RAQILLA

RAQILLA
CHAP 34 - RAQILLA SEQUOIA AURORA R.



Seorang gadis berambut coklat terang dengan matanya yang indah sedang berjalan tergesa-gesa tak tentu arah, sesekali ia berlari seperti sedang menghindari sesuatu. Ia terus berjalan melewati lorong demi lorong. Entah apa yang sedang ia lakukan.


"QILLAAA, KEMANA AJA LO?" teriak seorang pria tampan mengejar gadis tersebut.


Sementara, gadis yang tadi dipanggil oleh pria tersebut terus berjalan tanpa menghiraukan teriakan dari temannya itu. Apa yang sebenarnya terjadi?


Saat ini, pikiran Qilla sedang kacau akibat perlakuan Hyades di ruang osis beberapa menit yang lalu ditambah lagi sedari tadi ia terus menahan untuk buang air kecil. Oh Tuhan, ini sangat menyiksa. Tujuan utamanya adalah toilet, ia ingin mencuci muka agar fresh kembali kemudian buang air kecil.


Sesampainya Qilla di toilet khusus wanita, ia langsung memasuki salah satu bilik toilet tersebut dengan tergesa-gesa. Ia sudah tidak dapat menahannya lagi.


HUFTTT LEGAA


"Eh lo tau gak sih anak baru yang dari kelas Divinity?" ucap seorang gadis dari luar bilik.


"Tadi dia ke kelas gue terus cariin Hyades, kecentilan banget sih," ucap seorang gadis, sepertinya suaranya berbeda dengan gadis sebelumnya.


"Anak baru aja belagu," ucap salah satu dari mereka.


"Dia lagi beruntung aja, Faren belum pulang dari luar negeri," ucap gadis yang ada di luar bilik.


"Kalau Faren udah pulang, habis si anak baru kecentilan itu"


"Lagian berani banget godain Hyades, dia gak tau apa si Faren cinta mati sama Hyades"


Ceklek


Qilla keluar dari bilik tersebut kemudian mendekati mereka dengan memasang wajah dingin, tidak lupa juga ia mengeluarkan aura intimidasinya yang berhasil membuat siapa saja merinding.  Ia mencuci kedua tangannya, berlalu pergi dari hadapan kedua gadis tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Gilaa merinding gue"


"Itu beneran si anak baru?"


"Bulu kuduk gue berdiri semua"


"Cakep banget buset"


"Gue kayak pernah lihat mukanya tapi dimana ya"


"OHHH GUE TAU ANJIR"


"ITU BUKANNYA RAQILLA SEQUOIA AURORA ROSSLER?!"


"ANAK DARI ATHENA ADINDA ROSSLER DAN AARON ANANDA ROSSLER. KELUARGA TERKAYA NO 2 DI DUNIA"


"Kalau gak salah, dia juga model di Canada terus punya julukan ice skating Queen"


"OH MY GOSHH"


"Pantas aja, auranya beda"


"Dia tadi denger omongan kita gak ya?"


"Aduh bisa mati gue"


Kedua gadis itupun panik setelah mengetahui fakta bahwa gadis rupawan yang tadi mereka hina adalah Raqilla Sequoia Aurora Rossler, seorang gadis multitalenta yang merupakan anak dari orang terkaya no 2 di dunia.


...***...


Semua siswa/I berhamburan keluar sekolah, ini adalah hal yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap pelajar. Betul sekali.....jam pulang sekolah telah tiba. Semantara Kiev dan Qilla hanya duduk diam di kursi mereka, sedari tadi Qilla hanya melamun dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Entah apa yang sedang ia pikirkan, Kiev bingung harus berbuat apa.


"Qill," panggil Kiev


Tidak ada sahutan


"Qilla," panggil Kiev lagi.


Belum ada sahutan


"RAQILLA," teriak Kiev tepat di telinga Qilla. Ia sudah geram melihat kelakuan aneh sahabatnya itu.


"Apaan sih?" tanya Qilla polos.


"Udah pulang anjir, lo dari tadi diem disitu ngapain. Mau jaga sekolah lo bareng pak jono?" ujar Kiev ketus.


"Lah, udah pulang?" tanya Qilla melihat kursi kanan kirinya yang sudah kosong.


Gadis itu hanya menghela napas panjang, ia bimbang apakah dirinya perlu memberitahukan hal ini kepada Kiev?


"Nahh kan ngelamun lagi, pusing gue sama lo," ucap Kiev kesal.


Brak


Kiev memukul meja penuh tenaga, "WOII" ujar Kiev.


"ANJIR KAGET GUEE," ucap Qilla sambil mengelus dadanya, untung saja ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung.


"Yaa abisnya dari tadi lo ngelamun mulu, cerita napa sih," ujar Kiev.


"Fine, gue cerita," ucap Qilla memutar bola matanya malas.


Mengalirlah cerita Qilla, mulai dari ketika ia dipaksa oleh Hyades sampai ketika ia dihina oleh anak kelas lain. Kiev memperhatikan dengan seksama setiap kata yang keluar dari mulut Qilla.


"SINI GUE TONJOK SI HYADES, GILA ITU ORANG," ucap Kiev marah kemudian beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Hyades. Bagaimana bisa ia menyakiti sahabat terbaiknya?


"KIEVVVV," ucap Qilla mengejar Kiev, akan tetapi langkah kaki kecilnya tidak dapat menyeimbangi langkah kaki Kiev. Inilah mengapa Qilla tidak ingin menceritakan hal ini kepada Kiev.


Brak


Seseorang membuka pintu ruangan osis dengan kasar, semua orang menatap kehadiran Kiev dan Qilla yang datang secara tiba-tiba.


"Rapat selesai," ucap Hyades datar.


Semua anggota osis pun berhamburan keluar, akan tetapi ada juga beberapa siswa yang penasaran. Oleh karena itu, mereka hanya duduk diam menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Keluar," ucap Hyades tegas, tidak menerima bantahan bak seorang bos yang memerintah anak buahnya.


Siswa tersebut keluar dengan gemetaran, hanya dengan mendengar suara berat Hyades. Bulu kuduk akan merinding, sangat menyeramkan. Apalagi ketika melihat Hyades marah, mungkin saja keesokan harinya mereka tidak dapat melihat sinar mentari kembali. Akan tetapi, hal itu tidak akan pernah terjadi. Satu hal yang perlu kalian ketahui adalah bahwa Hyades tidak pernah marah, jika ia merasa kesal dengan seseorang maka ia akan menatap tajam orang tersebut.


"LO APAIN QILLA ANJ*NG," teriak Kiev marah, rasanya ia ingin sekali memukul wajah tampan Hyades akan tetapi ia kembali mengingat bahwa dahulu Hyades pernah menjadi bagian dari hidupnya.


Hyades hanya diam tanpa berniat untuk mengeluarkna sepatah kata pun, ia duduk di kursi kebesarannya dengan tenang.


"Kievv," ucap Qilla menghampiri Kiev yang berada di dalam ruangan tersebut, tepatnya di depan meja yang di duduki oleh Hyades.


"Look at me" ucap Qilla memutar wajah Kiev untuk melihat ke arahnya.


"I'm okay" ucap Qilla tersenyum manis.


Sementara Hyades geram melihat perlakuan lembut Qilla kepada Kiev, ia marah tetapi tidak tahu harus berbuat apa, ia kesal tetapi tidak dapat mengungkapkannya, ia cemburu tetapi mereka tidak memiliki status apapun. Rasanya ia ingin mengrung Qilla untuk dirinya sendiri. Egois bukan? begitulah Hyades, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan dengan segala cara dan Qilla adalah miliknya.


...***...


"HELLO EVERYBODYY!! QILLA PULANGG YUHUUUU, MANA RED CARPETNYA," teriak Qilla seperti toa masjid.


"JANGAN TERIAK-TERIAK, SAYANG," teriak mamah Qilla tak kalah kencang.


"Mamah nyuruh aku gak teriak-teriak, itu mamah juga teriak," ucap Qilla memutar bola matanya malas.


"Yang boleh teriak di rumah ini itu cuma mamah, kamu gak boleh," ucap mamah Qilla menggoda anaknya.


"It's not fair" ucap Qilla kesal kemudian berlalu dari hadapan sang mamah, ia merasa ini adalah hari yang buruk baginya.


"Hey honey, mamah cuma bercanda," ucap mamah Qilla melihat muka kesal anaknya.


Qilla menaiki tangga tanpa menjawab perkataan sang mamah, ia tahu mamahnya hanya bercanda tapi ini bukanlah saat yang tepat untuk bercanda. Suasana hati Qilla saat ini sedang mendung akibat kejadian yang menimpa dirinya di sekolah tadi.


Sesampainya di tempat yang paling nyaman untuk Qilla, dimana lagi jika bukan kamarnya. Pasti kita juga merasa bahwa kamar adalah tempat yang paling nyaman untuk menumpahkan segala keluh kesah kita tanpa ada seorang pun yang tahu.


Buk


Qilla merebahkan dirinya diatas kasur king size yang sangat besar dan empuk itu, melempar tasnya sembarangan kemudian menutup kedua mata indahnya. Besok adalah hari yang berat, ia harus mengumpulkan tenaga untuk itu.


Disisi lain, seorang pria bermata biru sedang duduk diatas ranjangnya sambil menatap sebuah foto yang ada di tangannya. Di dalam foto tersebut terdapat seorang gadis yang sangat cantik sedang tersenyum tanpa beban dengan bunga yang ia jadikan sebagai hiasan. Jika melihat foto tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa gadis itu pasti memiliki hari-hari yang indah tanpa ada masalah yang menghantuinya. Akan tetapi, kenyataan tidak seindah perkiraan kita. Gadis itu mengidap suatu penyakit yang sangat sulit untuk disembuhkan bahkan ia harus pergi ke Canada untuk mengobati penyakitnya itu, ia harus menghadapi kesakitan itu sendirian.


Gadis yang berada dalam genggaman pria itu adalah Qilla, yaa dia adalah Raqilla Sequoia Aurora Rossler.


"Maaf," ucap pria tersebut lirih sambil terus memandangi wajah Qilla. Setetes air mata mengalir sehingga mengenai foto yang berada dalam genggamannya.


- 1267 Words -