
“Ai, nanti malem Tante mau pergi sama Om Abra, jadi untuk malem ini nggak papa, kan, kamu sendirian di rumah?”
Rainy menengadahkan kepalanya supaya bisa menatap tante Risa, gadis itu menganggukkan kepalanya dan menahan senyum. Itu artinya, malam ini Rainy akan sendirian di rumah ini.
“Bilang aja mau kencan, Tan, sebelum LDR lagi sama Om.”
Tante Risa menggeleng dengan senyum yang juga tertahan. “Tapi kamu beneran nggak papa tante tinggal?” tanyanya memastikan.
Rainy mengangguk lagi. “Iya, nggak papa. Aku bukan anak SD lagi yang masih penakut, Tan. Jadi nggak usah khawatir.”
Rainy berdiri dari duduknya setelah selesai memasang sepatu. Lalu ia berpamitan pada tante Risa.
“Aku berangkat ya, Tante. Puas-puasin kencan sama Om Abra. Kalo bisa sih kasih Kak Pandu adek hehe … ” Rainy cengengesan setelah mengatakan kalimat terakhirnya itu.
Tante Risa hanya bisa menggeleng tanpa sempat membalas ucapan Rainy, karena gadis itu sudah lebih dulu kabur menghampiri Aksa yang baru saja tiba.
“Dih! Ngapa lo pagi-pagi gini dah cengar-cengir?” tanya Aksa pertama kali.
Lantas Rainy langsung memasang wajah datar. Heran, apakah Rainy salah kalau ia bahagia sedikit pagi ini.
Aksa tergelak melihat perubahan raut wajah Rainy yang baginya sangat cepat. “Berchandyaa, Hujan. Kalo lo mau haha hihi juga boleh kok. Jangan cemberut gitu, elah.”
“Udah, ah! Buruan berangkat. Rese banget sih lo tuh!” gerutu Rainy sambil memasang helm yang barusan di beri oleh Aksa.
Keduanya langsung berangkat meninggalkan pekarangan rumah Tante Risa. Seperti biasa, begitu tiba di parkiran, sudah lumayan banyak anak-anak yang datang. Beberapa dari mereka ada yang melirik ke arah Aksa dan Rainy dan sebagian lainnya tidak peduli.
“Jan.”
“Hm.”
“Nanti gue mau latihan, pulang sekolah,” kata Aksa.
“Ya, terus?” tanya Rainy sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan setelah memakai helm.
Keduanya mulai berjalan meninggalkan parkiran menuju koridor sekolah. Meski mereka bersebelahan, tapi tetap ada jarak di antara tubuh mereka. Jangan pernah membayangkan kalau keduanya akan bergandengan tangan, karena … hey! Mereka itu bukan pacar.
“Nanti pulang sekolah gue anterin lo pulang dulu, atau sekalian kalau lo mau ke kafe. Terus kalo lo udah pulang kerja telepon gue, biar gue jemput,” tutur Aksa tanpa sadar memberikan perhatian lebih pada Rainy melebihi pada mantan-mantannya dulu.
Rainy menoleh ke arah Aksa dengan jantung yang sedikit berdebar. Ia merasa hangat mendengarkan ucapan Aksa barusan. Rainy ingin tersenyum tapi ia tahan sebisa mungkin sambil menasehati dirinya sendiri.
‘Jangan baper dong! Masa gini doang baper. Dia kan cuma berbuat baik sama temennya sekaligus tetangga depan rumah.’
“Nggak usah, Ka. Nanti gue pesen ojol aja. Lagian kalau nganterin gue dulu, bakalan lama. Pasti habis pulang sekolah, kalian yang mau latihan basket langsung kumpul. Tapi … makasih tawarannya.”
Aksa mendengus pelan. “Padahal tadi gue bukan nawarin. Tapi ya udah kalau gitu–”
“AKSA!”
Ucapan Aksa langsung terpotong karena teriakan seseorang disusul kedatangan gadis yang rupanya adalah Widya. Gadis itu langsung menggeser posisi Rainy hingga Rainy tersingkir dan Widya ada tengah-tengah.
Entah darimana asalnya, bisa-bisanya Widya tiba-tiba datang memotong obrolan mereka. Terlebih lagi, gadis yang belakangan mencari masalah dengan Rainy itu memeluk lengan Aksa.
“Lepas, anjir! Lo ngapain sih!” decak Aksa sambil berusaha melepaskan lengannya Widya.
“Peluk lo lah! Gue mau bareng sana lo ke kelasnya,” ujar Widya yang sudah memasang senyuman termanisnya.
Aksa semakin kesal. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya Aksa bisa melepas pelukan Widya di lengannya meskipun hal itu membuat Widya memasang wajah cemberut.
Heh! Memangnya Aksa peduli?
“Pergi sana lo!” usir Aksa.
“Ngga mau.”
Aksa berdecak keras, bahkan Rainy yang posisinya berada lebih dari satu meter dari Aksa bisa mendengarnya.
“Batu banget lo! Kelas gue beda sama kelas lo.”
“Tapi searah,” kata Widya masih sambil tersenyum.
Sepanjang jalan di koridor, mereka bertiga jadi pusat perhatian beberapa siswa-siswi. Rainy dan Aksa menyadarinya, itu sebabnya Aksa semakin masam dan kesal. Sementara Rainy mulai memelankan langkahnya hingga ia tertinggal dari dua orang yang ada di depannya kini.
“Hai … ” sapa Daffa yang sekarang sudah berada di sebelah Rainy.
“Kak Daffa, bikin kaget aja,” ucap Rainy menghela napasnya.
Daffa terkekeh, kemudian meminta maaf. Perhatian Rainy masih ke arah depan, membuat Daffa ikut melihat dua orang yang tengah berdebat itu. Aksa dengan raut kesalnya sementara Widya masih memasang wajah tersenyum.
“Mereka pacaran?” tanya Daffa tiba-tiba.
Rainy terkesiap lagi, lalu ia menggelengkan kepalanya. “Gak tau, bukan urusan gue.”
Daffa mengangguk. “Oh ya, nanti lo pulang sama siapa?”
Mendengar pertanyaan itu, membuat Rainy menoleh. “Naik ojol, Kak. Kenapa?”
“Bareng gue aja, gue anterin lo sampe rumah,” ucap Daffa menawarkan.
“Makasih, tapi nggak usah, Kak. Gue nggak mau ngerepotin.”
Meski kecewa, tapi Daffa tetap mengangguk dan tidak bisa memaksakan keinginan Rainy yang tidak ingin pulang bersama.
Keduanya menaiki tangga, di tengah-tengah mereka melewati Aksa dan Widya yang berhenti berjalan. Tentunya karena Aksa yang semakin kesal dengan tingkah Widya. Sementara Daffa, cowok itu terus mengajak Rainy mengobrol.
Aksa melongo melihat dua anak manusia yang mendahuluinya, terlebih lagi, Rainy yang awalnya datang bersamanya kini malah pergi berdua dengan si kakak kelas yang belakangan dekat dengan Rainy itu. Entah kenapa, Aksa merasa panas melihatnya.
Ingin mengejar, tapi lengannya di malah di peluk lagi oleh Widya, membuatnya terpaksa berhenti sambil dalam hatinya mengeluarkan sumpah serapah.
“ANJIR!”
***
“Lo kenapa sih? Mukanya asem banget gue liat.”
Bagas menjentikkan jarinya di depan wajah Aksa, membuat cowok itu kaget lantas mengumpat dengan cukup keras. Bagas juga jadi ikutan kaget.
“Anjir, PMS lo, Ka?” Bagas menggelengkan kepalanya.
“Goblogh lo anying!” sahut Aksa.
“Ada apanih kok gue dateng malah pada toxic?” tanya Dylan yang baru tiba.
“Tau nih! Temen lo, gue tanyain baik-baik malah ngegas,” ucap Bagas.
“Kayak lo ya, Gas?”
“Ah! Anjirlah,” gerutu Bagas ikutan kesal.
Dylan mengambil posisi duduk di samping Aksa. Kini mereka tengah berkumpul untuk latihan basket. Pertandingannya akan dimulai besok, dan ini hari terakhir mereka latihan.
Mereka bertiga duduk di tribun bawah, sementara Ardi sendiri sedang memanggil guru olahraga yang akan melatih mereka.
Dylan merangkul pundak Aksa sambil menepuk-nepuk dengan pelan. “Lo kenapa, Bro? Ada masalah? Sini curhat sama gue,” katanya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Aksa.
“Tangan lo. Geli gue.”
Dylan tersenyum kecut. “Nih pasti ada hubungannya sama Rainy. Kenapa sih? Oh, apa gara-gara kakel cowok yang tadi pagi?”
Mendengar itu kontan membuat air muka Aksa semakin berubah masam. Dylan dan Bagas sama-sama tergelak saat tebakan Dylan dijamin benar seratus persen.
“Makanya, Ka. Tembak ajalah, jangan diem di tempat mulu! Nanti kalau Rainy di duluin Daffa lo cuma bisa mundur alon-alon,” ujar Bagas yang mana malah menambah kekesalan Aksa.
“Ck! Diem elah, jangan kompor lo, Gas!” dengus Aksa.
“Tau nih Gas Elpiji, kompor banget mulutnya. Bukannya tenangin sohibnya yang lagi broken heart, malah makin mojokin. Harusnya lo support dong, biar Abang Aksa bisa dapetin pujaan hati sebelum di tikung.”
“Heh! Bangs4t!”
Aksa yang berniat memperbaiki suasana hatinya malah semakin di buat dongkol dengan kedua temannya yang memang anak dakjal ini.