
Mamah dan papah Qilla berjalan mengikuti dokter tersebut dengan perasaan resah. Mereka merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Tap Tap Tap
Sesampainya di ruangan yang terlihat asing, sangat rapi untuk ukuran seorang pria, minimalis tapi nyaman untuk ditinggali. Siapapun akan betah untuk tinggal di ruangan ini.
"Silahkan duduk bapak ibu," kata Dokter tersebut, sebut saja namanya Dokter David.
"Baik terima kasih Dok," ucap papah Qilla tegas, khas seorang bapak-bapak.
"Apakah sebelumnya bapak atau ibu memiliki penyakit turunan?" tanya Dokter David dengan raut muka serius. Sepertinya masalah ini tidak mudah untuk ditangani.
Papah Qilla kaget mendengar pernyataan sang Dokter, pasalnya hanya ia dan istrinya yang mengetahui bahwa ia memiliki penyakit turunan.
"Saya mengidap penyakit Thalasemia Dok," jujur papah Qilla, apakah anaknya juga mengidap penyakit tersebut? tapi bagaimana hal ini dapat terjadi, umur Qilla saat ini belum genap 11 tahun sedangkan ia mendapat kabar bahwa dirinya mengidap penyakit ini ketika ia berumur 21 tahun.
"Sama halnya dengan bapak, Qilla pun mengidap penyakit tersebut. Akan tetapi kondisi Qilla saat ini cukup serius. Selain mengidap Thalasemia, terdapat kerusakan ringan pada bagian kepala akibat benturan yang cukup keras. Hal ini akan mengganggu pertumbuhan otak pasien, sehingga kemungkinan anak bapak atau ibu kurang cepat memahami sesuatu untuk anak seusianya," jelas Dokter David.
"Apa yang perlu kami lakukan Dok agar anak kami sembuh?" tanya papah Qilla tetap tenang, sementara mamah Qilla tidak dapat berkata apapun. Tubuhnya lemas, tidak menyangka hal ini akan menimpa putri semata wayangnya.
"Sayangnya, hingga saat ini Thalasemia belum dapat disembuhkan Pak. Maka, pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan transfusi darah rutin yang akan dilakukan setiap bulan hingga ia tumbuh dewasa," ucap Dokter David.
"Apakah tidak ada cara lain Dok?" kata mamah Qilla, ia tidak sanggup melihat putri semata wayangnya mengidap penyakit ini dan harus terus-terusan melakukan transfusi darah.
"Kami menyarankan bapak dan ibu untuk melakukan pengobatan di luar negeri karena dapat dipastikan bahwa pengobatan disana jauh lebih memadai, kemungkinan penyakit pasien dapat disembuhkan secara total," ucap Dokter David memberikan harapan baru. Mamah Qilla merasa lega, ada cara lain untuk menyembuhkan penyakit putrinya.
"Baik Dok," ucap papah Qilla tersenyum lega.
"Untuk saat ini, pasien perlu menjalani perawatan intens selama kurang lebih 2-3 hari untuk mengetahui keadaan pasien lebih lanjut," jelas Dokter David.
"Apakah sekarang kami boleh mengujungi anak kami Dok?" tanya papah Qilla dengan raut wajah memohon, ia ingin melihat kondisi putrinya. Setidaknya, ia tahu bahwa putrinya baik-baik saja.
"Tentu saja boleh, mari saya tunjukkan jalannya," kata Dokter David ramah.
Mereka berjalan menyusuri lorong dengan Dokter David di depan sebagai pemandu jalan Selama mereka berjalan, banyak sekali orang yang menyapa Dokter ganteng tersebut. Sepertinya Dokter David cukup populer di kalangan para Dokter.
"Silahkan masuk bapak ibu," ucap Dokter David mempersilahkan. Mamah dan papah Qilla pun masuk ke dalam ruangan tersebut, mereka melihat sosok anak kecil dengan rambut coklat panjang sedang tertidur pulas tepat di hadapan mereka. Wajahnya pucat dengan infus yang melekat pada tangan mungilnya.
Mengapa Qilla masih setia menutup kedua mata indahnya? Apakah kondisinya memburuk?
"Pasien sedang berada dalam pengaruh obat bius, sekitar 2-3 jam pasien akan segera bangun," ucap Dokter David seakan-akan mengetahui apa yang sedang mereka pikirkan.
"Baik, terima kasih Dok," jawab papah Qilla dengan ucapan syukur, ia lega putrinya baik-baik saja. Akan tetapi ada suatu hal yang mengganjal pikirannya sedari tadi, apakah itu?
Kring Kring Kring
Dering ponsel seseorang berbunyi nyaring, memenuhi satu ruangan. Sepertinya pemilik telepon lupa untuk mematikan nada teleponnya.
"Mah, tolong jaga anak kita dulu ya. Papah mau angkat telepon," ucap papah Qilla memegang lembut tangan sang istri.
Papah Qilla beranjak keluar untuk mengangkat panggilan tersebut, ia melihat nama yang tertera pada layar telepon genggamnya.
"Halo Agra, apa kabar?" tanya papah Qilla tanpa mengubah raut wajahnya.
"Baik, aku dengar anakmu kecelakaan. Apakah kabar itu benar?" tanya Agra, ada yang tahu tidak Agra itu siapa? Agra merupakan papah dari si pentakilan atau yang sering kita sebut Kiev. Keluarga Kiev terkenal akan kehebatannya dalam bidang kedokteran dan psikologis. Maka tak heran, Kiev juga sangat mahir dalam obat-obatan dan ilmu psikologis.
"Kamu lupa teman terbaikmu ini siapa?" tanya Agra (papah Kiev), walaupun saat ini mereka sedang berbicara melalui telepon. Aaron (papah Qilla) tahu bahwa dari balik telepon Agra sedang tersenyum narsis. Ternyata sifat narsis Kiev ia miliki dari Agra.
Aaron(papah Qilla) hanya diam mengabaikan celotehan Agra (papah Arsen).
"Intinya adalah aku bisa menyembuhkan penyakit anakmu," ucap Agra penuh percaya diri.
"Agra, saya sedang tidak ingin bercanda" ucap Aaron menganggap itu hanyalah bualan Agra, sepertinya ia lupa bahwa teman narsis nya ini adalah seorang Dokter. Bahkan ia sudah menemukan berbagai macam obat langka yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Hebat bukan? Agra gitu loh, nah mulai lagi narsisnya.
"Kamu lupa bahwa temanmu ini adalah seorang Dokter terhebat sepanjang sejarah?" ucap Agra melebih-lebihkan. Aaron menyadari satu hal bahwa teman laknat nya ini adalah seorang Dokter. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu?
"Baiklah, aku serahkan Qilla kepadamu," ucap papah Qilla tegas.
"Apa yang akan aku dapatkan?" kata papah Kiev menaikkan sebelah alisnya.
"Saham keluarga Rossler 5%," ucap papah Qilla tanpa ragu.
"Baiklah aku setuju, senang bekerja sama dengan anda," ucap papah Kiev senang, pasalnya saham yang diberikan Aaron (papah Qilla) tidak main-main. Tentu saja Agra aka menerimanya dengan senang hati.
"Jangan kasih tau siapapun mengenai pembicaraan kita hari ini," ucap papah Qilla penuh penekanan.
"Tenang saja Aaron, pembicaraan ini hanya di antara kita saja," ucap papah Kiev tegas, tidak ada untung baginya juga untuk mengumbar pembicaraan mereka. Ia juga tahu batasan, siapapun yang berani mengusik Aaron. Tidak akan selamat.
"Aku akan memberi kabar secepatnya mengenai pengobatan anakmu," kata papah Kiev.
"Besok," ucap papah Qilla tegas.
"Baiklah," ucap papah Kiev pasrah, tidak berani menolak.
Tut
Papah Qilla mematikan telepon secara sepihak, sementara dari seberang sana ada seseorang yang menyumpah serapah Aaron (papah Qilla).
Tidak tahu terima kasih, udah bagus dibantuin. Teman laknat, bisa-bisanya punya teman modelan begini.
"Dari siapa pah?" tanya mamah Qilla posesif.
"Agra mah," jawab papah Qilla lembut. Yaa beginilah Aaron, diluar ia akan terlihat dingin sedangkan bersama istri dan anaknya, ia akan berubah menjadi lembut dan penyayang.
Kring Kring Kring
Dering ponsel seseorang berbunyi, akan tetapi kali ini bunyi tersebut bukan berasal dari ponsel Aaron melainkan ponsel Athena (mamah Qilla).
"Halo," sapa mamah Qilla.
"Bagaimana keadaan Qilla? Apakah dia baik-baik saja?" tanya seseorang dari balik ponsel.
...***...
Penyakit Thalasemia : Penyakit keturunan ini adalah penyakit yang menyerang sel darah merah penderitanya. Kondisi ini membuat hemoglobin dalam sel darah merah penderitanya berkurang, sehingga oksigen sulit diedarkan ke seluruh tubuh. Anak yang lahir dengan berat kebanyakan meninggal saat dilahirkan. Pada beberapa kasus, anak yang memiliki Thalasemia dapat hidup, namun sangat rentan terserang anemia, sehingga sering kali membutuhkan.
- 1130 Words -