
...Haii gaisss! lanjuttt gak nihhh? kalo lanjut, komenn dluu dongs<333...
...***...
"WOII HYADES, LO GA BERENANG?" teriak Kiev dari ujung kolam.
Hyades hanya meliriknya sekilas kemudian aktivitas yang tertunda, membaca buku.
"Anjirr dikacangin gue, makan aja itu buku," ucap Kiev kesal. Begitulah sifat asli Kiev, sangat berbeda dengan pertama kali bertemu.
Qilla asik memakan camilannya dengan lahap dan tanpa sadar meninggalkan bekas noda makanan pada pipi kanannya. Ia terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya sehingga penuh dengan makanan.
Uhuk Uhuk
"Pelan-pelan," ucap Hyades sambil memberikan segelas air putih kepada Qilla.
"Thank you," ucap Qilla mengambil air putih tersebut dan meminumnya.
"Ahhh leganyaa," ucap Qilla mengelus dada.
Hyades terus memperhatikan dirinya dan mendekat lalu...
Cup
"Manis," ucap Hyades tersenyum tipis.
Muka Qilla memerah melihat perlakuan Hyades. Dan apa tadi...HYADES TERSENYUM. Mimpi apa aku semalam, ucap Qilla dalam hati.
"Ka-kamu ngapain?" ucap Qilla berusaha bersikap netral, padahal hatinya sedang berbunga-bunga. Rasanya ingin meloncat ke kolam renang sekarang juga, berenang sampai ke dasar agar semua orang tidak bisa melihat muka merahnya. Ohh astagaa segitunya kah?
"Ada noda makanan di pipi lo," ucap Hyades kembali dingin. Tetapi setidaknya, Hyades tidak seperti sebelumnya yang hanya berbicara sepatah kata saja.
"O-oh oke ma-makasih," ucap Qilla gugup. Ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Qilla Qilla, kamu mikir apaan sih, ucap Qilla dalam hati.
Suasana kembali hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Qilla fokus dengan cemilannya, sementara Hyades fokus membaca buku. Kita bisa melihat sebuah perbedaan disini...manakah anak yang pintar dan anak yang malas.
"Mau?"ucap Qilla menawarkan cemilannya. Tanpa disangka-sangka Hyades mengambil cemilan dari tangan Qilla dan memakannya. Qilla melotot kaget, akan tetapi Hyades bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada yang terjadi. Emang dasar manusia kutub.
Qilla masih berusaha menetralkan perasaannya saat ini.
"Hyades," ucap Qilla memecah keheningan.
"Jangan panggil gue Hyades," ucap Hyades masih fokus pada bukunya.
"Hah? kan nama kamu Hyades," ucap Qilla bingung, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria itu.
"Alvi," ucap Hyades datar.
"Hah? Alvi siapa?" tanya Qilla tambah bingung.
"Panggil gue Alvi," ucap Hyades to the point.
"Loh emang nama kamu ada alvi nya?" tanya Qilla.
"Healvito," jelas Hyades.
Hah? Alvi nya ada di mananya coba, ucap Qilla dalam hati. Qilla terus berpikir sampai akhirnya dia menemukan jawabannya. Healvito, terdapat kata Alvi di bagian tengah.
"Kenapa aku gak boleh panggil kamu Hyades? itu kan nama kamu juga," tanya Qilla penasaran.
Hyades menutup buku dan meletakkannya di meja. Ia menatap dalam mata Qilla, sampai membuat Qilla gugup.
Aduh, gak kuat gue. Ucap Qilla dalam hati.
"Hyades itu nama panggilan gue" ucap Hyades.
"Sedangkan Alvi, itu nama panggilan lo buat gue. Cuma lo yang boleh pakai nama itu," ucap Hyades tersenyum lembut sambil mengelus kepala Qilla. Tembok yang dibangun Hyades selama ini, berhasil dihancurkan oleh seorang anak perempuan yaitu Raqilla Sequoia Aurora Rossler.
...***...
"AHH AKHIRNYAA SAMPAI RUMAH, YUHUUU QILLA PULANG," teriak Qilla.
Seusai bermain bersama teman-temannya, Qilla dan keluarga langsung pulang ke rumah untuk istirahat. Selain itu, ada hal yang perlu dikerjakan oleh orang tuanya.
"Qilla sayang, ini rumah bukan hutan," ucap papah Qilla menasehati anaknya. Sudah beribu-ribu kali ia menasehati anak itu untuk tidak teriak-teriak di dalam rumah, tetapi mau bagaimana lagi. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, sepertinya kebiasaan istrinya dahulu menurun kepada anaknya.
"Hehehehe, udah kebiasaan pah," ucap Qilla cengengesan.
"Qilla ke kamar duluan ya pah mah, mau istirahat. Badan Qilla pegel semua," ucap Qilla.
Punya istri sama anak sama aja, aneh. ucap papah Qilla dalam hati.
3 Jam kemudian
Waktunya makan malam. Qilla belum beranjak dari kasurnya secenti pun. Menurut dirinya, ini adalah saat yang paling nyaman. Tidak ada seorang pun yang boleh membangunkannya atau ia akan mengamuk, kecuali..
"QILLLAAAAA BANGUN"
"MAKAN MALAM DULU"
"MAMAH SIRAM PAKAI AIR YAA KALAU HITUNGAN KETIGA KAMU BELUM BANGUN JUGA"
"SATU..."
"DUA...."
"IYAA MAMAH, QILLA UDAH BANGUN," ucap Qilla dengan suara khas bangun tidur.
Yashh... itu adalah sang mamah . The only one yang dengan berani membangunkan dirinya.
"Mamah sama papah tunggu dibawah," ucap mamah Qilla pergi dari kamarnya.
"Huftt akhirnyaa pergi juga nenek lampir," ucap Qilla dengan suara pelan.
Qilla beranjak dari kasurnya dengan malas-malasan. Rasanya ia ingin kembali tidur, tetapi mau bagaimana lagi nenek lampir dan kakek lampir pasti akan memarahi dirinya. Qilla termasuk ke dalam golongan anak durhaka, karena dengan berani memberikan julukan nenek lampir kepada orang tuanya.
"Perfect," ucap Qilla melihat pantulan dirinya di cermin. Qilla sudah selesai beres-beres dan sekarang saatnya untuk dinner/makan malam. Ia menuruni anak tangga dengan hati-hati dan sampai juga di ruang makan. Terlihat kedua orang tuanya sedang makan dalam hening.
"Malam mah, malam pah," ucap Qilla sambil mencium pipi kedua orang tuanya.
Cup Cup
"Malam sayang, sini makan," ucap papah Qilla menarik kursi untuk putri kesayangannya itu.
"Thanks Dad," ucap Qilla tersenyum anggun bak putri kerajaan.
Mereka melanjutkan ritual makan tanpa ada suara yang terdengar, sesekali Qilla melirik kedua orang tuanya yang terlihat fokus terhadap makanan mereka masing masing. Walaupun sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini, baginya ini sangat aneh karena Qilla tidak suka keheningan. Ia merupakan anak yang ekspresif dan tidak bisa diam, Qilla cenderung aktif dan banyak bicara. Oleh karena itu, ia tidak menyukai suasana hening. Persis seperti sang mamah.
"Qilla selesai," ucap Qilla sambil merapikan alat makannya.
"Pah mah, nonton movie yuk. Qilla ada film baru nih," ucap Qilla semangat.
"Maaf ya sayang, mamah sama papah ada kerjaan urgent yang perlu diurus," ucap mamah Qilla merasa bersalah.
"Kamu nonton sendiri dulu gak papa kan sayang?" tanya papah Qilla
"Iya pah mah, Qilla gak papa kok. Semangat kerjanya," pinta Qilla.
"Makasih sayangku," ucap mamah Qilla sambil mengelus kepala anaknya.
Qilla sudah terbiasa dengan ini semua, berujung ia menonton film seorang diri. Qilla juga sadar bahwa orang tuanya bekerja demi dirinya. Qilla memaklumi hal itu, ia tidak boleh egois. Setidaknya, kedua orang tuanya masih peduli terhadap dirinya. Mereka yang merawat Qilla waktu ia sakit, jadi Qilla hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kedua orang tuanya.
...***...
SEPII SEKALII HUHUHUHU
LEMME KNOW KALO KALIAN SUKA SAMA CERITA INI ATAU ENGGA!!
TEAM SIAPAA NIHH?
*Qilla - Arsen
*Qilla - Hyades
*Qilla - Kiev
*Faren - Arsen
*Faren - Hyades
*Faren - Kiev
- 1028 Words -