RAQILLA

RAQILLA
CHAP 42 - SALAH SANGKA



Hari pertama perlombaan telah resmi dimulai, Qilla dan teman-temannya mulai menjalankan rencana. Para siswa/i berbondong-bondong menuju kelas masing-masing sebab beberapa menit lagi kelas pertama akan dimulai.


Tahun ini, banyak sekali siswa/i yang memilih Computer Science and Information Technology sebagai kelas yang dituju. Itu semua bukan karena mereka memang benar-benar ingin belajar mengenai teknologi akan tetapi ada seorang siswa jenius yang membuat mereka memilih kelas tersebut. Siapa lagi kalau bukan Hyades? dan anehnya Divinity School menjadi pilihan kedua terbanyak yang diminati oleh siswa/i tahun ini. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya, entah apa yang mereka cari di kelas itu.


"Anjir rame banget," gerutu Hazel melihat sekelilingnya.


Ketiga gadis cantik itu memilih tempat duduk paling belakang dekat jendela, tentu saja agar keberadaan mereka tidak disadari oleh siswa/i lain.


"Liat noh ada si nenek lampir sama antek-anteknya," ucap Cella sambil terus melihat gadis berambut blonde yang lewat di hadapannya.


"Nyesel gue ikutin Qilla," lanjutnya dengan suara pelan, namun Qilla tetap dapat mendengar suara Cella. Jangan lupakan telinga sensitif Qilla.


"Katanya kelas ini banyak cogan woi sumpah," ucap Hazel antusias, Hazel si pemburu cogan. Itu adalah julukan yang cocok untuk Hazel.


"Gak jadi nyesel deh hehehe," ucap Cella cengengesan, kurang lebih sifat Cella 11 12 dengan Hazel. Jadi tidak mengherankan lagi bahwa mereka memiliki kelakuan yang hampir sama. Duo peminat cogan.


OH MYY GOSHH ITU HYADES


ASTAGAA BISA SEKELAS SAMA HYADESSS


AAAAAAAA


GANTENG BANGET YA TUHAN


Siapa lagi yang dapat membuat keributan semacam itu? tentu saja Hyades. Yaa itu adalah Hyades, si jenius teknologi. Tapi kali ini Hyades tidak datang sendiri, melainkan ada seorang pria yang berdiri disampingnya sambil membawa sebuah buku. Pria itu terlihat sudah berumur dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.


Hyades melangkahkan kakinya menuju mimbar mengikuti pria tersebut tanpa memperdulikan teriakan dari kaum hawa yang memekakkan telinganya. Ia melihat seorang gadis cantik sedang duduk di kursi paling belakang sambil menggunakan headset yang terpasang di telinganya. Gadis itu terlihat bersenandung ria, asik dengan dunianya sendiri tanpa terganggu dengan keributan di sekelilingnya.


"Morning class, perkenalkan saya Prof.Snape yang mengajar dalam bidang pemograman," ucapnya memperkenalkan diri.


"Tapi hari ini bukan saya yang akan mengajar melainkan pria tampan yang berada di sebelah saya ini. Saya yakin kalian semua sudah mengenal pria ini, wajahnya mirip sekali dengan saya ketika masih muda," lanjut pria tua itu.


"Mirip dari hongkong, beda jauh anjir," bisik Hazel kepada kedua temannya, sementara Cella hanya cekikikan geli mendengar perkataan Hazel. Tidak dengan Qilla yang sedari tadi asik dengan dunianya sendiri.


"Baik, Hyades silahkan dimulai," ucap Prof.Snape mempersilahkan Hyades untuk memulai pelajaran, Hyades hanya mengangguk pertanda sebentar lagi kelas akan dimulai.


"Saya tidak ingin ada yang berbicara selama kelas berlangsung," ujar Hyades tegas, penuh penekanan. Ia paling tidak suka seseorang yang tidak mendengarkan pelajaran yang ia berikan. Menurutnya itu adalah suatu tindakan tidak terpuji.


"What is the meaning of programming?" tanya Hyades, seharusnya jika memang mereka benar-benar serius ingin belajar mengenai teknologi. Pertanyaan basic seperti itu dapat dengan mudah mereka jawab.


Krik Krik Krik


Seisi kelas hening, tidak ada yang berniat untuk menjawab. Beberapa orang berpura-pura membaca buku untuk mengalihkan pertanyaan Hyades. Ada pula yang berpura-pura menulis sesuatu, entah apa yang ia tulis. Sementara Cella dan Hazel bersembunyi di balik punggung Qilla.


"Cewek paling belakang yang pakai baju hitam, jawab pertanyaan gue," ucap Hyades lantang.


"Qill, lo dipanggil," ucap Cella menyenggol tangan Qilla, sementara gadis itu tetap fokus pada bacaannya tanpa memperdulikan panggilan temannya itu.


Hazel mengambil headset yang digunakan oleh Qilla, membuat sang empunya menatap tajam Hazel seakan-akan ingin menerkam Hazel saat itu juga.


Qilla tidak sadar bahwa ia telah menjadi pusat perhatian satu kelas.


"Itu cewek yang pernah main basket sama Hyades bukan sih?"


"Sok kecakepan banget anjir"


"Tapi emang cakep sih"


"Sumpah gue baru liat ada cewek secakep itu"


"Gila gilaa bidadari cuy"


Begitulah beberapa pujian bahkan hinaan dari seisi kelas. Para kaum adam terpesona dengan kecantikan Qilla bahkan ada yang secara terang-terangan memuji gadis itu. Hal ini membuat, pria yang berada di atas mimbar menjadi geram. Ia kesal mengapa gadisnya harus memiliki wajah secantik itu? arghhh seharusnya Hyades menyembunyikan Qilla di dalam kamarnya.


"Lo dipanggil anjir," ujar Hazel kepada Qilla.


"Hah?" tanya Qilla, ia bingung dengan perkataan ambigu Hazel. Dipanggil oleh siapa?


Gadis bertubuh mungil itu mengedarkan pandangannya, ia bingung melihat tatapan aneh dari para siswa/i. Ditambah lagi dengan tatapan Hyades yang seperti sedang menahan amarah, sebenarnya apa yang sedang terjadi?


"Diam," ucap Hyades kepada para siswa yang sedari tadi memuji kecantikan Qilla, rasanya ia ingin memukul muka mereka satu persatu namun ia sudah berjanji kepada gadis itu untuk tidak main tangan lagi.


"Lo gak perhatiin gue?" tanya Hyades ketus, sejujurnya ia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Namun melihat tatapan para siswa kepada Qilla membuatnya naik pitam.


"Gak," ucap Qilla santai, ia hanya menjawab apa adanya.


"Anjir si Qilla minta ditabok," ujar Hazel kesal melihat sifat keras kepala sahabatnya ini.


"Ini peringatan pertama buat lo," ucap Hyades penuh penekanan. Baru kali ini ada seseorang yang berani menentang dirinya secara terang-terangan dan orang itu adalah gadisnya. 


"Bagi siswa yang tidak memperhatikan pelajaran saya, silahkan keluar," lanjut Hyades sambil menatap tajam tepat pada manik mata Qilla. Sementara gadis itu hanya tersenyum miring meremehkan.


"Ada yang bisa menjawab pertanyaan saya sebelumnya?" tanya Hyades menatap satu persatu siswa/i yang berada disitu, sama seperti tadi seluruh siswa/i pura-pura melakukan kegiatan lain agar tidak menjadi sasaran selanjutnya.


"Bahasa pemrograman merupakan sebuah perhimpunan dari aturan sintaks dan semantik yang tugasnya untuk mendefinisikan program komputer. Seseorang yang bisa memahami bahasa pemrograman dapat menentukan mana data yang akan di simpan / diteruskan, data mana yang akan di olah, dan langkah apa saja yang harus di ambil dalam berbagai situasi. Bahasa pemrograman di bagi menjadi beberapa kelompok, yaitu Object Oriented Language. Contohnya adalah Visual C, Delphi, Visual dBase, Visual FoxPro. Low Level Language, contohnya adalah bahasa Assembly. Middle Level Language, contohnya adalah Bahasa C. High Level Language, contohnya Basic dan Pascal," ucap Qilla menjelaskan dengan suara lantang bak seorang guru.


Hyades tertegun menatap Qilla, ia tidak menyangka bahwa selama ini Qilla mendengarkan penjelasannya. Namun, gadis itu memiliki caranya sendiri agar lebih mudah menangkap materi yang diterangkan.


"Komputer sesungguhnya menggunakan bahasa yang sama untuk komunikasi antarkomponennya. Bahasa yang digunakan komponen komputer untuk mengobrol adalah bahasa biner, apakah ada yang tahu apa itu bahasa biner?" tanya Hyades lagi.


"Binary atau biner itu pengganti huruf atau abjad dalam bentuk kode angka 1 dan 0. Angka 1 dan 0 itu adalah representasi dari on dan off. Jadi, 1\=on dan 0\=off. Biner yang biasa dipakai itu ada 8 digit angka dan cuma berisikan angka 1 dan 0, tidak ada angka lainnya. Contohnya adalah 01000001 \= A, 01000010 \= B dan 01000011 \= C. Kira-kira seperti itu," jelas Qilla menjawab pertanyaan Hyades sambil menatapnya sinis.


Prok Prok Prok


"Bravo Bravo," ucap Prof.Snape, ia telah menemukan seorang anak jenius dan cepat atau lambat Qilla akan menjadi muridnya. Perlu kalian ketahui bahwa, Prof.Snape hanya akan memilih siswa/i yang menurutnya memiliki potensi dan sejauh ini hanya Hyades yang diangkat Prof.Snape sebagai muridnya. Banyak sekali siswa yang mendaftar menjadi murid Prof.Snape namun tidak satupun dari mereka yang diterima.


Sementara seisi kelas ternganga sekaligus kaget melihat Qilla menjawab semua pertayaan yang dilontarkan oleh Hyades. Bagaimana bisa Qilla menjawab semua pertanyaan itu? apakah ia juga seorang jenius? setahu mereka Qilla merupakan salah satu siswa dari Divinity School dan bukankah kelas itu adalah kelas dengan peringkat paling bawah? sepertinya mereka harus lebih waspada dengan gadis itu.


"That's my girl," ucap Hyades tersenyum tipis.


- 1257 Words -