
Qilla terbangun dari tidurnya, tempat ini terasa asing, ada seseorang yang memegang tangan kanannya. Ia memperhatikan orang yang memegang tangannya sedang tertidur pulas, terus memperhatikannya. Rambut coklat terang, hidung mancung, rahang tegas. Ia mendekatkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas siapa sebenarnya orang yang memegang tangannya itu, mengelus lembut kepala sang empunya rambut coklat terang itu.
Qilla menegakkan tubuhnya kembali kaget, ketika melihat bahwa si pemilik rambut coklat terang itu ternyata adalah Healvito Hyades Samudra. Yaa... dia adalah sang manusia kutub.
Dia tidur semalaman dengan posisi gitu? ucap Qilla merasa bersalah dalam hati.
Bagaimana tidak? Hyades tidur dengan posisi yang sangat memprihatinkan. Kursi tanpa bantal dengan tangan yang terus memegang Qilla, buku yang ia letakkan diatas kepalanya sebagai penutup mata. Qilla terus memperhatikan Hyades tanpa menyadari bahwa seseorang yang sedari tadi ia perhatikan sudah terbangun dari tidurnya.
"Kenapa?" tanya Hyades menatap Qilla.
"H-ah?" tanya Qilla gugup, ketahuan memperhatikan Hyades.
"Kenapa lo liatin gue?" tanya Hyades menatap Qilla intens.
"O-oh gak papa, itu tadi- soalnya itu," ucap Qilla terbata-bata.
Hyades mengangkat satu aslinya tanpa menunjukkan ekspresi,"lucu" ucap Hyades pelan.
"Ha-hah? kamu bilang apa tadi," ucap Qilla lemot. Sebenarnya Qilla mendengar apa yang diucapkan Hyades tadi, hanya saja ia ingin memastikannya.
"Gak," ucap Hyades datar.
"Oh-h gitu," ucap Qilla mengangguk, mungkin dia yang salah dengar.
"Jawab pertanyaan gue," ucap Hyades tegas. Ia penasaran mengapa Qilla memperhatikannya tadi, apakah ada yang salah dengan dirinya.
"Tadi kan aku liat kamu tidur di kursi, jadi aku kasihan sama kamu. Pasti badan kamu pegel semua," ucap Qilla menunduk takut.
"Angkat," ucap Hyades menyuruh Qilla mengangkat kepalanya.
Qilla diam ditempat karena bingung dengan maksud Hyades.
"Kalau lagi ngomong sama gue, angkat kepala lo," jelas Hyades.
Tok Tok Tok
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar, Qilla mengangkat kepalanya merasa lega.
"Sayang, kamu sudah bangun? kita mau sarapan," ucap mamah Qilla dibalik pintu.
Astagaa serem banget, untung aja mamah datang tepat waktu. Love you mom, ucap Qilla bersyukur dalam hati.
"Qilla udah bangun, masuk aja mah" ucap Qilla setengah teriak.
Mamah Qilla membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, melihat Qilla diatas kasur sedang menatapnya. Terlihat baru saja bangun tidur, disamping Qilla terdapat seorang anak laki-laki dengan wajah rupawan sedang duduk di sebuah kursi.
"Ehh ada Hyades, kalian lagi ngapain?" ucap mamah Qilla penasaran. Setaunya, Hyades adalah anak yang sangat dingin bahkan orang tuanya pun mengakui hal itu.
"Itu mah, Hyades lagi jagain aku," ucap Qilla gugup sambil sesekali melirik Hyades.
Sebelum mamah Qilla menanggapi perkataan Qilla, tiba-tiba masuk seorang wanita paruh baya sepantaran mamah Qilla.
"Hyades dan Qilla sudah bangun? anak tante saja masih tidur pulas," ucap mamah Kiev melihat anaknya yang masih di alam mimpi.
Sedangkan para orang tua lainnya sedang bercengkrama dibawah. Para wanita sedang menyiapkan sarapan, sementara para pria sedang menonton TV sambil menikmati teh yang telah disediakan istri tercinta mereka.
"Qilla sayang, bangunin teman-teman kamu yaa terus turun kebawah, kita mau sarapan," ucap mamah Qilla mengelus rambut anaknya.
"Biar saya saja tante, Qilla lagi sakit," ucap Hyades datar.
"Astaga tante lupa, ya sudah kalau begitu tante minta tolong yaa nak Hyades. Tante sama Qilla tunggu dibawah," ucap mamah Qilla tersenyum lembut.
Anak sendiri lupa, bisa-bisanya aku punya mamah begini. Ucap Qilla kesal dalam hati.
Mamah Qilla membantu anaknya berjalan sampai ke lantai dasar. Lagian ini rumah lantainya banyak banget sih, ucap Qilla mengeluh.
Padahal rumah Qilla, lantainya juga tidak kalah banyak. Dasar Qilla.
Sesampainya di ruang makan, semua orang sudah duduk di kursinya masing-masing sambil sesekali berbicara.
"Qilla, kamu sudah baikan sayang?" ucap mamah Arsen khawatir.
"Kok masih panggil tante sih, panggil mamah dong sayang," ucap mamah Arsen.
"Ehh o-oke mah," ucap Qilla gugup. Ini kali pertamanya menyebut orang lain mamah, selain mamahnya sendiri.
"PAGIII SEMUAAA!" ucap Kiev heboh.
Hyades, Faren dan Arsen mengikuti dari belakang. Hyades mengambil posisi di sebelah Qilla.
"Pindah lo, ini tempat gue," ucap Arsen tidak mau kalah.
Hyades duduk dengan tenang, tidak beranjak sedikit pun.
"Arsen, duduk di tempat lain saja sayang. Itu tempatnya masih banyak yang kosong," ucap mamah Arsen menunjuk tempat duduk yang kosong.
Arsen pergi dengan kesal karena ia tidak bisa duduk di sebelah Qilla.
"Awas aja, gue tandain lo," ucap Arsen pelan sambil menatap tajam Hyades.
Mereka makan dengan tenang, tidak ada satupun suara hanya dentingan garpu dan sendok yang terdengar. Dalam tradisi mereka, berbicara sambil makan itu dianggap tidak sopan. Mereka harus menyelesaikan makanannya terlebih dahulu baru boleh bebicara.
15 menit kemudian
"Mah, aku udah selesai makan," ucap Qilla sambil merapikan alat makannya.
"Aku juga udah, berenang yuk. Ada kolam renang gak sen?" tanya Kiev. Sudah menjadi kebiasaan Kiev untuk berenang tiap pagi. Tidak heran ia memiliki tubuh yang tinggi, meskipun Hyades lebih tinggi.
"Kita berenang di rumah aja ya sayang, mamah ada kerjaan," ucap mamah Kiev membujuk.
Kiev memasang muka cemberut, dia sedih karena tidak bisa berenang bersama dengan teman-temannya.
"Kayana (mamah Kiev), biarkan saja Kiev berenang di rumahku. Nanti biar aku minta sopir untuk mengantar, mereka pulang" ucap Vanessa, mamah Arsen.
"Baiklah kalau begitu, Kiev kamu jangan nakal. Dengerin apa kata tante Vanessa," ucap mamah Kiev mengalah.
"SIAPP MAHH," ucap Kiev senang. Akhirnya dia ada teman untuk diajak berenang.
"Aku gak ikut berenang ya, soalnya luka ku masih belum sembuh," ucap Qilla sedih karena tidak bisa ikut berenang.
"Iya gak papa, kita ngerti kok" ucap Faren tersenyum senang.
Byurr
Setibanya di kolam renang, Kiev langsung loncat ke dalam air. Sementara Faren sedang berganti baju di ruang ganti.
Kalau kalian bertanya mereka punya baju renang dari mana? namanya juga orang kaya, semua hal pasti bisa dilakukan dengan gampang. Jadi sebelum itu, orang tua mereka menelepon sopir untuk membelikan baju renang anaknya.
Arsen menghampiri Qilla yang sedang duduk si gazebo, memberikan cemilan agar Qilla tidak merasa bosan.
"Makasih Arsen," ucap Qilla kaku.
"Iya sama-sama," ucap Arsen tersenyum. Jarang sekali seorang Arsen tersenyum, wah kejadian yang sangat langka.
Arsen pergi dengan wajah berseri-seri, ia membuka bajunya dan masuk ke dalam air menyusul Kiev. Hyades pun menghampiri Qilla sambil membawa sebuah jaket, memakaikannya ke tubuh Qilla agar ia tidak kedinginan.
"Ma-makasih Hyades," ucap Qilla kaget bercampur bingung. Sebenarnya ini ada apa sih, kenapa Arsen dan Hyades berbeda dari biasanya?
Hyades duduk di samping Qilla dengan tenang tanpa mengeluarkan suara. Qilla heran, mengapa ia tidak ikut berenang.
"Males," ucap Hyades, seolah-olah mengerti isi pikiran Qilla.
...***...
...Halooo semuaa! pliss gaiss jadilah pembacaa yang baik dan berbudi luhur WKWKWKWK. ...
...Sedihh puoll! sepii bangett tapii gapapaa. Semangatt kaliann<3...
...- 1086 Words -...