
Rainy berlalu pergi begitu saja setelah membuat Aksa terdiam oleh kata-katanya. Tapi, Aksa kembali menyusul sesaat setelah tersadar kalau Rainy sudah jauh bahkan hampir tiba di depan perpustakaan.
Aksa baru sampai saat Rainy sedang bicara dengan penjaga perpustakaan, kemudian melirik Aksa dan, “Ayo, buruan kita taruh ini. Bentar lagi mau di kunci perpusnya.”
Aksa mengangguk. Setelah itu mereka berkeliling untuk mencari tahu tempat buku ini tadi di ambil. Ternyata ada di ujung, bagian kelas sebelas IPS.
Rainy terdiam di tempatnya, belum meletakkan lima belas buku yang dia bawa, malah Aksa sudah meletakkan semua buku itu di rak yang paling atas. Aksa menatap Rainy dengan bingung.
“Kenapa lo? Kok diem aja, nggak naruh bukunya?” tanya Aksa.
Bukannya menjawab Rainy malah, “Mana tangan lo?”
Aksa mengangkat kedua tangannya di hadapan Rainy dengan bingung. Kemudian terkejut saat merasakan beban menimpa tangannya.
“Ngapain lo ngasih bukunya ke gue?”
“Lo peka dikit dong. Gue mana bisa naruh buku kalo tempatnya di rak paling atas!” kata Rainy sambil memalingkan wajahnya yang memerah.
Aksa tersadar kemudian tersenyum meledak. “Makanya tumbuh tuh ke atas bukan ke samping.”
“Udah deh, nggak usah banyak bacot. Buruan, gue mau pulang.” Rainy melirik Aksa sinis.
Setelah meletakkan buku-buku itu, Aksa segera mencomot bibir Rainy hingga gadis itu memekik.
“Mulut lo kasar banget sih!”
Rainy berdecak tak mempedulikan Aksa, hendak pergi tapi Aksa menahan tubuhnya menggunakan kedua tangan.
Rainy terpojok, sementara Aksa semakin mendekat. Rainy ingin mundur, tapi tidak bisa karena di belakangnya ada rak yang menjulang tinggi. Seketika, terdengar alarm bahaya di kepala Rainy, matanya menatap Aksa tajam.
“Minggir, Aksa!”
“Nggak mau!”
“Nanti guru liat terus salah paham. Minggir nggak?!” Rainy mulai panik, karena Aksa semakin mendekat hingga embusan napas lelaki itu menerpa kepala Rainy.
“Lo masih marah sama gue?” tanya Aksa.
“Nggak! Buruan minggir!” Rainy mencoba mendorong Aksa, tapi Aksa hanya bergeming sembari matanya menatap Rainy dengan intens.
“Gue bakalan minggir kalau lo udah maafin gue.”
Rainy berdecak kesal karena Aksa yang … sebenarnya kenapa sih? Kesambet setan atau demit sampai bertingkah seperti ini.
“Iya. Udah gue maafin, gue korban dan lo juga korban. Puas?! Buruan minggir Aksa!”
Baru Akaa tersenyum puas. “Oke. Gue minggir.” Aksa melepaskan kedua tangannya, hingga Rainy bisa bernapas dengan lega karena perasaan takut kepergok— meskipun tidak berbuat aneh-aneh itu telah hilang.
Rainy dan Aksa buru-buru keluar setelah mendengar penjaga perpustakaan mengatakan akan menutup pintunya sebentar lagi.
Sekarang sudah sore, jam pulang sudah sejak setengah jam yang lalu. Tapi Rainy dan Aksa baru mau keluar dari gerbang setelah mengantar buku.
“Lo pulang bareng gue,” kata Aksa tiba-tiba.
Rainy menoleh sekilas kemudian menggeleng. Menolak tawaran Aksa. “Gue naik ojol aja.”
“Udah sore ini. Kelamaan nunggu ojol. Nanti lo sendirian di depan gerbang. Kalau ada yang nyulik lo gimana?”
Aksa menakuti Rainy, tapi tidak mungkin membuat Rainy takut karena ucapan itu. “Nggak bakal.”
“Meskipun nggak bakal di culik, tapi sekolah ini banyak penunggunya. Banyak cerita-cerita horor yang gue denger. Entar lo ketemu salah satu setan di sini waktu nunggu ojol gimana?”
“Tinggal gue gebuk pake tas, terus gue kabur.” Rainy berucap dengan wajah datar.
Aksa terus mengejar, ia tetap kukuh ingin Rainy ikut pulang bersamanya.
“Ini udah sore, susah nyari ojeknya. Ikut gue aja lah, tuh lo liat langitnya mendung. Pasti bentar lagi ujan.” Aksa menunjuk ke atas langit.
Baru saja Aksa berkata begitu, tiba-tiba terdengar suara geledek yang membuat Rainy tersentak dan Aksa menelan salivanya dengan susah payah. Disusul dengan hujan yang turun dengan deras, membuat keduanya lari terbirit-birit untuk mencari tempat berteduh.
“Mulut lo, Aksa!” ucap Rainy geram, matanya memandang nanar ke arah depan. Mereka masih di koridor. Hendak menuju gerbang depan tapi sayangnya hujan turun dengan deras membuat langkah mereka terhenti.
“Padahal gue cuma asal ngomong.” Aksa menggaruk belakang kepalanya.
Mereka hanya bisa terduduk di bangku kayu panjang yang ada di sana. Rainy tebak, hujannya tidak akan cepat berhenti karena sudah sederas ini. Apalagi cuacanya tadi memang sudah sangat mendung.
“Terus gimana caranya gue pesen ojol?” gumam Rainy lirih tapi masih bisa di dengar oleh Aksa.
Laki-laki itu tersenyum miring. “Udah gue bilang, pulangnya bareng gue aja. Lo sih ngeyel.”
Rainy menggeleng. “Pasti bentar lagi juga reda,” ucap Rainy dengan … tidak yakin.
Bagaimana mau reda? Hujannya benar-benar deras disertai geledek yang sedikit membuat Rainy takut. Apalagi suasana di sekolah ini sudah sepi, hanya tersisa guru dan beberapa murid yang mungkin menunggu jemputan.
Dan benar saja dugaan Rainy, hampir satu jam mereka duduk di sana menunggu hujan reda tapi tak kunjung reda. Bahkan Aksa sudah hampir tertidur jika saja kepalanya tidak didorong Rainy karena menyender di pundak gadis itu. Sementara Rainy sedikit kedinginan.
Dan yang paling sial adalah sinyal di ponselnya hilang.
“Udah gue bilang, pulang bareng gue aja. Kenapa sih se-nggak mau itu lo pulang bareng gue? Takut nyaman ya sama punggung gue yang lebar dan bisa memberikan kehangatan?” celetuk Aksa membuat Rainy berdecak keras.
“Ngaco lo kalo ngomong.”
“Ya makanya pulang bareng gue. Nanti kalo gue ninggalin lo di sini, terus Tante Risa nanyain lo ke gue, mau gue jawab apa? Masa gue jawab 'Rainy saya tinggalin, Tante. Dia masih di sekolah nungguin ojol.' Nanti dikira gue bukan cowok karena tega ninggalin tetangga gue sendiri di sekolah. Apalagi tadi pagi berangkatnya bareng gue. Kan sia-sia juga helm gue satunya. Eh, tapi itu punya Mama Clarissa helmnya.” Aksa terus berceloteh.
Rainy termenung selama beberapa saat baru setelah itu mengiyakan ajakan Aksa. Membuat Aksa langsung membuka matanya lebar-lebar.
Karena hujan tak mau berhenti, jadinya Rainy mengusulkan untuk lanjut saja. Mereka menembus hujan meski Aksa sedikit banyak khawatir pada Rainy. Tapi, dari pada tetap di sekolah sampai malam, Rainy lebih memilih hujan-hujanan asal sampai rumah sebelum malam dari pada menunggu hujan berhenti yang entah kapan akan berhenti.
Ini pertama kalinya Rainy hujan-hujanan di atas motor. Apalagi yang menjadi supir adalah Aksa. Tangannya memegang baju sekolah Aksa di bagian pinggang untuk pegangan, sementara tas Rainy letakkan di tengah-tengah.
Sepuluh menit perjalanan akhirnya mereka sampai. Tante Risa yang menunggu di luar terkejut melihat dia remaja itu basah kuyup.
“Ya ampun, Rainy, Aksa, ini kalian nekat pulang? Kenapa nggak nunggu hujan berhenti?” tanya Tante khawatir.
Rainy segera menyuruh Aksa untuk pulang dan lekas mandi. Rainy tidak mau jika Aksa sakit setelah pulang bersamanya.
Sementara Rainy sendiri sudah masuk ke dalam rumah setelah Tante Risa membawakan handuk. Tubuhnya sedikit menggigil dan membuat Tante khawatir.
“Aku nggak papa, Tan. Aku orangnya nggak gampang sakit cuma karena hujan-hujanan bentar. Aku mandi dulu, ya.”
Tante mengangguk. “Tante siapin makan malam dulu. Kamu juga mandinya pakai air hangat, biar nggak menggigil lagi.”
***
Meskipun sudah mandi menggunakan air hangat, nyatanya belum cukup membuat tubuh Rainy berhenti untuk menggigil. Mungkin ini pertama kalinya Rainy hujan-hujanan sambil naik motor, yang mana tubuhnya juga terkena angin karena Aksa membawa motor cukup ngebut.
Jadi, ketika Rainy keluar dari kamar. Rainy menggunakan jaket paling tebal yang dimilikinya. Dan ternyata cukup membantu menghangatkan tubuh Rainy.
Tapi, Tante masih sedikit khawatir.
“Beneran kamu nggak papa, Ai? Itu kamu sampai pake jaket tebel gitu. Pasti masih kedinginan kan?” tanya Tante Risa setelah melihat Rainy di dapur.
“Beneran, nggak papa. Aku emang agak kedinginan, tapi udah anget kok sekarang. Tante nggak usah khawatir, aku jamin aku nggak bakalan sakit karena hujan-hujanan,” ucap Rainy mencoba menenangkan Tante Risa.
Tante Risa bisa apa selain percaya pada Rainy? Gadis itu cukup keras kepala, macam Papanya yang bukan hanya keras kepala tapi egois juga. Tante Risa sampai membuatkan teh hangat supaya Rainy merasa lebih hangat.
Setelah makan malam dan menghabiskan teh buatan Tante Risa, Rainy pamit untuk masuk ke kamar. Tante menyuruh Rainy untuk cepat beristirahat supaya daya tahan tubuh Rainy tetap terjaga. Tante tidak mau sampai Rainy down karena akan menimbulkan masalah bagi Rainy. Dari Papanya tentu saja.
Rainy masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Rainy mengambil ponselnya yang sedang diisi daya, kemudian mencabut charger ketika melihat ponselnya sudah terisi penuh.
Ketika menyalakan data, Rainy melihat ada notifikasi pesan dari kontak yang tidak dikenal.
+6281XXXX
Lo udah mandi kan?
Nggak kedinginan?
Nggak sakit kan?
Kalau habis mandi langsung pakai jaket, jangan pake baju pendek.
Lama banget balesnya, lagi ngapain sih?
Keknya gue mau sakit deh gara-gara tadi.
Kepala gue pusing, karena kepikiran lo terus, jantung gue berdebar-debar gitu entah kenapa.
Atau gue kena serangan jantung lagi. Gimana dong?
Oh ya, jangan lupa save no gue. Kasih nama Aksa ganteng, gitu.
Rainy menahan tawa ketika membaca rentetan pesan yang pasti di kirim oleh Aksa. Gadis itu menurut ketika Aksa memintanya untuk menyimpan nomor laki-laki itu.
Tak aneh-aneh, sesuai namanya 'Aksara' Rainy memberi nama kontak itu.
Kemudian jarinya bergerak untuk membalas pesan yang dikirim Aksa sekitar setengah jam yang lalu dengan satu kalimat yang tidak terlalu panjang.
^^^Rainy Shakaela^^^
^^^Gue udah mandi, nggak kedinginan karena udah pake jaket paling tebel yang gue punya.^^^
Belum satu menit terkirim, Rainy melihat Aksa sedang mengetik membuatnya geleng-geleng sambil menahan senyum.
Aksara Arkatama Diraya
Gue udah ngetik panjang-panjang tapi cuma lo bales segitu.
Sakit hati gue, Rai. Eh, Hujan maksudnya.
Rainy menggeleng membaca pesan terbaru dari Aksa. Jarinya kembali mengetik balasan untuk Aksa.
^^^Rainy Shakaela^^^
^^^Terus gue harus bales chat lo gimana? Masa gini:^^^
^^^Gue udah mandi. ^^^
^^^Masih kedinginan dikit tapi sekarang udah lebih anget.^^^
^^^Gue nggak sakit.^^^
^^^Gue udah pake jaket sebelum lo saranin.^^^
^^^Lagi rebahan habis makan.^^^
^^^Kalau lo sakit tinggal minum obat. Kalau obatnya nggak ada silakan ke apotek.^^^
^^^Kepala lo pusing berarti lo lagi sakit kepala.^^^
^^^Kalau lo kena serangan jantung minta Mama Clarissa anterin lo ke UGD.^^^
^^^No HP lo udah gue save.^^^
^^^Gitu? Sepanjang itu? Apa masih perlu gue tambahin.^^^
Lagi-lagi Rainy menggeleng setelah membaca ketikannya yang ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama. Sementara Aksa tertawa membaca pesan dari Rainy.
Aksara Arkatama Diraya
Nggak. Nggak perlu, itu udah cukup.
Keknya gue udah sembuh, nggak perlu minum obat apalagi ke UGD.
Karena gue udah nemuin obat yang paling manjur tanpa harus gue minum.