
“Kangen gue nggak?”
Aksa bertanya sambil menaik-turunkan kedua alisnya. Sementara Rainy menatap Aksa datar lalu memutar bola matanya.
“Nggak! Ayo, buruan berangkat!” ketus Rainy.
Senyum yang Aksa tunjukkan langsung menghilang lalu berdecak karena respon Rainy itu.
Masih di atas motornya, Aksa menyuruh Rainy mendekat, setelah gadis itu mendekat, Aksa langsung memasangkan helm di atas kepala Rainy.
“Gue bisa sendiri,” ucap Rainy.
“Sekali-kali nggak papa lah,” balas Aksa sambil memukul kepala Rainy yang terbungkus helm hingga membuat gadis itu terkejut.
“Apaan sih pukul-pukul?”
“Nggak papa, pengen aja.”
Rainy mendengus dengan tingkah Aksa yang satu ini. Setelah itu Rainy menaiki motor Aksa dan cepat-cepat menyuruh laki-laki itu segera berangkat.
Pagi ini seperti biasa, berangkat bersama Aksa lalu pergi ke kelas bersama juga. Saking seringnya bersama banyak yang mengira mereka pacaran, padahal sebenarnya tidak. Mereka hanya tetangga yang sekarang selalu berangkat sekolah bersama.
Setelah turun dari motor, mereka akan berjalan meninggalkan parkiran untuk menuju kelas. Siswa-siswi yang datang sudah cukup banyak, beberapa dari mereka ada yang melihat ke arah Rainy dan Aksa dan beberapa ada yang tidak peduli.
“Jan!” panggil Aksa.
Terbiasa mendengar panggilan Hujan dari Aksa membuat Rainy mau tak mau menoleh. Entahlah, Aksa ini berbeda, jika yang lain memanggilnya dengan nama maka Aksa akan memanggil dengan arti dari nama itu.
“kamis ini gue mau tanding basket, sekolah kita yang jadi tuan rumah. Lo … nonton 'kan?”
Rainy terdiam, bukan tak mau, tapi dirinya harus bekerja. Hanya saja, jika pertandingan dilakukan pada jam sekolah, Rainy bisa-bisa saja.
“Tandingnya jam berapa?”
“Waktu istirahat kedua, karena guru-guru mau pada rapat jadi kita ada jadwal kosong. Kan nggak semua guru yang bakalan ikut rapat.”
“Bisa kalo jam segitu,” ucap Rainy sambil menganggukkan kepalanya, sementara Aksa sudah mengulum senyum karena senang.
“Jangan lupa bawa minum, bakalan haus soalnya.”
“Halah! Bilang aja kalo lo mau ditraktir gue.”
Aksa tertawa, kepalanya mengangguk membenarkan ucapan Rainy. Tangannya terulur untuk mengacak-acak rambut Rainy yang tadi sudah disisir dengan rapi, kini malah kembali berantakan.
“Aksa! Lo jahil banget sumpah! Gue udah cape-cape nyisir malah lo acak-acak,” omel Rainy. Ia merapikan kembali rambutnya yang agak kusut karena ulah Aksa.
Mereka masih berada di jalan, hendak menuju tangga untuk naik ke lantai dua. Beberapa siswa-siswi turun dari sana untuk menuju lapangan yang sebentar lagi akan melakukan upacara rutin setiap hari senin.
“Kak Rainy! Kak Aksa!”
Mendengar namanya dipanggil, Rainy langsung menghentikan langkahnya begitu juga dengan Aksa. Ketika menoleh, mereka mendapati Aldo di sana, sedang tersenyum cerah dan memamerkan deretan giginya.
“Kenapa lo?” tanya Aksa sambil memicingkan kedua matanya.
“Mau ngasih hadiah, buat Kak Rainy.”
Aksa mengangkat sebelah alisnya, “Dalam rangka apaan?”
Tak menjawab pertanyaan Aksa, Aldo malah melewatinya dan mendekati Rainy lalu mengulurkan kotak yang katanya adalah hadiah untuk Rainy.
“Gue juara dua, sesuai janji gue, gue bakalan kasih lo hadiah lebih dari kemarin. Meskipun nggak mahal, semoga lo suka, Kak.”
Aksa melongo mendengarnya, mulutnya tak bisa berkata-kata ketika Rainy tersenyum pada Aldo dan mengambil hadiah itu sambil mengucapkan terima kasih.
Kemudian Aksa mendengus kasar, ia menunjuk dirinya sendiri sambil berkata, “Terus gue? Hadiah buat gue mana? Kan gue juga bantuin lo waktu itu. Nggak adil dong!”
“Oh, Kak Aksa juga mau? Tapi nggak risih di kasih hadiah sama anak cowok? Kalo emang mau, besok gue kasih.”
Untuk kedua kalinya Aksa tak bisa berkata-kata, dalam hatinya membenarkan. Ya, iya juga, mana mungkin Aksa suka diberi hadiah oleh laki-laki selain di hari ulang tahunnya.
“Nggak deh! Nggak usah, buat Rainy aja hadiahnya,” tutur Aksa kemudian.
Aldo mengacungkan jempolnya ke arah Aksa, pemuda itu kembali mengucapkan terima kasih barulah pergi dari hadapan mereka. Membuat Rainy dan Aksa kembali berdua dengan keadaan saling diam.
“Ayo!” kata Rainy pertama kali, mengajak Aksa untuk kembali menuju kelas mereka.
Aksa mengangguk, di jalan tatapannya terlihat gelisah, sesekali matanya melirik ke arah kotak yang kini sedang di peluk oleh Rainy. Meski penasaran tapi Aksa tidak mau menyuruh Rainy untuk segera membukanya.
“Gue bisa kasih lo hadiah lebih gede dari itu,” celetuknya tiba-tiba membuat Rainy menoleh ke arahnya dengan tatapan bingung.
“Ya terus? Lo juga mau ngasih gue hadiah? Dalam rangka apa?”
Aksa bungkam, lantas merutuki mulutnya yang barusan bicara itu. “Emang harus ada alasannya ngasih hadiah?”
“Iya lah, ntar gue bingung kalo tiba-tiba dapet hadiah, dikira salah orang.”
“Lain kali jangan asal nerima hadiah dari cowok lain,” ucap Aksa yang mulutnya memang sudah gatal ingin mengucapkan kata itu.
“Kenapa?”
Aksa tak menjawab, bungkam sepanjang jalan. Rainy pun mendengus dan berjalan lebih dulu ketika melihat Vania dan Alika ternyata ada di depan mereka, tak jauh posisinya.
PLAK!
Aksa terkejut ketika seseorang menepuk bahunya, ia menoleh dan mendapati Bagas yang tengah tersenyum meledek.
“Cemburu nih ceritanya?”
“Paan sih!”
“Panas kan hatinya? Hareudang euy hareudang!” kata Bagas semakin menyudutkan Aksa, kemudian Bagas menyeringai.
***
Seperti sebelum hari libur kemarin-kemarin, Rainy akan pergi ke cafe setelah pulang sekolah. Awalnya Rainy pikir akan sama seperti sebelumnya, dia bisa pergi dengan lancar tanpa mengkhawatirkan apapun, tapi ternyata hari ini tidak.
Tante Risa ada di rumah, artinya Rainy harus menyiapkan alasan yang lebih logis lagi untuk bisa pergi ke cafe hari ini. Bukan mengerjakan tugas kelompok di rumah teman lagi.
Setelah bersiap, Rainy mengembuskan napas terlebih dahulu barulah gadis itu keluar dari kamarnya. Biasanya Rainy akan langsung menempelkan memo di pintu kamar tantenya, tapi kali ini Rainy harus menghadapi tante Risa secara langsung.
“Mau kemana, Ai?” tanya tante ketika Rainy melewati ruang keluarga, tak ada om Abraham di sana, mungkin sedang pergi, pikir Rainy.
Sambil menahan gugup, Rainy berkata, “Mau main, Tante. Biasa, sama Vania sama Alika.”
“Oh, main kemana?”
Rainy menelan ludahnya, semakin gugup dan takut jika tante Risa curiga jika ia bukan pergi main. “Nonton Aksa latihan basket, dia sama temen-temennya mau tanding hari Kamis nanti.”
Rainy pikir, itu cukup masuk akal, meskipun ketakutan kalau tante akan bertanya pada Aksa apakah dia benar-benar menonton mereka latihan atau tidak. Tapi melihat tante Risa menganggukkan kepalanya membuat Rainy benar-benar bernapas dengan lega.
“Jangan kemaleman pulangnya, Ai,” pesan tante Risa.
“Siap, Tante. Makasih, Ai pergi dulu,” ucap Rainy sambil melambaikan tangannya, tanpa tahu bahwa sang tante kini sedang mengkhawatirkan dirinya dan kecewa karena kebohongan Rainy.
Rainy pergi menggunakan ojek online, sesampainya di sana seperti biasa, Azura yang menyapanya terlebih dahulu. Ketika masuk semakin dalam, pegawai cafe lainnya ikut menyapa Rainy, dibalas sapaan hangat juga dari gadis itu.
Semuanya berjalan lancar, pelanggan cukup ramai tapi tidak terlalu penuh sampai Rainy harus bolak-balik untuk mengantarkan pesanan. Sampai ketika hanya tersisa beberapa pelanggan dan Rainy bisa sedikit menarik napas, Azura berkata sesuatu yang membuat Rainy sedikit takut.
“Waktu sabtu kemarin, ada yang nanyain kamu. Kakak lupa ngasih tau karena banyak yang mau bayar minuman. Sampe malem, Kakak bener-bener udah lupa, malah tadi malem pas mau tidur baru keingetan kamu.”
Azura terkekeh hingga matanya menyipit, berbeda dengan Rainy yang merasakan perasaan tidak enak. “Orangnya gimana, Kak? Dia nanyain apa aja?”
Azura menceritakan semuanya, bagaimana penampilan wanita itu dan apa saja pertanyaan yang diajukan mengenai Rainy.
Dalam keadaan gelisah Rainy mencoba untuk tetap berpikir positif.
***
Sepulangnya dari cafe, Rainy melihat tante Risa tengah berdiri di depan teras rumahnya. Wajah itu terlihat khawatir hingga ketika Rainy sampai di hadapannya, tante Risa mengomel sambil memeriksa beberapa bagian tubuh Rainy, takutnya ada yang luka.
“Kok malem banget sih, Ai? Tante takut kamu kenapa-kenapa, udah beberapa hari ini kamu pulang malem terus, bikin Tante selalu kepikiran … ”
Rainy yang mendengarnya pun jadi merasa bersalah, kepalanya menunduk dalam dengan kedua tangan saling bertaut. “Maaf, maaf, Tante. Aku nggak bermaksud bikin Tante khawatir.”
“Aksa aja udah pulang, Tante pikir kamu bakal pulang sama dia. Tapi malah jam segini baru sampe.”
Rainy semakin menunduk, tak bisa berkata-kata, karena Rainy telah berbohong.
Melihat Rainy seperti itu tentu membuat tante Risa tidak tega, tante lekas menyuruh Rainy untuk segera membersihkan diri lalu makan malam. Hanya Rainy yang belum, karena tante dan om Abra sudah makan lebih dulu.
Tante menemani Rainy makan malam, setelah gadis itu akan pergi ke kamar, barulah tante pergi ke kamarnya sendiri.
Rainy mendengar ponselnya berdering ketika ia baru saja memasuki kamarnya. Ia meraih benda itu di atas meja belajarnya, melihat nama Bhara di sana tanpa pikir panjang Rainy menekan tombol hijau lalu menempelkan pada telinganya.
“Halo, Bang, kenapa?” tanya Rainy yang kini sudah duduk di kursi meja belajarnya.
“Ada yang kamu sembunyiin dari Abang?”
Rainy mengernyit tidak paham. Apalagi ketika mendengar nada suara Bhara yang tidak biasa. “Maksudnya, Bang?”
“Kamu sekarang udah nggak percaya Abang lagi, Dek? Mentang-mentang Abang nggak ada di samping kamu, setiap kamu punya masalah kamu pendem semuanya sendiri.”
Rainy gemetar, ia berpikir kalau Bhara sudah mengetahui sesuatu. “Bang, aku-”
“Jadi, kenapa? Kamu ada masalah sama keuangan kamu sampai kamu harus kerja setiap pulang sekolah? Kenapa nggak bilang sama Abang? Meskipun Abang jauh, Abang pasti bantu. Kenapa harus capek-capek nyari kerja.”
Rainy tercekat, menahan tangisnya yang akan pecah. Gadis itu menutup mulutnya. Ini yang Rainy takutkan, jika Bhara tahu, sudah pasti setelah ini Bhara akan bertengkar dengan papa.
“Abang … tau dari mana?”
“Kamu nggak perlu tau Abang tau kamu kerja dari mana. Cuma Abang maunya kamu jujur, kamu ada masalah apa? Jangan dipendam sendiri, Dek. Kamu punya Abang. Atau kamu udah nggak anggap Abang, Abang kamu lagi? Kamu nggak butuh Abang lagi?”
“Nggak gitu.” Rainy menggeleng dengan air mata yang sudah mengalir, ia terisak tanpa suara, hanya saja Bhara pasti tahu kalau dirinya sedang menangis.
“Jadi … kenapa?”
Rainy kini bingung, menceritakan atau tidak. Tapi, jika tidak pasti Bhara akan terus mendesaknya. Ia menghela napas panjang dan menghapus air matanya lebih dulu sebelum kemudian bicara.
“Dek ... ” panggil Bhara.
“Papa berhenti kirim uang.”
Satu kalimat dari Rainy membuat suasana tiba-tiba hening, Bhara terkejut sudah pasti. Rainy tahu, setelah ini apa yang akan Bhara lakukan. Sudah pasti Bhara akan menelepon papanya dan marah besar.
“Kenapa nggak bilang sama Abang dari awal, Dek? Biar Abang telepon Papa, nanyain alasan kenapa nggak kirimin kamu uang lagi.”
Dari nadanya, Rainy tahu Bhara sedang menahan amarah. Gadis itu semakin menunduk dan menggigit bibir bawahnya.
“Jangan berantem sama Papa. Jangan … ” pinta Rainy.
“Aku minta maaf karena nggak ngomong dari awal, tapi jangan bilang sama Papa, jangan berantem gara-gara aku,” tambah Rainy lagi.
“Kenapa? Kenapa nggak boleh? Harusnya Papa nggak seenaknya berhenti kirim uang ke kamu. Meskipun marah, tapi itu tanggung jawab Papa buat ngasih kanu uang jajan. Nggak biarin anaknya kerja supaya bisa dapet uang.”
“Bang … ” Rainy memohon.
Belum sempat menambah kata, Bhara sudah mematikan sambungan telepon secara sepihak. Membuat Rainy semakin terisak dan merasa semakin takut. Ia menenggelamkan wajahnya di antara lipatan lutut.
Rainy tidak sadar, jika tante Risa mendengar semuanya dari balik pintu kamar pun ikut sedih mendengar masalah yang di alami keponakannya.