Rainy

Rainy
Sebuah Syarat



Rainy menghindar. Untuk kedua kalinya gadis itu menghindari Aksa, tak menghiraukan Aksa ketika pemuda itu memanggil namanya. Bahkan, Rainy kembali memakai earphone-nya ketika sedang di kelas, kecuali saat ada guru.


Aksa jadi kesal sendiri, tebakannya mengarah pada kejadian tadi saat istirahat. Terhitung sudah empat jam Rainy menghindarinya, bahkan menoleh padanya pun seolah Rainy sangat enggan. Rainy pun akan mengeluarkan suaranya hanya jika guru dan Vania bertanya.


Seperti saat ini, “Lo mau pulang bareng gue nggak?” tanya Vania.


“Nggak, kita udah beda arah pulangnya. Entar lo malah kesorean kalau nganterin gue dulu,” tolak Rainy sambil berterima kasih karena Vania sudah menawarkan..


“Terus lo pulang naik apa?” kata Vania.


“Gue bisa naik ojol,” jawab Rainy.


“Beneran nih?” Vania memastikan, raut khawatir terlihat jelas pada wajah teman Rainy itu.


Ketika Rainy menganggukkan kepalanya, Vania hanya bisa pasrah. Satu perubahan yang paling terlihat menonjol dalam diri Rainy adalah gadis itu sekarang sangat keras kepala. Selalu menolak kebaikan yang mereka berikan dengan berbagai alasan.


Padahal niat mereka hanya membantu, hanya saja sifat itu memang sudah melekat pada Rainy yang memang tidak mau merepotkan orang lain. Meskipun itu orang terdekatnya.


Mendengar jawaban Rainy tadi seolah menjadi angin segar untuk Aksa. Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu, menunggu kelas sepi barulah Aksa beranjak dari duduknya dan menghampiri Rainy yang sedang membereskan buku.


Satu kebiasaan Rainy yang baru Aksa tahu, gadis itu selalu pulang terakhir karena mengerjakan PR yang baru diberikan di hari itu, padahal masih ada beberapa hari sebelum dikumpul.


Aksa pindah tempat duduk menjadi di samping Rainy. Membuat gadis itu tersentak karena Aksa yang duduk tiba-tiba.


“Lo belum pulang?” tanya gadis itu, menyipitkan kedua matanya.


Aksa mengangguk. “Lo marah lagi sama gue? Padahal yang tadi juga bukan salah gue,” kata Aksa.


Rainy tak acuh, ia kembali membereskan bukunya dan menutup resleting tas lalu berdiri. Tapi, Aksa menahan pergelangan tangannya.


“Nggak papa kalau lo marah, tapi masa lo lupa kita udah janjian habis pulang sekolah?”


Rainy mengernyitkan dahinya. Janji? Janji apa?


“Gue lupa,” ucap gadis itu.


Aksa menghela napasnya kemudian baru menjawab, “Kita mau nemuin adek kelas yang punya foto itu. Lo nggak mau fotonya kesebar selain sama Bagas kan? Sekarang kita temui anak itu.”


Rainy baru ingat, kemudian menganggukkan kepalanya. Tanpa menimpali ucapan Aksa, Rainy melangkah pergi. Aksa buru-buru menyusul, mengira Rainy akan pulang tapi ternyata Aksa salah.


Gadis itu menghentikan langkahnya ketika sudah menuruni tangga dan berhenti di depan kelas sepuluh IPA empat. Di dalam sana masih ada beberapa orang siswa-siswi, dan Rainy menoleh pada Aksa.


“Lo yang nanya. Gue takut salah terus nanti malah jadi ribut,” kata Rainy menjelaskan alasannya.


Aksa mengangguk. Langkah kaki membawanya memasuki kelas itu. Beberapa penghuni kelas menatap mereka terkejut tapi tak ada yang bersuara. Sampai Aksa menghentikan langkah ketika sudah dekat dengan meja guru yang sudah kosong.


“Di sini ada yang namanya Aldo, nggak?” tanya Aksa, agak berteriak.


Cowok yang bernama Aldo spontan mengangkat tangannya dengan tatapan bingung. “Saya, Kak. Kenapa, ya?”


“Bisa ikut gue bentar nggak? Ada yang mau gue tanyain,” kata Aksa.


Meski sedang kebingungan, tapi Aldo tetap berdiri dan pergi mengikuti Aksa yang ternyata membawanya ke depan kelas yang memang sudah agak sepi.


“Ada apa ya, Kak?” tanya Aldo, agak sedikit takut.


“Gue mau tanya, soal foto. Lo punya foto yang lo ambil di bawa tangga itu? Waktu pagi-pagi ada orang yang jatuh, dan posisinya agak … ambigu lah pokoknya,” Aksa menjawab dengan agak bingung, takut salah kata.


Aldo nampak berpikir kemudian ber-oh, “Jadi yang ciuman di bawah tangga itu Kakak? Iya benar?? Gue nggak sengaja ngefoto waktu itu. Kebetulan banget posisinya lagi-”


Aksa lantas menutup mulut Aldo saat mendengar suara Aldo yang agak keras. Matanya melotot dengan tajam. “Suara lo kegedean anjirr, nanti ada yang denger!”


Aldo meringis kemudian meminta maaf. “Gue ada fotonya-”


“Bisa lo hapus nggak? Kalau ketahuan guru bisa jadi masalah, dan jangan lo sebar juga. Itu murni kecelakaan, nanti kalau kesebar bisa-bisa gue dikira main mesum di bawah tangga,” ujar Aksa, nadanya agak sedikit kesal.


Bukannya iba, adik kelas Aksa itu malah terkekeh. Tentu Aksa melotot lagi. Sementara Rainy hanya duduk di kursi yang berada di depan kelas itu. Jarak dua meter dari Aksa.


“Bisa bisa. Gue bisa ngehapus fotonya, tapi … ”


“Tapi apa?” kata Aksa, tidak sabar.


“Tapi gue punya syarat,” ucap Aldo, membuat Aksa mendengus kasar kemudian bersedekap.


“Jadi adek kelas laknat amat lo sama kakak kelas. Nggak ada takut-takutnya sama sekali.”


Aldo tertawa lagi. “Mau gue hapus nggak, Kak?”


“Jadi model gue satu hari, barengan sama Kakak yang cewek. Model pasangan gitu, tapi lo tenang aja, posenya nggak aneh-aneh kok, soalnya buat lomba. Fotonya juga di sekolah, jadi aman meskipun ada guru yang liat,” Aldo menjelaskan sementara Aksa berpikir.


“Gue setuju, tapi lo harus hapus fotonya!”


“Oke, deal ya? Hari senin gue tunggu di perpustakaan waktu istirahat pertama. Gue bakal hapus fotonya di depan lo tapi waktu kita udah selesai foto.” Senyum mengembang di bibir Aldo, raut wajahnya mengatakan seolah semua masalah sudah teratasi.


“Oke, gue sama temen gue bakal dateng ke sana, ingat janji ada buat di tepatin,” kata Aksa dengan nada mengancam.


Aldo menangguk, kemudian Akss mengajak Rainy untuk pergi. Di jalan menuju gerbang, Rainy menendang sepatu Aksa hingga cowok itu terkejut dan hampir tersandung kakinya sendiri jika saja Aksa tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


“Lo kenapa lagi dah? Masih marah sama gue? Kan gue udah selesain masalah soal foto itu. Tapi kalau kejadian di kantin gue beneran gak tau itu bakal terjadi,” Alsa menatap Rainy dengan bingung.


“Lo seenaknya banget sih? Emangnya gue udah setuju soal jadi model sehari itu? Lo nyebelin banget sumpah!” gerutu Rainy.


Sejak tadi Rainy menggerutu bahkan mengumpati Aksa dalam hatinya. Sudah menendang bola hingga mengenai kepalanya, lalu mencuri ciuman pertamanya. Sampai kejadian di kantin yang membuat Rainy merasakan malu luar biasa sampai rasanya Rainy ingin mengubur dirinya hidup-hidup di lubang semut.


Belum lagi tadi, Aksa menyetujui syarat yang diberikan adik kelas mereka tanpa meminta pendapat Rainy. Memang benar Aksa ini cowok sialan!


“Kelamaan nunggu jawaban dari lo. Lagian syaratnya nggak berat-berat amat. Palingan kita di suruh pelukan doang,” ucap Aksa, kembali cowok itu mendapatkan tendangan pada betisnya.


“Sakit banget gila! Lo kasar banget sih jadi cewek,” Aksa meringis.


Rainy tak acuh, karena setelah itu Rainy pergi mendahului Aksa. Arah parkiran dan gerbang berbeda, maka dari itu, Rainy yang hampir mencapai gerbang sementara Aksa masih harus lurus untuk sampai ke parkiran.


Tapi tiba-tiba Aksa mencekal pergelangan tangan Rainy, gadis itu tersentak dan berbalik.


“Apa sih, Aksa? Gue mau balik!” kata Rainy ketus.


“Pulang bareng gue aja, sekarang udah mau sore, sekolah udah sepi. Bahaya kalau lo nunggu ojol sendiri di halte depan.”


“Gue bisa bela diri, lagian masih ada satpam yang jaga gerbang.” Rainy menolak sambil mencoba menarik tangannya dari cekalan Aksa, tapi ternyata Aksa menggenggam dengan cukup erat.


“Lo bisa bela diri, tapi tetep aja lo cewek. Gue nggak bisa ninggalin lo sendirian di sini, nanti kalau Tante Risa nanyain lo ke gue, gue harus bilang apa?”


Di bilang begitu Rainy agak luluh. Baiklah, anggap sebagai tumpangan karena Aksa telah membuatnya kesal hari ini.


***


Sesampainya di rumah Tante Risa, Rainy kembali merasa resah. Setelah makan malam dan masuk ke dalam kamarnya, Rainy tak henti-hentinya mengecek ponsel untuk sekedar melihat apakah ada notifikasi tanda uang masuk ke dalam rekening.


Tapi, nihil.


Setiap kali Rainy mengecek, setiap kali itu pula kekecewaan yang didapat. Sudah dua hari sejak Papanya telat mengirim uang. Biasanya tidak begini.


“Apa Papa semarah itu sampai berhenti transfer?” gumam Rainy sambil menatap langit-langit kamarnya.


Anggaplah Rainy sebagai anak kurang ajar karena yang Rainy butuhkan dari papanya hanya uangnya saja. Kasih sayang tidak akan membuat Rainy kenyang, lagipula kasih sayang itu sudah dicurahkan pada adiknya yang tengah sakit.


Semiris itu kehidupan Rainy.


“Apa ini salah satu ancaman Mami?” sempat terbesit dalam pikiran Rainy, mengingat riwayat chat yang dikirim ibu tirinya beberapa hari yang lalu.


Kalau memang benar, sepertinya untuk kedepannya tidak akan ada transferan masuk ke dalam rekeningnya ini.


Rainy kembali mengambil ponsel dan mengetik sebuah nama. Salah satu orang masih bisa Rainy harapkan, Kakak laki-lakinya.


“Gue telpon kira-kira diangkat nggak ya?” gumam Rainy yang merasa ragu.


Tapi, Rainy tetap menelepon. Menempelkan benda pipih itu ke telinganya. Terhubung tapi tidak diangkat. Rainy menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak yang memenuhi dadanya.


“Sibuk banget, ya?”


Sudah panggilan ketiga, tapi tak juga diangkat. Helaan napas berat keluar dari mulutnya, sudah terbiasa jadi untuk apa menangis?


Tapi, meskipun begitu berpikir begitu, tetap saja satu bulir air mata lolos hingga jatuh ke bantalnya.


Sampai beberapa saat kemudian terdengar notifikasi dari ponselnya. Membuat Rainy lekas menyeka air matanya dan melihat siapa yang mengirim pesan.


Bang Bhara:


Kenapa, Ai? Maaf Abang nggak angkat telpon karena Abang masih sibuk sama tugas kuliah.


Kalau udah ada waktu, nanti Abang telpon balik.


Dan Rainy kembali menyadari, bahwa dia benar-benar sendirian sekarang.