
Di dalam kamar asramanya, Audrey berbaring sendirian lantaran Isabella mulai hari ini akan membantu petugas perpustakaan. Itu semua karena Isabella merasa bosan dengan kehidupan di Akademi yang terasa monoton. Hobinya dalam membaca membuatnya mengajukan untuk menjadi asisten perpustakaan.
Dalam tidurnya Audrey mendengar kan di dalam kegelapan. Merasa tidurnya terganggu, lantas Audrey menajamkan pendengarannya. Suara krak di luar terdengar jelas di telinganya. Melirik jarum jam di atas meja nakas, pukul empat lewat dua menit. Menajamkan kembali pendengarannya, Audrey tidak mendengar apapun. Namun, hawa aneh terasa cukup jelas di luar.
Audrey melompat turun dari tempat tidurnya, membuka jendela lantas melompat ke bawah. ' Dari mana asalnya ' rasa penasarannya cukup kuat. Melihat sekeliling yang sepi tanpa ada siapapun. Menyebarkan bayangan di sekitar tembok belakang asramanya, Audrey tidak menemukan apapun. ' Bukan penyusup ' lalu kembali merasakan hawa aneh, sesuatu yang tidak di keluarkan oleh manusia.
Mencoba untuk mencari asal dari hawa aneh itu, Audrey merasakannya jauh di dalam hutan belakang akademi. Tanpa berfikir panjang, langkah lebar dia ambil. Menggunakan kecepatannya Audrey melompat dari balik tembok akademi yang tinggi. Kembali berlari ke asal hawa itu muncul.
Dari kejauhan, di balik deretan pohon besar, aura kemerahan menguar dari sosok mahluk menyerupai serigala dengan ukuran besar. Audrey merasakan tekanan cukup kuat dari aura itu, warna merah gelap seakan menunjukkan kemarahan mahluk itu. Di atas pohon, Audrey mengamati cukup dekat. Memastikan mahluk apa itu.
' Serigala? Tekanan dari mahluk itu kuat, orang di akademi juga merasakannya? ' menoleh kebelakang ke arah akademi yang jauh dari tempatnya sekarang. Memastikan tidak merasakan adanya orang lain, Audrey kembali mengamati sosok mahluk aneh itu.
Dalam sekejap Audrey kehilangan mahluk itu. Waspada dengan sekitarnya, Audrey membentuk pelindung di sekitar tubuhnya. Auman keras terdengar jauh di depannya. Dengan rasa penasaran yang begitu kuat, Audrey mengejar kemana mahluk itu berlari. Kecepatannya hampir menyamai mahluk itu.
Pertarungan terpampang jelas di depannya, antara mahluk yang tidak dia ketahui apa jenisnya. Terus memperhatikan, hingga salah satu dari mereka tumbang. ' Sepertinya dia mati ' semakin mendekat. Mahluk dengan rupa mirip serigala itu menoleh saat menyadari kedatangan Audrey.
Menggeram dan menatap tajam pada Audrey. Menggunakan postur siap bertarung, namun tidak membuat Audrey ketakutan. Rasa penasarannya harus terbayarkan. Berjalan semakin mendekat, mahluk itu hendak menyerang. Namun tidak dapat bergerak satu inci pun. Bayangan aneh mengikat tubuhnya dan melumpuhkan nya secara tidak langsung, di tambah luka di sekujur tubuhnya yang cukup parah, membuat mahluk itu enggan untuk menggunakan seluruh kekuatannya yang tersisa. Semakin waspada kepada Audrey yang terus mendekat, hingga berdiri tepat di depannya.
Tatapan Audrey menelisik mahluk itu. Mengambil keputusan untuk melepaskannya, namun merasakan bahwa bisa saja mahluk itu menyebabkan bahaya. " Haruskah aku membunuhmu? Tapi kau tidak punya masalah denganku " kembali bingung dengan kembali menatap mahluk di depannya itu. Dan melihat banyak luka di sana.
" Begini saja, aku akan mengobati lukamu dengan syarat jangan menimbulkan bahaya. Apa kau paham? Aku yakin kau paham dengan apa yang aku katakan " mengeluarkan botol dengan cairan hijau. Audrey memaksa mahluk itu agar meminumnya, dengan susah payah akhirnya Audrey berhasil membuatnya meminum cairan penyembuh itu.
Bersyukur dia selalu membawa barang yang di berikan Silas padanya, sesuatu seperti ini akan sangat berguna jika dia dalam masalah. Perlahan tapi pasti semua luka pada tubuh mahluk itu sembuh dan kembali seperti sedia kala. Dengan keadaan tetap waspada, mahluk itu kebingungan karena tidak merasakan sakit pada tubuhnya.
" Lukamu sudah sembuh, jadi saat aku melepaskanmu, pergilah sejauh mungkin. Aku memperingatkan mu agar tidak menimbulkan bahaya, tapi bisa saja jika kau tetap di sini, kau yang akan dalam bahaya jika ada orang lain yang menyadari keberadaanmu nanti " dengan cepat Audrey sedikit menjauh dari jangkauan mahluk itu, lalu perlahan melepaskan bayangan yang melilit tubuhnya.
Hampir lima belas menit Audrey menunggu mahluk itu pergi, namun tetap tidak ada pergerakan sama sekali. " Hei apa ada yang salah? Kenapa dia tidak bergerak?! " Audrey merasa kesal sendiri, dia harus segera kembali ke akademi saat melihat langit mulai gelap. Dengan perasaan dongkol Audrey kembali mendekati mahluk itu, namun terkejut lantaran tiba-tiba aura merah tadi kembali menyelimuti mahluk itu.
Kembali waspada, namun melihat tidak ada tanda-tanda penyerangan dari mahluk di depannya itu. Tak lama tubuh yang awalnya begitu besar, menyusut perlahan dan berubah menjadi seukuran anak anjing. Audrey terkesima dengan itu, bentuknya yang lucu cukup membuat Audrey merasa gemas.
Mahluk yang awalnya bertubuh besar itu mendekati kaki Audrey lalu menggosokkan kepalanya. Audrey sedikit terkejut dan mundur beberapa langkah, mahluk itu tidak menyerah dan mengejar Audrey lalu kembali menggosokkan kepalanya di kaki Audrey.
" Kau bertingkah imut? Apa maumu " mengangkat mahluk itu sejajar dengan kepalanya. Ekornya bergoyang menunjukkan suasana hati yang bahagia. Langit semakin gelap, Audrey mendongak merasakan tetesan air hujan, lalu kembali menatap mahluk di tangannya itu. " Ayo ikut, aku ingin punya peliharaan " mengeluarkan jubah dari cincin penyimpanannya dan menggunakannya, menyembunyikan mahluk itu di balik jubahnya. Berlari dengan sangat cepat hingga tidak meninggalkan bayangan di belakang.
Pintu asrama terbuka menampilkan Isabella yang terlihat kelelahan. " Hahh aku sangat lelah, ternyata perpustakaan sangat ramai " keluhnya mendudukkan diri di atas tempat tidurnya. " Tadi saat aku menuju kemari, aku tidak sengaja melihat Putri mahkota itu di taman belakang. Dia terlihat sedang mengobrol bersama kelompoknya, tapi aku melihat kembali ekspresi aneh dari salah satu dari mereka. Terkesan tidak nyaman, menurutmu kenapa ya? " mengalihkan pandangannya ke arah Audrey yang bersandar di tempat tidurnya.
" Tidak tau " jawaban singkat itu membuat Isabella mendengus kesal, tapi tidak marah dan merasa di remehkan. Isabella tau Audrey bukan tipe yang suka bergosip jadi hanya bisa menghela nafas pasrah. " Kau tadi kemana saja? Aku penasaran kapan kita bisa masuk kelas khusus, ini sudah hampir satu minggu tapi belum ada info " tidak sabar ingin masuk kelas khusus.
" Entahlah, mungkin sedang di seleksi awal " Audrey juga menantikan kelas khususnya, sudah cukup lama dia tidak memegang pedang, dan ingin segera mengayunkan pedang dengan penuh semangat lagi.
" Kenapa seleksi nya lama sekali? Eh apa kau yakin akan di terima di kelas khusus berpedang? Ini mungkin pertama kalinya perempuan ingin masuk ke kelas khusus itu " tanya Isabella penasaran, dia tidak yakin Audrey akan di terima. " Tidak tau, tapi akan ada seleksi kedua, jadi aku akan membuktikan aku layak masuk ke kelas khusus berpedang " Isabella mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Matanya perlahan terpejam, dan tak butuh waktu lama dia terlelap.
Audrey melirik Isabella sebentar, lalu mengeluarkan mahluk itu. " Jangan berisik " mahluk itu hanya menggoyangkan ekornya seakan mengerti maksud Audrey.
" Kau punya nama? Atau aku harus memberimu nama " memikirkan nama yang paling cocok untuk mahluk yang di temukan nya ini. " Bagaimana dengan Regen, kurasa itu bagus, kau suka? " hanya goyangan ekor dan gosokan pada kakinya Audrey rasakan.
Maaf kalau banyak typo
Jangan lupa like yaa