
"Iya sayang, kita harus pergi sekarang," ucap mamah Qilla sendu, ikut sedih melihat anaknya bersedih. Akan tetapi, ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Qilla kaget mendengar perkataan sang mamah, ia harus memilih antara pergi penyakitnya sembuh atau tetap tinggal akan tetapi ada kemungkinan penyakitnya bertambah serius atau bahkan dapat merenggut nyawa. Apa yang harus ia pilih? apakah tetap tinggal atau pergi? ini adalah pilihan tersulit yang pernah ia alami.
"Papah sama mamah sudah persiapkan semua kebutuhan kamu disana," ucap papah Qilla.
"Aku boleh ketemu sama teman-teman aku dulu gak pah?" tanya Qilla sedih.
Papah dan mamah Qilla saling menatap, bingung harus menanggapi apa. Pasalnya sebentar lagi mereka akan pergi. Waktunya tidak akan cukup bila Qilla bertemu dengan mereka dulu.
"Gak boleh ya?" ucap Qilla menahan air matanya.
"Kalau gitu Qilla nulis surat untuk mereka aja," ucap Qilla tersenyum sendu.
Banyak sekali muncul pertanyaan aneh di dalam benak Qilla, ia sangat khawatir bila apa yang ia pikirkan akan terjadi. Bagaimana jika benar terjadi? apa yang harus ia lakukan? hanya Tuhan yang tahu.
Apakah dapat bertemu teman-teman lagi?
Apakah mereka baik-baik saja jika aku pergi?
Bagaimana dengan Hyades?
Bagaimana jika mereka melupakan aku?
"Qilla sayang, nanti disana kamu akan bertemu teman-teman baru dan mamah yakin mereka akan menjadi teman yang baik untuk kamu," ucap mamah Qilla menghibur.
"Iya mah," ucap Qilla mengiyakan ucapan sang mamah, mungkin secara fisik Qilla akan berada di Canada akan tetapi hatinya hanya untuk Indonesia. Ia tidak akan melupakan keempat temannya.
Beberapa kertas Qilla ambil sebagai salam perpisahan darinya. Ralat, bukan perpisahan akan tetapi ini hanya sementara. Qilla yakin ia akan bertemu kembali dengan teman-temannya.
Qilla menuliskan nama Faren pada kertas tersebut, yang berarti surat itu untuk Faren teman perempuan satu-satunya yang ia miliki.
Dear Faren
Hai Faren! bagaimana kabar kamu? aku berharap kamu baik-baik saja. Kalau kamu buka surat ini, berarti aku sudah meninggalkan kalian. Aku berharap kita masih bisa menjadi sahabat. Kamu adalah teman perempuan pertama yang aku punya, jadi I will never forget you. Kamu tau? aku senang banget punya teman yang selalu mengerti aku. Yaa walaupun pada awalnya kamu gak suka sama aku tapi satu hal yang perlu kamu tahu, i like you. Aku suka semua hal tentang kamu, aku suka kepribadian kamu.
Maaf aku tidak bisa memberikan surat ini secara langsung karena pesawatnya sudah mau berangkat sekitar 1 jam lagi. Aku mau ke suatu tempat yang jauh, ada hal yang perlu mamah sama papah aku urus. Mungkin saja aku akan kembali 5 tahun lagi, aku pun tidak tahu kapan aku dapat bertemu kembali dengan kalian. Akan tetapi aku pasti akan kembali ke Indonesia. Jaga kesehatan dan jangan terlalu overthinking, kalau kamu membutuhkan teman curhat, kirim email aja ke aku ya. Aku akan selalu mendengarkan semua keluh kesah kamu. Ohh iya dan satu lagi, banyak orang yang sayang sama kamu, ada aku, Kiev, Hyades dan juga Arsen. Kita semua sayang sama aku. Kamu tidak sendiri kok.
Kamu mau aku beliin oleh-oleh apa? Canada banyak aksesoris cantik loh. Nanti setelah aku pulang, aku akan memberikan aksesoris itu kepada kamu. Kita juga akan memiliki gelang couple-an, khusus untuk kita berdua. Tunggu aku pulang yaa. Love you so much<3
^^^Dari temanmu yang paling cantik^^^
^^^Raqilla Sequoia Aurora Rossler.^^^
Qilla melipat kertas tersebut kemudian memasukkannya ke dalam amplop kecil. Setelah itu ia tidak lupa menulis nama Faren tepat di sampul surat.
Setelah membuat surat untuk Faren, satu kertas diambil kembali. Qilla menulis surat tersebut untuk sang pembuat onar, siapa lagi kalau bukan Kiev Gavriel Nicholas. Ketika mengingat semua sikap Kiev yang blak-blakan dan selalu membuat onar, Qilla tersenyum tipis.
Sebuah pensil menari diatas kertas, Qilla sedang menulis surat untuk Kiev sambil membayangkan sikap Kiev yang sangat lucu. Qilla sudah menganggap Kiev sebagai saudara laki-lakinya. Ia sangat menyanyangi Kiev walaupun terkadang Kiev sering kali membuat dirinya kesal.
Ia mengambil 2 kertas lagi untuk Arsen dan Hyades. Mereka adalah orang yang selalu memberikan perhatian kepada Qilla, akan tetapi memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Arsen merupakan sosok yang galak, sementara Hyades merupakan sosok yang dingin. Keduanya memiliki satu kesamaan yaitu, selalu memberikan yang terbaik untuk Qilla.
Tunggu aku yaa, aku pasti pulang.
Setiap surat yang Qilla tulis, selalu diakhiri dengan kalimat tersebut. Apakah kalian tahu mengapa Qilla menulis kalimat tersebut? alasannya sederhana, ia terlalu menyayangi mereka sehingga tidak rela untuk melupakan. Qilla ingin meyakinkan mereka bahwa dirinya pasti akan pulang, jadi tolong jangan lupakan Qilla seperti ia yang selalu mengingat mereka.
"Sudah sayang?" tanya mamah Qilla melihat anaknya termenung.
"Udah mah," ucap Qilla tersenyum sendu.
"Ya sudah, kalau begitu kita pergi sekarang," ucap papah Qilla sambil menutup teleponnya.
Mereka berjalan keluar dari rumah sakit, sedari tadi Qilla terus menundukkan kepalanya berusaha untuk menahan air mata yang sudah berada di ujung meminta dilepaskan. Tanpa ia sadari, Qilla berpapasan dengan Hyades yang sedang masuk ke dalam lift tepat di samping lif dimana Qilla berada. Akan tetapi, Qilla tidak menyadari hal tersebut karena tetalu fokus pada dunianya sendiri. Sementara Hyades sedang menatap layar ponselnya sehingga tidak sadar bahwa sang pujaan hati akan meninggalkan dirinya.
Deg Deg Deg
Hyades merasa sesuatu hal yang buruk akan terjadi, tapi apa? bukankah Qilla sudah sembuh? lalu hal apa yang membuat dirinya sampai gelisah seperti ini?
Langkah kaki cepat menuju ruangan Qilla, ia harus memastikan keadaan Qilla saat ini agar rasa gelisah tidak terus menghantui dirinya.
Kriet
Pintu ruang rawat inap Qilla dibuka oleh Hyades, ia melihat ranjang yang sudah tertata rapi. Apakah Qilla sudah pulang?
"Pasien di ruangan ini kemana sus?" tanya Hyades gelisah.
"Beberapa menit yang lalu, pasien sudah meninggalkan ruangan," jawab suster tersebut.
Hyades merasa semakin gelisah mendengar perkataan sang suster. Bukankah Qilla masih harus dirawat selama beberapa hari?
Ia mendekati ranjang milik Qilla, merasakan kehadiran Qilla untuk mengobati hatinya yang terasa sakit tidak karuan seperti sesuatu hal buruk akan terjadi, tapi apa?
Ada beberapa surat yang mengganggu penglihatannya. Ia semakin merasa gelisah. Hyades mendekati surat tersebut kemudian membuka surat dengan tulisan nama Hyades diatasnya.
Hyades berlari tergesa-gesa setelah membaca kalimat pertama yang tertulis di dalam surat tersebut. Sementara disisi lain, Qilla telah tiba di bandara pribadi milik keluarga Rossler.
"Selamat tinggal, Indonesia," ucap Qilla menitikkan air mata.
...***...
Dear Alvi
Hai Alvi! kali ini aku bener panggil nama kamu kan hehehe, kalau kamu sedang membaca surat ini maka artinya aku sudah pergi meninggalkan kalian.
Itu merupakan kalimat pertama yang membuat Hyades berlari meninggalkan rumah sakit dengan wajah pucat.
Please, don't leave me alone.
Hyades bingung harus pergi kemana, ia terus berlari tak kenal arah.
Apakah kamu akan meninggalkan aku?
"Qilla?" tanya Hyades dengan mata berkaca-kaca.
"Non Qilla sudah pergi den," ucap salah satu security keluarga Rossler.
"Kemana pak?" tanya Hyades lemas. Apakah Qilla akan meninggalkan dirinya? bagaimana dengan janji mereka?
"Kalau masalah itu, saya juga kurang tahu den tapi sepertinya non Qilla pergi ke luar negeri," ucap security tersebut, sebut saya namanya Alex.
Hyades seperti kehilangan arah, apa yang harus ia lakukan sekarang?bagaimana ia dapat mencari Qilla? ia terus berlari tanpa mengetahui kemana kaki panjangnya membawa dirinya.
Tempat indah nan permai, dimana semua masalah ini terjadi. Akan tetapi, tempat ini juga yang telah membuat persahabatan mereka menjadi erat. Hyades tiba di sebuah rumah kayu minimalis yang berada di atas pohon dengan pemandangan langsung mengarah ke danau. Tempat tersebut adalah rumah pohon.
Ia melangkahkan kakinya menuju danau kemudian duduk di atas rumput dengan tatapan kosong.
Baby girl
Where are you?
I really miss you
Hyades bergumam dengan suara yang sangat kecil, bahkan semut yang lewat pun tidak dapat mendengarnya.
Satu-persatu air mata jatuh membasahi wajah tampan bak dewa yunani milik Hyades, ia merasa sangat terpukul mendengar kabar tersebut. Hati yang sudah mulai mencair berubah menjadi dingin kembali sedingin kutub, tidak tersentuh. Hanya seorang Raqilla Sequoia Aurora Rossler yang dapat mencairkan hati rapuh itu, yaa hanya seorang Qilla gadis berumur 10 tahun yang sangat cantik.
I will find you
Raqilla Sequoia Aurora Rossler
Bagaimana cara Hyades menemukan keberadaan Qilla? tentu saja hal tersebut merupakan hal yang mudah bagi Hyades. Apakah kalian lupa bahwa keluarga Miller memiliki koneksi dimana-mana. Selain itu, Hyades merupakan seorang Hacker terkuat yang pernah ada. Bahkan bila ia mau, Hyades dapat menghancurkan satu negara hanya dengan menggerakkan jari-jari lentiknya. Hyades dijuluki sebagai leader of hackers.
Wait for me, baby girl
...***...
Sepasang kaki menapaki jalan di sekitar perumahan termewah di negara itu tepatnya terletak pada negara paling utara di kawasan Amerika Utara. Negara yang sangat indah dengan berbagai macam kebudayaan yang pastinya berbeda dengan tempat kelahiran Qilla, Indonesia. Negara tersebut adalah Canada, negara terdingin di dunia. Akan tetapi, lebih dingin si kutub Hyades. Ngomong-ngomong soal Hyades, bagaimana keadaannya saat ini? apakah ia baik-baik saja? Qilla merasa bersalah karena tidak sempat bertemu dengan Hyades untuk yang terakhir kalinya.
Semangat Qilla! kamu harus cepat sembuh supaya bisa ketemu sama teman-teman lagi, ucap Qilla dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Qilla berjalan menyusuri lingkungan tempat ia tinggal, walaupun terasa nyaman tetapi akan tetapi Qilla tetap merasa ada yang kurang. Ia lebih menyukai rumahnya yang dulu.
Langit terlihat mendung seolah-olah mengetahui kondisi hati Qilla saat ini. Gadis cantik tersebut mendongkakkan kepalanya melihat awan yang sudah mulai gelap sepertinya sebentar lagi akan turun hujan.
"Tunggu aku ya teman-teman," ucap Qilla tersenyum sendu. Setitik air menetes membasahi wajah cantiknya. Lama kelamaan, tubuh Qilla mulai menggigil. Rasanya seperti ditusuk oleh jarum yang sangat banyak, benar-benar menyakitkan. Apakah ia akan mati?
Bruk
Qilla tidak kuat untuk menahan beban tubuhnya, ia tergeletak tidak berdaya tepat di depan gerbang rumahnya.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil terdengar, sepertinya ada seseorang yang datang. Siapakah itu? pria tersebut keluar dari dalam mobil yang hanya dapat menampung dua penumpang itu. Pria tersebut menggunakan jas khas seorang dokter, terlihat sangat pas dan cocok ia kenakan di tubuhnya.
Ia melangkah ke arah gadis cantik yang sedang tergeletak diatas tanah, dengan rasa penasaran yang tinggi pria tersebut melihat lebih dekat pemilik tubuh mungil itu. Dan ternyata...
"Qilla." ucapnya kaget. Ia panik melihat anak sahabat karibnya tergeletak tidak berdaya. Yap, pria gagah tersebut adalah papah dari teman Qilla yaitu Kiev. Sebut saja namanya, Agra Nicholas. Berasal dari keluarga Nicholas yang terkenal dengan ilmu kedokterannya yang sangat canggih dan telah mendunia.
Papah Kiev mengangkat tubuh mungil Qilla perlahan membawanya masuk ke dalam mobil. Ia bergegas melajukan mobilnya sampai akhirnya tiba di pekarangan rumah keluarga Rossler.
"ARON ATHENA," teriak papah Kiev.
"Ada apa sih Agra?" ucap mamah Qilla merasa kesal mendengar teriakan Agra (papah Kiev).
"LOH INI ANAKKU KENAPA?" tanya mamah Qilla seketika panik melihat putrinya yang saat ini berada di dekapan Agra.
"Sini biar saya yang membawa putri saya," ucap papah Qilla mengambil Qilla dari tangan Agra, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Qilla dengan baik.
Mereka membawa Qilla ke kamar dan meletakknya di atas ranjang.
"Lebih baik kita membawa Qilla ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang intensif," ucap mamah Qilla khawatir.
"Tidak perlu, Qilla hanya sedang kecapean saja selain itu tubuhnya perlu menyesuaikan diri dengan cuaca ekstrem yang ada di negara ini. Qilla hanya memerlukan istirahat yang cukup saja," ucap Agra menjelaskan dengan tenang.
"Syukurlah, terima kasih Agra," ucap mamah Qilla merasa lega mendengar penjelasan Dokter tampan itu.
"Aaron, temani aku keluar," ucap Dokter Agra. Aaron (papah Qilla) hanya mengangguk mengiyakan. Mereka berjalan keluar dari kamar Qilla. Sesampainya di ruang tamu, Aaron merasa ada yang disembunyikan oleh Agra.
"Apakah terjadi sesuatu?" ucap Aaron curiga, pasalnya ia sangat mengenal sahabat karibnya ini.
"Tidak ada, aku hanya mengajakmu untuk menikmati kopi. Sudah lama sekali kita tidak bertemu," ucap Agra (papah Kiev) santai.
"Ada apa dengan Qilla?" tanya papah Qilla tajam, Ia merasa ada sesuatu yang Agra sembunyikan.
"Baiklah," ucap Agra membuang napas kasar. Sejak mereka SD, dirinya memang tidak dapat menyembunyikan apapun dari Aaron. Sepertinya Aaron ada keturunan mbah dukun.
"Katakan, ada apa dengan putriku?" tanya papah Qilla dengan suara rendah.
"Kondisi Qilla saat ini bisa dibilang cukup parah, ia memerlukan penanganan yang lebih serius," ucap Agra (papah Kiev) dengan raut wajah serius.
"Apa yang terjadi?" tanya papah Qilla tanpa menghilangkan raut khawatir nya.
"Sebelumnya aku mengira ia hanya mengidap penyakit Thalasemia sama seperti dirimu, akan tetapi terdapat kerusakan pada sel otaknya akibat benturan yang cukup keras dan jika hal tersebut tidak segera ditangani maka nyawa putrimu akan berada dalam bahaya," jelas Agra, sebenarnya ia tidak ingin mengatakan hal ini kepada Aaron akan tetapi jika hal tersebut dibiarkan berangsur-angsur maka nyawa anak sahabatnya akan berada dalam bahaya.
...***...
...Gimanaa teman-teman cerita hari ini? menegangkan bukan? ada yang nangis gak nih? it's okayy kalau kalian nangis soalnya author buat cerita ini juga sambil nangis huhuhu. Penasaran cerita selanjutnya? tunggu besok yaaa....
...- 2106 Words -...