
Bug
Bug
Bug
"PERGI ATAU MATI!" ucap Arsen menatap kedua orang tersebut tajam, seperti ingin mengguliti mereka hidup-hidup. Beraninya mereka menyentuh orang yang paling Arsen cintai, ia saja tidak pernah menyentuh Qilla sedikit pun. Lihat saja nanti! Arsen akan membuat mereka mati tanpa ampun.
Kedua orang tersebut langsung lari ketakutan setelah melihat seseorang yang berada di hadapan mereka, siapa sih yang tidak mengenal Arsenio Nathaniel Alexander? anak dari mafia terkuat di dunia. Seluruh kalangan di dunia hitam itu pasti mengenal keluarga Alexander dan tidak ada satu pun dari mereka yang berani mengganggu keluarga itu. Jika kalian masih ingin hidup dengan tenang, maka jangan pernah menyentuh orang dari keluarga Alexander.
"Shhh udah I'm okay," ucap Qilla menyentuh lengan Arsen lembut berusaha menenangkan pria itu.
Arsen mendekati Qilla kemudian meletakkan kepalanya perlahan di bahu gadis mungil itu, jantungnya berdetak sangat kencang. Ia takut kehilangan Qilla untuk kedua kalinya, ia takut, sangat takut. Bagaimana jika ia tidak datang tepat waktu? entah apa yang akan terjadi dengan Qilla.
Qilla mengusap kepala Arsen perlahan, tanpa gadis itu sadari sebulir air bening jatuh dari pelupuk mata Arsen. Ia merasa tidak becus menjaga gadisnya, walaupun selama ini ia bersikap dingin. Ia tetap mengawasi Qilla secara diam-diam.
Pria itu mengangkat kepalanya kemudian menatap Qilla sekilas sebelum melajukan motornya pergi meninggalkan Qilla sendiri.
Sejujurnya Qilla sendiri pun bingung melihat sikap Arsen yang kadang dingin dan kadang juga manis. Arghh sangat membingungkan.
Brum Brum
Sebuah motor sport berhenti di hadapan Qilla dengan gagahnya, ia sudah lama tidak menaiki motor itu.
"Naik," ucap seorang pria tertutup helm.
"Gue bisa pulang sendiri," ucap Qilla ketus, ia tahu bahwa pria yang berada diatas motor tersebut adalah Arsen.
"Naik!" ucap Arsen penuh penekanan, sementara Qilla terus berjalan tanpa memperdulikan perkataan Arsen.
"AAAAA ARSEN TURUNIN GUE," teriak Qilla kaget melihat tubuhnya yang tiba-tiba melayang. Arsen menurunkan Qilla di atas motor sportnya.
"Makan yang banyak," ucap Arsen menyetil kening Qilla, tubuh Qilla sangat ringan layaknya kapas bahkan rasanya ia seperti sedang menggendong anak bayi.
"Lo ngatain gue kurus?" tanya Qilla kesal, bisa-bisanya tubuh ideal seperti ini dikatakan kurus.
"Pegangan," ucap Arsen tanpa menjawab perkataan Qilla.
"Gak"
"AAAAAAA," teriak Qilla kencang kemudian mengeratkan pegangannya kepada Arsen, ia kaget karena Arsen melajukan motornya tanpa aba-aba.
Arsen tesenyum tipis melihat wajah Qilla yang menggemaskan dari kaca spion.
"Udah sampe, keenakan ya lo," ucap Arsen menggoda.
"Keenakan dari hongkong, jantungan gue yang ada," ucap Qilla kesal kemudian turun dari motor sport milik Arsen.
Cekrek
"Gue pergi," ucap Arsen melajukan motornya.
"Maka-" baru saja Qilla ingin mengucapkan terima kasih, motor Arsen sudah pergi lebih dulu.
***
Hari ini Qilla datang lebih pagi dari biasanya, ia menyusuri setiap lorong yang masih kosong. Belum ada seorang pun yang datang. Sebuah musik mengalun indah di telinga Qilla, cocok sekali dengan suasana hati gadis itu hari ini. Jika tahu bahwa datang lebih pagi akan terasa menyenangkan, maka Qilla akan terus melakukan hal ini setiap hari.
Sesampainya ia di sebuah kelas dengan tulisan Divinity School sebagai penanda bahwa ini adalah kawasan kelas Divinity, kelas yang jauh dari kata ramai, kelas yang paling rajin dan taat kepada guru.
Qilla duduk di sebuah bangku yang terletak paling belakang dekat dengan jendela, ia memang merupakan typical anak yang tidak suka duduk di barisan anak-anak pintar. Padahal jika dibandingkan dengan mereka semua, tentu saja Qilla berada jauh di atas mereka.
Ia memejamkan matanya menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya, angin pagi memang menyegarkan.
"QILLAAAAAA," terdengar sebuah suara yang memanggil nama Qilla. Ahh sepertinya ketenangan bukan miliknya lagi.
Qilla yang merasa terganggu pun membuka matanya dan ternyata yang mengganggu ketenangan Qilla adalah siapa lagi kalau bukan kedua sahabatnya? Cella dan Hazel. Hanya mereka berdua yang berani melakukan hal ini kepada Qilla.
"OH MY GOSHH ADA HOT NEWS," lanjutnya.
Qilla hanya menaikkan alisnya bingung dengan apa yang sedang dibicarakan oleh kedua temannya itu.
"Ini lo kan?" tanya Cella penasaran sambil menunjukkan telepon genggamnya kepada Qilla.
What!?
"Berita lo sama Arsen pacaran jadi trending di twitter"
"Ha?" ucap Qilla mengumpulkan kesadarannya.
"Seseorang telah menghapus berita tersebut," ucap seorang pria dari balik telepon.
"Siapa?" tanya QIlla.
"Saya tidak dapat melacak orang itu," ujarnya.
"Hm," ucap Qilla kemudian memutuskan panggilan tersebut secara sepihak.
"Lo.harus.kasih.penjelasan," ucap Hazel penuh penekanan.
"Gak ada yang perlu dijelasin," ucap Qilla kemudian meninggalkan kedua temannya yang sedari tadi menunggu penjelesan dari gadis itu.
Satu hal yang Qilla butuhkan saat ini, ketenangan.
Ia melangkahkan kakinya ke lapangan basket yang berada di belakang sekolah dan lapangan basket ini jarang sekali dipakai oleh siswa/i. Hal ini dikarenakan, lapangan ini hanya dapat dimasuki oleh para tamu terhormat sekolah ini dan Qilla merupakan salah satu dari mereka. Ia bukan hanya pendiri akan tetapi ia adalah pemilik sekolah ternama ini.
Duk
Duk
Duk
Qilla memantulkan bola basket tersebut bersiap untuk melemparkannya ke dalam ring, ia melompat dan...
Wush
Perfect! bola basket tersebut masuk dengan sempurna.
Kali ini Qilla menantang dirinya untuk memasukkan bola basket dari kejauhan.
Duk
Duk
Gadis bertubuh mungil itu mempersiapkan diri untuk melemparkan bola basket tersebut, ia menghembuskan nafasnya sambil menghitung dalam hati.
Ia melemparkan bola itu dengan satu tangan kemudian....
Wush
Lagi dan lagi bola basket itu masuk dengan sempurna.
Qilla melakukan dribble, menggiring bola tersebut ke arah ring bersiap untuk melakukan lay up shoot.
Wush
Untuk kesekian kalinya, bola basket itu masuk ke dalam ring dengan sempurna.
Prok Prok Prok
Tepuk tangan seseorang melihat kemampuan Qilla bermain basket.
Qilla memutar kepalanya melihat siapa yang berani mengganggu ketenangannya. Ia tertegun melihat pria yang berada di hadapannya saat ini.
"Fight me," ucap pria tersebut.
"What will I get?" tanya Qilla tersenyum miring kemudian mendekati pria tersebut.
"Anything you want," ucap pria itu mengeluarkan smirk andalannya, siapapun akan meleleh melihat wajah tampannya itu.
"But if you lose," ucap pria itu menggantungkan ucapannya.
"I want you," bisik pria itu tepat di telinga Qilla.
"Jangan harap," ucap Qilla menatap lekat pria itu kemudian melakukan slam dunk dann...
Wush
Bola basket itu masuk dengan cantiknya.
" 1 : 0," ucap Qilla sambil mengangkat jari telunjuknya mengejek pria itu. Menurut kalian siapakah pria tersebut? clue nya adalah ia memiliki mata yang sama dengan Qilla, biru laut. Hanya 2 orang yang memiliki mata biru laut di sekolah itu antara lain Qilla dan Hyades.
Yaa... pria yang mengajak Qilla bertanding basket adalah Hyades.
- 1047 Words -