
Tak ada gunanya menangis, hanya membuang-buang waktu dan tenaga juga air mata. Selama ini, Rainy sudah berhasil menahannya meskipun sulit, tapi entah kenapa tidak dengan malam ini.
Setelah Bhara tidak mengangkat teleponnya dan hanya mengirim pesan tanpa bertanya apa alasan Rainy menelepon, membuat air mata yang keluar tidak mau berhenti.
Rainy benar-benar merasakannya. Rasa ketika tak ada satu orang pun yang berada di pihaknya, tak ada yang mempedulikan dirinya, tak ada yang bisa Rainy jadikan sandaran dan tempat mengadu.
Rainy benar-benar sendiri, dan di saat seperti ini, Rainy hanya bisa memeluk dirinya sendiri. Mulutnya terus bergumam mengatakan 'tidak apa-apa, dengan begini nggak akan ngerepotin orang lain. Jangan terus jadi beban, dan cukup tahan semuanya sendiri. Kamu pasti bisa.'
Air matanya terus mengalir meskipun dengan ekspresi wajah yang datar hingga Rainy lupa kapan dia mulai memejamkan mata.
***
Rainy bangun dengan mata yang sedikit sembab, tapi di balik itu perasaan Rainy mulai sedikit tenang. Apalagi ketika ponselnya menyala dan terdengar notifikasi masuk. Wajahnya yang semula murung kini nampak sumringah.
Vania:
Gue udah di depan rumah lo, cepet buka pintu.
Dengan cepat Rainy turun dari kasurnya, sedikit berlari untuk menuju pintu depan. Ketika terbuka, nampak Vania sudah dengan pakaian yang rapi dan helm bogo di atas kepalanya.
“Belum siap-siap juga lo?” tanya Vania tak percaya.
Rainy memamerkan deretan giginya, kemudian menggeleng. “Nanti kalau gue udah dandan terus nggak jadi berangkat kan percuma,” katanya.
“Kan gue udah bilang dari subuh tadi, lo siap-siap entar jam sembilan gue jemput. Nggak percayaan banget sih!” ucap Vania sedikit kesal.
“Maaf, tapi gue udah mandi kok. Tinggal ganti baju doang.”
“Buruan ganti baju gih! Alika udah di jalan mau ke sini katanya.” Vania memasuki rumah itu setelah Rainy mempersilakan.
“Lo duduk dulu, gue cuma bentar kok. Nggak sampe sepuluh menit kayaknya.”
Vania terkekeh sebelum mengangguk. “Tenang aja sih, Rai, nggak bakalan gue tinggalin juga,” ucapnya yang sadar Rainy tengah merasa bersalah. “Oh ya, Tante lo mana?”
“Lagi nganter pesenan kue,” kata Rainy sambil pergi menuju kamarnya.
Sepuluh menit lamanya dan Rainy benar-benar sudah siap, ketika keluar dari kamar, tak ada Vania yang semula duduk di sofa ruang tamu. Tapi Rainy mendengar samat suara dari depan rumah, ternyata Vania tengah mengobrol dengan Alika yang masih duduk di atas motor matic-nya.
“Lama, ya? Sorry banget, soalnya tadi sibuk nyari dompet sama tas,” ucap Rainy.
Vania dan Alika sama-sama menoleh, keduanya tersenyum geli melihat Rainy. “Santai aja, Rai, nggak usah ngerasa bersalah gitu. Lo kayak lagi sama siapa aja, kita juga sering kok ngaret sampe bosen nungguin,” kata Alika.
Rainy tersenyum kemudian menghela napasnya lega. Hari minggu ini, Rainy berencana menghabiskan waktunya bersama dua teman barunya.
Sebenarnya, Vania yang mengajak, dan Rainy setuju untuk ikut. Selain ingin melepas pikirannya yang agak kacau, Rainy ingin melihat-lihat jalanan kota ini setelah sepuluh tahun berlalu.
Rainy duduk di bonceng Vania, sementara Alika mengendarai motornya sendiri. Mereka melewati jalanan yang cukup ramai kendaraan tapi tidak macet.
Rainy sendiri menikmati angin luar dengan perasaan yang benar-benar tenang.
Pertama, mereka pergi ke taman yang cukup ramai dikunjungi orang. Kebanyakan mereka pergi bersama pasangan atau keluarga. Di sana, Rainy, Vania dan Alika terus mencari spot foto yang bagus.
Selain indah, taman ini cukup luas dan memang menjadi salah satu tujuan wisata. Kebersihannya terjaga, bunga yang ditanam tertata dengan rapi dan sesuai dengan jenisnya.
Tempat ini merupakan tempat yang pernah Rainy kunjungi saat sekolah TK dulu. Dan belum seluas sekarang.
“Fotoin gue dong!” pinta Vania.
Rainy tersentak kemudian mengangguk, ia mengambil ponsel Vania yang disodorkan gadis itu. Untuk beberapa saat, Rainy menjadi seorang fotografer dadakan untuk dua temannya meskipun mereka tetap foto bertiga dengan minta bantuan orang lain.
Setelah kurang lebih satu jam berada di sana, Rainy,Vania dan Alika pergi untuk mengunjungi tempat lain. Dalam perjalanan, Vania tak henti-hentinya mengoceh mengenai insiden kecil yang mereka alami tadi.
“Sumpah ya, jadi emak-emak kok julid banget sih?! Padahal kan dia yang salah, malah gue yang di tunjuk-tunjuk. Mana suaminya juga ikut nyalahin, di kira gue bocah SD kalik ya?”
Rainy meringis, tak menimpali selagi Vania bercerita. Rainy mengerti perasaan Vania yang di salahkan sementara gadis itu tak tahu apa-apa.
“Gue nggak salah, dan gue juga minta maaf meskipun gue nggak tau apa alasan gue minta maaf. Tapi tetep aja itu orang masih marah. Ngeselin banget sumpah! Gue doain anaknya nggak dapet jodoh dan jadi perjaka tua!”
“Hush! Van, nggak boleh gitu. Lo doanya jelek banget, kasian anaknya, padahal yang salah emaknya.”
Rainy sendiri bingung, Vania mengutuk orang yang tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah yang terjadi. Tapi Rainy tetap diam sampai Vania lelah sendiri.
Selanjutnya mereka pergi ke mall, bukan untuk belanja melainkan melihat-lihat. Tapi, jika ada yang mereka inginkan tetap akan mereka beli dengan uang hasil menabung.
“Sekarang hari minggu, meskipun libur tapi gue cuma free beberapa jam doang. Jadi kita gak bisa main terlalu lama. Mungkin habis makan siang kita udah pulang,” kata Vania saat mereka sedang melihat-lihat pakaian wanita.
Semuanya cantik-cantik, begitupun dengan harganya yang cukup menguras kantong. Apalagi bagi mereka bertiga yang hanya pelajar dan masih mengandalkan uang dari orang tua.
“Gue emang janjinya sama nyokap nggak sampe sore. Biasanya gue hari minggu gini bantuin nyokap beli ini beli itu, kadang juga bantu nyuci mobilnya bokap. Belum lagi setrika baju buat sekolah besok. Untung sepatu udah gue cuci kemarin pas pulang sekolah.”
Ucapan Alika terdengar seperti curhatan. Tapi bagi Rainy itu adalah salah satu yang dia impikan. Mendengar cerita kedekatan mereka dengan keluarga, membuat perasaan Rainy yang tadinya membaik kini campur aduk lagi.
Tapi Rainy tetap tersenyum. “Bagus dong, lo bisa gibahin orang-orang bareng nyokap lo juga kalau gitu,” ucap Rainy.
“Bagus apanya? Meskipun nyokap gue suka gibah tapi bahan gibahannya itu-itu aja. Kalau gak soal tetangga, pasti soal kejadian di komplek. Entah itu maling atau apapun yang nggak ada manfaatnya banget.”
Rainy dan Vania tertawa, sementara Alika mencebikkan bibirnya karena merasa di ledek. “Gibah emang nggak ada manfaatnya, Dodol. Yang ada malah nambah dosa!” kata Vania.
“Bener bener,” Rainy setuju dengan Vania.
Mereka pergi dari toko itu ketika merasa harga tak sesuai dengan budget yang mereka punya. Kemudian mereka pergi ke toko yang lain, tapi tetap sama seperti sebelumnya.
Memang apa yang diharapkan dari belanja di mall? Karena semuanya tidak benar-benar cocok untuk pelajar seperti mereka yang punya uang pas-pasan. Ujung-ujungnya mereka hanya membeli es krim yang sangat cocok di kantong.
“Seenggaknya bisa cuci mata. Ambil positifnya aja, nanti begitu kita punya uang kita udah tau mau beli apa dan kira-kira berapa harganya. Ya, nggak?” tanya Vania dengan nada miris.
Rainy terkekeh kecil. Meskipun tidak membeli apa-apa, setidaknya mereka merasa senang untuk hari ini. Dan itu cukup.
Setelah menghabiskan es krim, mereka sepakat untuk makan siang di rumah makan yang sekiranya cukup untuk kantong mereka dengan menu-menu yang lumayan.
“Gue seneng hari ini, akhirnya bisa liburan meskipun cuma beberapa jam. Hari ini cukup berharga buat gue, makasih buat kalian berdua yang udah mau jadi temen gue,” ucap Rainy tiba-tiba.
Vania dan Alika mengangkat kepalanya, terdiam mendengar perkataan Rainy yang agak sedih dikit. “Nggak cuma hari ini kok, Rai. Besok kalau weekend kita main lagi. Lain kali kita juga udah bisa beli sesuatu di mall, nggak cuma es krim,” sahut Vania agak bercanda.
Rainy terkekeh, kemudian mengangguk. “Beli barang couple juga?”
“Wah, boleh tuh. Beli baju couple, sendal couple, celana couple. Terus gelang couple gitu, kan lucu,” tambah Alika dengan semangat.
Setelah pesanan mereka sampai, mereka mulai makan dengan obrolan di tengah-tengah kunyahan. Sampai Rainy teringat sesuatu dan dengan agak ragu menanyakannya pada kedua temannya.
“Eum … kalian tau nggak tempat atau cafe yang nerima kerja part time buat anak sekolah?” tanya Rainy.
Vania hampir tersedak makanannya jika saja ia tak cepat-cepat mengambil minum.
“Kenapa? Lo mau kerja?”
Rainy mengangguk.
“Lo kurang uang? Nggak dapet uang jajan? Atau mau beli sesuatu?” Vania menanyakan pertanyaan beruntun.
Meski agak tepat sasaran, tapi Rainy menggeleng sebagai jawaban. “Nggak kok. Gue cuma … agak bosen aja di rumah kalau habis pulang sekolah. Selain rebahan sama main HP gue nggak ada kegiatan lain. Bantuin Tante pun jarang karena emang nggak banyak yang harus di bantu,” jelas Rainy membuat kedua temannya mengangguk.
“Gue punya paman yang buka cafe nggak jauh dari komplek perumahan lo. Cafe-nya emang belum lama buka, dan karyawan juga belum banyak. Nanti deh, gue bilang biar lo punya kesempatan,” kata Alika.
Rainy tersenyum dan mengangguk. berterima kasih atas bantuan kedua temannya.
“Tapi, Rainy, kerja part time itu nggak selalu enak. Meskipun nggak full, tapi tetep aja capek. Apalagi kalau yang kerja anak sekolah, pasti agak malem baru pulang, emang lo nggak papa pulang malem?”
Alika kurang yakin, bagaimanapun juga Rainy seorang gadis yang harus lebih berhati-hati. Tak selamanya tempat itu akan aman, meskipun banyak orang tetap terkadang masih terjadi tindakan kejahatan.
“Gue nggak papa, gue pasti diizinin. Atau kalau pulang gue minta jemput Tante aja, kayaknya beliau nggak keberatan.” Rainy meringis, semoga saja begitu.
“Tapi kalau bisa lo pikir-pikir ulang soal kerja part time itu,” Vania menimpali.
Rainy mengangguk. Mereka kembali melanjutkan makam siang yang agak tertunda karena pembicaraan yang sedikit serius.
Tak terasa liburan singkat mereka harus berakhir ketika makan siang selesai. Rainy kembali berpisah dengan Vania dan Alika setelah mereka berdua mengantarnya pulang ke rumah.
“Sekarang aku harus ke makam Mama,” kata Rainy lirih setelah kedua temannya menghilang dari arah pandangnya.
Tante Risa belum pulang, jadi Rainy hanya mengirim pesan dan mengatakan bahwa Rainy akan pergi ke makam mamanya seperti perkataannya beberapa hari yang lalu.
Setelah itu Rainy beralih pada aplikasi untuk memesan ojek online. Rainy duduk di teras sambil memainkan ponselnya selama menunggu ojeknya datang. Sampai yang di tunggu Rainy akhirnya tiba dan segera membawa Rainy ke tempat tujuan.
Ada yang Rainy sesali setelah ia sampai di gerbang sebuah pemakaman. Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang Rainy mengunjungi makam orang yang paling Rainy sayang?
Dalam setiap langkah menuju peristirahatan terakhir sang Mama, selama itu pula bulir air mata turun dan jatuh ke tanah. Rainy tak mengusapnya, ia membiarkan air mata itu jatuh agar mama tahu, Rainy menyesal.
Setibanya di sebuah makam dengan nisan bertuliskan nama ibu kandung Rainy, gadis itu lantas terduduk dengan bibir bergetar. Salah satu tangannya memegang bunga dan air mineral.
Rainy mulai menyirami makam dan menaburkan bunga. Makam yang ternyata bersih dari daun-daun dan rumput, Tante tidak bohong, makam Mama memang bersih dan membuat Rainy cukup lega.
Setelah menaburkan bunga, Rainy memanjatkan doa. barulah Rainy kembali menangis sambil mengusap nisan ibunya itu.
“Ma ... ”
“Rainy minta maaf. Maaf baru bisa ngunjungin Mama setelah sepuluh tahun.”
“Rainy durhaka banget ya jadi anak, setelah bertahun-tahun baru kali ini Rainy ke sini padahal jarak kita nggak sejauh itu.”
Rainy terus berbicara, dengan suara yang bergetar menahan tangis. Di tempat ini, Rainy merasa bisa mengeluarkan segala yang tersimpan. Rainy bisa mengeluarkan hal-hal yang membuat perasaannya selalu sesak.
“Mama tau? Setelah Mama pergi, Rainy pikir masih bisa hidup dengan baik. Tapi, ternyata itu cuma angan-angan Rainy. Rainy pikir, Papa bakalan sayang sama Rainy karena Rainy cuma punya Papa. Tapi, lagi-lagi Rainy salah ... ”
“Papa bawa Rainy pergi karena nggak mau dianggap menelantarkan anak. Papa yang sebelumnya bilang kalau Papa sayang Rainy itu ternyata bohong. Rainy kecewa tapi nggak bisa berbuat apa-apa.”
“Sekarang, Rainy capek. Rainy pergi dari rumah dan kembali ke rumah 'itu'. Dan akhirnya bisa ketemu sama Mama sekarang.”
“Rainy boleh ngeluh kan? Rainy boleh bilang kalau Rainy nggak baik-baik aja kan? Rainy boleh bilang kalau Rainy bener-bener capek kan, Ma?”
Rainy mengeluarkan segalanya, segala yang terasa mengganjal. Sesuatu yang terasa penuh seolah di angkat hingga Rainy sedikit merasa tenang.
“Rainy cuma punya satu keinginan, Rainy ingin hidup jadi diri Rainy sendiri. Punya hak menolak dan menerima. Bisa menawar dan di dengarkan.”
Entah sudah berapa jam Rainy terduduk di sana, hingga ketika Rainy mendongak, Rainy terkejut melihat ternyata hari sudah mulai sore. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.
Rainy terkekeh. “Nggak kerasa udah selama ini. Rainy harus pulang sekarang, Ma. Takutnya Tante Risa khawatir.”
Rainy mengusap air matanya yang memang sudah hampir mengering. Kedua matanya sembab, tapi tak membuat Rainy menyesal telah menangis karena setelah itu ia merasa lega. sangat lega.
Rainy berdiri, hendak berbalik tapi tiba-tiba ...
bruk!
Rainy menabrak sesuatu, ah bukan, tapi seseorang. Perlahan Rainy mengangkat kepalanya dan terkejut melihat siapa yang dia tabrak.
“Aksa? Lo ... sejak kapan ada di sini?”