
"Lo masih disini?" tanya Kiev, ia merasa kasihan melihat teman yang memiliki wajah bak dewa yunani itu sedang terpuruk. Yaa.. Kiev mengakui bahwa Hyades memang lebih tampan darinya. Entah mengapa Hyades seperti ini, akan tetapi satu hal yang Kiev tahu bahwa orang yang telah membuat Hyades sampai seperti ini pasti bukan orang biasa.
Krik Krik Krik
Tidak ada jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Kiev, sepertinya Hyades memang sedang tidak ingin diajak berbicara. Tapi bila dipikirkan kembali, sejak kapan Hyades suka diajak berbicara?
"Bukannya tadi kita mau cari Qilla ya?" tanya Kiev sadar bahwa ada sesuatu hal yang sedari tadi terus mengganjal di hatinya.
"OHHH IYAA," teriak Faren, ia baru ingat bahwa Qilla tidak ada di kamarnya.
"Lo tau gak Qilla dimana? soalnya tadi kita udah cari di ruangannya terus gak ketemu, lo tau gak dia ada di ruangan mana?" cerocos Kiev.
Hyades terdiam sejenak kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya ke nakas di sebelah ranjang Qilla.
Ia mengambil surat yang berada di nakas tersebut kemudian memberikannya kepada Kiev dan Faren.
"Dari Qilla," ucap Hyades datar.
Sementara kedua orang tersebut saling menatap bingung akan tindakan Hyades yang tidak dapat mereka pahami. Mengapa Qilla memberikan mereka surat? aneh sekali.
Kiev memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi, tanpa ada rasa keraguan langsung membuka surat tersebut. Faren yang melihat hal itu, ikut membuka surat yang diberikan oleh Hyades dengan rasa penasaran. Mereka membaca setiap kata yang tertera di dalam surat tersebut dengan seksama, tidak ingin melewatkan satu kata pun.
"Qilla pe-pergi?" tanya Faren dengan mata berkaca-kaca, tidak kuara menahan air mata yang sebentar lagi aka melunjur bebas.
"Kok dia gak kasih tau kita dulu?" tanya Kiev lesu. Kalau saja ia tahu Qilla akan pergi, ia tidak akan sering bertengkar dengan Qilla dan memilih menghabiskan waktu untuk sahabatnya itu. Yaa walaupun mereka sering sekali bertengkar, akan tetapi Kiev sudah menganggap Qilla sebagai saudara kandungnya sendiri. Jadi, wajar saja bila mereka sering bertengkar.
Faren melangkahkan kakinya perlahan ke ranjang Qilla kemudian duduk diatasnya, ia mengingat kembali awal pertemuan mereka. Qilla adalah teman pertamanya dan sekarang Qilla pergi, teman satu-satunya yang ia miliki. Faren sudah tidak memiliki teman lagi. Sepertinya ia memang pantas untuk hidup sendiri, tanpa ada teman dan keluarga.
"Gue takut gak akan pernah ketemu Qilla lagi" ucap Faren dengan keadaan kacau.
Hiks Hiks Hiks
Faren menangisi kebodohannya karena ia sempat merasa iri dan cemburu terhadap Qilla, padahal Qilla selalu memperlakukannya dengan baik. Ia mengakui bahwa dirinya memang egois, sekarang Faren sadar mengapa ia tidak memiliki teman.
Ada seseorang yang menepuk bahu Faren pelan, cewek berambut blonde tersebut menoleh ke orang yang menepuk bahunya.
"Qilla pasti pulang," ucap sosok tersebut dingin. Faren hanya tersenyum kecil berusaha menetralkan rasa kagetnya, bagaimana tidak? pasalnya Hyades sangat anti disentuh oleh orang lain dan saat ini Hyades menyentuh bahunya. Untung saja semalam ia sudah mandi 7 kembang dan sepertinya ia tidak tidak akan mencuci bahunya untuk waktu yang lama.
I will find her, ucap seseorang sambil menatap tajam ke arah surat yang berada di atas tangannya.
"Iya, gue juga yakin Qilla pasti balik lagi kesini. Dia kan gak bisa jauh-jauh dari gue," ucap Kiev pede, sifat Kiev yang satu ini memang tidak pernah hilang.
Hyades menatap tajam Kiev, ia sangat tidak suka bila ada orang lain yang mengatakan hal-hal tersebut mengenai Qilla. Hatinya terasa terbakar, aneh memang tapi hal ini nyata. Hyades pun tidak tahu mengapa hal tersebut bisa terjadi kepada dirinya, ia sudah mencari di seluruh buku mengenai penyakit hati akan tetapi tetap tidak menemukannya.
...***...
"Qilla kamu mau makan apa nak?" tanya mamah Qilla mengusap lembut kepala sang anak.
"Qilla gak mau makan mah, masih kenyang," ucap Qilla menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Terlihat sangat menggemaskan, jika Kiev berasa disitu mungkin saja saat ini ia akan menggigit pipi Qilla dengan keras.
"Kalau Qilla gak makan, kapan sembuhnya sayang?" kata sang mamah membujuk anak semata wayangnya untuk makan.
"Tapi Qilla gak mau makan bubur lagi mah, bosennn," gerutu Qilla sambil memanyunkan bibirnya manja. Dulu saat ia dirawat di rumah sakit, bubur sudah menjadi makanan sehari-hari baginya dan sekarang mamahnya menyuruh Qilla untuk makan bubur lagi? tentu saja Qilla akan menolak.
"Ya sudah kalau begitu, gimana kalau mamah masak makanan kesukaan Qilla?" tanya mamah Qilla menawarkan diri.
"MAUUU," ucap Qilla tersenyum senang, jarang sekali Qilla melihat mamahnya memasak. Tentu saja ia merasa bahagia. Mamah Qilla bersyukur karena anaknya sudah ceria kembali.
"Mamah masak dulu ya sayang," ucap mamah Qilla tersenyum lembut kemudian ia berlalu pergi dari kamar Qilla.
15 menit kemudian
Tok Tok Tok
"Masuk," ucap Qilla dengan suara setengah kencang kemudian ia mengangkat tubuh mungilnya untuk duduk.
"Tadaaa masakan mamah sudah jadi," ucap mamah Qilla memperlihatkan hasil masakannya yang terlihat menarik untuk dicicipi.
"Bi, tolong bawa masuk makanan yang lain," ucap mamah Qilla kepada sang pengurus rumah keluarga Rossler khususnya rumah yang berada di Canada. Beliau sudah bekerja di rumah ini hampir 10 tahun. Bahkan mamah Qilla sudah menganggapnya sebagai bagian dari keluarga Rossler.
"Sayang, mamah sudah masak semua makanan kesukaan kamu," ucap mamah Qilla tersenyum senang.
"Hmm, kalau dilihat dari look nya sih kelihatan enak tapi belum tentu rasanya enak HAHAHA," tawa Qilla berusaha menggoda sang mamah.
"Pasti enak dong, siapa dulu yang masak? mamah," ucap mamah Qilla menyombongkan diri di depan anak yang sudah berani mengejek orang tuanya. Anak durhaka memang.
"Wah papah mencium aroma wangi, ternyata datangnya dari kamar Qilla. Siapa yang masak makanan sebanyak ini? kelihatannya enak," ucap papah Qilla terus melirik makanan yang berada di atas nampan.
"Mamah yang masak pah," ucap Qilla antusias.
"Mamah masak? waw sejak kapan kamu bisa masak sayang?" ucap papah Qilla meledek sang istri.
Mamah Qilla tidak berniat untuk menjawab pertanyaan tersebut, ia sungguh kesal dibuat anak dan suaminya. Ia membuang mukanya kesal.
"Hayolo papah, mamah marah tuh," ucap Qilla menahan tawa.
"Parah banget emang papah, mah. Mending nanti malam mamah tidur sama aku aja," lanjut Qilla memanas-manasin.
"Nanti malam kamu tidur sendiri, aku mau tidur sama putriku," ucap mamah Qilla menyetujui perkataan Qilla.
"Sayanggg," ucap papah Qilla berusaha membujuk.
"Apa kata tetangga kalau kita tidur pisah ranjang," ucap papah Qilla memegang tangan sang istri.
"Pokoknya nanti malam aku mau tidur sama anakku, titik," ucap mamah Qilla tidak ada bantahan.
Papah Qilla hanya dapat mengehela napas panjang, bisa dibilang ia adalah suami yang takut istri. Ia akan selalu menuruti semua keinginan sang istri, bahkan jika istrinya menginginkan sesuatu hal yang mustahil, ia akan membuat hal itu menjadi mungkin. Hanya demia sosok wanita paruh baya di hadapannya ini.
"Qilla laper nih, kita makan yuk," ucap Qilla mengajak kedua orang tuanya untu makan bersama.
"Sini mamah ambilkan," ucap mamah Qilla sambil mengambil makanan untuk Qilla dan memberikannya kepada anaknya itu.
Mereka pun makan dengan tenang, Qilla dapat merasakan kehangatan setelah sekian lama hilang dan ia sangat menyukai hal itu.
...***...
Sang mentari menyapa bumi dengan kehangatan sinarnya, udara sejuk masih terasa menyentuh kulit. Embun pagi masih menghiasi dedaunan. Sayup-sayup terasa belaian sinar matahari pagi. Semua makhluk hidup mulai membuka mata untuk menyambut hari baru, memulai aktivitas dengan semangat baru.
Kicauan burung membelah kesunyian pagi disertai dengan cahaya kuning keemasan yang membuat kita terbangun dari mimpi. Sejuk angin pagi pun seolah menambah semangat kita memulai hari, rasanya begitu segar dan nyaman. Tak mau kalah embun-embun kecil pun, mencoba menarik perhatian kita dengan memancarkan kilauannya yang indah.
Di dalam sebuah taman yang sangat indah, terdapat danau di dalamnya serta rumah kayu kecil yang terletak di atas pohon rindang. Sangat menyejukkan hati.
Seorang pria dengan rambut coklat terang dan pria lainnya dengan rambut hitam legam. Siapapun akan terpanah melihat karya Tuhan yang sangat indah ini, ditambah lagi dengan sinar dari matahari pagi yang membuat wajah mereka tampak seperti malaikat yang datang dari sorga. Apakah mungkin mereka titisan malaikat? tentu saja bukan. Mereka adalah Hyades (rambut hitam legam) dan Arsen (rambut coklat terang).
Hyades memberikan sesuatu kepada Arsen,"ngapain lo kasih surat ke gue? aneh lo," ucap Arsen ketus sambil melihat pria tampan dihadapannya.
"Dari Qilla," ucap Hyades singkat, padat, dan jelas. Mendengar perkataan Hyades, ia terdiam seketika. Sebenarnya Arsen sudah mendengar kabar tersebut dari Kiev, ia sudah tahu bahwa suatu saat hal ini akan terjadi. Akan tetapi, ia tidak mengira bahwa Qilla akan pergi secepat ini. Ia belum sempat mengucapkan kata "maaf" kepada sosok gadis cantik yang dapat membuat dirinya nyaman itu. Akankah mereka akan bertemu kembali?
"Thanks," ucap Arsen tersenyum tipis, mengambil surat dari tangan Hyades kemudian melihat bagian depan surat itu dengan seksama.
"Hm," ucap Hyades berdeham.
Sunyi dan hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Sepertinya mereka enggan untuk memulai pembicaraan dan memilih untuk fokus kepada pikirannya masing-masing.
"Lo suka sama Qilla?" tanya Arsen memulai pembicaran dengan pertanyaan yang sangat sensitif.
Sementara Hyades hanya melirik Arsen sekilas tanpa minat. Ia sangat terganggu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Arsen karena menurut dirinya pertanyaan tersebut hanya untuk orang bodoh. Bukankah sudah terlihat dengan jelas? Hyades merasa seharusnya Arsen sudah mengetahui jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakan tadi.
Hyades berlalu pergi meninggalkan Arsen sendiri tanpa menjawab pertanyaan yang Arsen berikan.
"I love her," ucap Arsen dengan suara yang sangat pelan. Hyades berhenti seketika, ia memiliki pendengaran yang sangat tajam, tidak perlu diragukan lagi. Itu adalah salah satu kemampuan yang ia miliki dari ribuan kemampuan lainnya.
Hyades berjalan ke arah Arsen kemudian mendekatkan wajahnya perlahan, menatap tajam Arsen tepat di mata coklatnya.
"She is mine," ucap Hyades dengan suara rendah, mungkin sebentar lagi lucifer yang berada di dalam tubuhnya akan keluar. Siapapun yang berani mengganggu miliknya, tidak akan ia kasih ampun.
"Lo tenang aja, gue pasti jauhin Qilla. Gue cuma pembawa masalah buat dia," ucap Arsen tersenyum sendu. Hyades hanya menatap datar Arsen kemudian berlalu dari hadapannya.
"Pegang janji lo," ucap Hyades tersenyum smirk kemudian berlalu pergi, seperti psychopath bukan? itulah julukan yang sangat cocok untuk Hyades, setuju kan? phsycopath tampan. Apapun yang Hyades inginkan, harus ia dapatkan. Jika tidak, ia akan menghalal segala cara untuk mendapatkan hal itu.
Arsen terdiam mendengar perkataan Hyades, ia sudah berjanji dan sebagai pria ia harus menepati janji yang ia buat. Apakah ia dapat menjauhi Qilla? Apakah ia dapat melakukan hal itu? Tuhan, tolong bantu Arsen.
...***...
...Apakah sekarang ada yang mendukung Faren Hyades? gimana nih? hmm endingnya mendingan Faren Hyades atau Qilla Hyades? hayoo tentukann pilihanmu.....
...- 1726 Words -...