RAQILLA

RAQILLA
CHAP 19 - I MISS YOU



...Aku bakal upload setiap hari yaa teman-teman! so, tungguin ajaa okayy. By the wayy sehat semua kah? pasti sehat dong. Kalau ada yang merasa kurang enak badan, cobaa deh baca cerita inii berulang-ulang. Dijaminn langsung sembuh HAHAHAHA tapi jangan lupaa jaga kesehatan yaa gais! kesehatan itu yang utama. Stayy safe semuaa! semangat....


...***...


Mendengar suara teman dekatnya dari balik telepon, ia tidak dapat menahan air matanya untuk keluar. Mamah Qilla menangis tanpa mengeluarkan suara apapun, ia tidak ingin membuat temannya khawatir.


"Athena (mamah Qilla), are you okay?" tanya Ana (mamah Hyades) khawatir, pasalnya sedari tadi tidak ada suara yang terdengar. Ia melihat layar ponselnya untuk memastikan apakah sudah dimatikan atau masih tersambung.


"Athena," kata Ana dengan suara lembut, padahal masih tersambung akan tetapi mengapa tidak ada suara yang terdengar. Apakah sesuatu terjadi pada Qilla? ucap mamah Hyades panik.


"Aku baik-baik saja Ana," ucap mamah Qilla dengan suara serak.


"I know you are not okay, kamu sekarang dimana?" tanya mamah Hyades.


"Lantai 2, ruang nomer 1 VVIP," ucap mamah Qilla, ia sangat bersyukur memiliki Ana sebagai sahabatnya. Ana merupakan sosok yang penyanyang dan penuh perhatian, ia selalu mendukung apapun keputusannya dan menemani dirinya baik ketika susah maupun senang. I am very grateful. Memikirkan hal itu, membuat Athena tersenyum tegar.


Beberapa menit kemudian


Tok Tok Tok


Seseorang mengetuk pintu ruang tempat Qilla dirawat.


"Masuk," ucap papah Qilla sambil melihat telepon genggamnya.


Ceklek


Mamah Hyades beserta teman-teman Qilla memasuki ruangan yang cukup untuk 20 orang tersebut. Ruangan VVIP memang terlihat sangat besar dengan dekorasi mewah tetapi juga elegan secara bersamaan. Harganya pun tidak main-main, untuk menginap dikamar tersebut pasien harus membayar harga yang sangat mahal. Akan tetapi mamah dan papah Qilla tidak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk menginap di kamar tersebut. Kalian tahu kenapa? yes betul sekali...hotel tersebut merupakan salah satu aset keluarga Nicholas (keluarganya Kiev).


"Bagaimana kondisi Qilla?" tanya mamah Hyades prihatin melihat kondisi Qilla.


"Qilla baik-baik saja, hanya memerlukan istirahat," ucap papah Qilla terlihat meyakinkan, ia berusaha menutupi penyakit Qilla. Akan tetapi ada seseorang yang mengetahui kebohongan tersebut, tidak ada seorangpun yang dapat membohongi dirinya.


"Baguslah tidak terjadi apa-apa kepada Qilla," ucap mamah Hyades lega. Sementara ada seseorang yang sedari tadi tidak dapat mengalihkan pandangannya pada Qilla.


Hyades melangkahkan kakinya perlahan, berjalan ke arah ranjang Qilla. Ia menatap sendu seseorang yang sedang berbaring tidak sadarkan diri di hadapannya. Menyentuh lembut pergelangan tangan Qilla yang dingin, menyalurkan kehangatan.


"Cepet sembuh sayang," bisik Hyades dengan suara yang sangat pelan. Ia mengangkat tangan Qilla perlahan dan memberikan kecupan singkat tepat di punggung tangannya.


Semua orang yang menyaksikan kejadian tersebut tertegun melihat perhatian yang diberikan Hyades kepada Qilla. Pasalnya Hyades merupakan sosok yang dingin dan tidak tersentuh, apalagi terhadap perempuan.


Mamah Hyades pun bingung melihat kelakuan anak semata wayangnya ini, apakah ada yang salah dengan anaknya itu?


"Apakah kalian sudah makan?" tanya mamah Qilla memecah keheningan.


"Belum tante, perut Kiev sudah bunyi-bunyi terus daritadi," keluh Kiev.


"Yehh giliran makanan, cepet lu" ketus Faren.


"Iri? bilang bos," ucap Kiev menjulurkan lidahnya.


"Ngapain gue iri!? minum obat sono" ucap Faren kesal.


"Bukannya Qilla yang sakit? ngapain gue yang disuruh minum obat? aneh lo," kata Kiev bingung,


"Susah ngomong sama orang bego, mending gue ngomong ama tembok," ucap Faren cape meladeni Kiev yang bodohnya kelewatan.


"Lo bisa ngomong sama tembok? gilaaa keren abis," ucap Kiev sambil tepuk tangan kagum, sebenarnya Kiev ini pura-pura bodoh atau bego beneran sih? Author pun tidak tahu.


Jika dibiarkan berdebat seperti ini terus, sampai monyet bertelur pun tidak akan pernah selesai. Memang benar kata orang, anjing dan kucing tidak akan pernah akur.


"Jadi makan gak nih?" tanya mamah Hyades melerai pertengkaran Kiev dan Faren.


"Jadi dong tante," ucap Kiev semangat.


"Hyades, kamu mau ikut nak?" tanya mamah Qilla tersenyum lembut.


"Saya disini saja tante," ucap Hyades dengan wajah datar.


"Ya sudah, kalau begitu nanti mamah belikan makanan untuk kamu ya sayang," kata mamah Hyades.


"Aku juga disini aja deh tan," ucap Faren tiba-tiba mengubah pikirannya.


"Lebih baik kamu ikut saja nak, biarkan Hyades yang menjaga Qilla" ucap mamah Qilla, ia ingin memberikan lebih banyak waktu kepada Hyades untuk bersama dengan Qilla sebelum Qilla menjalani pengobatan ke luar negeri dan kemungkinan besar mereka tidak dapat bertemu kembali.


Faren hanya bisa mengiyakan permintaan mamah Qilla, sebenarnya ia ingin menemani Hyades. Akan tetapi Faren tidak dapat menolak permintaan orang tua dari sahabatnya itu.


Mereka pun pergi untuk memesan makanan, sehingga di ruangan tersebut hanya terdapat Qilla dan Hyades.


Hyades menarik kursi dan duduk tepat di sebelah ranjang Qilla. Ia terus memandangi wajah bak bidadari milik Qilla, hidung mancung, bulu mata lentik, alis tertata rapi dan bibir pink alami. Sangat sempurna. Bagaimana ia tidak jatuh cinta dengan gadis ini? semua orang juga pasti mengalami hal yang sama jika melihat Qilla. Rasanya ia ingin mengurung Qilla untuk dirinya sendiri, Qilla hanya miliknya.


"Please wake up baby girl, i miss you," bisik Hyades menatap Qilla sendu.


Cup


Hyades mencium kening Qilla lembut, tidak ingin melukai sang pujaan hati.


Cup


Kemudian Hyades mencium hidung mancung Qilla.


Cup


Selanjutnya ia mengarahkan kepalanya ke arah kanan dan mencium tepat di pipi mulus Qilla.


Hyades menatap bibir pink menggoda milik Qilla. Jika dilihat dari dekat, Qilla terlihat sangat cantik. Hyades mengklaim bahwa Qilla adalah mahakarya Tuhan yang paling indah.


Cup


Hyades mendaratkan bibirnya tepat di bibir kenyal Qilla, ********** kemudian mengecup singkat. Ia meletakkan kepalanya di ceruk leher Qilla, menghirup dan meresapi perlahan wangi tubuh gadisnya.


"Kamu tahu gak? kamu adalah orang pertama yang bisa membuat aku nangis," ucap Hyades mengajak Qilla berbicara.


"Dan orang pertama yang bisa membuat aku gila," ucap Hyades tersenyum sendu, tanpa ia sadari air mata mengalir menghiasi wajah tampan Hyades. Hanya seorang Qilla yang dapat membuat Hyades menangis.


"Kamu gak cape tidur terus?" tanya Hyades lalu meletakkan kepalanya tepat di ranjang sambil terus menggenggam tangan Qilla lembut.


Hyades menutup kedua matanya terlelap. Memasuki alam mimpi berharap bertemu dengan sang pujaan hati dan mengajaknya pulang bersama. Akan tetapi itu hanyalah khayalan semata.


Beberapa menit kemudian


"Hyades," ucap orang tersebut, suara itu mengalun indah di telinga Hyades sehingga membangunkan Hyades dari tidur pulasnya. Ia membuka kedua mata indahnya, melihat orang yang dengan berani mengusap rambut Hyades.


"Baby," ucap Hyades dengan suara serak khas orang habis bangun tidur. Ia menatap gadis dihadapannya dengan perasaan rindu yang mendalam.


"Mi-minum," kata Qilla terbata-bata. Tenggorokannya  kering dan terasa tidak nyaman.


Hyades mengangkat kepala Qilla, menyandarkannya di dada bidang milik Hyades dengan perlahan agar tidak menyakiti sang empunya mata biru indah itu. Setelah dipastikan Qilla nyaman dengan posisi tersebut, ia mengambil air putih yang berada di nakas dan membantu Qilla minum dengan perlahan tapi pasti.


"Makasih," ucap Qilla setelah menghabiskan satu gelas penuh.


"Aku boleh meluk kamu?" tanya Hyades menatap Qilla sendu, ia sangat rindu dengan seorang gadis cantik dihadapannya. Tidak bertemu selama 1 hari saja, bagi dirinya itu adalah waktu yang sangat lama. Terdengar lebay mungkin, tetapi begitulah kenyataannya.


"Sini," ucap Qilla melebarkan kedua tangannya, siap untuk memeluk Hyades. Sama halnya dengan Hyades, ia pun rindu dengan sosok lelaki yang selalu membuat dirinya kesal dengan semua perilakunya. Akan tetapi, Qilla merasa nyaman dan aman jika bersama dengan Hyades.


Hyades mendekatkan tubuhnya kearah Qilla dan memeluk tubuh mungil nan rapuh tersebut dengan perlahan, saling melepas rindu satu sama lain.


"I miss you," ucap Hyades tidak berdaya, ia menyandarkan kepalanya pada bahu Qilla. Menghirup dalam-dalam wangi khas tubuh Qilla.


Tanpa disadari, air mata seseorang mengalir membasahi baju Qilla. Apakah Hyades menangis? tanya Qilla dalam hati.


"Are you crying?" tanya Qilla ragu, bagaimana bisa seorang Hyades yang terkenal tak tersentuh dapat menangis hanya karena seorang perempuan?


"No, i am not," elak Hyades, ia tidak ingin terlihat lemah di depan sang pujaan hati. Padahal menangis adalah hal yang wajar, baik itu pria ataupun wanita. Menangis tidak akan membuat dirimu terlihat lemah, kamu juga berhak untuk menangis.


Qilla mengangkat kepala Hyades dengan penuh kasih sayang, menatap tepat di matanya. Ia melihat terdapat jejak air mata di bawah mata Hyades. Qilla menatap dalam mata Hyades, menyelami mata biru laut tersebut dan mengunjungi bagian terdalam dari hati Hyades. Ada pepatah mengatakan bahwa mata adalah jendela hati.


Banyak orang mengatakan bahwa mata seseorang tidak akan bisa berbohong, dan mungkin saja itu benar, karena mata merupakan sesuatu hal yang mewakili jalan pikiran atau kata hati kita. Melalui mata, kita bisa mengetahui apakah seseorang sedang sedih atau gembira.


Sama halnya dengan pepatah tersebut, Qilla pun dapat merasakan perasaan Hyades saat ini hanya dengan melihat mata indahnya.


"I miss you too," ucap Qilla tersenyum manis sambil mengusap jejak air mata yang terdapat pada wajah bak dewa yunani itu.


Hyades tersenyum senang mendengar pengakuan yang keluar dari bibir pink menggoda milik gadis cantik di hadapannya.


"May i? " tanya Hyades mengusap bibir Qilla lembut, sepertinya bibir itu sudah menjadi candu bagi Hyades.


Qilla hanya menganggukkan kepalanya mengiyakan permintaan Hyades.


Cup


Kecupan singkat mendarat tepat pada bibir Qilla.


"Manis," ucap Hyades tersenyum kecil. Qilla menundukkan kepalanya malu akibat perkataan pria tampan di hadapannya ini, mukanya memerah seperti tomat yang setelah direbus.


Lucu, ucap Hyades dalam hati melihat perilaku Qilla yang terlihat seperti anak panda imut.


Tok Tok Tok


Bunyi ketukan pintu terdengar, mengganggu dua sejoli yang sedang kasmaran. Orang yang mengetuk pintu tersebut pun masuk ke dalam ruangan dimana Qilla dan Hyades berada. Siapakah dia?


"Qilla sayang, syukurlah kamu sudah bangun," ucap mamah Qilla tersenyum bahagia sambil mendekat ke arah anak semata wayangnya itu. Ia merasa tenang melihat anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Ada yang sakit sayang? kamu kamu minum?" tanya mamah Qilla beruntun, Qilla bingung harus yang mana dulu.


"Qilla baik-baik saja kok mah," ucap Qilla tersenyum lembut, ia berusaha menenangkan sang mamah.


"Putri kesayangan mamah sudah dewasa," ucap mamah Qilla tersenyum senang mendengar penuturan Qilla yang terlihat dewasa untuk anak seusianya,


"Tante sudah belikan Qilla bubur, dimakan yaa," ucap mamah Hyades sambil memberikan bubur tersebut kepada Qilla.


"Tapi Qilla masih kenyang hehehe," ucap Qilla cengengesan, sebenarnya perut Qilla sudah keroncongan sedari tadi pertanda minta diisi. Akan tetapi, ia tidak menyukai makanan lembek seperti bubur. Sangat menjijikkan.


"Makan," ucap Hyades menatap tajam gadis di hadapannya ini, ia tahu bahwa Qilla belum makan sedari tadi. Lalu bagaimana ia bisa merasa kenyang sementara belum ada sesuap makanan pun yang masuk kedalam perutnya? ia tahu Qilla sedang berbohong. Salah satu ciri-ciri Qilla ketika ia sedang berbohong adalah telinganya akan memerah.


"Ta-tapi," ucap Qilla ingin membantah akan tetapi ada seseorang yang sedang menatap tajam dirinya dan hal itu terlihat sangat menakutkan.


"Oke Qilla makan," ucap Qilla pasrah, mamah dan papah Qilla kaget melihat perubahan yang terjadi pada anaknya. Pasalnya Qilla sangat sulit untuk disuruh makan terutama makanan yang ia tidak suka, bahkan mereka pun sudah menyerah untuk menasehati putrinya itu.


Ketika Qilla ingin mengambil makanan tersebut, ada sebuah tangan yang sudah lebih dulu mengambilnya. Qilla menengadah keatas untuk melihat dengan jelas pemilik tangan itu.


"Kamu ngapain?" tanya Qilla bingung.


"Gue suapin," ucap Hyades dengan tenang, sementara hati Qilla sudah berdisko sejak tadi.


Semua orang yang menyaksikan adegan tersebut menganga lebar melihat interaksi kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu.


"Masih kecil woi, dilarang mesra-mesraan," ucap Kiev mengejek Hyades dan Qilla.


"Diem lo unta," ketus Faren dengan muka ditekuk kesal.


"Sirik aja lo," ucap Kiev membalas perkataan Faren, sampai lebaran monyet juga tida akan habis bila mereka berdua beradu mulut.


"Huaa udah, Qilla kenyang," ucap Qilla merengek, pasalnya bubur sangat tidak enak. Rasanya ia ingin muntah.


"3 sendok lagi" ucap Hyades mutlak, tidak menerima penolakan.


"2 sendok aja ya?" ucap Qilla menunjukkan puppy eyes nya, membuat siapapun akan meleleh. Akan Tetapi hal ini tidak berlaku pada Hyades karena kesehatan Qilla lebih penting.


"Alvi please, aku udah kenyang," ucap Qilla menatap Hyades sendu.


"Oke 2 sendok," ucap Hyades lembut, ia paling tidak bisa melihat tatapan sendu Qilla. Tatapan itu menyayat hati Hyades perlahan, terasa menyakitkan.


Setelah Hyades memberikan 2 suapan terakhir, ia mengulurkan tangannya kemudian mengusap bekas bubur yang menempel pada bibir Qilla.


"Makasih," ucap Qilla gugup, ia yakin saat ini wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


...***...


...[Beberapa Part di private, follow terlebih dahulu untuk dapat membaca]...


...Jadilah pembaca yang bijak! Mohon maaf bila terdapat kesamaan tokoh, latar dan tempat....


...Mau spill foto siapa lagi nihh? Kiev? Faren? atau my bebeb Hyades?...


...- 2051 Words -...