
Seekor belalang bertengger di sudut sepatunya. Audrey memandang dengan malas. Regen mengendus serangga itu dan si belakang melompat di antara dedaunan.
" Kau bosan? " usapan halus Audrey ke kapala Regen. Kembali menatap malas rerumputan di depannya. Audrey kembali membolos kelas hari ini, Isabella sedang sibuk di perpustakaan karena buku baru yang datang, membuat Audrey tidak memiliki teman berbicara.
Helaan nafas Audrey hembuskan tak kala mengingat suasana tak nyaman di kelasnya. Saat baru masuk pagi tadi, Audrey hanya mendapat bisikan-bisikan dari teman sekelasnya, hal itu tentu membuatnya tidak nyaman. Walau tidak peduli dan bersikap cuek, bukan berarti membuat Audrey betah dengan suasana di kelasnya.
" Dunia ini kolot sekali, tidak ada kesetaraan gender. Apa harus jadi laki-laki dulu baru bisa megang senjata? Padahal setauku di Kerajaan lain, ada yang memperbolehkan perempuan memegang senjata huftt "
Bukan karena ingin terlihat berbeda dengan yang lain dan terlihat paling kuat. Jiwa Audrey yang berasal dari dunia modern tentu tidak tahan dengan aturan kolot di sini. Atensi nya teralihkan saat mendengar suara sepatu hak. Audrey tetap diam dalam posisinya, tidak berniat menoleh dan melihat siapa yang menghampirinya.
" Hai " sapaan hangat Audrey dengar, namun enggan untuk menjawabnya. " Aku dengar kau ingin bergabung di kelas khusus berpedang? Oh kau Audrey kan? " lagi-lagi Audrey hanya diam, melirik Regen yang dia sembunyikan di dalam portal sihir.
" Wah kau sombong sekali. Atau kau ini bisu ya? Atau tuli, jadi tidak mendengar ku bicara? Ya aku tidak peduli. Tapi kau ini tidak sopan loh mengabaikan lawan bicaramu, kau ini rakyat jelata? Ah pantas saja, seharusnya kau bersikap hormat padaku karena aku bangsawan, kau tau? " dia terus berceloteh tanpa henti. Audrey hanya diam malas menyahuti, berfikir mungkin gadis aneh itu akan segera pergi jika di abaikan. Namun salah, yang ada dia terus berceloteh.
" Kenapa kau masuk kelas khusus berpedang? Apa alasanmu? Ah bagaimana kau bisa masuk? Kau menyogok, tapi kurasa tidak mungkin, setauku kau rakyat jelata jadi tidak mungkin punya uang untuk menyogok. Atau.. kau menggunakan tubuhmu- " ocehan menyebalkan itu terpotong oleh Audrey yang hendak meninggalkan tempat itu.
" Hei kau sungguhan menggunakan tu- "
" Bicara sekali lagi ku buat bisu kau. Jangan mengganggu ku b*gsad " mencengkram kuat rahang gadis aneh itu, lalu pergi dengan suasana hati yang buruk. Perasaannya tiba-tiba gondok, heran kenapa ada orang aneh dengan kadar ke kepoan yang tinggi.
Audrey terus menyusuri koridor yang masih sepi, walau terdapat beberapa siswa-siswi lain. Langkahnya terhenti saat tanpa sengaja menabrak seseorang. " Maaf " Audrey berinisiatif meminta maaf terlebih dulu, lalu membantu memunguti kertas yang berjatuhan di lantai.
" Terima kasih, aku juga minta maaf "
Audrey masih setia memunguti kertas-kertas itu, sampai menatap kertas yang menarik perhatiannya. " Ini. Ah boleh aku bertanya? " rasa penasaran Audrey muncul saat melihat kertas itu. " Iya silahkan, jika aku bisa menjawab " laki-laki bertubuh lebih pendek dari Audrey itu mengangguk.
" Kalian sedang kesulitan mencari portal sihir? " Audrey kembali melirik kertas itu, lalu mendapat anggukan sebagai jawaban. " Aku sedang buru-buru, kalau begitu aku akan pergi dulu, permisi " Audrey mengikuti laki-laki itu, dan sampai berada di ruang rapat.
" Eh kenapa kau mengikuti ku?! " terkejut mendapati Audrey berada di belakangnya. Namun suara guru dari dalam membuat atensi keduanya berpindah.
" Yunan, cepat masuk dan bawa berkasnya kemari " dengan segera laki-laki yang di panggil Yunan itu masuk, tetap dengan Audrey yang ikut masuk juga. " Siapa? " tanya guru saat melihat Audrey ikut masuk ke dalam.
" Iya kami sedang membutuhkan portal sihir secepatnya, ada apa? " guru itu menjawab Audrey dengan santai. " Saya punya portal sihir kelas atas, kalau kalian mau akan saya berikan " tentu Audrey mengatakan itu dengan memiliki maksud lain. Guru yang mendengarnya sontak terkejut, harga portal sihir kelas atas tentu sangat mahal, dan mendapatkannya sangat susah.
" Kau yakin?! " Audrey hanya mengangguk.
" Akan saya berikan, tapi dengan syarat " tersenyum tipis menatap satu-persatu guru di sana. " Saya yang akan menjemput guru kelas khusus berpedang " mendengar syarat Audrey, beberapa guru saling pandang. Sebenarnya mereka merasa syarat Audrey tidak berat, tapi mereka bingung hari menjawab apa. " Baik, tapi akan ada satu orang lain yang akan ikut dengan mu " putusan guru yang memimpin rapat kali ini. Dan Audrey hanya mengangguk, lalu keluar dari ruang rapat.
" Rombongan mereka sedang membawa pedang baja hitam. Aku harus melihatnya segera dan mendapatkannya " gumam Audrey menatap tato di tangannya, yang perlahan kembali pudar.
Isabella kembali mengeluh saat sampai di kamar asramanya " Sial aku lelah sekali, punggung ku rasanya kaki huhu " membanting tubuhnya ke kasur miliknya.
" Tadi buku baru yang datang sangat banyak, aku sendirian membantu lalu tak lama dia orang lagi datang dan ikut membantu " gerutunya kesal.
" Oh Audrey " menatap Audrey yang sedang membaca buku, Audrey menoleh mengangkat alisnya singkat seolah menyuruh Isabella bicara. " Aku melihat ruang berita sedang ramai tadi, aku juga mendengar ada yang menyebut namamu dari dalam. Awalnya aku ingin menegur tapi karena sangat ramai aku urungkan " Audrey terlihat cuek dan tidak peduli walau namanya disebut di ruang berita.
" Biarkan saja. Jika mereka melewati batas dan mengganggu ku, mereka akan menerima akibatnya nanti " Audrey kembali melanjutkan membaca buku. Isabella mengangguk singkat, sebenarnya masih ingin mengobrol lebih lama dengan Audrey, tapi karena terlalu lelah dia terlelap tanpa sadar.
Audrey diam-diam menyebarkan bayangan, mengarahkannya ke ruang berita. Melihat apa yang sedang di rencanakan di dalam sana, Audrey tidak ingin mengalami masalah.
" Tidak bisakah mereka diam dan tidak mengganggu ku? Aku ingin ketenangan " gerutu Audrey kembali melanjutkan membaca bukunya. Sementara Audrey sibuk membaca buku, bayangannya menyelinap masuk ke dalam ruang berita dan melihat semua yang mereka rencanakan.
" BAGUS?! DENGAN BEGINI KITA AKAN MENDAPAT HADIAH SERTA KOMISI JIKA BERITA INI BUMING?! "
" Kau benar ketua, kita tidak bisa melewatkan berita seperti ini begitu saja "
Bayangan Audrey terus mengamati ruang berita hingga seluruhnya bubar. Lalu dengan segera kembali ke Audrey. Audrey yang mengetahui rencana mereka hanya tersenyum sinis. Lalu menghembuskan nafas lelah, dia tidak sabar ingin mengalahkan monster dan pergi dari akademi yang membosankan ini.
Maaf kalau banyak typo
Jangan lupa like yaaa