RAQILLA

RAQILLA
CHAP 12 - HUKJMAN



Hyades terus melangkahkan kakinya ke arah Qilla, sementara Qilla berusaha mundur untuk menghindari pria itu.


Di belakang Qilla terdapat sebuah pohon, sehingga ia tidak dapat melangkah mundur lagi, tamatlah riwayatnya. Qilla memikirkan satu cara untuk kabur dari Hyades, yaitu..LARI.


1...2....3 LARI, ucap Qilla dalam hati.


Hup


Hyades mengetahui pergerakan Qilla dan menangkap gadis bertubuh mungil itu dengan mudahnya.


"Kabur?" tanya Hyades menatap Qilla tajam.


"Qilla ta-tadi mau pu-pulang soalnya takut dimarahin mamah sama papah hehehe," alibi Qilla cengengesan.


Hyades mendekatkan kepalanya ke arah Qilla. Mengurung Qilla di antara ke dua tangannya.


"Kamu ma-mau ng-ngapain?" tanya Qilla gugup.


"Gue mau makan," ucap Hyades tersenyum miring.


"Ma-mau makan apa? di rumah Qilla banyak makanan kok," ucap Qilla lega.


"Lo" ucap Hyades tersenyum tipis.


"Hah? Qilla gak ngerti," ucap Qilla polos menggemaskan.


"Gue.mau.makan.lo," ucap Hyades penuh penekanan di setiap katanya.


"Emang Qilla bisa dimakan?" tanya Qilla belum mengerti.


Di mata Hyades sekarang ini, Qilla terlihat sangat menggemaskan. Rasanya ia ingin menyimpan Qilla di pulau terpencil agar tidak ada yang dapat melihat Qilla. Hanya dirinya seorang yang boleh memiliki Qilla.


"Bisa," ucap Hyades gemas.


Cup


Hyades mencium tepat pada bibir Qilla dengan penuh perasaan, sampai ia tidak menyadari bahwa mereka sudah berciuman cukup lama.


Qilla memukul dada Hyades karena ia sudah kehabisan nafas, akan tetapi Hyades belum melepaskan ciumannya.


Hah Hah Hah


Qilla dapat bernafas lega sekarang, rasanya tadi ia mau mati saja. Sungguh menyesakkan dan mengerikan, tapi kalau sama Hyades gak papa deh. Plin plan memang gadis ini.


"Itu hukuman buat lo," ucap Hyades tersenyum smirk.


"Hukuman?" tanya Qilla gugup.


"Kalau lo sampai salah nyebut lagi, gue akan hukum lo dengan cara tadi," ucap Hyades memegang dagu Qilla.


"Kok gi-gitu? Qilla gak mau" ucap Qilla menolak.


"Lo gak mau?" ucap Hyades marah, ia paling benci penolakan.


Tanpa menjawab pertanyaan Hyades, ia hanya menggelengkan kepalanya menandakan dirinya tidak setuju.


Cup


Hyades mencium bibir Qilla lagi dan lagi, tetapi kali ini tidak ada kelembutan. Hyades ******* bibir Qilla dengan kasar.


Hiks Hiks Hiks


Hyades mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat Qilla menangis. Ia segera mengusap bibir Qilla lembut dan menghapus air mata yang mengalir dari mata cantiknya.


"Hiks hiks sa-sakit," ucap Qilla sambil menangis.


"Mana yang sakit baby?" tanya Hyades lembut.


"Ini," ucap Qilla sambil menunjuk bibirnya yang memerah akibat ciuman tadi.


Cup


Hyades mencium bibir Qilla sekilas dengan lembut, sangat lembut. Bahkan Qilla terbuai dengan ciuman itu.


"Masih sakit hm?" tanya Hyades khawatir.


Qilla hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku minta maaf," ucap Hyades meletakkan kepalanya ke bahu Qilla, menahan air matanya keluar. Ia tidak tahan melihat gadis pujaan hatinya menangis, apalagi karena dirinya.


Qilla kaget dan tidak bisa berkata apa-apa, ia mengulurkan tangannya mengusap rambut coklat terang milik Hyades.


"Iya gak papa, aku tau kamu gak sengaja," ucap Qilla mengusap rambut Hyades perlahan.


"Maaf" ucap Hyades lagi.


Qilla sudah tidak tahan lagi, ia mengangkat kepala Hyades untuk menghadap ke arahnya.


Hyades, nangis? tanya Qilla dalam hati.


Qilla mengusap air mata Hyades, ia masih dalam keadaan terkejut. Seorang Hyades menangis? yang benar saja.


"Kamu gak salah kok," ucap Qilla tersenyum manis.


"Maaf," ucap Hyades lagi. Ia merasa bersalah.


Hyades terlihat lucu jika bersikap seperti ini, seperti anak kucing yang patuh kepada ibunya. Sangat menggelikan.


Ehemm


Ada seseorang yang menganggu momen romantis mereka dan Hyades sangat kesal dengan orang tersebut. Rasanya ia ingin menenggelamkan orang itu ke dalam gunung merapi.


"Dicariin dari tadi, eh malah berduaan disini," ucap Kiev, sang penggangu. Di belakang Kiev ada Faren dan Arsen.


"Qilla, kamu gak papa kan?" tanya Arsen ingin menyentuh kepala Qilla.


"Lepas," ucap Hyades menatap tajam Arsen penuh amarah.


"Qilla aja gak papa, kok lo yang ribet," ucap Arsen sinis.


"Udah-udah, aku gak papa kok," ucap Qilla tersenyum manis.


"Gausah senyum," ucap Hyades cemburu.


"Ngatur lo," ucap Arsen.


Hyades hanya diam, ia berjanji akan membalas semua yang Arsen lakukan kepadanya.


"Hyades, kamu tadi ngapain sama Qilla?" ucap Faren menatap Qilla sinis.


"Bukan urusan lo," ucap Hyades ketus.


Bukannya sedih karena Hyades menjawab dengan nada seperti itu, sebaliknya Faren malah merasa senang karena setidaknya Hyades menjawab pertanyaannya. Bukan meninggalkan nya begitu saja seperti dulu.


"Gak usah genit deh lo. Masih kecil juga," ucap Faren keypads Qilla.


Qilla diam, tidak berani melawan.


"Lo murahan," ucap Hyades marah melihat Qilla ditindas.


"Diem deh lo," ucap Arsen ikut membela Qilla.


"Apaan sih lo berdua, gak jelas banget." ucap Faren kesal.


Kiev hanya menyimak pembicaraan mereka tanpa berniat untuk melerai.


"Apa bagusnya coba dia, cantik? ya jelas cantikkan gue lah, imut? lebih imut gue kali, baik? palsu tau gak lo," ucap Faren menggebu-gebu.


"Seenggaknya Qilla punya hati yang tulus dan baik, gak kayak lo bu-suk," ucap Arsen merendahkan.


Hyades sudah tidak tahan lagi, bagaimana bisa ada orang yang menghina gadis sebaik dan secantik Qilla. Jika ada orang yang berani menindas Qilla, Ia akan melenyapkan orang itu.


Ia ingin memberikan pelajaran kepada Faren akan tetapi ada seseorang yang memegang tangannya lembut. Hyades melihat ke arah orang tersebut.


"No please, i can handle it" ucap Qilla tersenyum lembut. Hanya dengan sentuhan Qilla, kemarahan Hyades menghilang dalam sekejap. Sebelumnya tidak ada yang dapat mengontrol Hyades, hanya Qilla yang dapat yang dapat melakukan hal itu. Hyades termangu melihat keteguhan hati Qilla. Ia sangat kagum dengan kepribadiannya.


It is funny that falling in love is able to make one act crazy and look like an idiot.


"Faren, i know you're a great and lovely person. Mungkin selama ini ada salah paham yang buat kamu marah sama aku, tapi kamu tetap akan jadi sahabat aku. You will be my best friend forever. Kamu cantik, baik dan aku senang punya teman seperti kamu. Can we be friends again?" ucap Qilla mendekati Faren secara perlahan, tersenyum lembut meneduhkan.


Faren hanya diam, tidak menyangka Qilla akan mengeluarkan kata-kata tersebut. Ia mengira bahwa Qilla akan membalas dan membenci dirinya. Faren merasa bersalah akan tetapi gengsi mengalahkan itu semua.


"It's okay kalau kamu belum bisa maafin aku, aku bakal nunggu kamu kok," ucap Qilla tersenyum manis.


Arsen dan Kiev ternganga melihat sikap bijak dan dewasa Qilla, mereka tidak menyangka bahwa anak perempuan yang selama ini sangat pecicilan dapat bersikap seperti ini. Sementara Hyades hanya tersenyum tipis, sangat tipis. Bahkan tidak ada yang menyadari bahwa seorang Hyades tersenyum.


"Maaf," bisik Faren mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia malu dengan dirinya sendiri.


Hup


Qilla memeluk Faren secara tiba-tiba dan hal itu membuat Faren kaget. Tidak ada yang pernah memperlakukannya sebaik Qilla.


"No, jangan minta maaf. Gak ada kata maaf di antara sahabat," ucap Qilla senang.


Arsen, Hyades dan Kiev mendekati mereka.


"Asik, udah baikan nihh," ucap Kiev usil.


"Gue juga minta maaf, gue udah kasar sama lo," ucap Arsen tulus.


Qilla menatap Hyades, menyuruhnya untuk minta maaf.


"Maaf," ucap Hyades dingin. Sebenarnya ia masih tidak terima dengan tindakan Faren tadi. Akan tetapi melihat gadisnya tersenyum bahagia, membuatnya ikut bahagia. Ia akan melakukan semis hal yang membuat Qilla bahagia. Bahkan meminta maaf pun akan ia lakukan, kata yang paling keramat bagi Hyades.


"Gue udah maafin kalian kok," ucap Faren tersenyum senang. Rasanya tidak buruk juga.


"BEST FRIENDS," ucap Qilla memajukan tangan kanannya. Faren yang mengerti maksud Qilla segera meletakkan tangannya di atas tangan Qilla. Sementara Arsen dan Kiev bingung dengan sikap mereka, Hyades hanya diam tanpa berbuat apapun. Baginya ini sangat kekanak-kanakan.


"Tangan kalian mana? pegel nih," ucap Faren ketus.


Kiev mengerti dan langsung meletakkan tangannya di atas tangan Faren. Arsen pun mengikuti.


Mereka semua menatap Hyades karena hanya Hyades yang belum meletakkan tangannya. Hyades merasa risih ditatap seperti itu, ia meletakkan tangannya di paling bawah agar berdekatan dengan tangan Qilla. Dasar bucin.


"BEST FRIENDS," teriak Qilla.


"FOREVERRRR," ucap mereka semua, kecuali Hyades. Baginya, hal itu hanya membuang tenaga saja.


Qilla tersenyum bahagia dan Hyades tidak akan membiarkan senyum itu pudar.


- 1318 Words -