
...Halooo gaiss! mohon siapkan tissue karena adegan ini akan menguras air mata dan tenaga....
...***...
"ARSEN HYADES CUKUP, KONDISI QILLA LEBIH PENTING," ucap Kiev kesal melihat sifat kekanak-kanakan mereka.
Hyades menghentikan pukulannya terhadap Arsen, berlari ke arah Qilla mengangkat kepalanya perlahan. Tatapan matanya sendu melihat sang belahan jiwa terbaring tidak berdaya di pelukannya. Semakin banyak darah segar keluar dari dahi Qilla, mereka semua panik. Hyades segera mengendong Qilla keluar dari sana sementara Kiev dan Faren membantu Arsen untuk berdiri dengan muka babak belur.
Sepanjang jalan, Hyades menitikkan air mata. Kalau saja bisa, Hyades ingin menggantikan Qilla menahan rasa sakit ini. Bertahan sayang, ucap Hyades berkali-kali sambil mengecup singkat kepala Qilla.
Hyades berlari tak tentu arah, sampai ia menemukan seorang pengendara motor yang lewat.
"Pak, tolong teman saya pak," ucap Hyades memohon. Ini adalah kali pertama dirinya memohon kepada orang asing.
"Astaga dek, Ini temannya kenapa?" ucap si pengendara motor panik melihat banyak darah keluar dari kepala Qilla.
"Tolong teman saya pak," ucap Hyades menitikkan air matanya, ia tidak berdaya melihat Qilla keadaan Qilla.
"Ayo naik, bapak atarkan ke rumah sakit," ucap si pengendara motor. Hyades segera naik motor tersebut, selama perjalanan ia terus memeluk Qillla erat seakan-akan Qilla akan pergi meninggalkan dirinya. Dari kejadian ini, kita tahu bahwa Hyades tidak dapat hidup tanpa seorang Qilla.
Qilla adalah nyawa, jiwa dan raganya.
Di sisi lain Kiev dan Faren kebingungan mencari keberadaan Hyades dan Qilla, mereka berusaha menelpon Hyades akan tetapi handphone milik Hyades tidak dapat dihubungi.
"Diangkat gak?" tanya Arsen khawatir. Faren hanya menggelengkan kepalanya pertanda teleponnya tidak diangkat.
"Kita harus gimana? gue khawatir sama keadaan Qilla," ucap Kiev dengan mata berkaca-kaca. Ia memang sangat khawatir dengan keadaan temannya itu.
"Hiks Qilla hiks," tangis Faren, ia tidak dapat menahan tangisannya yang akan keluar sedari tadi. Ia bingung harus berbuat apa. Apakah kondisi Qilla baik-baik saja? bagaimana kondisinya sekarang? ia terus bertanya-tanya mengenai hal itu.
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil mendekati mereka, seorang wanita cantik keluar dari mobil mewah tersebut.
"Loh kalian ngapain disini?" tanya wanita tersebut.
"I-itu tan-tante hiks," ucap Faren menangis sesenggukan. Wanita cantik tersebut adalah mamah Hyades.
"Kami lagi mencari Hyades dan Qilla tante," ucap Kiev menahan air matanya yang ingin keluar saat itu juga. Sementara Arsen hanya diam, menyalahkan dirinya sendiri. Kalau saja ia tidak bertengkar dengan Hyades, maka semua ini tidak akan terjadi. Ia menangis dalam diam dan itu sangat menyakitkan.
"Hyades dan Qilla memangnya kemana?" tanya mamah Hyades mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
"Qilla kecelakaan hiks tante," ucap Kiev menangis.
"KE-KECELAKAAN?" teriak mamah Hyades histeris, bagaimana hal ini bisa terjadi.
"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya mamah Hyades panik.
Faren dan Kiev hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun, mereka menggelengkan kepala menandakan bahwa mereka juga tidak mengetahui keberadaan Qilla.
"Hyades bawa Qilla ke rumah sakit," ucap Arsen, ia berpikir bahwa tidak ada gunanya menyalahkan diri. Maka dari itu, Ia harus mengetahui keadaan Qilla secepatnya untuk menebus semua kesalahannya. Mulai hari ini, menit dan detik ini. Ia berjanji akan menjaga, melindungi dan bahkan mengorbankan nyawanya untuk Qilla. Hanya untuk Qilla seorang.
"Naik mobil, kita ke rumah sakit sekarang," ucap mamah Hyades buru-buru menaiki mobil, ia khawatir dengan keadaan Qilla. Ia sudah menganggap Qilla sebagai anak perempuannya. Apa jadinya jika kedua orang tua Qilla mengetahui kabar bahwa Qilla mengalami kecelakaan dan sedang berada di rumah sakit saat ini. Mamah Qilla pasti akan pingsan saat itu juga, hati mereka hancur berkeping-keping ketika mendapat kabar anak semata wayangnya mengalami kecelakaan.
Mereka melihat Hyades sedang duduk di kursi dekat ruang UGD.
"Hyades sayang," ucap mamah Hyades lembut. Hyades mengangkat kepalanya melihat siapa yang memanggil dirinya. Mamah Hyades kaget melihat kondisi anaknya yang acak-acakan dengan baju penuh darah dan mata sembab. Ini pertama kalinya Hyades begitu rapuh dan tidak berdaya. Hanya Qilla yang dapat membuat Hyades seperti ini. Hanya Qilla.
Hyades hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Qilla pasti baik-baik saja, Qilla itu anak yang kuat. Mamah yakin Qilla gak suka lihat kamu kayak gini. Kamu harus kuat supaya Qilla cepat sembuh. Kamu percaya kan sama Qilla?" ucap mamah Hyades berusaha menghibur anak semata wayangnya. Walaupun ia sendiri merasa sangat terpukul mendengar kabar tersebut.
Bug Bug Bug Bug
Arsen meninju tembok berulang kali sampai tangannya mengeluarkan darah segar. Ia terus melakukan hal tersebut tanpa memperhatikan rasa sakit yang menyarang pergelangan tangannya.
"GUE PENYEBAB SEMUA INI," teriak Arsen marah kepada dirinya sendiri, kalau saja ia tidak berantem dengan Hyades. Maka hal ini tidak akan terjadi.
"ARGHHHHH," ucap Arsen mengacak rambutnya frustrasi. Kiev berusaha menenangkan Arsen sebelum kedua tangannya semakin parah.
"SEN INI RUMAH SAKIT" ucap Kiev mencoba menyadarkan Arsen.
"GUE EMANG PEMBAWA SIAL," ucap Arsen meninju tembok penuh amarah.
"Percuma lo lakuin itu, gak ada gunanya. Semuanya udah terjadi sen," tegas Kiev sambil memegang pundak Arsen.
Arsen hanya diam, tatapan matanya kosong. Setitik air mata jatuh dari mata coklat itu, menangis dalam diam. Rasanya saat ini, ia ingin berdoa kepada Tuhan untuk melimpahkan semua rasa sakit yang Qilla alami ke dalam tubuhnya. Biar dirinya saja yang merasakan rasa sakit itu.
"Lebih baik sekarang kita berdoa yang terbaik buat Qilla," ucap Kiev menepuk pundak Arsen.
Mamah Hyades teringat bahwa ia belum memberitahukan kondisi Qilla kepada kedua orang tuanya. Ia akan menelpon mereka sekarang juga, bagaimanapun Qilla adalah anak mereka dan mereka berhak untuk tahu.
"Tante menelpon orang tua Qilla dulu ya," ucap mamah Qilla berdiri dari tempat duduknya.
Tut Tut Tut
"Halo, ada apa ana? tumben sekali kamu menelpon," ucap mamah Qilla bingung. Pasalnya mamah Hyades tidak pernah menelpon kecuali dalam situasi genting. Perasaan mamah Qilla mulai tidak enak. Apakah terjadi sesuatu?
"Aku sekarang sedang berada di rumah sakit," ucap mamah Hyades gugup, perasaannya campur aduk antara sedih dan bingung. Ia bingung harus mulai menjelaskan darimana.
"Apakah Azka sedang sakit? jika kamu butuh bantuan, aku akan membantumu," ucap mamah Qilla mulai merasa lega.
"Putrimu kecelakaan," ucap mamah Hyades dengan suara bergetar, menahan air matanya yang sebentar lagi akan meluncur.
"A-apa?" ucap mamah Qilla shock, ia terduduk lemas mendegar kabar tersebut. Rasanya ia tidak dapat bernafas dengan baik, pasokan udara di sekitarnya mulai menipis. Ia ingin berlari untuk melihat kondisi anaknya, akan tetapi saat ini berdiri pun susah apalagi untuk berlari.
...***...
...Gimana gaisss? lanjut gak nihh? cukup menguras air mata bukan?...
...Penasaran tidakk? tunggu besokk yes, baru gue upload lagii...
...- 1088 Words -...