
Ting
Qilla keluar dari lift dengan menggunakan setelan jas rapi, seperti seorang pekerja kantoran. Kali ini ia memutuskan untuk menggunakan lift, tidak ada alasan khusus mengapa hari ini ia tidak menggunakan tangga seperti biasanya.
Cup
"Morning mom"
Cup
"Morning dad"
Gadis berusia 15 tahun itu menyapa kedua orang tuanya, melakukan riltual pagi seperti biasanya.
"Morning darling," ucap mamah Qilla.
"Pagi sayang," ucap sang papah.
"Mom dad, aku ada urusan jadi hari ini gak sekolah," ucap Qilla menjelaskan kemudian mengambil roti yang sudah tersaji di atas meja.
"Okay honey," ucap papah dan mamah Qilla bersamaan, kedua orang tua Qilla memang memberi kebebasan kepada anaknya untuk melakukan apapun yang ia inginkan selama tidak melewati batas. Di sekolahnya yang lama, Qilla pun kerap kali membolos akan tetapi prestasi dan peringkatnya tidak perlu diragukan lagi. Bahkan di usia dini, Qilla sudah dipercayakan oleh sang papah untuk mengatur salah satu perusahaan keluarga Rossler yang berada di amerika dan berkat kemampuan Qilla, perusahaan tersebut berhasil melewati masa krisis. Hebat bukan?
"Aku pergi dulu mom dad, jangan kangen Qilla yaa," ucap Qilla menggoda kedua orang tuanya. Sementara papah dan mamah Qilla hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak semata wayangnya itu.
Brum Brum
Terdengar suara mobil sport dari arah garasi, hari ini Qilla akan menggunakan mobil sport kesayangannya. Perlu kalian ketahui bahwa Qilla memiliki 4 mobil sport utama yang terletak di garasi dan memiliki sekitar 1.778 mobil sport lainnya yang ia simpan di ruang bawah tanah dan mobil tersebut sangat jarang ia gunakan. Kadang kala, jika ia bosan dengan mobil sport yang ia miliki. Maka, ia akan membeli mobil baru.
Sesampainya di sebuah gedung yang sangat tinggi dan megah dengan tulisan Rossler Company, sudah jelas bahwa saat ini Qilla sedang berada di perusahaan keluarga Rossler yang ada di Jakarta dan perusahaan ini adalah salah satu cabang dari perusahaan Rossler dengan perusahaan pusat yang berada di Canada, Vancouver. Hampir di seluruh penjuru dunia, perusahaan Rossler telah hadir.
Qilla memasuki lobby dengan anggun dan penuh kharisma, terlihat seperti wanita pekerja keras. Setiap orang yang melewati Qilla, membungkukkan badan mereka penuh hormat. Memang sebelumnya Qilla sudah beberapa kali mengunjungi perusahaan ini sehingga semua karyaman mengetahui bahwa walaupun secara fisik Qilla terlihat seperti seorang remaja yang masih labil akan tetapi, kemampuan Qilla jauh melampaui mereka semua. Oleh karena itu, mereka sangat menghormati dan mengagumi sosok gadis berambut coklat itu.
Banyak perusahaan ingin bekerja sama dengan perusahaan Rossler hanya semata-mata karena Qilla, bukan hanya karena wajahnya yang rupawan akan tetapi Qilla memiliki sesuatu di dalam dirinya yang orang lain tidak punya.
"Bagaimana perkembangan perusahaan?" tanya Qilla kepada seorang pria. Jika dalam lingkup pekerjaan, Qilla akan bersikap tegas dan disiplin. Ia tidak akan membiarkan satu kesalahan pun terjadi, karena dari satu kesalahan akan menimbulkan permasalahan yang lebih besar. Begitulah ujarnya.
"Keuntungan perusahaan kita bulan ini meningkat secara drastis, berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh departemen kita menunjukkan bahwa peningkatan tersebut terjadi pembelian lahan di bagian kalimantan barat. Di kawasan tersebut kita mendapatkan berhektar-hektar emas. Oleh karena itu, keuntungan perusahan kita dapat meningkat hingga 37%," ucap pria tersebut.
"Akan tetapi, ada beberapa halangan yang membuat penggalian lahan ditunda. Warga sekitar tahu mengenai penggalian emas dan mereka melarang kita untuk melakukan penggalian berkelanjutan," lanjutnya.
"Berikan saja kompensasi kepada mereka sesuai dengan keinginan mereka. Satu hal lagi, jangan sampai penggalian emas ini mengganggu aktivitas warga setempat. Kita juga harus memperhatikan kesejahteraan dan ketentraman mereka," ucap Qilla bijak.
Selain berjasa dalam membangun perusahaan Rossler, Qilla juga tak lupa memperhatikan kondisi karyawannya. Pada dasarnya, kejahteraan karyawan akan sangat berpengaruh dengan kemajuan suatu perusahaan. Oleh karena itu, alih-alih mementingkan keuntungan yang di dapat. Qilla lebih mengutamakan kesejahteraan karywannya.
"Baik," ucap pria tersebut.
"Apakah ada dokumen yang perlu saya tanda tangani?" tanya Qilla.
"Berikut beberapa dokumen penting yang membutuhkan tanda tangan," ucap pria tersebut kemudian menyerahkan beberapa kertas. Sebut saja namanya, George Davidson.
Qilla menandatangi berkas tersebut kemudian memberikannya kembali kepada sang sekretaris.
"Terima kasih Ms. Rossler, saya permisi," ucap Mr. Davidson berlalu pergi.
Setelah mengunjungi Rossler Company, Qilla berencana untuk pergi ke perusahannya yaitu Qill's Company. Akan tetapi ia mendapatkan kabar bahwa ada sesuatu yang terjadi di sekolah menyangkut dirinya. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk menelpon asisten sekaligus temannya yang mengatur dan membantu dirinya untuk mengurus Qill's Company.
"Gue ada urusan," ucap Qilla sambil memegang telepon genggamnya.
"Sok sibuk banget lo," ucap seorang wanita dari dalam telepon genggam.
"Namanya juga artis," ucap Qilla menggoda temannya itu.
"Dih mimpi, jadi kapan lo kesini," ucap wanita tersebut.
"Lusa maybe"
"Awas aja sampe lo gak kesini, gue bom rumah lo"
"Coba aja kalo berani," ucap Qilla tersenyum miring.
Qilla mematikan telepon secara sepihak tanpa mengucapkan sepatah kata pun, sementara gadis yang berada di dalam telepon genggamnya tadi sedang menyumpah serapahi Qilla dari ujung sana.
...***...
"QILLAAA," ucap dua orang gadis memanggil Qilla dengan suara nyaring, sepertinya seluruh gedung sekolah dipenuhi oleh suara mereka.
"SURPRISEE YUHUUU BABEE"
"Anjir gausah teriak-teriak," ucap Qilla kesal melihat kelakuan kedua sahabatnya ini, baru pulang sudah membuat onar.
"Kangennnnn," ucap gadis berambut pirang.
"Iya gue tau gue ngangenin," ucap Qilla dengan pedenya, tapi hal itu memang benar adanya.
"Dih najis," ucap seorang gadis berambut sebahu.
Kedua gadis tersebut adalah Hazel dan Cella, yaa mereka! teman Qilla selama ia berada di Canada. Hazel dan Cella memutuskan untuk mengikuti Qilla ke Indonesia.
"Ngapain lo berdua disini?" tanya Qilla bingung melihat keberadaan kedua temannya sambil membawa koper seperti orang mau pindahan.
"Ngamen," ucap Hazel.
"Mau ngamen? disini? kalo mau ngamen, di jalan dong. Kenapa malah dateng kesini. Ini itu sekolah bukan tempat buat ngamen," ucap Qilla menjelaskan dengan wajah tanpa dosa.
"Udah ah cape ngomong sama lo, lemot," ucap Hazel kesal melihat kepolosan temannya itu.
Gadis berambut sebahu itupun berjalan mendahului mereka, ia pergi tak tentu arah. Pasalnya ia tidak tahu ia harus pergi kemana, ini pertama kalinya dirinya ke Indonesia.
"Lahh malah pergi itu anak," ucap Qilla hanya melihat kepergian Hazel tanpa menyadari bahwa temannya itu tidak mengetahui arah.
"Beb, laperrrrr hehehe," ucap Cella sambil memegang perutnya yang keroncongan. Sangking senangnya akan bertemu dengan Qilla, ia sampai lupa makan.
Qilla pun mengajak Celle untuk pergi ke Cafetaria, meninggalkan Hazel yang sedari tadi bingung "Gue ada dimana sih? perasaan dari tadi muter-muter doang, Ah anjirlah, lagian ini sekolah gede amat," ucap Hazel menghentak-hentakkan kakinya.
Banyak orang memperhatikan keanehan sekaligus kecantikkan Hazel.
"Apa lo liat-liat?" ucap Hazel ketus.
"Permisi," ucap seorang pria melihat Hazel yang sepertinya sedang tersesat.
Hazel memutar badannya untuk melihat siapa yang memanggil dirinya.
ANJIRR CAKEP BANGETTT.
"Apa?" tanya Hazel sok ketus, padahal mah dalam hati lagi loncat kegirangan.
"Lo mau kemana? gue liatin dari tadi lo muter-muter doang," ucap orang tersebut.
OH MY GOSH, DARI TADI DIA LIATIN GUE!!
"Sok tau banget lo," ucap Hazel membuang mukanya.
"Yaudah gue pergi," ucap pria tersebut, mulai kesal karena niat baiknya malah ditolak mentah-mentah.
"Eh..Ehh wait," ucap Hazel kaku, pria itu hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa berniat untuk menjawab.
"Gue ikut lo," ucap Hazel memalingkan wajahnya.
Mereka pun berjalan beriringan tanpa memperhatikan tatapan memuja yang dilontarkan oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka.
Sesampainya mereka di Cafetaria, pria tersebut langsung menghampiri temannya yang sedang menikmati makanan mereka.
Hazel melihat dua orang gadis yang terlihat tidak asing, ia menyipitkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas. Amarahnya memuncak melihat kedua orang yang sedang duduk sambil bercanda ria itu. Ia berjalan menghampiri mereka dengan langkah tergesa-gesa kemudian...
- 1249 Words -