RAQILLA

RAQILLA
CHAP 27 - PULANG



Sebuah ukiran berbentuk hati yang diukir oleh seorang remaja cantik berusia 15 tahun dengan tangan mungilnya. Ukiran yang belum sempurna itu menandakan bahwa ia tidak akan pernah melupakan semua memori mengenai Canada, ia berjanji.


Ia terus menatap ke luar jendela, sesekali menguap dengan mata sayu, menahan kantuk yang sudah menyerang matanya sedari tadi. Qilla sudah tidak tahan lagi, ia memejamkan matanya perlahan kemudian terlelap di atas tempat tidur yang telah disediakan. Tempat tidur? tentu saja ada karena pesawat ini adalah pesawat pribadi keluarga Rossler. Inilah yang dinamakan orang kaya mah bebas.


Perjalanan udara memakan waktu sekitar 20 jam 45 menit dari bandara Internasional Pearson Toronto ke bandara Soekarno Hatta.


Beberapa Jam Kemudian


Pemberitahuan bahwa pesawat akan siap landing di Bandara Soekarno Hatta. Saat itu, penumpang diminta untuk tetap tenang dan kembali menggunakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, melipat meja, dan menaikan penutup jendela karena pesawat akan mendarat. Setelah pesawat mendarat dengan sempurna, para penumpang diminta untuk turun.


GILEEE CAKEP BENER


SEKELUARGA CAKEP SEMUA CUY


INSINYUR GW PLS


ANJIRR


KELUARGA ROSSLER WOI ITU


OMG OMG OMG MIMPI APA GW SEMALEM


SAYAA TIDAK MELIHAT ADA KEBURIKAN


Yahh begitulah pengaruh keluarga Rossler, dimanapun mereka berada selalu membuat keributan. Setelah ini, kepulangan keluarga Rossler pasti akan menjadi berita utama di seluruh berita Indonesia.


Mobil hitam panjang berwarna hitam mengkilat dengan plat B 1234 RSL telah tiba. Semua orang menatap mobil tersebut dengan kagum, pasalnya mobil itu jarang ditemui dan biasanya hanya para bangsawan saja yang dapat menggunakan mobil itu. Mobil dengan daya tampung kisaran 10 orang itu memiliki fasilitas berupa kamar tidur, kulkas, dapur dll. Sangat mewah bukan? hanya 4 keluarga yang memiliki mobil tersebut antara lain keluarga bangsawan Inggris, keluarga Alexander (keluarga Arsen), keluarga Miller (keluarga Hyades) dan yang terakhir adalah keluarga Rossler (keluarga Qilla).


Sebuah mansion besar dan indah berdiri kokoh, sudah hampir 5 tahun ia tidak melihat sang majikan. Walaupun begitu, majikannya tetap memberikan seseorang untuk merawat dirinya. Membersihkan setiap dinding  yang ada di mansion itu tanpa terlewat satu pun.


"HALOOO EVERYBODYYY! QILLA PULANGG," teriak Qilla dengan suara nyaring. Yupss mansion itu adalah milik keluarga Rossler yang hampir 5 tahun tidak mereka tinggalkan. Ahhh rasanya Qilla kangen dengan masa-masa kecilnya, sangat indah.


"Non Qilla sudah besar, makin cantik aja deh non. Bibi masak makanan kesukaan Qilla," ucap bibi sambil tersenyum ringan, ia sangat rindu dengan anak majikannya itu. Ia sudah menganggap Qilla seperti anaknya sendiri.


"Ihh bibi bisa aja deh, kan Qilla jadi malu hehehe," ucap Qilla memasang muka malu-malu kucing, lebay sekali memang. Yahh.. begitulah Qilla.


"Ohh iyaa, Qilla bawain oleh-oleh dari Canada loh buat bibi," ucap Qilla sambil mengeluarkan sesuatu dari tas mungilnya.


Semua orang menunggu benda apa yang akan dikeluarkan oleh Qilla " Taraaa " ucap Qilla dengan wajah berseri-seri, ia bangga dengan pemberiannya itu. Sementara semua orang bingung dengan benda apa yang Qilla bawa, bentuknya seperti batu yang ditumpuk-tumpuk. Sangat aneh, ada-ada saja kelakuan anak yang satu ini, pikir papah Qilla.


Qilla melihat sekitarnya karena sedari tadi tidak ada satupun dari mereka yang bersuara, ia pun menatap wajah kedua orang tuanya yang memperlihatkan raut kebingungan melihat benda yang ada di tangannya itu.


"Ini namanya Figurin Inukshuk, salah satu souvenir khas Canada yang terbuat dari batu granit. Fungsi inukshuk adalah untuk alat komunikasi yang membantu proses penyelamatan. Dahulu, suku Inuit menggunakan inukshuk untuk memberi tanda sebagai pemberi rute agar tidak tersasar di hutan tundra. Keren kan?" jelas Qilla seperti seorang guru yang sedang menerangkan.


Mereka semua hanya mengangguk mengiyakan tanpa berniat untuk membalas, yang paling penting Qilla bahagia. Itu sudah cukup bagi mereka.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan dulu yuk. Pasti pada lapar kan, itu bibi sudah memasak makanan enak untuk kita," ucap mamah Qilla lembut khas seorang ibu.


Seusai makan, papah Qilla memanggil anaknya untuk menuju ke ruang keluarga karena ada beberapa hal penting yang perlu dibicarakan "Qilla, ikut papah ke ruang keluarga. Ada hal penting yang perlu papah bicarakan," ujar papah Qilla dengan raut wajah serius. Jantung Qilla saat ini tidak aman, ia merasa gugup melihat raut wajah itu. Yaaa walaupun tetap terlihat tampan, Qilla akui itu. Hal apa yang begitu penting sampai sang papah terlihat begitu serius? Apakah sesuatu hal terjadi? tentu saja tidak, tenang saja tidak ada hal apapun yang perlu dikhawatirkan.


"Kenapa pah?" tanya Qilla gugup, saat ini ia dilanda kebingungan yang sangat amat teramat dalam. Ada apa dengan papahnya?"


"Jangan gugup gitu dong hahahaha," ucap papah Qilla tertawa lepas melihat sang anak terlihat gugup.


"IHHH PAPAHHH" teriak Qilla kesal, padahal ia sudah mengira yang tidak-tidak.


"Iya iya, maafkan papah. Mukamu lucu sekali hahahaha,"


"Haduh papah tidak bisa berhenti tertawa melihat mukamu itu," ucap papah Qilla terus saja tertawa, membuat Qilla tambah kesal.


"Pokoknya Qilla gak mau tau, nanti Qilla aduin sama mamah. TITIK." Ucap Qilla penuh intimidasi, tidak ada bantahan. Jika sedang bersikap seperti ini, ia terihat mirip sekali dengan sang papah. Pantas saja, kolega papahnya sering menyebut dirinya Aaron junior. Sifat intimidasinya itu sangat mirip dengan papahnya.


"Baiklah baiklah, ada 2 hal yang mau papah sampaikan ke kamu," ucap papah Qilla dengan mode serius.


"Okay, what's that?" ucap Qilla kembali menatap sang papah.


"Kamu papah percayakan untuk memegang perusahaan papah yang ada di Jakarta," ucap papah Qilla tersenyum bangga.



"WHATT!? BIG NO," *ucap Qilla menolak tanpa berpikir panjang, pasalnya ia juga memiliki sebuah perusahaan. Masa ia harus mengurus 2 perusahaan secara bersamaan, mungkin lama-kelamaan ia bisa gila.



"No darling, itu adalah perintah," ucap papah Qilla mengeluarkan smirknya. Ia tahu Qilla mampu melakukan itu semua, secara anaknya itu memiliki IQ diatas rata-rata. Tentu saja itu adalah hal yang mudah baginya. Satu hal yang belum papah Qilla ketahui adalah Qilla juga memiliki perusahaan sendiri dan saat ini perusahaannya menduduki peringkat no 1 di dunia. Banyak hal yang perlu Qilla urus untuk perkembangan perusahaanya itu, bila harus mengurus 2 perusahaan sekaligus maka ia harus kerja 3x lipat extra dan hal itu sangat melelahkan.


"With one condition," ucap Qilla tidak mau kalah, berusaha mempertahankan argumennya.


"What do you want me to do?" tanya papah Qilla basa-basi, sebenarnya ia sudah tahu hal apa yang diinginkan oleh sang anak.


"Papah pasti tau apa yang Qilla mau, right?" ucap Qilla tanpa basa-basi.


"Okay, papah setuju," ucap papah Qilla menyetujui keinginan anaknya.


"Deal," ucap Qilla tersenyum riang, akhirnya apa yang ia inginkan tercapai.


Sebelum Qilla melangkahkan kakinya keluar, papah Qilla mengucapkan sesuatu hal yang membuat Qilla berhenti melangkah. "Dan satu lagi, besok kamu mulai sekolah.  Papah sudah mempersiapkan semua kebutuhan sekolah kamu."


"Alright, it's not a big deal," ucap Qilla tersenyum tipis kemudian melangkah ringan keluar dari ruangan tersebut.


- 1114 Words -