Rainy

Rainy
Si Putih Yang Melambai-Lambai



“Aksa? Lo ... sejak kapan ada di sini?” tanya Rainy bingung, sambil mengusap kepalanya yang kejedot dada Aksa.


Untung saja sebelum berbalik Rainy sempat mengusap air matanya, tapi hidung yang memerah dan mata sembab tak bisa membohongi kalau Rainy telah banyak menangis.


“Eum … lima belas menit yang lalu mungkin. Gue nggak merhatiin soalnya,” kata Aksa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Rainy mengangguk, diam-diam bernapas dengan lega karena Aksa tidak mendengar semua ucapannya tadi. Kemudian tatapannya melihat Aksa dari atas sampai bawah. Dan kembali lagi pada wajah Aksa yang tampan.


“Lo mau ziarah juga?”


Aksa menggeleng, “Bukan, tapi … mau jemput lo,” kata Aksa.


Rainy menyipitkan kedua matanya. “Jemput gue? Gue nggak ada pesen ojek apa-apa tuh.”


Aksa berdecak. “Gue jemput bukan sebagai ojek! Tante Risa minta tolong sama gue, katanya udah berjam-jam lo belum pulang. Masa permintaan orang tua gue tolak?”


“Oh,” Rainy menahan senyumnya ketika melihat wajah masam Aksa.


“Padahal gue emang niatnya udah mau pulang. Tapi pakai ojek online,” kata Rainy.


“Ya udah, batalin aja. Mendingan ikut gue, lumayan tuh ongkosnya bisa lo simpen buat beli seblak besok,” saran Aksa.


Tapi, keduanya terkejut ketika tiba-tiba ada beberapa tetes air yang jatuh di atas kepala mereka. Keduanya sama-sama mendongak, dan tetesan air semakin lama semakin banyak. Artinya, hujan deras datang.


“Kita cari tempat teduh.” Aksa meraih pergelangan tangan Rainy dan tanpa kata lagi Aksa berlari di ikuti Rainy untuk menerjang hujan yang semakin lama semakin deras.


Mereka lari terbirit-birit sampai keluar dari pemakaman. Untung saja tidak terlalu jauh. Begitu tiba di gerbang, Aksa melihat sebuah rumah kecil yang biasanya memang dijadikan tempat jualan bunga.


Sampai di sana napas keduanya terengah-engah. Beruntung atap teras rumah ini lebar, jadi hujannya tidak akan sampai ke tempat mereka duduk sekarang, di bangku kayu panjang. Tapi, pakaian yang basah membuat mereka agak kedinginan.


“Gue kayak dejavu,” ucap Rainy setelah napasnya kembali teratur.


“Bedanya sekarang kita di kuburan, bukan di koridor sekolah.” Aksa terkekeh sendiri mendengar ucapannya barusan.


Sama seperti waktu itu di sekolah, sekarang mereka terjebak hujan di sebuah pemakaman. Sama derasnya seperti waktu itu dan mungkin kejadian yang sama akan kembali terulang.


Hujan deras disertai angin membuat Rainy mengeratkan pelukan pada dirinya sendiri. Tak berbeda dengan Aksa yang sedang merutuki dirinya sendiri karena lupa membawa jaket.


Tak apa bila dia kedinginan, tapi tidak dengan gadis di sebelahnya. Meski Aksa suka jahil, tapi Aksa adalah seorang laki-laki yang tidak akan tega melihat gadis yang dikenalnya kedinginan. Apalagi mereka tetangga.


“Mau gue peluk nggak?” celetuk Aksa, tidak sadar dengan perkataannya sendiri.


“Apa?” Rainy bertanya dengan nada terkejut, wajahnya langsung menoleh ke arah Aksa, ekspresi tak percaya dan marah tergambar di wajah Rainy yang sedikit pucat.


Barulah Aksa tersadar. “Ma-maksud gue … lo kedinginan banget?”


“Nggak juga. Anginnya agak kenceng makanya gue kedinginan, tapi dikit,” ucap gadis itu.


Aksa mengangguk pelan, lagi-lagi dia merutuki dirinya sendiri. Sepertinya Aksa harus mendaftarkan sekolah untuk mulutnya yang asal ceplos.


Suasananya hening, sepuluh menit berjalan tak ada yang berbicara sampai tiba-tiba Rainy bertanya tentang sesuatu yang agak membingungkan untuk Aksa.


“Lo kenapa kayak gini?”


Aksa mengernyit mendengar pertanyaan itu. “Maksud lo?”


Rainy tersenyum tipis sambil menundukkan pandangannya. Hanya kaki miliknya yang saat ini Rainy lihat. “Lo bikin gue bingung,” kata Rainy semakin menbuat Aksa tidak mengerti.


“Sikap lo,” tambah gadis itu. “Lo itu ngeselin, bikin gue suka emosi. Apalagi dari awal gue masuk, lo udah bikin masalah buat gue, tapi kadang lo baik. Kayak … sekarang, mau-mau aja lo di suruh Tante gue buat jemput gue. Padahal lo bisa nolak.”


Semua perkataan itu membuat Aksa terdiam. Kembali memikirkan ulang semuanya dari awal sampai sekarang. Dan benar juga, kenapa ya dia begitu? Padahal Aksa juga suka menjahili Rainy hingga mereka dulu sering bermusuhan, tapi entah kenapa Aksa tidak bisa menolak apapun jika menyangkut Rainy.


Seperti sekarang ini, menjemput gadis itu di pemakaman. Padahal Tante Risa meminta tolong tanpa memaksa, harusnya Aksa menolak saja kan? Karena Rainy hanya bisa membuat dirinya repot, tapi entah kenapa Aksa tidak bisa seperti itu.


“Gue kan emang gini, soal Tante lo itu, gue nggak enak aja buat nolak,” kata Aksa yang dirinya sendiri merasa tak yakin.


Rainy menganggukkan kepalanya seolah percaya apapun yang Aksa ucapkan. Gadis itu lalu mengangkat kepalanya untuk menatap langit yang menurutnya sedang menangis.


“Lo tau nggak kalau gue benci hujan?” tanya Rainy, seperti mengalihkan topik.


Tapi, Aksa tetap menoleh dan mengangkat alisnya. “Oh ya? Lo benci hujan? Kenapa? Karena bikin sakit? Padahal nama lo juga artinya hujan, bukannya suka tapi ini malah benci.”


Rainy terkekeh sambil menggelengkan kepalanya. “Bukan bukan, ada alasannya, semua ada alasannya. Bahkan kalau menurut orang itu sepele, tapi enggak bagi yang ngalamin. Semua orang punya traumanya sendiri, bahkan lo … orang yang keliatan bahagia belum tentu bahagia tiap saat kan?”


Aksa dibuat terdiam lagi, bukannya mengelak tebakan Rainy tapi Aksa malah menganggukkan kepalanya. Benar, setiap orang punya traumanya masing-masing, tak ada orang yang hidupnya selalu berjalan mulus dan bahagia, hanya saja semua itu tak terlihat oleh orang lain.


“Jadi …, lo nggak suka hujan karena punya trauma sama hujan?” tanya Aksa ragu.


Rainy menoleh dan tersenyum miris. Tak menyangka akan menceritakan salah satu yang ia sembunyikan rapat-rapat dari orang lain. Dan orang yang mengetahui itu malah Aksa.


“Iya. Dan itu selalu terbayang tiap gue liat hujan. Apalagi dalam keadaan gelap. Bayangan itu kayak muncul lagi di hadapan gue dan bikin gue takut.”


“Sekarang juga gitu?” tsnya Aksa penasaran, meskipun tak diceritakan dengan detail, tapi Aksa paham. Ada masa lalu yang menyakitkan hingga membuat Rainy benci dengan hujan.


“Nggak. Karena gue nggak sendirian sekarang. Mungkin kalau gue sendirian di sini, iya, gue bakal ngerasa ketakutan, tapi-”


“Tunggu, Rai, jangan ngomong.” Aksa menyuruh Rainy berhenti bicara ketika tanpa sengaja Aksa menatap ke arah makam dan melihat sesuatu yang mencurigakan.


“Kenapa?” Rainy menatap Aksa dengan bingung.


“Gue kayaknya liat sesuatu-” ucapannya menggantung dengan tubuh yang tiba-tiba mematung.


Hal itu membuat Rainy penasaran, ikut menoleh ke arah pandang Aksa tapi tak menemukan apa-apa.


“Lo liat apaan, sih? Setan?”


“Iya.” Jawaban tidak terduga keluar dari mulut Aksa.


“Hah??” Rainy terkejut, tapi Aksa segera menangkap pergelangan tangannya yang terasa dingin.


Wajah laki-laki itu terlihat pucat, bahkan lebih pucat dari dirinya yang kedinginan.


“Arah pemakaman, di bawah pohon beringin yang paling gede,” ucap Aksa membuat Rainy menoleh.


“Gak ada apa-apa,” balas gadis itu semakin membuat Aksa merinding.


“Masa lo nggak liat?” Ada yang melambai-lambai ke arahnya, bergoyang ke kanan dan ke kiri berwarna putih.


Terlihat seperti kain, tapi memiliki lekuk seperti bentuk tubuh manusia hanya saja tidak menapak dan tak nampak wajahnya. Benda itu melayang, di bawah pohon beringin dan di atasnya terlihat seperti rambut tebal dan panjang tapi kusut macam gembel.


Aksa menelan salivanya, memastikan lagi dan bertanya pada Rainy tapi jawaban gadis itu masih tetap sama.


Hal itu membuat Aksa bersiap-siap. “Gue hitung sampe tiga, terus lo berdiri dan ikut gue lari.”


Rainy belum mengerti tapi Aksa benar-benar menghitung saat itu juga.


“Satu … dua … tiga, lari!” Aksa berdiri dan menarik tangan Rainy.


Keduanya berlari menuju tempat Aksa memarkirkan motor. Tak peduli dengan hujan yang masih cukup deras. Tekad Aksa untuk lari dan pulang malah jadi mengulang kejadian membuatnya berkali-kali mengucapkan kata maaf untuk Rainy dalam hatinya.


Rainy tak sempat protes. Setelah Aksa mengenakan helm di kepalanya, Aksa naik ke atas motor dan menyuruh Rainy untuk segera naik. Gadis itu menurut saja.


Cuaca yang mendung ditambah hari yang memang sudah hampir malam membuat suasana terlihat lebih gelap. Sepanjang jalan Aksa terus mengucap dan sesekali berteriak untuk memastikan keadaan Rainy.


Aksa ngebut, tak peduli hujan kali ini akan membuatnya sakit. Yang penting sampai di rumah.


“Gila! Beneran setan demit yang gue liat tadi? Masa sih? Gue kan nggak punya indera ke enam.” Aksa terus bertanya dalam hatinya.


Sampai mereka tiba di depan rumah Rainy dengan selamat. Aksa baru benar-benar bisa bernapas dengan lega.


Aksa turun dari motornya setelah Rainy. Membantu gadis itu untuk melepas helm. Kini keduanya benar-benar basah seperti kejadian tempo lalu. Benar-benar sama persis hanya tempat yang berbeda.


“Lo kenapa sih? Liat setan?” tanya Rainy, baru bisa bersuara setelah benar-benar merasa nyaman meskipun bajunya sudah basah kuyup.


“Iya,” aku Aksa.


“Eh, beneran? Kok gue nggak liat?”


Aksa berdecak ketika Rainy membahas hal yang ingin sekali Aksa lupakan.


“Hantunya suka sama gue mungkin, dia tadi dadah-dadah ke gue,” ucapnya sambil bergidik ngeri. Bulu kuduknya sampai berdiri lagi hingga membuat tubuhnya terasa lebih dingin.


Rainy tertawa, masih tak percaya dan membuat Aksa kesal. Cowok itu lantas pergi setelah memastikan Rainy aman.


***


Aksa berharap apa yang dilihatnya tadi bukan benar-benar setan. Dan ia berharap agar bisa cepat melupakan apa yang dilihatnya tadi siang. Tapi, apa daya, malah semakin ingin dilupakan, semakin jelas pula ingatannya tentang tadi sore.


Bahkan ketika dia kamar mandi, Aksa merasa tidak tenang. Apalagi ketika matanya tertutup, Aksa merasa takut jika saat membuka mata, maka si putih itu kembali lagi di hadapannya.


Ketika ingin membuka lemari pakaian, Aksa takut ada yang keluar dari sana. Dan bayangan itu benar-benar membuat Aksa frustasi. Kedua orang tua Aksa sampai bingung ketika melihat anak mereka sering curi-curi pandang ke setiap sudut rumah.


“Kami kenapa, Aksa?” tanya Mama Clarissa.


Aksa melihat Mamanya dan tersenyum masam. “Kayaknya ada yang salah sama aku, Ma.”


Mama Clarissa mengernyit bingung. “Salah gimana? Kamu sakit? Pusing?” tanyanya khawatir.


“Bukan sakit. Tapi, aku kayaknya punya indera ke enam deh, Ma,” ucap Aksa sambil mengusap tengkuknya.


“Pffttt.” Hampir saja Papa Martin menyemburkan makanan dalam mulutnya. “Kamu ini bicara apa, Aksa?” tanyanya yang hampir tertawa.


“Iya, jangan aneh-aneh, Nak,” timpal Mama Clarissa.


“Tapi aku tadi liat hantu,” ucap Aksa.


Tapi, apa kedua orang tuanya percaya?


Tentu tidak!


Mereka malah berpikir Aksa tengah kurang enak badan. Jadilah Aksa semakin frustasi dengan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Sampai tiba-tiba Mama Clarissa menyuruhnya untuk ke minimarket.


“Ma, Aksa mau tidur,” kata Aksa mencoba mencari alasan.


Mama menggeleng, setelah berkata sesuatu yang membuat Aksa tidak bisa membantah, Mama Clarissa melenggang pergi.


“Ke minimarket nggak sampai berjam-jam, Aksa. Kecuali kalau kamu ngapelin kasir di sana. Bisa jadi jam sepuluh malem kamu baru pulang. Oh ya, kalau kamu takut, Mama ingetin, semakin kamu ketakutan, semakin suka setan buat nampakin dirinya di depan kamu.”


Tentu Aksa kembali merasa merinding. Aksa lekas mengambil ponselnya di kamar dan mengirim pesan pada Rainy.


^^^Aksara Arkatama Diraya^^^


^^^Lo mau balas budi sama gue karena habis jemput lo? ^^^


^^^Sekarang waktunya, temenin gue ke minimarket yang paling deket. ^^^


^^^Ayo, sekarang. Gue tunggu depan rumah lo. ^^^


Aksa menunggu balasan dari Rainy yang datang dua menit kemudian.


Rainy Shakaeela


Kata siapa gue mau balas budi? Gue cuma mau bilang, makasih udah mau direpotin Tante Risa.


Lo takut? Gara-gara setan yang lo bilang tadi?


Aksa mengerang setelah membaca pesan dari Rainy. Apa tidak bisa di jawab dengan kata 'Ya' saja?


^^^Aksara Arkatama Diraya^^^


^^^Oke, tapi gue bener-bener minta tolong. Setidaknya sebagai tetangga, temen sekelas lo. ^^^


^^^Masa orang yang butuh bantuan nggak lo bantuin, cuma sebentar kok. Nggak sampe berjam-jam. ^^^


Aksa menunggu lagi, dan ia bersorak senang ketika Rainy benar-benar menjawab 'Iya'.


Aksa bergerak cepat, ia pergi keluar rumah dan menuju rumah Rainy. Menunggu beberapa menit barulah Rainy muncul dengan memakai hoodie sama sepertinya. Terlihat jelas wajah gadis itu kesal saat mereka bertatapan.


“Nggak nyangka gue, ternyata lo laki-laki tapi penakut.” Rainy menggerutu di jalan.


Aksa meringis. “Bukan takut. Tapi gue masih kebayang aja. Masa gue liat tapi lo gak liat? Padahal jelas banget itu setan goyang-goyang di bawah pohon.”


“Mungkin setannya emang pengen nampakin diri di depan lo doang,” ucap Rainy asal, dia masih merasa kesal dan Aksa menyadari itu.


Mereka berjalan beriringan, di temani angin yang berembus lembut menerbangkan dedaunan yang gugur. Bulan tak terlihat karena tertutup awan hitam, bahkan bintang yang biasanya ramai kini hilang entah kemana.


“Jangan gitu dong! Gue tersiksa banget gara-gara tuh setan atu. Masa gue ngerasa ada yang ngebelai waktu gue mandi? Terus gue ngebayangin waktu gue buka lemari ada yang tiba-tiba cilukba depan gue.”


“Apalagi nanti waktu gue tidur. Gimana kalau guling yang gue peluk tiba-tiba jadi pocong? Atau lo nginep di rumah gue? Biar lo aja yang gue peluk?”


“Heh! Kamprett!”