Re: Word to Realism

Re: Word to Realism
18. Melupakan segalanya



Anggap saja semua yang terjadi beberapa waktu lalu tidak pernah terjadi. Semua hal itu sudah tidak ada lagi didalam sejarah dunia ini.. keberadaan mereka telah lenyap dan dilupakan oleh dunia ini.


Kami... Aku, Vishl, dan Lena kini tinggal disebuah kota di negara yang berada jauh dari kerajaan itu.


Kami sendiri telah menetap cukup lama dikota yang bernama Allaian Town. Dikota ini terasa cukup berbeda dengan kota kota pada biasanya..


Kota Allaian bebas dari perbudakan dan perbuatan yang kejam lainnya. Tidak ada perbandingan antar masyarakat yang miskin ataupun kaya.. mereka benar benar hidup rukun.


.


Saat ini, aku baru saja terbangun seperti biasa dikamar penginapan.. dan seperti biasa pula aku selalu dikempit oleh Lena dan Vishl yang entah semenjak kapan berpindah ke kamarku.


"Kalian berdua, bangunlah.."


Setelah aku menyuruh mereka berdua, mereka langsung terbangun dan itu membuatku sedikit tercengang.


"Selamat pagi Yuuta dan Lena..."


Ucap Vishl pertama kali yang kemudia diikuti oleh Lena.


"Selamat pagi juga Vishl... Selamat pagi kak.."


Mereka berdua masih mengantuk.. termaksud denganku.


".... Bukankah hari ini ada ujian untuk masuk akademi Vaspilia?" Ucap Lena yang mengingatkan kami tentang ujian yang akan kamu ikuti.


Benar, kami akan masuk kedalam akademi sihir Vaspilia academy. Kami bertiga memutuskan untuk masuk ke akademi karena kami ingin melupakan apa yang sebelumnya terjadi.


"Kenapa kamu baru mengingatkannya...."


Setelah itu Kami bertiga pun langsung bergegas menyiapkan diri dan langsung berangkat ke akademi yang ada ditengah kota untuk mengikuti ujian..


kami bertiga telah sampai ke akademi Vaspilia dengan waktu yang sedikit mepet dan berhasil menyelesaikan ujian tertulis..


Sekarang tinggal ujian kemampuan sihir yang sedikit ku khawatirkan.. karena aku sendiri hampir tidak memiliki sihir sama sekali.


Tapi, entah bagaimana caranya aku bisa lulus dan masuk kedalam kelas S. Kelas yang sama dengan Vishl dan Lena..


Kelas adalah kelas yang berisikan anak anak yang memiliki bakat sihir, maka dari itu aku tidak heran dengan Vishl yang masuk ke dalam kelas itu dan Lena yang mendapat kekuatan setelah ia bereinkarnasi.. tapi aku yang bahkan tidak bisa mengeluarkan energi sihir dapat masuk kedalam kelas S.


Aku tidak tau apa alasannya guru yang bernama Weistlia memasukan ku kedalam kelas S. Jika saja dia tau soal mata yang ku miliki, mungkin aku akan membuatnya menutup mulutnya.


Mata kutukan ini adalah suatu hal yang berbeda dengan sihir. Mata ini mengunakan nyawa sebagai bayarannya.. yang dimana aku sudah beberapa kali mengunakan nyawaku untuk mengaktifkan beberapa kemampuan mata ini.


"Sebisa mungkin aku akan menahan diri agar amtidak memakai mata yang berbahaya ini"


Guru yang memiliki panggilan Weis ini memang sejak awal sudah memandangiku dan mengawasiku. Aku tidak tau apa maksudnya.


Dia adalah salah satu pengawas ujian masuk. Dia sedikit lebih tinggi dari Vishl dan Lena, tubuhnya sangat ramping dan ideal.. serta rambutnya berwarna hitam pekat.. dia terlihat sangat cantik..


Tapi, Aku merasa dia adalah orang dengan type yang akan selalu mengawasi apa yang membuatnya tertarik. Yang mungkin saja, dia menyadari mata ini.


.


Kami bertiga telah melakukan banyak hal hari ini, tentunya kamu juga bertemu dengan banyak orang baru di akademi ini.


Salah satunya adalah tuan putri dari negara ini, Lilywhites Engarden Ten. Atau disebut oleh banyak orang putri Lily.


Aku mendengar kabar tentangnya baru baru ini, dia berpindah dari ibu kota ke kota ini untuk masuk kedalam akademi ini. Itu pastinya akan meningkatkan popularitas dari akademi.


Dia sangat populer, tapi.. Lena dan Vishl juga tidak kalah populernya.. mereka berdua menarik perhatian karena nilai ujian mereka yang tinggi. Peringkat 1 dan 2... Tapi, mereka kalah denganku diujian tulis..


Hanya dalam sehari kami bertiga langsung lulus dan masuk kedalam salah satu akademi sihir terbesar didunia ini. Meskipun aku masih belum menemukan tujuan kenapa aku masuk kesini.


..


Keesokan harinya.. kami bertiga sudah mulai melakukan kegiatan sekolah di akademi.


Kami berangkat ke akademi hanya dengan berjalan, karena kami berniat untuk menghemat uang untuk sementara waktu.


Vishl, bukan lagi seorang kepala desa.. dan Lena bukan lagi seorang putri kerajaan. Jadi wajar saja kami jatuh miskin.


Tapi meskipun begitu, aku menemukan satu cara untuk mendapat uang dengan cepat. Namun itu sedikit rumit.


Kesampingkan hal itu dulu, saat ini terjadi pertengkaran didepanku. Seorang petualang yang bertengkar dengan penjaga kota. Petualang itu membuat ricuh dan memancing amarah banyak orang.. penjaga datang, tapi mereka malah dipukul oleh petualang itu.


"Sangat merepotkan.."


Mereka malah beradu pukulan.


"Bisa bisanya aku menghentikan langkahku hanya karena pertengkaran orang bodoh ini."


"Tidak mau."


"Apa kamu yakin tidak menghentikan mereka? Jika dibiarkan semakin lama mungkin akan ada salah satu dari mereka yang mati.."


"Vishl.. apa kau baru saja melihat masa depan?"


Apa yang dikatakan Vishl itu benar terjadi. Petualang itu mengangkat kapaknya yang tergeletak ditanah dan mengayunkannya langsung menebas kepala salah satu penjaga.


"Apa dia sudah gila?!"


"Apa yang dia lakukan?!"


"Semuanya cepat pergi dari sini!!" Teriak penjaga yang masih hidup dan menarik pedang dari sarungnya dengan menyuruh orang orang yang berada disekitar untuk pergi dari situ.


Semua orang langsung panik. Tidak pernah sama sekali hal seperti itu terjadi di kota ini, bahkan dalam sejarah 1000 tahun lalu.


"Ya ampun, kota ini ternodai..."


"Aku sudah bilang padamu untuk menghentikan mereka."


"Tapi, mau bagaimana lagi? Mungkin itu sudah takdir."


"Apa rasa malasmu sudah sampai ke tingkat raja iblis?"


"Ya baiklah... Terpaksa aku melakukan hal itu... Tapi aku juga enggan memberikan sebagian nyawaku hanya untuk menghilangkan noda dari kota suci ini"


""Kalau begitu biar aku saja!"


"Tidak! Nyawa kalian berdua bahkan jauh lebih berharga dari dunia ini.."


"Bisa bisanya kakak mengombal disaat seperti ini.."


"Sudahlah, sekarang tutup mata kalian."


"Untuk apa?"


"Sudahlah, tutup mata kalian berdua.. aku hanya ingin melakukan sesuatu."


"Baiklah, jika kakak memaksa."


"Terserah.."


Tapi, ya sepertinya 2 hari kebelakang akan sedikit melelahkan. Aku harap nyawa kalian berdua tidak akan sia sia begitu saja.


"Sepertinya aku sudah menjadi iblis sunguhan."


"Kakak memang iblis...."


"Apa masih belum Yuuta?"


"Ya sabar dulu... Kalian bisa membuka mata dalam hitungan 5.. hitung saja bersama sama.."


"Ahh.. baiklah kalau begitu.."


Mereka berdua mulai menghitung..


"5"


"5"


"4"


"4"


"3'


"3"


"2"


"2*


"1"


"1"


"Kalian sudah boleh membuka mata kalian."


To be continued