
Matahari sudah menunjukkan kilauan indahnya pertanda hari sudah mulai pagi, semua orang melakukan aktivitasnya masing-masing, ada yang pergi bekerja, pergi ke sekolah dan lain lain. Sedangkan, seorang gadis cantik berkulit putih masih tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Sinar matahari menyinari wajah rupawannya, ia menggeliat kesana kemari merasa terganggu.
Ughhh
Gadis cantik atau yang sering kita sebut Qilla itu membuka kedua matanya perlahan, menunjukkan mata biru laut yang sangat indah. Rambut acak-acakan khas bangun tidur, membuat dirinya terlihat lebih sexy dan imut secara bersamaan.
"Qilla masih ngantuk," ucap Qilla menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
"Sarapan," ucap sosok yang dengan berani mengganggu tidur Qilla. Apakah ia masih sayang nyawa?
"5 menit lagi Alvi," ucap Qilla masih setia menutup tubuhnya dengan selimut. Orang tersebut adalah Hyades, hanya dia yang berani melakukan hal itu kepada Qilla
"Mau ice cream gak?" tanya Hyades menggoda, ia tahu bahwa makanan dingin itu adalah kelemahan Qilla.
Qilla membuka selimut tersebut perlahan, tentu saja ia tidak dapat menolak godaan itu, apalagi gratis sayang kalau disia-siakan kayak si dia yang menyia-nyiakan cinta aku:(
Kita kan harus menerima pemberian orang lain, ucap Qilla dalam hati.
Hyades mendekat kearah Qilla dan membantunya untuk duduk.
"Bubur lagi? gak ada makanan lain?" rengek Qilla, mengapa harus makanan terlarang ini? Qilla sungguh kesal, apakah rumah sakit kekurangan makanan?.
"Gak ada sayang," ucap Hyades lembut.
Blush
Pipi Qilla memerah seperti kepiting rebus. Ia sangat malu dengan keadaannya saat ini.
"Makan," ucap Hyades dingin. Hyades itu bunglon atau apa sih? perasaan tadi baru aja so sweet, sekarang balik lagi ke sifat aslinya.
"Qilla mau makan tapi nanti Alvi beliin 5 Ice cream ya ya ya?" ucap Qilla dengan mata berbinar.
"1," ucap Hyades singkat,padat dan jelas.
"3 ice cream deh," tawar Qilla. Terjadilah aksi tawar menawar antara Qilla dan Hyades. Akan tetapi, Hyades tetap kekeh pada pendiriannya.
"Sa.tu," ucap Hyades penuh penekanan, tidak menerima penolakan.
"Ya-yaudah deh, Qilla nurut," ucap Qilla bergidik ngeri, sekarang Hyades terlihat lebih menyeramkan dari biasanya.
"Nanti kamu sakit baby girl," ucap Hyades lembut sambil mengusap kepala Qilla penuh kasih sayang.
Qilla tertegun melihat sikap Hyades yang sangat lembut pada dirinya.
Apakah Hyades melakukan ini kepada semua perempuan? tanya Qilla dalam hati.
Ihh kamu mikirin apa sih Qilla, ucap Qilla dalam hati
Qilla sibuk dengan pikirannya sendiri, sementara Hyades fokus kepada makanan Qilla.
"Mamah sama papah kemana," ucap Qilla menyadari bahwa kedua orang tuanya tidak ada disini.
"Pulang," ucap Hyades sambil memberikan suapan terakhir kepada Qilla.
"Hah pulang kemana?" tanya Qilla polos.
"Rumah," ucap Hyades dingin.
"Rumah siapa?" tanya Qilla lemot, terlihat menggemaskan.
"Mamah sama papah kamu pulang ke rumah buat ambil baju kamu sayang," jelas Hyades gemas. Sepertinya perlu kesabaran extra untuk berbicara dengan Qilla.
Blush
Pipi Qilla memerah, entah sudah ke berapa kali pipinya berubah seperti kepiting rebus karena perkataan Hyades.
Tok Tok Tok
Bunyi ketukan pintu terdengar, sepertinya mamah dan papah Qilla sudah datang.
"Qilla, ini rumah sakit loh nak. Jangan teriak-teriak sayang," ucap papah Qilla lembut.
"Iya pah hehehe," ucap Qilla cengengesan.
"Kamu sudah makan sayang?" tanya mamah Qilla melihat makanan yang terdapat di dalam mangkok sudah tidak tersisa.
"Udah dong mah, tadinya Qilla gak mau makan tapi dipaksa sama itu," ucap Qilla sambil mengarahkan pandangannya kearah Hyades pertanda bahwa lelaki tersebut yang memaksa Qilla makan.
"Demi kebaikan kamu juga sayang," ucap papah Qilla menjelaskan. Sementara Qilla hanya menekuk wajahnya kesal, mengapa papah dan mamahnya lebih membela Hyades daripada dirinya? sebenarnya anak mereka itu siapa sih? tanya Qilla menggerutu dalam hati tidak terima.
"Tante om, saya mau pulang ke rumah dulu. Nanti saya kembali lagi kesini," ucap Hyades sopan.
"Hati-hati ya nak" ucap mamah Qilla tersenyum lembut.
"Terima kasih sudah repot-repot menjaga anak om yang bandel ini," ucap papah Qilla mengejek putrinya.
"Gak repot kok om," ucap Hyades datar.
Hyades melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut, sementara Qilla hanya menatap kepergian Hyades tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Apakah mereka dapat bertemu kembali? Qilla memiliki firasat buruk tentang itu.
"Qilla sayang, papah dan mamah ingin membicarakan sesuatu hal penting dengan kamu," ucap papah Qilla serius.
Papah mau bicara apa ya? tumben banget serius, kok firasat aku gak enak ya? ucap Qilla khawatir dalam hati.
"Kita mau pindah ke Canada nak," ucap papah Qilla menatap dalam Qilla.
Seketika tubuh Qilla mematung tidak percaya akan ucapan sang Papah, apa yang terjadi? mengapa tiba-tiba sekali? ia tidak ingin pindah. Ia tidak ingin meninggalkan sahabatnya, Faren, Kiev, Arsen dan juga Alvi. Qilla tidak mau.
"Ke-kenapa pah?" ucap Qilla dengan mata berkaca-kaca, ia sudah merasa nyaman dengan tempat ini.
"Ini semua mamah sama papah lakukan untuk kebaikan kamu sayang," ucap mamah Qilla mencoba menjelaskan.
"Kebaikan apa mah? Qilla nyaman tinggal disini," tanya Qilla dengan perasaan sedih.
"Qilla gak hiks mau ninggalin hiks teman-teman Qilla," ucap Qilla, air mata mulai mengalir tanpa ia sadari.
"Qilla sayang, dengerin papah," ucap papah Qilla sambil menghapus air mata Qilla yang terus mengalir.
"Penyakit kamu harus disembuhkan sayang dan pengobatannya hanya ada di Canada," jelas papah Qilla, ia sangat sedih melihat Qilla menangis. Akan tetapi, kesehatan Qilla lebih penting.
"Pe-penyakit?" tanya Qilla gugup, apakah dirinya memiliki penyakit serius?
"Iya sayang, kamu didiagnosis penyakit Thalasemia dan sampai sekarang di Indonesia belum ditemukan pengobatan yang tepat. Untungnya teman papah kamu seorang Dokter terkenal dan beliau menganjurkan kamu untuk mendapatkan pengobatan khusus di Canada," ucap mamah Qilla sedih, sebenarnya ia tidak ingin memberitahukan perihal penyakit ini kepada anaknya akan tetapi ia tidak memiliki pilihan lain. Jika tidak, Qilla akan menolak untuk pergi ke Canada.
Qilla terdiam mendengar penuturan mamahnya, ia memiliki penyakit serius? rasanya Qilla ingin menangis sekencang mungkin saat ini.
"Setelah kamu sembuh, kita akan kembali ke Indonesia lagi sayang," ucap mamah Qilla tersenyum lembut.
"Qilla nurut sama mamah papah ya sayang," ucap papah Qilla mengelus kepala Qilla penuh kasih sayang.
Qilla hanya mengangguk pertanda setuju tanpa mengucapkan sepatah katapun, hatinya hancur mendengar kabar buruk dari orang tuanya. Tetapi mau bagaimana lagi, ia juga ingin sembuh.
"Kapan kita pergi ke Canada pah?" tanya Qilla sedih.
"2 jam lagi kita berangkat," ucap papah Qilla.
"2 jam la-lagi?" tanya Qilla memastikan. Ia shock mendengar perkataan sang papah, bagaimana ia tidak shock? bahkan dirinya belum sempat mengucapkan salam perpisahan kepada teman-temannya.
...***...
...[Beberapa Part di private, follow terlebih dahulu untuk dapat membaca]...
...Jadilah pembaca yang bijak! Mohon maaf bila terdapat kesamaan tokoh, latar dan tempat....
...- 1069 Words -...