Re: Word to Realism

Re: Word to Realism
20. Sang vampir



"Eh, kita sedang apa di sini?" ucap Vishl kebingungan saat dia membuka matanya. Begitupula dengan Lena.


"Benar juga, aku melupakan sesuatu."


Mereka berdua bisa kebingungan karena Yuuta telah memundurkan waktu ke 2 hari sebelum ujian masuk akademi dilakukan. Yuuta melakukan itu dengan berbagai alasan, salah satunya untuk menghindari kecuriga dari seorang guru bernama Weistlia.


Tidak hanya Lena dan Vishl, Yuuta juga telah melupakan segalanya tentang insiden hilangnya kerajaan dan apa yang dia ketahui tentang mata yang memiliki kekuatan setara dewa.


"Bukankah kita akan berjalan-jalan di sekitar kota ini?" Yuuta seakan menyadari bahwa terjadi pengulangan langsung membuat perkataan yang semakin membingungkan Lena dan Vishl.


"Hmm... Mungkin begitu," balas Lena yang masih berusaha keras mengingat yang sebelumnya terjadi. Namun, ia tidak akan bisa mengingat apa pun. Karena ingatan yang ia cari adalah ingatan dari masa depan, dan pasti mustahil bagi manusia untuk mengingat sesuatu dari masa depan atau bahkan melihat masa depan.


"Sudahlah Lena, jangan memikirkannya terlalu keras," ucap Vishl yang menyadari kemustahil untuk mengingat sesuatu meski berusaha keras. Tidak dia hanya sedang malas dan tidak mau berpikir terlalu keras.


"Kenapa kalian memikirkan hal itu?" ucap Yuuta di tengah-tengah mereka.


"Maaf aku menarik pertanyaanku kembali," bantah Yuuta terhadap perkataannya sendiri.


Yuuta teringat bahwa Lena dan Vishl adalah dua gadis yang pintar dan cerdas, dan Yuuta tau hal itu sejak awal. Hal tersebut pasti akan membuat mereka merasa janggal dengan yang mereka lakukan sekarang.


"Daripada kita berdiri saja di sini, lebih baik kita segera mencari kedai atau restoran. Perutku terasa lapar," ucap Vishl sambil mengusap-ngusap perutnya.


"Benar juga, kita belum makan sejak tadi pagi," balas Lena, mengangkat kepalanya setelah terganggu oleh pikirannya sendiri.


"Kalian berdua ikut aku. Ada restoran di daerah ini yang ingin ku kunjungi." Setelah Yuuta mengucapkan hal itu, mereka bertiga pun mengikutinya dan akhirnya sampai di sebuah restoran. Restoran itu dipilih secara acak oleh Yuuta.


Mereka makan di restoran itu dan melanjutkan jalan-jalan setelahnya. Mereka mengunjungi banyak tempat di kota itu, termasuk taman yang ada di tengah kota. Taman itu adalah taman nasional yang dibangun negara. Taman itu begitu hijau dan diwarnai oleh banyaknya bunga yang bertebaran di seluruh penjuru taman itu.


Vishl dan Lena menyukai suasana di taman itu dan memutuskan untuk bersantai di sekitar taman yang kebetulan sedang sepi tersebut.


Dua hari setelahnya, mereka bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan segala kebutuhan guna mengikuti ujian masuk Akademi Shiir Vaspilia. Hal ini termasuk cara curang yang direncanakan oleh Yuuta agar ia dapat lulus dalam ujian.


Setelah dua jam mempersiapkannya, mereka pun segera meninggalkan penginapan dan berangkat menuju akademi. Akademi tersebut merupakan salah satu akademi sihir terbaik di dunia.. yang pastinya akan banyak sekali pesaing yang datang diseluruh dunia.


Yuuta berjalan bersama Lena dan Vishl yang mengikutinya. Kedua gadis ini menarik perhatian orang-orang karena kecantikan yang mereka miliki. Aura keduanya terasa seperti dua orang gadis bangsawan yang rupawan dan elok, sekaligus terpandang.


Orang-orang hanya melihat Lena dan Vishl, sehingga mereka bertanya-tanya siapa pria yang berjalan di tengah-tengah kedua gadis tersebut. Namun, Yuuta tidak memedulikannya dan berjalan seperti biasa. Meskipun Yuuta memiliki penampilan yang cukup tampan, namun itu ditutupi oleh rambut panjangnya yang menutupi matanya. Terlebih lagi, Yuuta dikelilingi oleh aura yang membuat orang segera waspada saat melihatnya, dan hal ini yang membuatnya terasa berbeda dengan Lena dan Vishl.


Yuuta sengaja memasang aura tersebut, namun ia lupa untuk memotong rambutnya sejak kejadian ia kehilangan orang yang menyelamatkannya, Sylph.


Singkat cerita, Yuuta dan kedua gadis tersebut tiba dan mengikuti ujian masuk. Hasil ujian akan diumumkan beberapa hari kemudian. Dan ini merupakan sedikit perubahan dari apa yang Yuuta perbuat sebelumnya.


Malam pun tiba dan masih di hari yang sama, Yuuta terlelap di atas kasurnya. Keadaan terlelapnya berakhir dan membuat Yuuta bermimpi saat ia menemui gadis vampir yang bernama Tsuki. Mereka bertemu di ruangan gelap yang ada jauh di dalam pikiran Yuuta.


Pada awalnya, Yuuta kebingungan dengan apa yang ia alami sampai akhirnya ia melihat gadis vampir yang terlihat sama dengan vampir yang mengambil dan mengganti matanya. Gadis tersebut berambut hitam, berbeda dengan apa yang ia ingat tentangnya.


Gadis itu berdiri dengan menutup matanya. Mereka hanya diam saja hingga Yuuta memulai percakapan.


Setelah beberapa saat memberi pertanyaan, akhirnya gadis itu merespon dan membuka matanya.


Yuuta sangat terkejut saat gadis itu membuka matanya. Matanya berwarna biru terang dan terlihat sangat indah dan cantik.


Setelah gadis itu membuka matanya, gadis itu segera menoleh dan menjawab pertanyaan Yuuta.


"Pertama... Aku adalah makhluk hidup, namun aku adalah orang yang berbeda dengan orang yang engkau bicarakan itu.. meskipun mata itu juga adalah milikku .. dan kedua karena dia memiliki alasan tersendiri."


"Baiklah, kau ingin aku menganggapmu adalah orang yang berbeda dengan vampir yang menyiksaku. Tapi apa yang ingin kau lakukan?"


"Tidak ada hal khusus.."


"Lalu kenapa kau bisa berada disini?"


"Sudah kubilang tidak ada hal khusus, namun engkau bisa menanyakan apapun padaku"


"Ah... Baiklah kalau begitu, aku ingin tau bagaimana keadaan gadis itu."


"Apa yang kau tanyakan? Bukankah engkau pernah mengunjungi kuburan tempat Ia dikubur?"


"Ahh begitu yah.. baiklah pertanyaan lainnya... mata apa yang sebenarnya gadis itu berikan padaku?"


"Baiklah, aku akan menjelaskannya padamu.. Mata itu adalah mata yang dimiliki oleh seorang raja sekaligus dewa dengan ras vampir... Dan mata itu adalah milikku, tapi aku bukanlah seorang raja maupun dewa... Mata itu sendiri memiliki nama Deus Vamp Oculus.." jelas gadis itu langsung.


"Apa sehebat itu mata ini sampai sampai menyandang mata seorang dewa."


"Tentu saja, mata itu bisa saja mengubah takdir manusia dan memanipulasi waktu dengan mudah.. namun kelemahannya adalah tidak akan bisa digunakan untuk mengubah sejarah pemiliknya.. entah itu pemiliknya dimasa depan, dimasa lalu"


"Penjelasanmu sangat rumit, tapi sekiranya aku paham... tapi entah kenapa setelah mendengar bahwa aku memiliki kekuatan yang begitu besar tidak membuatku merasa senang."


"Hm.. menurutku Kalau itu tergantung pada dirimu sendiri, tapi aku bisa saja membantumu untuk mengambil mata itu sekarang jika kau mau."


"Tidak.. jangan lakukan hal itu, mata ini adalah pemberian darinya."


"Ohh.. Kenapa kau tidak marah padanya? Dan malah kenapa kau merasa sangat loyal padanya?"


"Tidak ada alasan khusus, hanya saja dia tidak benar benar ingin menyiksaku dan membunuhku.. yang bahkan dia terlihat seperti gadis yang baik.."


"Hmm"


"Yang malah dia terlihat seperti gadis yang tidak akan bisa menjadi penjahat.."


"Apa maksudmu ingatan gadis itu masuk kedalam ingatanmu?"


To be continued