
Rainy masih cukup sadar ketika Aksa memapahnya menuju UKS. Tentunya di bantu dengan Aldo yang juga sama khawatirnya. Rasa pusing di kepalanya membuat Rainy tidak sadar jika mereka sudah sampai di UKS.
Rainy dibaringkan di atas ranjang yang memang disediakan di dalam ruangan itu. Matanya terpejam kala merasakan pusing di kepalanya semakin menjadi, hal itu membuat Rainy tak memperhatikan sekitarnya.
Kedua matanya baru terbuka ketika tak sengaja Rainy mendengar suara pintu terbuka. Tirai di sibak dan Aksa muncul dari sana. Rainy terkejut dan refleks ingin bangkit untuk duduk tapi kembali rasa pusing itu menyerangnya membuat Rainy meringis.
“Tidur aja,” kata Aksa, mendorong pelan bahu Rainy supaya gadis itu kembali telentang.
“Gue tidur?” tanya Rainy yang dibalas anggukan kepala oleh Aksa.
“Kalau masih ngantuk tidur lagi aja. Lo belum bener-bener sembuh,” kata Aksa.
Cowok itu mengulurkan tangannya, menempelkan telapaknya pada dahi Rainy yang baru gadis itu sadari ada byebye fever di sana. Sementara Rainy menatap Aksa yang terlihat sangat khawatir itu.
“Masih panas,” ucap Aksa.
“Kata Bu Dela, lo keliatan kurang tidur. Perut lo juga kosong, di tambah kemaren hujan-hujanan sama gue. Jadi habis lo bangun, Bu Dela nyuruh lo minum obat. Karena perut lo kosong, gue ke kantin beli roti sama air,” tambah Aksa.
Bu Dela adalah petugas kesehatan yang memang di tugaskan oleh sekolah untuk merawat anak-anak yang sakit.
Beliau sudah pergi ketika Aksa akan pergi ke kantin, jadi Aksa buru-buru karena Rainy tidak ada yang menjaga sementara Aldo sudah kembali ke kelasnya karena jam pelajaran selanjutnya akan ada ulangan.
Aksa menyodorkan dia bungkus roti dan satu botol air mineral ke pangkuan Rainy. Gadis itu masih diam bahkan ketika Aksa dengan telaten membuka bungkusan roti dan segel air mineral.
“Gue belum laper,” kata Rainy yang sebenarnya tidak ada nafsu makan.
Aksa mendengus dan tetap memaksa Rainy menerima roti yang sudah dibuka. “Kalau lo mau tambah sakit nggak papa, nggak usah makan sekalian sampai besok juga boleh. Tapi seenggaknya hargain dong gue yang rela lari-lari buat dapetin ini.”
“Kan gue nggak nyuruh lo buat beli roti,” timpal Rainy.
Aksa yang semakin kesal lantas mengambil kembali roti itu. “Kalo lo tetep ngeyel, gue suapin lo. Apa sekalian jejelin aja? Biar satu roti satu kali suap?”
Rainy mendelik tajam mendengarnya. Dia ambil kembali roti itu dan segera memakannya. Meskipun rasanya eneg, dan membuatnya sedikit mual, Rainy tetap mencoba untuk menelannya.
Aksa tersenyum samar melihat Rainy yang mulai menghabiskan roti yang ia beli dengan penuh effort itu. Kemudian Aksa duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
“Lo kenapa bisa sampe gini? Maksud gue, iya gue termasuk ikut andil sama sakit lo ini. Tapi, semalem waktu kita ketemu lo masih keliatan seger. Tapi, tadi Bu Dela bilang lo kurang tidur sama perut lo kosong. Apa dari pagi lo nggak makan? Lo begadang juga?” tanya Aksa.
Rainy terdiam, tak menjawab pertanyaan Aksa. Karena memang benar, Rainy begadang atau terpaksa begadang dan tadi pagi hanya memakan dua lembar roti panggang, yang jelas tidak bisa membuatnya kenyang lebih lama.
Ada alasan yang membuat Rainy seperti itu.
***
Sejak Rainy pulang dengan baju basah kuyup, Rainy langsung pergi mandi. Tapi, ternyata setelah mandi Rainy merasa agak kurang enak badan. Kepalanya sedikit pusing tapi tidak terlalu.
Ketika makan malam bersama Tante Risa, Rainy kembali merasa kepalanya semakin berdenyut tapi tetap Rainy tahan bahkan sampai Tante Risa tidak menyadari kalau wajah Rainy sudah agak pucat.
Niatnya Rainy ingin beristirahat, namun Aksa malah meminta tolong pada Rainy untuk di temani ke minimarket. Dengan agak (sangat) terpaksa, Rainy akhirnya mau.
Beruntung ketika jalan kaki, Rainy memakai hoodie dan membiarkan rambutnya tidak terikat, jadi Aksa tidak akan memperhatikan wajahnya. Di tambah jalanan memang sedikit gelap, jadi semakin membuat wajah pucat Rainy tidak terlalu terlihat.
Begitu berpisah dari Aksa, yang mengantar Rainy sampai depan rumah, tentunya sebagai tanggung jawab laki-laki itu karena telah mengajak Rainy keluar. Rainy masuk ke dalam kamarnya ketika tak mendapati Tante Risa yang menonton TV, mungkin Tante Risa sudah masuk ke dalam kamarnya.
Rainy hendak merebahkan tubuhnya ketika ia mendengar notifikasi dari ponselnya yang masih ia pegang. Dari layar pop up-nya Rainy sudah bisa melihat siapa yang mengirimkan pesan, dan seketika membuat perasaannya tidak enak.
Kepala yang tadinya memang sudah terasa agak pusing kini bertambah pusing setelah Rainy membaca pesan yang dikirim dari ibu tirinya.
Tante Devi
Halo, Sayang. Gimana kabarnya setelah nggak dapet transferan?
Masih hidup kan? Atau lagi ngemis sama Tante kamu?
Oh ya! Ini baru awal dari apa yang bakal Mami kasih ke kamu karena masih banyak kejutan lainnya.
Kalau kamu marah sama Mami, marah aja. Di sini, Mami cuma ingetin kamu biar kamu sadar, kalau tanpa kami, tanpa uang kami, kamu nggak bakal bisa hidup.
Kamu masih punya kesempatan untuk hidup lebih baik jika kamu kembali. Kamu bisa makan enak, tidur di tempat tinggal yang lebih layak. Dan kalau kamu masih keras kepala, silakan tunggu hadiah dari Kami satu persatu.
Rainy tersenyum miris. Tebakannya benar, bukan Papanya yang tidak mau mengirim uang, tapi ibu tirinya lah yang menghalangi. Bahkan ini baru awal dari apa yang akan ibu tirinya lakukan ke depannya.
Tapi, apa Rainy akan kembali?
Tentu tidak!
Rainy tidak akan kembali semudah itu, Rainy lelah hidup di keluarga yang bukan seperti keluarga. Rainy tidak akan kembali ke rumah yang bukan rumahnya. Karena nyatanya, Rainy memang sudah tidak punya rumah.
Tapi, meskipun begitu, pesan yang dikirim oleh ibu tirinya tetap membuat Rainy yang ingin beristirahat tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya jadi kacau dan membuat sakit di kepalanya semakin bertambah.
Malam itu, Rainy hanya bisa tidur selama tiga jam itupun karena Rainy tidur sambil mendengarkan musik. Dan membuat paginya tidak semangat bahkan nafsu makannya hilang.
***
Masalah ibu tirinya, biarlah Rainy pikirkan sendiri.
Aksa mendengus lagi, di susul helaan napas berat dari mulut laki-laki itu. “Akhirnya lo ngaku kalau lo lagi sakit?” ucapnya dengan nada agak sinis.
Rainy meringis, ia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.
“Oh ya, bukannya sekarang udah masuk? Lo kok nggak ke kelas?” Rainy baru ingat ketika matanya melirik jam yang ada di dinding UKS ini.
Aksa menepuk jidatnya, melupakan hal itu. “Gue telepon Ardi dulu. Semoga aja gurunya belum masuk.”
Setelah itu, Aksa mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Tangannya mengutak-atik lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Halo, Ar … ”
“ … ”
Rainy tak bisa mendengar pembicaraan mereka karena Aksa agak menjauh. Beberapa saat kemudian, Aksa kembali lagi dengan wajah yang terlihat agak lega.
“Gurunya belum masuk, tapi katanya tetep bakal dateng. Gue nggak bisa izin karena nggak ada alasannya. Tapi lo udah gue bilangin ke Ardi kalau lo lagi sakit, di UKS. Dia juga minta gue cepet-cepet ke kelas karena takut gurunya bentar lagi masuk. Jadi … ”
Aksa agak ragu mengatakan kalimat selanjutnya, tapi Rainy mengerti apa yang akan di sampaikan oleh Aksa.
“Lo ke kelas aja. Gue juga nggak bakal ilang kalau di tinggal sendiri. Lagian masih ada anak UKS yang jaga di sini, dan bukan cuma gue yang sakit di ruangan ini. Gue juga ngantuk, mau tidur sebentar.”
Meski masih ragu, Aksa akhirnya mengangguk. “Lo minum obat dulu baru gue pergi.”
Tanpa di minta pun, Rainy memang akan melakukannya. Setelah meminum obat, Aksa kembali bernapas lega dan tersenyum menatap Rainy. Tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala Rainy.
“Gue pergi dulu, nanti kalau ada jamkos, gue langsung ke sini,” kata Aksa.
Rainy tertegun merasakan usapan itu. Dia hanya bisa mengangguk kaku dan menatap Aksa yang berbalik untuk pergi ke kelas. Rainy berbaring, mulai memejamkan matanya yang memang masih terasa berat.
***
Sepanjang pelajaran, Aksa sulit untuk fokus. Pikirannya terus tertuju pada Rainy yang ia tinggalkan di UKS. Setelah guru yang mengajar selesai dan pergi, Aksa langsung bertanya pada Ardi apakah setelah ini masih ada guru yang akan masuk atau tidak.
“Kalo nggak salah, sekarang kita lagi jamkos. Tadi guru piket bilang guru yang ngajar sekarang lagi izin nggak masuk.”
Mendengar itu Aksa merasa sangat senang. Dengan cepat Aksa pergi dari kelasnya untuk pergi ke UKS yang letaknya di lantai bawah. Tapi, begitu Aksa hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba seseorang menghentikannya.
Widya berdiri di depan Aksa, tersenyum manis dengan mata menyipit, tapi malah di balas oleh Aksa dengan tatapan tajam dan menusuk.
“Minggir!” titah Aksa.
“Lo lagi jamkos kan? Gue juga. Gimana kalau kita ke kantin, terus keliling sekolah? Liat pemandangan di rooftop juga,” ajak Widya.
Aksa mengernyitkan dahinya. Kenapa Widya bisa tau kalau sekarang dia jamkos?
Padahal Widya bisa tahu karena punya mata-mata di kelas Aksa. Wina yang memberitahunya, dan dia semakin senang ketika Wina bilang tidak ada Rainy karena gadis itu sedang sakit.
“Gue ada urusan,” kata Aksa.
Widya belum mau menyingkir, malah ia maju selangkah supaya bisa lebih dekat dengan Aksa.
“Temenin gue dulu.”
Aksa menatap semakin tajam. “Lo kalo nggak mau minggir, gue dorong sampe jatuh, mau?”
Widya mencebikkan bibirnya kesal. “Kok lo kasar?”
Aksa tersenyum miring sambil kedua tangannya bersedekap di depan dada. “Minggir atau gue dorong?”
Melihat tatapan tajam Aksa yang cukup membuatnya takut, akhirnya Widya menggeser tubuhnya untuk memberi Aksa jalan. Meski dalam hatinya memaki-maki, tapi tak ada yang bisa Widya lakukan karena takut Aksa akan benar-benar mendorongnya.
Padahal, Aksa tidak mungkin benar-benar akan mendorong Widya yang seorang perempuan. Aksa hanya mengancam. Setelah mendapat jalan, Aksa kembali berlari.
Aksa pikir, waktu satu setengah jam masih digunakan Rainy untuk tidur. Tapi, begitu sampai di UKS, Aksa malah mendengar suara Rainy yang seperti tengah mengobrol dengan seseorang.
“Kakak pernah liat aku di perpustakaan?” Itu suara Rainy.
“Iya, beberapa kali. Tapi, mungkin kamu nggak sadar karena kita juga baru kenal hari ini.” Dan itu suara laki-laki yang entah siapa.
Hati Aksa mencelos ketika mendengar Rainy memanggilnya dengan sebutan 'aku' dan 'kakak'.
Ketika Aksa mengintip dari celah tirai, Aksa malah mendapati Rainy tengah tertawa bersama … laki-laki itu. Entah kenapa, Aksa tidak suka melihatnya.