrey meminta Caesar untuk menunggu di kamarnya dan meninggalkan Elen bersama Audrey. Elen bermain dengan perhiasan yang ada pada pakaian Audrey, tanpa menghiraukan hal lain di sekitarnya.
Audrey memerintahkan pelayan untuk mengusir dua orang itu. Meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju taman belakang. Audrey merasa sudah cukup lama tidak bermain dengan Elen dan Arcel. " Ayo main di taman Elen " di setiap lorong yang Audrey dan Elen lewati, hanya terdengar suara tawa Elen yang cukup keras.
" Maafkan kakak. Banyak hal yang harus kakak selesaikan, bagaimana perkembangan latihanmu? " mengelus kepala Arcel. " Semua berjalan lancar, guru sering memujiku. Tak lama lagi aku akan menjadi kuat dan melindungi kakak " tersenyum bangga. Mereka bertiga bermain cukup lama, sampai Elen tertidur di atas rumput. Baru Audrey mengajak keduanya untuk kembali dan tidur siang.
Setelah mengantar Arcel dan Elen ke kamarnya, Audrey menuju ruang kerja Ayahnya. Lalu memanggil kepala pelayan untuk menemuinya. Kepala pelayan segera datang, dan menatap malas pada Audrey
' Kenapa bocah ini memanggilku, mengganggu tidur siangku saja ' Audrey diam membaca beberapa dokumen di meja.
" Kepala pelayan. Kau tau kenapa aku memanggilmu? " Audrey berbicara tanpa menatap kepala pelayan. " Tidak nona " setelah itu Audrey meletakan dokumen yang ia baca dan menatap kepala pelayan. " Berhenti berpura-pura bodoh. Aku akan memecatmu dan kepala koki hari ini "
Mendengar itu kepala pelayan terkejut " Apa maksud anda nona?! "
" Sudah ku katakan berhenti berpura-pura bodoh. Aku sudah tau apa yang kau lakukan selama ini, penggelapan dana makan yang kau lakukan bersama kepala koki. Jadi, aku akan memecatmu sekarang "
" Anda pikir anda siapa?! Anda hanya memfitnah saya. Saya tidak pernah melakukan perbuatan buruk seperti itu " menatap Audrey marah. " Siapa yang memfitnah? Aku punya buktinya. Dan karena sikap angkuhmu juga kau yang tidak sopan padaku, aku semakin yakin untuk memecatmu " Audrey berdiri dan menunjukan bukti penggelapan dana itu. Kepala pelayan menatap gemetar setiap tulisan yang ia baca.
Sebenarnya tidak hanya penggelapan dana yang di lakukan kepala pelayan, salah satunya adalah membuat Devina mengonsumsi racun secara rutin selama beberapa tahun terakhir. Walau hanya racun yang tidak berbahaya, namun jika di konsumsi secara rutin dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kematian. Audrey tidak menyertakan bukti mengenai hal itu. Dia mempunyai rencana lain untuk itu. Karena Audrey tau siapa yang berada di balik racun itu.
Kepala pelayan marah dan tidak terima, dia membela diri dan membuat keributan. Audrey sadar mungkin dia tidak takut padanya karena hanya menganggap Audrey anak kecil, dan akan berbeda jika Duke berada di sini saat ini.
" Pangawal, usir dia dan kepala koki sekarang. Jangan biarkan mereka masuk " pengawal menyeret kepala pelayan dan menuju dapur istana untuk menyeret kepala koki juga.
Beberapa hari setelah kematian Devina, Audrey secara tidak sengaja menemukan kantong aneh di bawah tempat tidur Devina. Saat mengambilnya dan mencium aroma nya, Audrey merasa ada yang janggal. Audrey memanggil dokter, dan memintanya untuk melihat kantong itu.
Pada awalnya dokter merasa kantong itu hanya berisi rempah-rempah untuk wewangian, namun setelah di teliti beberapa hari. Dokter cukup terkejut saat mengetahui bahwa kantong itu berisi tanaman beracun. Dokter menjelaskan efek tanaman itu, dan menduga kematian Devina juga ada sangkut pautnya dengan hal ini.
Maaf kalau banyak typo
Jangan lupa like yaa