RAQILLA

RAQILLA
CHAP 46 - HARI TERBURUK SEDUNIA



"Lo ngapain disini?" tanya Qilla tanpa menutupi keterkejutannya, pasalnya ia pikir tidak ada seorang pun yang akan datang ke tempat ini. Namun, sepertinya dugaan gadis itu salah. Buktinya saat ini, Arsen berada di hadapannya.


Arsen berlalu pergi meninggalkan Qilla tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Ehh non Qilla sudah datang," ucap seorang wanita paruh baya, sepertinya ia merupakan ibu panti.


"Panggil Qilla aja bu," ucap Qilla ramah, ia merasa tidak enak bila dipanggil seperti itu. Yaa walaupun, Qilla merupakan donatur dari panti itu namun tetap saja itu bukan berarti ia adalah seorang terhormat yang patut dihormati. Meskipun faktanya memang begitu.


"Tidak apa-apa, sudah tidak perlu dibahas lagi. Silahkan duduk dulu," ucap ibu panti mempersilahkan Qilla duduk.


"Kamu sudah pulang dari luar negeri?" tanya ibu panti tersebut.


"Sudah bu, Qilla ada urusan di Jakarta bu," ujar Qilla menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu.


"Itu tadi ada cowok, siapa bu?" tanya Qilla, pria yang dimaksud oleh Qilla adalah Arsen.


"Ohh itu, namanya Arsen. Anaknya baik sekali, dia memang hampir setiap hari mengunjungi panti. Bermain dengan anak-anak disini, setiap datang pasti selalu membawa sesuatu entah itu makanan ataupun mainan," ujar ibu panti tersenyum senang, ternyata masih ada remaja yang memiliki hati sebaik Arsen.


Sementara Qilla yang mendengar cerita dari ibu panti terkejut bukan main, jadi selama ini Arsen sering mengunjungi panti ini? hampir setiap hari? pantas saja pria itu jarang sekali terlihat di sekolah. Sepertinya Qilla salah menilai seorang Arsen, benar kata pepatah 'jangan menilai seseorang hanya dari luarnya saja'. Walaupun Arsen terlihat galak dan nakal, ternyata ia memiliki hati yang baik.


"Ibu mau lanjut memasak untuk anak-anak," ucap Ibu panti beranjak dari tempat duduknya.


"Perlu bantuan Qilla bu?" tanya Qilla kepada wanita paruh baya itu.


"Tidak perlu nak, sudah ada Cikha, Nurul dan Yanti yang membantu ibu," ucap ibu panti menolak secara halus tawaran Qilla. Ia tidak ingin merepotkan gadis itu. Perlu kalian ketahui bahwa Cikha, Nurul dan Yanti adalah pekerja yang disewa oleh Qilla untuk membantu ibu panti dalam mengurus semua keperluan panti.


"Ibu tinggal sebentar ya nak. Ada danau di belakang panti, Kamu lihat-lihat dulu saja disana," saran ibu panti.


Qilla hanya mengangguk mengerti. Setelah ibu panti pergi, Qilla memutuskan untuk pergi ke danau yang dikatakan oleh ibu panti itu.


Setibanya di sebuah danau yang tidak begitu luas namun sangat indah sehingga membuat Qilla tidak dapat memutuskan pandangannya dari danau itu. Lagi dan lagi, ia melihat seorang pria yang sedang menatap dalam ke arah sesuatu. Qilla melihat arah tatapan pria itu dan ternyata pria itu sedang menatap bayangannya yang terpantul dari danau.


"Lo ngapain?" tanya Qilla kepada Arsen, yaa pria yang sedari tadi menatap bayangannya sendiri adalah Arsen. Entah apa yang sedang ia lakukan.


Arsen hanya menunduk dalam tidak tertarik menjawab pertanyaan yang untuk kesekian kali gadis itu tanyakan padanya.


"Gue minta maaf," ucap Qilla.


"Buat?" suara bariton Arsen terdengar.


"Gue selama ini udah salah sangka sama lo," ucap Qilla menatap Arsen dalam, ia ingin melihat sebenarnya apa yang selama ini telah Arsen alami dari balik mata hitam milik pria itu. Qilla tidak dapat menemukan apapun dari mata itu, satu hal yang dapat ia lihat yakni kesepian.


"Hm," ucap Arsen mengalihkan pandangannya, pria itu seperti sedang menahan sesuatu keluar dari matanya.


"Gimana kabar tante?" tanya Qilla memecah keheningan, ia ingin tahu kondisi sahabatnya itu.


"Mamah gue udah meninggal, papah nikah lagi," ucap Arsen menatap tepat pada manik mata Qilla.


"Gue sendiri," lanjut Arsen kemudian setetes air mengalir dari pelupuk mata pria itu. Saat ini, Arsen terlihat sangat lemah. Ia akan menunjukkan sisinya yang satu ini hanya kepada Qilla, gadis yang ia cintai sejak lama namun ia tahu bahwa dirinya tidak pantas disandingkan dengan gadis itu.


Qilla mengulurkan tangannya mengusap perlahan air mata yang berada di pipi Arsen, ia dapat merasakan apa yang sedang dialami Arsen saat ini. Qilla sangat sedih melihat kondisi sahabatnya itu.


"Ada gue," ucap Qilla tersenyum lembut.


Arsen mendekatkan dirinya ke arah gadis itu kemudian memeluknya erat, ia menumpahkan semua perasaan yang sedari tadi ia tahan.


"Gue capek," ucap Arsen memeluk Qilla semakin erat, ia tidak ingin melepaskan gadis itu. Qilla adalah satu-satunya tempat berlabuh bagi Arsen.


Qilla mengusap punggung Arsen, berusaha menenangkan pria itu.


"Semuanya akan baik-baik aja, Arsen," ucap Qilla melepaskan pelukannya kemudian menatap dalam pria itu.


"You have me," ucap Qilla tersenyum manis.


"Gimana caranya gue gak jatuh cinta sama cewek kayak lo?" ucap Arsen dalam hati.


***


"PAGIII SEMUAAA!" teriak Cella menyapa teman-temannya sambil berlari kecil.


"Gak usah teriak juga kali, lebay," gerutu Raven.


"Heh banci thailand, diem deh lo," ucap Cella sambil menjulurkan lidahnya mengejek pria itu.


"APA LO BILANG?!" bentak Raven kesal mendengar perkataan Cella.


"Bacot anjing," ucap Hazel, ia muak mendengar pertengkaran Raven dan Cella setiap pagi.


"Lu sih," bisik Revan kepada Cella.


Brak


Qilla membanting buku yang sedang ia baca, kemudian berlalu pergi meninggalkan teman-temannya. Hazel dan Cella saling menatap satu sama lain bertanya-tanya ada apa dengan Qilla. Mereka tidak pernah melihat Qilla sekalut ini.


Gadis bertubuh mungil itu pergi ke tempat favoritnya, lapangan basket. Saat ini, ia hanya membutuhkan ketenangan untuk menjernihkan pikirannya. Kepalanya berdenyut memikirkan perkataan sang papah.


Flashback On


Tok Tok Tok


"Masuk," ucap seseorang dari balik pintu.


Qilla pun melangkahkan kakinya ke dalam ruang kerja sang papah. Jarang sekali papahnya memanggil Qilla secara pribadi, biasanya papahnya itu lebih senang membicarakan sesuatu di ruang keluarga kecuali hal itu benar-benar mendesak.


"Papah panggill Qilla?" tanya gadis itu.


"Ada hal penting yang perlu papah bicarakan sama kamu," ucap papah Qilla menghela napas panjang. Qilla semakin penasaran hal penting apa yang ingin papahnya bicarakan. Semoga saja bukan kabar buruk.


"Grandma kritis," ujar papah Qilla.


Deg Deg Deg Deg


Waktu seakan-akan berhenti, jantung Qilla berdebar tak karuan, keringat dingin membasahi pelipisnya. Gadis itu termenung berusaha mencerna 2 kalimat yang dilontarkan oleh sang papah.


"Grandma kri-kritis?" tanya QIlla memastikan, sementara sang papah hanya mengangguk pertanda bahwa hal ini memang nyata. Qilla yakin saat ini papahnya sangat terpukul namun pria paruh baya itu berusaha menutupi hal tersebut.


"Papah sama mamah memutuskan untuk kembali ke Canada, kamu mau ikut atau tetap di jakarta? papah terima semua keputusan kamu," ucap papah Qilla, ia tahu bahwa hal ini merupakan keputusan yang sangat sulit untuk putrinya itu.


"Qilla ikut," jawab gadis itu tanpa pikir panjang, ia tidak boleh egois. Meskipun, tempat ini memiliki banyak sekali kenangan bersama dengan teman-temannya. Di tempat ini juga, Qilla merasa bahwa hidupnya berwarna. Namun, tidak ada tempat yang lebih nyaman selain keluarga.


"Kamu yakin?" tanya sang papah menatap anaknya sendu.


"Yakin pah," ucap Qilla tersenyum lembut, ia tidak ingin membuat papahnya khawatir.


"Kita berangkat lusa jam 10," ucap papah Qilla kemudian beranjak dari kursinya dan mendekat ke arah Qilla.


"Sini peluk papah," pria paruh baya itu merentangkan tangannya lebar. Gadis bertubuh mungil itupun masuk ke dalam pelukan hangat sang papah.


Hiks Hiks Hiks


Qilla tidak kuat lagi untuk menahan air mata yang sedari tadi ingin jatuh dari pelupuk matanya, di satu sisi orang yang paling ia sayangi sedang kritis dan di sisi lain ia harus meninggalkan teman-temannya. Keduanya merupakan suatu hal yang berharga bagi Qilla.


"Shhh udah gede kok nangis," ucap sang papah mengusap air mata yang membasahi wajah cantik Qilla.


Flashback Off


Dua orang gadis berjalan mendekat ke arah Qilla, "lo kenapa?" tanya Cella lembut. Qilla tidak menghiraukan pertanyaan Cella, saat ini ia sedang malas untuk diajak bicara. Pikirannya sedang kalut.


"Kalo ditanya itu dijawab," ucap Hazel kesal melihat Qilla diam saja sedari tadi bak mayat hidup.


"Pergi," ucap Qilla, ia tidak ingin melampiaskan semuanya kepada kedua sahabatnya itu.


"Lo kenapa sih?" tanya Hazel bingung melihat sikap Qilla yang sangat aneh"


"Gue bilang pergi," ucap Qilla memalingkan wajahnya.


"Lo anggap gue sama cella apaan? pajangan doang hah," ucap Hazel melampiaskan semua kekesalannya, selama ini ia sudah menahan semua itu namun ia tidak tahan lagi menghadapi sikap Qilla.


"Lo gak pernah mau cerita sama kita berdua. Lo kira dengan diam, semua masalah bakal selesai?" lanjut Hazel.


"GUE ITU SAHABAT LO ANJING!" bentak Hazel, sementara Cella hanya menunduk dalam diam. Ia akui semua yang Hazel katakan adalah benar.


Deg


"Lo tau? selama ini gue sama Cella selalu nunggu lo cerita sama kita semua masalah lo, tapi apa? lo gak pernah anggap kita ada," ucap Hazel lirih.


Qilla menundukkan kepalanya membenarkan semua ucapan Hazel, bukannya ia tidak ingin cerita namun Qilla tidak ingin membebankan masalahnya kepada Hazel dan Cella.


"Gak ada gunanya gue datang kesini," ucap Hazel menatap sendu Qilla.


"Gue udah gak tahan sama lo, gue capek," lanjutnya kemudian berlalu pergi meninggalkan Qilla dan Cella.


Cella mendekat ke arah Qilla kemudian mengusap bahunya,"gue sama Hazel sayang sama lo," ucap Cella kemudian pergi mengejar Hazel.


Qilla menatap kepergian Hazel dan Cella dengan sendu, mengapa sedikit demi sedikit masalah menimpa dirinya?


- 1464 Words -