Rainy

Rainy
Bab 27



Foto Aksa dan Rainy di instagram sekolah mendapat ratusan like hanya dalam waktu dua jam saja. Bagas berseru dengan heboh setelah melihat bagaimana pose yang Aksa dan Rainy lakukan.


“Ku sebut dia gagah dan bergairah,” celetuk Bagas masih sambil menatap foto di ponselnya itu.


“Bergairah anjir,” Dylan menahan tawanya.


Aksa menatap kesal pada dua temannya itu, lalu melirik Rainy yang juga sama seperti dirinya. Keduanya tak menyangka kalau foto itu akan di posting di instagram sekolah.


Ardi memukul lengan Aksa yang berada di atas meja, membuat Aksa menoleh sambil mengangkat dagu. Ekspresinya seolah bertanya, 'apa?'


“Jawab pertanyaan gue!”


“Yang mana?” Aksa lupa, mungkin karena terlalu sibuk mengamati reaksi temannya yang lain.


“Kapan kalian fotonya?”


“Oh, itu beberapa hari yang lalu, gue lupa hari apa,” kata Aksa, padahal sebenarnya dia masih ingat. Ketika Rainy sakit di hari senin.


“Tapi lo berdua keliatan cocok banget anjay! Udah deh, mendingan kalian jadi pacar beneran. Kan tiap hari juga berangkat bareng, tetanggaan pula!” celetuk Alika.


Rainy hampir tersedak lagi jika saja ia tengah menelan makanan. Gadis itu menatap Alika dengan tatapan horor. Sementara Aksa mendengus tapi tatapan terus tertuju pada Rainy.


“Bener! Tapi kecepatan nggak sih? Kan mereka baru ketemu beberapa minggu, masa udah pacaran aja?” timpal Dylan.


“Kalo cinta nggak mandang berapa lama udah ketemu. Lagian Aksa sama Rainy pernah jadi temen masa kecil kok! Jadi nggak aneh, ya nggak, Rai?” Vania menatap Rainy dengan tatapan menggoda.


Tapi gadis itu tetap serius dengan makanan yang sudah hampir habis. Seolah tak mendengar apa yang teman-temannya bicarakan.


“Gue dukung lo kalo mau nembak Mbak Hujan, gue bantu deh!” kata Bagas sambil menepuk bahu Aksa beberapa kali.


Aksa menepis tangan Bagas, tak lama Aksa terkesiap saat tiba-tiba Rainy berdiri dari duduknya.


“Gue ke toilet dulu,” kata Rainy.


Ketika Rainy pergi, Aksa rasanya ingin menyusul, tapi karena tak ingin dijadikan bulan-bulanan teman-temannya lagi Aksa memilih tetap di tempatnya, tapi …


“Nggak mau nyusul, Sa?” Bagas mengangkat kedua alisnya menggoda Aksa.


***


Rainy pergi ke toilet karena menghindari teman-temannya, gadis itu masuk ke bilik toilet lalu menutupnya. Setelah itu ia mengangkat wajah dan menghela napas kasar.


Rainy mengangkat tangannya untuk mengipas-ngipasi wajahnya yang terasa panas, entah sejak kapan tapi Rainy merasa wajahnya sudah memerah sekarang.


“Aahh! Gue kenapa sih?” gerutu Rainy.


Mendengar ledekan teman-temannya membuat Rainy teringat dengan kedekatannya dengan Aksa akhir-akhir ini. Yang mana malah membuat jantung Rainy berpacu dengan cepat.


Sekarang, tangan Rainy berpindah untuk meraba dadanya untuk merasakan detak jantungnya itu. Berdebar kencang sekali, baru kali ini Rainy merasakan perasaan seperti ini.


“Gue kenapa, ya? Masa iya gue suka sama Aksa?” tanya Rainy entah pada siapa, karena jawaban pun tak akan dia dapatkan di sana.


Setelah beberapa saat, Rainy memilih keluar dari bilik toilet, hendak melangkah keluar, tapi Rainy mendengar suara seseorang dan menyebut namanya dalam pembicaraan orang itu.


“Kok bisa sih Rainy foto semesra itu sama Aksa tanpa gue tau? Lo juga Win! Nggak ngasih tau gue sama sekali!”


“Gue juga nggak tau, Wid! Kapan mereka foto, tiba-tiba aja udah di posting di IG sekolah.”


Rainy melihat dua orang yang ternyata adalah Wina dan Widya, keduanya tengah bercermin untuk memperbaiki riasan yang luntur.


Tak ingin bertemu keduanya membuat Rainy mencoba untuk pergi diam-diam tanpa menimbulkan suara, tapi cermin yang besar tetap menampilkan refleksi dari dirinya membuat dua cabe itu bisa melihatnya.


“Win! Itu orangnya!”


Rainy merutuk dalam hati, ia tak ingin berhenti melangkah tapi keburu lengannya di cekal kuat oleh Wina, teman sekaligus anak buah Widya.


“Lepasin!” Rainy mencoba menarik tangannya tapi gagal.


“Nggak! Mumpung lo di sini, bisa kalik kita ngobrol bentar.” Widya menyeringai tapi tak membuat Rainy takut.


“Ya udah, mau ngomong apa? Tapi lepasin dulu tangan gue!”


Setelah Widya melepaskan tangannya, Rainy langsung mundur selangkah. Sementara itu, Widya bersedekap sambil terus menatap Rainy dengan intens.


“Lo sebenarnya ada hubungan apa sama Aksa? Pacaran? Ngaku lo!”


Rainy memutar bola matanya. “Bukan urusan lo!”


“Urusan gue lah! Gue suka sama Aksa, jadi gue mau lo jangan deket-deket sama dia,” kata Widya penuh penekanan.


“Kalo Aksa yang deket sama gue gimana?” Rainy mengangkat satu sudut bibirnya.


Tatapan Widya berubah semakin tajam, ia kembali mencengkram pergelangan Rainy lebih kuat dari sebelumnya.


“Itu karena lo yang gatel!”


Semakin lama, Rainy semakin merasa sakit di pergelangan tangannya. Ketika ia menarik tangannya, Widya semakin mencengkram dengan kuat.


“Lepasin!”


“Lo udah di kasih peringatan tapi nggak di denger. Mau pake kekerasan?”


“Gue bisa laporin kalian ke guru BK.”


Hal yang tidak bisa Rainy hindari adalah perlakuan yang sama meskipun dirinya sudah pindah ke tempat yang baru. Dirinya tidak salah, tapi selalu menjadi objek yang disalahkan, membuat dirinya menjadi tempat pelampiasan. Mereka berbuat tanpa memikirkan apa yang Rainy rasakan.


Beruntung kejadian itu hanya terjadi selama beberapa detik, karena setelah itu tiba-tiba Alika dan Vania datang untuk memisahkan mereka.


“Lepasin temen gue Anjin*!” Vania mendorong Widya dengan keras sampai jambakan itu terlepas.


Rainy terhuyung dan langsung ditangkap oleh Alika. Kepalanya berdenyut, tapi Rainy tetap berusaha untuk bisa berdiri dengan tegak.


“Lo nggak papa?” tanya Alika yang khawatir, Rainy menggeleng dan tersenyum.


Setidaknya, Rainy masih bisa bersyukur karena di tempat yang berbeda, Rainy ada yang membela. Dia tak sendirian menghadapi orang-orang gila yang menyakitinya.


“Gue laporin lo berdua ke guru, biar tau rasa!” ancam Vania yang masih tersulut emosi karena Widya melukai Rainy.


“Dasar cepu! Gitu doang main lapor.” Widya mencibir.


“Kenapa? Lo takut?” Vania menatap Widya tajam.


“Itu urusan gue sama temen lo! Mendingan nggak usah ikut campur.”


Widya pergi dari sana, diikuti oleh Wina yang selalu setia mengekor di belakangnya. Tanpa rasa bersalah, ketika berada di dekat Rainy, Widya menyenggol Rainy dengan cukup keras sampai Rainy terdorong ke samping.


“Woy Anjin*! Bangsattt lo!” Alika memaki dengan penuh amarah.


***


“Pulang bareng gue!”


Itu bukan permintaan, melainkan perintah. Rainy menatap Aksa yang sudah berdiri di depannya sementara Rainy sendiri masih duduk di bangkunya. Anak-anak kelas lainnya sudah pulang semua, tinggal Rainy yang seperti biasa, mengerjakan PR baru dirinya pulang.


Hanya saja Rainy tak menyangka kalau ternyata masih ada Aksa disana. Dan juga menunggunya?


“Lo nggak latihan?” tanya Rainy.


“Nggak. Libur dulu lah, masa satu minggu full latihan? Capek dong!” Aksa terkekeh.


Rainy berdiri dari duduknya dan melangkah pergi, mengabaikan Aksa yang menyusulnya dari belakang. Kini Aksa sudah berada di samping Rainy.


“Bareng gue kan pulangnya?”


“Eum … menurut lo?” Rainy malah bertanya, lucunya Aksa malah mengernyit bingung lalu tak lama kemudian cowok itu tersenyum lebar.


“Ya bareng lah!”


Rainy ikut tersenyum dan mengangguk. Mereka masih berada di koridor sekolah, baru saja menuruni tangga untuk menuju lantai bawah. sekolah sudah agak sepi, hanya menyisakan anak-anak OSIS dan beberapa yang menunggu jemputan.


“Gue penasaran,” kata Aksa.


“Apa?” Rainy menoleh menatap Aksa.


“Tadi waktu Vania sama Alika nyusul lo kenapa muka mereka kusut banget? Lo juga kayak orang habis pingsan, pegangin kepala mulu. Lo sakit? Habis berantem?”


Rainy terdiam, rupanya Aksa menyadari itu. Setelah Widya pergi dari sana, kedua teman Rainy itu hendak pergi melapor. Tapi, Rainy mencegahnya.


Bukan karena tak berdaya atau takut, tapi Rainy hanya tak ingin menambah masalah untuknya dikemudian hari. Beruntung Vania dan Alika mau mengerti Rainy, meski perasaan mereka masih dongkol tapi mereka berusaha bersikap biasa saja.


“Nggak kok! Gue nggak papa. Perasaan lo aja kali,” kilah Rainy.


Sayangnya, Aksa itu orangnya cukup peka. Sebiasa apapun raut wajah Rainy sekarang, Aksa tetap tahu ada yang disembunyikan gadis itu. Tapi Aksa tetap menganggukkan kepalanya karena tak ingin memaksa Rainy bicara.


Sampai di rumah, Rainy bergegas masuk ke dalam kamarnya dan berganti baju. Tante Risa tak ada di rumah, mungkin sedang kencan dengan om Abra. Ketika Rainy keluar dari rumah, malah Rainy bertatapan dengan Aksa yang ternyata sedang mencuci motornya.


“Mau kemana lo?” tanya Aksa sedikit berteriak.


“Ih! Kepo!” jawaban yang membuat Aksa kesal.


“Gue anterin, ya!”


“Nggak usah! Motor lo lagi dicuci gitu. Basah entar gue.”


“Kan bisa di lap.”


Rainy tetap menggeleng, menolak tawaran Aksa. Cowok itu berdecak tapi tak bisa berbuat apa-apa. Tak punya hal untuk memaksa Rainy.


Awalnya Rainy pikir semuanya aman, ia bisa bekerja dengan tenang seperti biasa. Tapi, menjelang waktunya pulang, tiba-tiba Azura datang menghampirinya, dan berkata, “Rainy, tadi ada yang nyariin kamu.”


“Siapa, Kak?” tanya Rainy bingung.


Rainy merasa tak memiliki janji dengan siapapun.


“Nggak tau, tapi dia cowok. Cakep, sih! Hehe.” Azura terkekeh, dan itu menular pada Rainy yang ikut terkekeh meskipun penasaran siapa yang mencarinya.


Setelah membereskan barang-barangnya, Rainy pamit pada Azura dan yang lainnya untuk pulang terlebih dahulu. Ketika ia membuka pintu kafe, Rainy di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah menatapnya tajam.


“Aksa?”