
...UPLOAD SETIAP HARI!!...
...***...
Papah Qilla terdiam, kaget mendengar perkataan sahabat yang sudah ia anggap sebagai keluarganya itu. Keringat dingin mengalir di sekitar tubuh tegap nya. Apakah ia akan kehilangan buah hatinya? selama ia masih hidup, ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Apakah ada cara agar anakku sembuh?" tanya papah Qilla.
"Ada, tapi-"ucap Agra (papah Kiev) ragu-ragu, ia ingin mengatakannya akan tetapi ia tidak ingin membuat sahabatnya sedih.
"Tapi apa Agra?" tanya papah Qilla setengah membentak, muncul berbagai prasangka buruk mengenai kondisi Qilla.
"Membutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk menyembuhkan penyakit Qilla secara total," jelas Agra.
"5 tahun?" tanya Aaron melotot kaget, 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Hatinya hancur mendengar kabar yang tidak mengenakkan mengenai anak semata wayangnya. Akan tetapi, ia harus tetap melakukan pengobatan tersebut demi kesembuhan sang buah hati.
Agra hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Aaron tanpa berniat untuk mengeluarkan suara.
"Mungkin bisa sampai 10 tahun, tergantung seberapa parah kondisi Qilla," ucap Agra menambahkan.
"Baiklah, lakukan yang terbaik. Aku bergantung padamu," ucap papah Qilla sambil menepuk bahu Agra dengan mata sayu menatap sosok Dokter dihadapannya.
"Jangan lupa janjimu" ucap Agra mengedipkan salah satu matanya kemudian berlalu pergi.
Papah Qilla hanya menggelengkan kepalanya, heran melihat sikap Agra yang belum berubah sejak mereka duduk di bangku Sma. Suka sekali bercanda, bahkan saat berada di situasi yang menegangkan sekalipun.
Kriet
Bunyi pintu kamar Qilla terbuka, menandakan ada seseorang yang berusaha masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Pah, ada apa? apakah Agra mengatakan sesuatu mengenai kondisi Qilla?" tanya mamah Qilla khawatir, ia merasa suami tercintanya itu menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
"Kondisi Qilla baik-baik saja sayang, ia hanya kecapean dan membutuhkan istirahat," ucap papah Qilla tersenyum menenangkan, ia tidak ingin membuat sang istri khawatir.
"Syukurlah, mulai sekarang aku akan fokus menjaga anak kita. Tidak apa-apa kan pah?" tanya mamah Qilla sambil menatap sendu sang buah hati yang belum juga sadar.
"Tentu saja boleh sayang, aku juga akan membantu kamu menjaga Qilla," ucap Aaron mengiyakan permintaan sang istri dengan perasaan bahagia, sejak dahulu memang ini keinginannya. Ia ingin istrinya fokus menjaga Qilla, akan tetapi sang istri kekeh untuk terus melanjutkan kariernya. Oleh karena itu, ia hanya dapat mengiyakan permintaan sang istri.
3 jam kemudian
"Pah, mah," ucap seorang gadis berusia 10 tahun dengan suara lemas.
"Sayang, kamu mau apa? mau minum? mamah ambilkan ya," kata mamah Qilla dengan perasaan lega melihat putrinya sudah sadar.
"Mi-minum," ucap Qilla dengan suara pelan. Mamah Qilla bergegas mengambil minum kemudian membantunya minum. Kepala Qilla terasa pusing, semua benda di ruangan itu seperti berputar-putar. Bahkan untuk minum pun ia membutuhkan bantuan sang mamah.
"Sayang, kamu istirahat lagi ya nak," ucap papah Qilla sambil mengelus kepala putri kesayangannya.
Qilla hanya menggangguk mengiyakan perkataan sang papah tanpa membantah, padahal jauh di lubuk hatinya yang paling dalam. Ia sangat ingin keluar dari kamar, menikmati suasana Canada. Akan tetapi, Qilla mengerti bahwa papah dan mamahnya melakukan ini semua demi dirinya. Jadi sebagai anak yang baik, ia harus menuruti perintah kedua orang tuanya.
"Good girl," lanjut papah Qilla tersenyum kecil.
Mamah dan papah Qilla melangkah keluar dari kamar Qilla dan pergi melanjutkan urusan mereka yang tertunda. Sementara Qilla hanya dapat berbaring di atas ranjang empuk miliknya.
Apakah mereka baik-baik saja?.
Aku sangat merindukan mereka.
Kapan aku bisa pulang? ucap Qilla dalam hati. Ia tak kuasa menahan air mata yang sebentar lagi akan keluar.
Qilla harus kuat.
Qilla pasti sembuh.
Demi mamah papah dan teman-teman.
Qilla terus menyemangati dirinya sendiri karena banyak orang yang menantikan kepulangannya. Salah satunya, Healvito Hyades Miller.
Sosok lelaki tampan yang selalu melindungi dan menjaga Qilla dengan berbagai macam cara, dan jangan lupakan tampang dinginnya. Akan tetapi, anehnya hal itulah yang membuat hati Qilla berdebar-debar. Apakah jantungnya juga bermasalah?
...***...
"HAH! QILLA GAK ADA? KOK BISA?" teriak seorang gadis berambut blonde.
"Gak usah teriak juga kali, sakit nih kuping gue," balas seorang pria berambut hitam legam sambil memegang telinganya.
"Bacot, Qilla hilang bego," ucap Faren sarkastik, gadis berambut blonde.
"Weits, cewe gak boleh ngomong kasar," ucap Kiev dengan nada mengejek.
"Bisa diem gak!" ucap Faren kesal. Ia sudah cape meladeni sikap absurd Kiev.
"Anjir, Qilla kemana sih," lanjut Faren panik.
"Lu ngomong gitu lagi, siap-siap bibir gue melayang ke bibir lo," ucap Kiev gemas melihat Faren yang terus saja mengucapkan kata-kata kasar. Yaa walaupun ia juga sering berkata seperti itu, tapi kan Faren adalah seorang wanita. Jadi, gak pantas berbicara seperti itu.
"Apaan sih anjir," ucap Faren jijik.
Cup
Bibir Kiev mendarat dengan sempurna pada pipi Faren.
Blush
Faren membatu melihat perilaku Kiev, ia mengira bahwa Kiev hanya mengertak dirinya. Akan tetapi, Kiev tidak main-main dengan ucapannya.
"Peringatan pertama," bisik Kiev tepat di telinga Faren dengan mengeluarkan smirk jahatnya.
Deg Deg Deg
Jantung seseorang berdetak tak karuan, sepertinya seisi ruangan mendengar bunyinya.
"Gu-gue mau ca-cari Qilla," ucap Faren berlalu pergi, sebenarnya ini hanyalah alibi agar ia dapat segera keluar dari ruangan tersebut, jantungnya tidak bisa diajak kompromi.
Sementara Kiev bingung dengan reaksi aneh Faren. Bukankah ketika seorang pria mencium seorang wanita, muka si wanita akan terlihat memerah karena malu? lalu mengapa Faren hanya mengabaikan dirinya?. Pantas saja Kiev tidak melihat muka memerah milik Faren, ternyata gadis berambut blonde itu sangat mahir mengontrol ekspresi wajahnya. Poor Kiev, nasib suka sama cewek galak.
Hyades tidak berniat untuk membalas ucapan Faren, ia hanya menatap Faren kosong. Beberapa jam saja ia tidak melihat keberadaan Qilla di sekitarnya, membuat Hyades frustrasi. Qilla adalah energi baginya.
"Hyades," ucap Faren lembut, ia prihatin melihat kondisi Hyades yang kacau tidak karuan. Rambut acak-acakan, wajah pucat, ditambah lagi dengan baju yang basah sehingga memperlihatkan dengan jelas tubuh Hyades yang terpahat dengan indah.
"Loh ini Hyades kenapa?" tanya Kiev yang secara tiba-tiba berada disitu, datang tidak dijemput pulang tidak diantar. Peribahasa itu sangat cocok dengan Kiev.
"Kamu ganti baju dulu, setelah itu cerita sama kita apa yang terjadi," ucap Faren menyentuh pergelangan tangan Hyades, berusaha membantu. Tangan Faren dihentakkan oleh Hyades dengan kasar, Hyades paling tidak suka bila ada yang menyentuh dirinya, sekalipun itu adalah teman maupun keluarganya.
"Pergi," ucap Hyades dingin, menatap tajam Faren dengan tatapan yang sangat menakutkan.
Faren melangkah mundur kemudian berlalu pergi meninggalkan Hyades dan Kiev yang masih berada disitu.
"Faren cuma mau bantu lo bro, gak usah kasar kayak gitu juga," ucap Kiev datar kemudian pergi mengejar Faren, ia sangat kesal melihat perlakuan Hyades kepada Faren.
Hyades hanya menatap Kiev datar, tidak mengindahkan perkataan Kiev. Ia merasa bahwa apa yang dirinya lakukan tidak ada yang salah. Tidak ada yang diperbolehkan menyentuh Hyades kevuali Qilla.
Ia duduk di bangku rumah sakit yang letaknya tidak jauh darinya, Hyades termenung menatap banyak orang yang sedang melakukan aktivitas mereka dengan penuh canda tawa. Bagaimana mereka dapat tertawa begitu lebar sementara dirinya hanya dapat merasakan kesepian dan kesedihan?
Setetes air mata jatuh, milik seorang pria tampan bermata biru. Entah sudah ke berapa kali ia menangis, akan tetapi ia tidak dapat menahan air mata yang terus saja berusaha untuk keluar.
I miss you so bad, baby
Do you miss me?
Hyades bergumam dalam hati, mungkin ia terlihat tegar akan tetapi sebenarnya ia adalah sosok yang rapuh. Apalagi jika menyangkut Raqilla Sequoia Aurora Rossler. Qilla adalah dunianya, ia merasa seperti pulang ke rumah yang sebenarnya bila bersama dengan Qilla. Lebay memang, tetapi begitulah faktanya.
Di lain sisi, Kiev terus mencari Faren di sekitar rumah sakit tetapi tidak menemukan gadis itu.
"Kemana lagi itu cewek, cepet banget larinya. Heran gue, itu kaki manusia atau kaki kuda," gerutu Kiev dalam hati. Tiba-tiba ia teringat suatu tempat yang belum ia datangi, mungkin saja Faren berada di tempat tersebut. Kiev bergegas menuju tempat itu.
Sesampainya di taman runah sakit, ia melihat sosok gadis cantik berambut blonde sedang duduk di salah satu bangku sambil menangis tersendu-sendu.
"Woi, ngapain lo disitu?" tanya Kiev ketus, padahal dalam hati ia ingin sekali memeluk Faren erat dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja selama ada dirinya. Akan tetapi Kiev gengsi untuk mengatakan itu.
Hiks Hiks Hiks
Kiev mendekati Faren kemudian menepuk pundak gadis tersebut, berusaha membuatnya tenang.
"Udah gak usah nangis," ucap Kiev lembut sambil menghapus sisa air mata di sudut pipi Faren.
"Lo juga, udah tau si kutub gak suka dipegang masih aja di deketin. Heran gue ama lo, apasih yang bagus dari dia. Cakep? cakepan juga gue, pinter? lebih pinter gue lah jelas. Cewek memang aneh," lanjut Kiev menceramahi gadis di hadapannya itu layaknya seorang bapak memarahi anaknya.
"Stress gue lama-lama sama lo," ucap Faren berdiri ingin pergi melihat keadaan Hyades, memang tidak ada jeranya cewek yang satu ini. Sudah dibentak, masih saja mendekati Hyades. Dari sini kita mengetahui satu hal bahwa cewek memang memiliki hati sekeras baja, tahan banting.
"Ehh lo mau kemana?" ucap Kiev menarik tangan Faren, mencegahnya untuk pergi.
"Gue mau berak, mau ikut lo?" ucap Faren berkata terang-terangan, ia terpaksa berbohong agar Kiev tidak terus-terusan mengikuti dirinya. Faren sangat kesal dengan Kiev yang selalu membuntuti dirinya kemanapun ia pergi. Apakah Kiev tidak memiliki kerjaan lain? sepertinya memang tidak.
"Emang boleh?" tanya Kiev polos, sepertinya tadi otak Kiev tertinggal di rumah.
Kletak
Sebuah tangan mendarat dengan mulus tepat di kepala milik seorang pria. Sangking geramnya akan kelakuan pria itu, Faren menjitak kepalanya dengan keras agar otak Kiev bekerja dengan benar.
Aww
"Kepala ganteng gue," ucap Kiev memegang bagian kepalanya yang tadi dipukul oleh Faren. Masih terasa berdenyut karena pukulan Faren yang cukup keras.
Faren berlalu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau bahkan untuk mengucapkan kata maaf, ia tidak sudi.
"Woi, tunggu gue dong," ucap Kiev berlari mengejar Faren dengan tergesa-gesa, takut kehilangan jejak seperti tadi.
"Bacot," ucap Faren memutar bola matanya malas.
Akhirnya Kiev berhasil menyesuaikan langkahnya dengan Faren, mereka pun berjalan bersama di sepanjang lorong dengan beberapa pasang mata yang terus memperhatikan keduanya. Kiev merupakan anak dari pemilik rumah sakit tersebut, maka dari itu hal ini adalah suatu hal yang biasa baginya. Akan tetapi tidak untuk Faren, ia merasa risih dan terganggu dengan tatapan mereka, oleh karena itu ia mempercepat langkahnya.
"Kita mau kemana sih?" tanya Kiev penasaran, pasalnya sedari tadi mereka hanya mengelilingi tempat yang sama.
"Duh diem deh, gue lagi fokus," ucap Faren menyuruh Kiev untuk diam. Kiev pun seketika diam, seperti anjing yang menuruti perintah sang majikan.
"Ruangan Qilla dimana sih? aduh lupa lagi gue," gerutu Faren.
"Rumah sakitnya kenapa gede banget sih," ucap Faren kesal, ia merasa setiap ruangan yang ia lewati sedari tadi memiliki bentuk yang sama persis.
Sudah 30 menit mereka berputar-putar dan belum menemukan ruangan Qilla, padahal bisa saja Faren bertanya pada suster ataupun dokter yang lewat. Akan tetapi, dalam kondisi ini Faren tidak dapat berpikir jernih, yang ada dipikirannya saat ini adalah menemukan Hyades.
"Lo tau gak kamar Qilla dimana?" tanya Faren kepada Kiev, siapa tahu Kiev mengetahui sesuatu. Tentu saja Kiev tahu, rumah sakit ini kan milik kedua orang tuanya. Sedari kecil, kiev tumbuh di rumah sakit ini. Sangat aneh jika dirinya tidak tahu.
Kiev hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara apapun. Sementara Faren bingung dengan kelakuan aneh bin absurd Kiev.
"Anjir kenapa gak ngomong dari tadi bego?" ucap Faren menggerutu kesal.
"Lah tadi kan lo nyuruh gue diem," ucap Kiev santai tanpa rasa bersalah.
Apakah otak Kiev masih belum berfungsi?
"Bodo ah, cepet tunjukkin jalannya," ucap Faren sambil menekuk wajahnya, rasanya kaki cantiknya sudah ingin putus saat ini.
Mereka berjalan menuju ruangan Qilla dengan Kiev sebagai pemandu jalan dan sesampainya di ruangan tersebut. Mereka melihat Hyades yang sedang duduk di salah satu bangku dengan baju yang sudah mulai mengering.
"Hyades," ucap Faren dan Kiev bersamaan. Mereka tidak menyangka bahwa, Hyades masih saja setia duduk di tempat tersebut dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Apakah ia tidak takut masuk angin?
...***...
...Gimana gais cerita hari ini? seruuu dong pasti. Hope you guys like it! ...
...Komen dong kalian paling suka partnya siapa? votee juga yaa! kalau banyak yang...
... ngevote, author bakal double post 😃...
...Terima kasih para pembaca ku, author sayang kalian❤️...
...- 1997 Words -...