
Begitu sampai kelas, lengan Rainy ditarik oleh Vania. Dan jika Vania tidak menarik Rainy, maka Rainy tidak akan berakhir di kantin yang cukup ramai karena sedang jam istirahat pertama. Saking ramainya, mereka hanya kebagian meja yang letaknya di pojok, padahal beli berbunyi belum lama.
Selain Vania, ada satu orang cewek yang tidak Rainy kenal namanya. Menyadari tatapan Rainy, gadis itu lantas mengulurkan tangannya dengan cengiran yang cukup manis.
“Kita belum kenalan kan? Gue Alika, temen Vania dari kelas sepuluh dan temen sekelas lo juga.”
Rainy menyambut dengan senyum tipis. “Gue Rainy,” ucapnya.
“Ah, hujan.”
“Apa?” Rainy kira Alika mengartikan namanya, tapi gadis itu malah menunjuk ke arah luar yang ternyata memang sedang hujan.
“Itu, lagi hujan. Tapi lo juga Hujan, ya? Hujan dalam bahasa Inggris, Rainy … ” gadis itu tergelak dengan ucapannya sendiri, sementara Rainy hanya meringis.
“Maklumin aja, Alika itu nggak jauh-jauh dari ASG alias Agak-Sedikit-Gila,” sahut Vania yang tertawa.
“Gue masih waras, Van,” balas Alika dengan ketus.
Rainy tersenyum tipis mendengar celotehan mereka berdua, hanya sayangnya Rainy tidak bisa membalas celotehan yang sama konyolnya karena Rainy tidak tahu caranya.
“Jadi, kita mau pesen apa nih? Masa udah sampe kantin nggak mesen apa-apa?” tanya Vania mengalihkan pembicaraan.
“Gue ikut lo,” kata Rainy yang tidak begitu tahu menu-menu yang ada di kantin ini.
“Gue juga kayak biasa, Van,” sahut Alika.
Vania mendelik ke arah Alika, bukannya segera pergi Vania malah menarik lengan Alika supaya mau ikut dengannya.
“Kayak biasanya juga lo ngambil sendiri. Gue bukan babu lo, ya!” kata Vania.
“Sekali-kali, Van. Nanti kalau gue pergi siapa yang jagain Rainy? Kan dia belum punya temen selain kita,” ujar Alika.
Vania menggelengkan kepalanya. “Rainy bukan anak SD, meskipun nggak ada yang di kenal, dia juga nggak bakalan lari-lari keliling kantin sambil loncat-loncat dan perlu banget kita jagain. Ya kan, Rai?”
Vania menatap Rainy, yang dibalas anggukan kepala dari Rainy membuat Alika terpaksa ikut memesan makanan. Tinggalah Rainy sendiri, gadis itu kembali memasang earphonenya ketika merasa sedikit jenuh.
Tapi, tak lama setelah itu, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang. Rainy menoleh dan mendapati Aksa bersama rombongannya yang juga tidak Rainy kenal kecuali si ketua kelas.
Rainy melepas earphonenya demi bisa mendengar apa yang Aksa ucapkan.
“Pantesan di panggil nggak nyaut, ternyata masih musikan,” dengus Aksa.
“Kenapa?”
“Kita boleh gabung nggak? Meja lain penuh, tapi gue sama yang lain laper.”
Aksa berkata sambil menunjuk ke arah penjuru kantin yang memang penuh. Beruntungnya Rainy dan dua temannya juga mendapatkan meja meskipun itu yang terakhir.
Rainy mengangguk. “Boleh, duduk aja.”
“Btw lo sendiri?” tanya Aksa begitu mereka semua alias berempat duduk di kursi.
“Nggak.”
“Terus sama siapa?” tanya Aksa lagi.
“Temen.”
“Namanya siapa?”
Rainy berdecak, “Ck! Banyak tanya lo,” katanya sedikit kesal.
“Anjir, banyak tanya lo, Aksa,” ujar Bagas tergelak.
“Diem lo, Bagasi!” Aksa melotot ke arah Bagas, yang lain ikut tergelak.
“Oh ya, kita belum kenalan kan?” tanya salah satu cowok yang Rainy ingat dia adalah ketua kelas mereka.
“Lo Ardi,” ucap Rainy membuat tiga yang lainnya tertawa.
“Maksudnya, sama gue udah tapi sama yang lain belum.” Ardi menggaruk tengkuknya.
Percakapan itu dimulai ketika para anak cowok sudah memesan makanan. Tinggal menunggu siap untuk diantar lalu makan.
Rainy hanya mengangguk. Hingga membuat mereka yang ada di sana sedikit bingung. Rainy apakah memang se-pendiam ini? Ketika tiga pasang mata menatap penuh keheranan pada Aksa, tapi cowok itu malah mengedikkan bahunya.
“Biar gue yang kenalin. Gue Aksa cowok paling ganteng, yang jadi ketua si Ardiyan, Noh yang katanya rindu itu berat namanya Dylan … ”
“Itu Dylan Iqbal Ramadhan, kalo gue Dylan rindu itu beban,” celetuk cowok yang namanya Dylan.
Rainy tergelak, sementara Bagas sudah tertawa. Padahal tidak terlalu lucu, tapi itu bagi Rainy. Mungkin selera humor mereka sangat jauh berbeda.
“Nah, habis Dylan, ada Bagas. Alias Barang Bekas Habis Pakai,” kata Aksa dengan telunjuk mengarah pada wajah Bagas yang ada di hadapannya.
“Anjrit, gue masih ori, baru dan kinclong. Barang bekas pala lo,” Bagas menyahut dengan tatapan kesal, padahal beberapa detik lalu masih tertawa dan sekarang langsung ganti ekspresi.
“Pantat panci maksudnya?” tanya Dylan dengan nada mengejek.
“Bukan, tapi pantat lo!”
Rainy tergelak lagi. Mereka ternyata se-random itu dan terlihat lucu dimata Rainy.
Tak berselang lama, Vania dan Alika datang dengan nampan di tangan mereka. Keduanya kompak melebarkan bola mata ketika melihat meja yang tadinya hanya ada Rainy sekarang jadi bertambah menjadi lima orang.
“Woi! Lo cowok-cowok ngapain pada disini sih? Pindah sono! Ini khususon cewek,” kata Vania setelah nampan berisi dua mangkok seblak di letakkan di atas meja.
“Penuh semua, Van. Kita gabung di sini aja lah, sekali-kali. Rainy juga ngebolehin, masa lo yang udah kenal lama sama kita nggak boleh?”
Vania mendelik ke arah Ardi yang membuatnya mau tidak mau dan pasrah menganggukkan kepala.
“Seblaknya level berapa, Van?” tanya Rainy ketika melihat mangkuk di hadapannya.
“Level dua. Gue nggak kuat kepedesan,” jawab Vania.
“Ya nggak kuat lah, orang mulut lo aja udah pedes,” sahut Bagas.
Niatnya bercanda, tapi Vania yang dikatai merasa tersinggung. Hingga akhirnya punggung Bagas jadi korban geplakan lima jari dari Vania dan ternyata cukup perih di kulit kinclong Bagas.
“Anjir, lebih pedes dari level lima,” katanya, keceplosan.
“Mau gue gebuk lagi? Hah?!” Vania mengancam dengan tangan yang sudah siap untuk menggaplok punggung Bagas lagi. Tapi Bagas segera menggeleng dan minta maaf sambil mengusap punggungnya dengan sedikit susah karena sulit dijangkau dengan tangannya.
“Atau bagi lo itu udah kepedesan?” tanya Vania panik, Bagas tak lagi dipedulikan ketika ingat pertanyaan Rainy tadi.
“Nggak kok. Malah kurang pedes.” kata Rainy.
“Keknya lambung lo sekuat baja, ya. Atau lidah lo konslet dan ngerasa tuh sambel rasanya manis?” tanya Dylan tak percaya.
“Emang kenapa?”
Dylan berdecak, “Pake nanya lagi. Itu sambelnya emang nggak kebanyakan? Itu cabe lho, bukan stroberi yang rasanya manis. Emang lo nggak sakit perut makan pedes-pedes kayak gitu?”
“Nggak. Malah enak,” kata Rainy, membuat semua yang ada di meja itu bergidik ngeri.
“Buset! Ngalahin si Vania,” Bagas menggelengkan kepalanya.
“Apa sih Bagas?” Vania kesal juga ketika namanya disebut-sebut oleh mulut lemes Bagas.
“Nggak apa-apa, cuma ngomong aja kok gue.”
Sementara Aksa masih terpaku melihat mangkuk seblak milik Rainy yang berwarna merah tua, seketika perutnya terasa mulas padahal bukan dia yang akan makan.
“Lo ganti aja deh, ngeri gue liatnya,” ucap Aksa yang takut Rainy sakit perut, padahal dia sudah sakit perut duluan.
“Buat apa di ganti? Ini enak kok, walaupun pedes tapi nggak bakal bikin gue pingsan,” Rainy berkata dengan enteng.
“Gue aja yang cuma liat kuahnya udah kerasa mules, apalagi lo yang makan.” Aksa meringis.
“Ya udah, nggak usah di liatin,” sahut Rainy santai.
Bener sih, tapi ya salah juga. Tapi Aksa tidak berkomentar lagi karena setelah itu pesanan mereka sampai. Karena perut lapar, mereka makan dengan lahap meski kadang masih ngeri ketika melihat Rainy makan seblak yang pedas itu.
Rainy merasa hari keduanya di sekolah ini cukup baik. Dia mendapatkan banyak teman baru, meskipun itu cuma enam orang. Tapi Rainy sangat bersyukur, mereka mau berteman dengan dirinya.
Berbeda dengan sekolahnya di Jakarta Selatan sana, semua orang seolah menganggap Rainy tidak ada, tembus pandang bahkan Rainy merasa hanya menjadi pajangan yang tidak menarik untuk di lirik.
Se-menyedihkan itu ternyata, hidup sebagai Rainy di tengah orang-orang yang menganggapnya tidak ada. Kehadirannya hanya menjadi benalu dan sebuah alat yang jika tidak dimanfaatkan akan sangat rugi bagi pemiliknya.
Mungkin, keputusannya pergi ke sini sudah benar, setidaknya itu bagi Rainy.
***
Rainy memandang ponselnya dengan pandangan nelangsa, chat dari Tantenya baru Rainy buka ketika ia sudah ada di depan rumah. Chat itu berisi,
Tante Risa
Rainy, Cantik. Maafin Tante ya, Tante masih ada urusan di luar dan pulangnya nanti malam. Tadi Tante lupa buat naruh kunci rumah. Jadi, kuncinya Tante bawa.
Jadi, kalau Rainy sudah pulang sekolah, Rainy pergi ke rumah Tante Clarissa dulu, ya. Tunggu sampai Tante pulang.
Tadi Tante udah chat Tante Clarissa, katanya di rumah ada Aksa yang bakal temenin kamu. Maafin Tante, ya:(
Rainy mendesah pasrah, setelah menjawab pesan Tantenya dan mengatakan tidak apa-apa, Rainy sekarang di buat bingung dengan apa yang akan ia lakukan sekarang. Melihat ke arah rumah Aksa, pintunya masih tertutup. Motor Aksa tidak ada, bahkan motor milik ibunya Aksa pun tidak ada.
“Haish … ”
“Ngapa lo menghela napas berat gitu?”
Suara itu membuat Rainy terlonjak kaget, sampai terasa jantungnya berdebar kencang.
“Ngagetin lo, Aksa. Kok nggak ada suara motor sih? Tau-tau udah di belakang gue aja,” dengus Rainy sambil mengusap dadanya.
“Gue baru sampe. Sengaja matiin mesin dari jauh makanya lo nggak denger.” Rainy manggut-manggut mengerti, kemudian tatapannya kembali beralih pada ponselnya dengan pandangan … bingung.
“Lo kenapa sih? Ada yang hilang? Ketinggalan di sekolah?”
Rainy menggeleng lalu memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Tante Risa. Seketika, Aksa tertawa dan membuat Rainy merasa kesal.
“Malah ketawa lo, gue nggak bisa masuk nih!”
“Ya udah ke rumah gue aja. Lagian lo juga udah di titipin sama nyokap gue kan? Di suruh nunggu sampai Tante Risa balik,” ucap Aksa di tengah-tengah tawanya.
Padahal tidak ada yang lucu, tapi Rainy tidak tahu kenapa Aksa malah tertawa.
“Nggak lah,” Rainy menggeleng.
“Terus lo mau duduk di depan sini sampai malem? Nggak mungkin lah, bisa-bisa lo habis sama nyamuk kalau duduk di luar. ”
Rainy belum mengiyakan, belum juga menolak. Aksa berdecak lantas kembali mengajak Rainy untuk ke rumahnya. Aksa juga tidak akan setega itu membiarkan Rainy menunggu di luar sampai malam.
“Gue ke minimarket dulu, mau beli sesuatu. Nanti gue ke rumah lo.”
Aksa mengangguk. “Mau gue anterin?” tawarnya.
Rainy menggeleng, “Minimarket nggak jauh, jalan kaki nggak sampai lima menit.”
Aksa tidak bisa memaksa, “Jangan lama-lama, ini udah agak sore. Kalau nggak, siniin tas lo buat jaminan kalau setelah ini lo bakal ke rumah gue.”
Rainy memutar bola matanya. Setelah memberikan tas sekolahnya pada Aksa, Rainy segera pergi ke minimarket yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Selang lima belas menit, Rainy benar-benar sudah sampai di depan rumah Aksa.
Pintu itu terbuka lebar, membuat Rainy akhirnya masuk setelah mengucap salam. Tak ada Aksa di sana, jadi Rainy menunggu dengan duduk di sofa ruang tamu. Karena ini bukan rumahnya atau rumah Tantenya, Rainy tidak bisa bersikap seenaknya dan melupakan sopan santun.
Aksa keluar dari kamarnya setelah beberapa menit Rainy menunggu, laki-laki itu sudah berganti baju dan rambutnya masih terlihat basah. Ketika melihat Rainy sudah datang, Aksa ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan Rainy.
“Gue kira lo nggak bakalan ke sini,” kata Aksa membuat Rainy mendengus.
“Lo dari beli apa sih? Kok mendadak pengen ke minimarket?” tanya Aksa melirik plastik hitam di atas meja.
Aksa melihat isinya, kemudian tersenyum masam dan menggeleng. “Lo laper? Terus pengen masak di rumah gue?”
Rainy mengangguk sebagai jawaban. “Gue boleh pinjem kompor sama alat masak Tante Clarissa kan? Nanti gue cuci kok.”
“Padahal di belakang ada masakan tinggal hap, nggak perlu masak dulu baru makan.” Aksa tidak menjawab pertanyaan Rainy.
“Gue lagi pengen mie. Atau gue nggak boleh pinjem kompor lo?”
Ada nada sinis dalam ucapan Rainy, Aksa menggeleng kuat-kuat. Bukan begitu maksudnya. Tapi, “Boleh, serah lo mau ngapain di dapur.”
“Oke.”
Tak menunggu lebih lama, Rainy segera beranjak menuju dapur. Dia mulai menyalakan api setelah meletakkan panci berisi air. Tangannya dengan lihai mengiris bawang dan cabai untuk tambahan, tentu setelah meminta izin dengan pemilik rumah.
Sementara Aksa, sedang duduk di meja makan untuk melihat Rainy yang sibuk mengiris ini dan itu. Kemudian mengeluarkan belanjaannya yang berupa dua bungkus mie instan dan dua butir telur serta sosis.
Tiba-tiba Aksa berdiri dan pergi untuk mengambil sesuatu di dalam kulkas yang ternyata … satu butir telur ayam. Lalu Aksa memberikannya pada Rainy.
“Buat tambahan, telur dua itu kurang,” kata Aksa ketika Rainy bertanya untuk apa telur itu.
Kemudian Aksa pergi lagi dan ternyata mengambil sawi dari dalam kulkas. Lalu memberikannya pada Rainy dan mengatakan, “Di kasih sayur tambah enak, tambah banyak juga. Plus tambah sehat dan biar makin kenyang.”