Reborn As A Duke's Daughter

Reborn As A Duke's Daughter
Kelas Pertama



Isabella dan Audrey berjalan beriringan di koridor sekolah. koridor ramai dengan siswa-siswi yang hendak menuju kelas. Hari ini kelas pertama Audrey akan di mulai. Belum ada jadwal, jadi dia hanya membawa buku kosong untuk mencatat.


" Kita berada di kelas yang sama? " Isabella melihat setiap papan nama di atas pintu kelas. Mereka akan masuk ke kelas umum tahun pertama, tidak akan ada pelajaran khusus di sana. " Sepertinya iya. Ayo duduk bersebelahan " Isabella mengangguk setuju. Keduanya berhenti di depan kelas, di dalam sudah ada beberapa siswa-siswi an&datang lebih awal.


" Duduk di depan apa belakang? " Audrey bertanya pada Isabella, dia tidak masalah duduk di sebelah manapun. Pendengarannya cukup tajam jadi walau duduk di belakang tidak akan membuatnya kesulitan. " Dimana saja " keduanya memilih duduk di barisan tengah. Setelah kelas penuh tak lama seorang guru pengajar masuk.


" Selamat pagi. Kalian bisa memanggilku guru Ana. Pada hari pertama akan ku jelaskan tentang seluk beluk Akademi dan pelajaran akan di mulai setelah istirahat " guru Ana mulai menjelaskan apa saja tentang Akademi. Dia adalah guru yang ramah, beberapa murid menyukainya. Penampilannya tidak terlalu buruk seperti guru killer.


Audrey mendengarkan dengan seksama, saat merasa bosan dia melirik sekitarnya dan tanpa sengaja menemukan sosok Cassandra. Ternyata tanpa di duga keduanya berada di kelas yang sama. Audrey tersenyum miring, dan matanya menatap dengan kilat permusuhan. Lonceng berbunyi pertanda jam istirahat makan siang. Semua siswa-siswi keluar dari kelas dan menuju kantin.


" Audrey ayo " Isabella menyentuh pundak Audrey yang sedari tadi melamun. Audrey tersadar dan menuju kantin bersama Isabella. Saat Audrey makan bersama Isabella, tanpa di sadari ada yang mengawasi Audrey dari kejauhan. Audrey merasa ada yang menatapnya sejak tadi, dia menoleh mencari sosok itu tapi tidak menemukannya.


" Ada apa? " Isabella bertanya dengan bingung. Audrey menggeleng " Tidak ada " dan melanjutkan makannya. Sementara itu seringai kecil muncul di bibir seseorang. Dia menatap sebentar Audrey lalu pergi menjauh.


Mereka kembali ke kelas dan mengikuti pelajaran umum.


Kelas selesai saat sore hari, Audrey terbaring di kasur kamarnya sambil memegang kertas.


" Aku harus pilih yang mana? " dia bingung sendiri. Kertas yang di pegang nya sekarang adalah formulir, berisi tentang pemilihan kelas khusus yang akan di ikuti siswa. Siswa bebas memilih namun akan tetap di adakan seleksi. Audrey mencoret nama kelas khusus yang di minati nya. " Baiklah, aku ingin terus memegang pedang. Setelah ku pertimbangkan, aku tidak akan ikut kelas sihir. Biarkan Silas saja yang mengajariku "


" Audrey kau sudah mengisi formulir? " Isabella duduk di samping Audrey. Audrey melirik lalu mengangguk " Kau sudah? "


" Sudah. Kelas apa yang kau pilih, aku memilih kelas desain " menunjukan formulir miliknya. Audrey menatap formulirnya " Aku memilih kelas berpedang ". Isabella terkejut mendengar itu " Hei yang benar saja?! Kau serius? " berusaha memastikan, yang benar saja perempuan memegang pedang?


" Iya. Kenapa memang? " Isabella menatap tidak percaya, " Perempuan tidak pantas memegang pedang. Kalau kau suka bertarung lebih baik ikut kelas sihir. Kalau kau masuk kelas berpedang tidak akan ada siswi di sana, lagipula kau akan menjadi bahan gosip seluruh sekolah nanti " Isabella menjelaskan konsekuensi dari pilihan Audrey.


" Aku tidak peduli " Audrey acuh tak acuh dengan konsekuensi yang akan dia Terima nanti. Menjadi bahan gosip? Tinggal tidak perlu di dengarkan, bereskan? Lagipula memegang pedang itu menyenangkan, dia juga menjadi teman latihan pangeran Yuiko.


" Hah terserah kau saja. Yang penting aku sudah bilang konsekuensi nya" Isabella menghela nafas "Ah kau dengar putri Mahkota kerajaan Ropie bersekolah di sini? " Isabella bertanya dengan semangat.


" Tidak dengar ". " Ah kau ini terlalu tertutup dengan dunia luar sampai ketinggalan berita " Isabella mengibaskan tangannya, " Lupakan itu. Kau tau dia terkenal sombong, banyak yang tidak menyukainya. Tapi yah karena kuasanya apalagi dia putri mahkota, banyak yang tunduk padanya " Isabella dengan semangat menceritakan putri mahkota pada Audrey.


Audrey hanya menggeleng pelan. Kemarin Audrey kira Isabella adalah anak yang dingin dan pendiam. Namun ternyata Isabella selalu update berita apapun, seperti saat ini.


" Ayo serahkan formulir ke ruang kepala sekolah " berdiri lalu merapikan jasnya. Isabella mengangguk lalu ikut berdiri. Keduanya menuju ruang kepala sekolah dan menyerahkan formulir.


" Oh siswa baru? Langsung letakan di kotak sesuai ruang kelas kalian " wanita berbadan gemuk itu menunjuk kotak-kotak yang tertata rapi di atas meja. Audrey dan Isabella mengangguk lalu meletakan sesuai nama ruang kelas.


.......


.......


.......


Sekumpulan siswi tengah asik mengobrol, mereka duduk melingkar di meja bundar area taman belakang. " Yang mulia. Apa anda sudah memikirkan akan memilih kelas khusus yang mana? " tanya salah satu dari mereka.


Yang di panggil Yang mulia menutup separuh wajahnya dengan kipas, lalu nampak berfikir sebentar. " Aku masih memikirkannya. Aku akan mengisinya besok " matanya nampak menunjukan keramahan, namun bibirnya tidak tersenyum. " Ah begitukah? Saya akan baru saja memutuskan akan memilih kelas khusus di desain. Tiana juga memilih kelas yang sama dengan saya " dengan bersemangat mengatakan kelas khusus yang dia pilih. Berharap orang yang dia panggil Yang mulia akan memilih kelas yang sama dengannya.


Namun Yang mulia itu nampak tidak tertarik dan hanya berdehem singkat. Yang lain sadar dengan maksud Yang mulia itu, mereka sedikit canggung beberapa menyembunyikan tatapan tidak suka. " Saya rasa akan memilih kelas berkuda. Saya sedikit tertarik dengan kelas itu " berusaha mencairkan suasana.


" Oh nona Rebecca akan memilih kelas berkuda? Saya yakin anda akan menjadi salah satu yang terbaik di sana. Karena nona Rebecca pandai berkuda " sahut Tiana. Mereka kembali mendapatkan suasana yang sedikit lebih santai. Rebecca dan yang lain merasa kurang senang saat mengobrol bersama Yang mulia.


Yang mereka tau Yang mulia hanya perempuan sombong. Bahkan pada teman lamanya, Yang mulia tidak menghargainya. Saat berada di pesta ulang tahun Wendy, teman lamanya. Dia secara terang-terangan menatap tidak suka terkesan remeh pada bangunan lama milik keluarga Wendy, yang hanya seorang Baron miskin.


' Dia ini terlalu sombong. Hanya karena putri mahkota, lagipula dia tidak memiliki kekuasaan apapun. Hanya mengandalkan gelar saja, kalau bukan permintaan orang tuaku, aku tidak akan sudi mengobrol dan berusaha dekat dengannya ' batin Rebecca.


Tiana sadar dengan raut muka Rebecca, menendang pelan kaki Rebecca. Memperingatkan agar tidak terlalu jelas. Rebecca terkejut dengan tendangan kecil dari Tiana-temannya. Dia kembali menetralkan ekspresi wajahnya dan kembali tersenyum tipis.


' Kapan ini berakhir? Aku ingin beristirahat, aku lelah. Kenapa dia tiba-tiba bergabung dengan kami disini? Sangat mengganggu suasana saja ' Palidra membatin tidak senang dengan kehadiran Yang mulia itu, yang mengganggu suasana mengobrol mereka. Pada awalnya semua bersikap santai dan berbincang dengan nyaman, sebelum Yang mulia tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka.


Maaf kalau banyak typo.


Jangan lupa like yaa