
“Oh, jadi selama ini lo kerja di sini?”
Rainy meneguk ludahnya dengan susah payah. Padahal Aksa hanya bertanya dengan pertanyaan biasa, tapi nadanya itu benar-benar seperti menyindir, terkesan sinis.
“Iya,” sahut Rainy. “Lo tau dari mana kalau gue ada di sini?”
“Tante Risa.”
Rainy menghela napasnya, dia sudah menebak siapa yang kemungkinan besar memberitahu Aksa dia ada dimana sekarang. Jika bukan tante Risa, terus siapa lagi?
Tidak mungkin juga om Abra.
“Mau jemput gue?” tanya Rainy.
“Iya … sebenarnya enggak sih! Cuma kebetulan pas disuruh nyokap keluar gue ketemu Tante Risa di luar rumahnya. Jadinya sekalian minta tolong ke gue buat jemput lo.”
“Padahal lo bisa nolak. Gue juga udah mau pulang.”
“Ck! Bukannya bersyukur gue jemput, kan nggak perlu bayar. Kalo malem ini gue nggak di sini, mungkin gue nggak akan tau kalau selama ini lo kerja,” kata Aksa yang membuat Rainy terdiam.
“Baru beberapa hari,” cicit Rainy dengan suara agak lirih.
Rainy tahu Aksa mendengar apa yang baru saja dia ucapkan, dan Rainy tak mengharapkan sahutan Aksa. Jadi, dengan cepat Rainy membalikkan tubuhnya untuk masuk ke dalam cafe.
Bukan meninggalkan Aksa, tapi Rainy hanya ingin mengambil barang-barang miliknya dan berpamitan pada karyawan yang lain.
Rainy keluar dari cafe dan melihat Aksa yang masih setia duduk di atas motornya. Pemuda itu terus menatap Rainy dalam setiap langkah untuk menuju ke arah Aksa.
“Naik!” titah Aksa.
Rainy menurut saja, tanpa sepatah kata lagi Rainy langsung menaiki motor Aksa yang sudah menyala.
Angin berembus menerbangkan rambut Rainy yang dikuncir kuda. Sesekali mata Rainy melirik ke arah spion dimana terlihat wajah Aksa yang tengah fokus menyetir.
Setelah beberapa menit, Aksa menghentikan motornya di depan minimarket. Rainy turun di ikuti oleh Aksa.
“Gue mau beli titipan nyokap bentar,” kata Aksa.
Rainy mengangguk. “Mau ikut?” tanya Aksa.
“Ikut! Gue males nunggu di sini kayak orang ilang,” jawab Rainy.
Keduanya memasuki minimarket, Rainy terus mengekori Aksa yang baru Rainy sadari sejak tadi mereka hanya keliling-keliling tidak jelas. Pemuda itu terlihat kebingungan. Rainy yang gemas langsung menghentikan langkah.
“Sa! Lo sebenarnya mau beli apa sih?” kesal Rainy membuat Aksa membalikkan tubuhnya.
Aksa menggaruk kepalanya yang tak gatal itu, dengan ragu Akaa bilang, “Emh … gue minta tolong lo aja deh, gue nggak tau ngambilnya yang merk apa.”
Aksa menyodorkan secarik kertas yang kemudian Rainy baca. Gadis itu menahan tawanya setelah membaca apa yang tertulis disana.
Aksa meringis, dengan telinga memerah ia hendak merebut kembali kertas itu. “Kalo nggak mau bantuin minimal nggak usah ketawa!”
“Iya iya! Sini gue bantu cariin,” ucap Rainy. “Bilang aja lo malu nyari pembalut buat nyokap lo! Sok sok-an bingung sama merk. Padahal ini udah jelas ada tulisannya lengkap.”
Aksa tahu dia sedang di ledek. Jadi, Aksa langsung mendorong Rainy untuk segera mencari titipan mama Clarissa yang memang sedari awal sudah membuat Aksa keberatan.
Setelah membayar belanjaannya, keduanya keluar dari minimarket, Aksa dan Rainy langsung pulang ke rumah. Tentu Aksa menurunkan Rainy lebih dulu baru setelah itu dirinya bisa pulang ke rumah sambil menenteng plastik belanja.
Mama Clarissa sudah menunggunya di ruang tamu, ketika Aksa masuk, mama Clarissa langsung berdiri dan berkacak pinggang.
“Lama banget, sih! Dari mana dulu kamu, Aksa?”
Aksa meringis, setelah menaruh plastik belanjaan barulah Aksa menjawab pertanyaan mamanya. “Maaf, Ma. Tadi jemput Rainy dulu makanya lama.”
Mendengar nama Rainy disebut, mama Clarissa langsung menurunkan tangannya. “Rainy? Emang dia kemana?”
“Baru pulang kerja dia. Aku tadi ketemu Tante Risa terus minta tolong ke aku buat jemput Rainy ke tempat kerjanya. Nggak enak lah kalau nolak.”
“Lho? Rainy kerja? Kenapa?”
Aksa hanya mengedikkan bahunya, tanda ia tidak tahu apa-apa.
“Apa Rainy belum dikirimi uang ya sama keluarganya?” Mama Clarissa bertanya lagi, tapi Aksa yang memang tidak tahu hanya menggeleng.
“Coba Mama tanyain, kalo emang lagi kekurangan uang bantuin juga. Kasian, Ma,” ucap Aksa.
Mama Clarissa langsung menoleh ke arah Aksa, kemudian tersenyum meledek. “Cie … mulai peduli ya sama Rainy?”
Aksa mendengus. “Bukan gitu!” Malas menjelaskan, akhirnya Aksa melenggang pergi meninggalkan mamanya yang masih cekikikan.
Memasuki kamarnya, Aksa langsung merebahkan dirinya di atas kasur. Tak tahu ingin melakukan apa, membuat Aksa jadi membuka ponselnya. Aplikasi yang pertama Aksa buka adalah Whatsapp, dan Aksa melihat satu grup buatan Bagas itu ada beberapa pesan yang belum ia baca.
Bacoters Squad
Bagas: Gaes, tempat kalian mati lampu nggak?
Dylan: nggak! Kenapa? Tempat lo mati?
Bagas: Ho'oh.
Dylan: Belum lo bayar kalik listriknya, makanya mati.
Bagas: Udah ye!
Ardi: Tempat gue juga mati.
Bagas: Nah, 'kan! Sama. Berarti emang bukan karena listriknya belum dibayar.
Dylan: Kenapa emang kalo mati lampu? Pake laporan segala! @bagas.
Bagas: Barusan gue mau cerita.
Dylan: Ya udah! Buruan cerita.
Bagas: Sabar, Nyet!
Bagas: Pas mati lampu, gue kan masih sikat gigi. Nah, karena di wastafel gue itu ada kacanya, jadi otomatis pas gue sikat gigi itu gue sambil berkaca kan? Alias bercermin. Nah, tiba-tiba mati tuh lampu.
Ardi: Ya terus?
Bagas: Terus gue kaget dong! Anjir, masa pas gue habis kumur-kumur gue ngeliat kaca ada yang mirip gue di belakang? Matanya item melotot.
Dylan: Lo kabur nggak?
Bagas: Kabur lah! Bisa ngompol gue kalo tatap-tatapan terus sama tuh setan.
Vania: Halu kalik lo. Emangnya lo punya indera ke enam, Gas?
Dylan: Gas? Gas apa? Elpiji?
Bagas: Buset dah, typing lo, Van. Eh, tapi gue nggak boong, beneran liat setan mirip gue.
Bagas: Percaya dong, masa nggak percaya sih :'(
Alika: Lima puluh lima puluh.
Vania: Eh, tempat gue juga barusan mati lampu nih.
Alika: Iya, dong. Kita sama Vaniaa:(
Dylan: Makanya punya mulut tuh dijaga. Jadinya tempat gue juga nggak ikutan mati lampu.
Bagas: Anjrit! Serius rumah lo pada mati lampu juga? (Ngakak)
Dylan: Hm
Vania: Iye
Alika: Yoi
Bagas: Wah, diluar nurul, ya?
Bagas: @Aksara @Rainy gimana? Mati lampu juga?
Bagas: Anjrot! Gak di bales, lagi pacaran ya lo berdua, diem-diem mulu!
Aksara: Lambemu, Gas! Nggak lah! Aman tempat gue.
Baru saja Aksa bilang begitu, tiba-tiba lampu di kamar Aksa padam dan membuat Aksa melengos sambil matanya menatap pesan di grup. Padahal Aksa barusan bilang aman.
Bagas: Serius?
Aksara: Awalnya serius, tapi barusan banget lampunya mati.
Bagas: (Emot ngakak)
Aksa hendak mematikan ponselnya dan mencari lilin jika saja ia tak melihat ada yang menelepon. Rainy, gadis itu untuk pertama kalinya menelepon Aksa dan membuat Aksa bertanya-tanya sambil menahan senyum.
“Idih! Kok gue seneng, ya, dia nelepon gue gini,” gumam Aksa masih sambil senyam-senyum sendiri. Lalu ia menekan tombol hijau pada ikon di ponselnya.
“Ngapa, Jan? Tumben nelepon.”
“Emh … tempat lo mati lampunya, ya?”
“Iyalah, kan kita sekomplek. Tetanggaan pula! Nggak mungkin tempat lo mati terus tempat gue hidup.” Aksa terkekeh tanpa Rainy tahu.
“Lo nelepon gue bukan cuma buat nanya itu kan?” lanjut Aksa.
“Bukan!”
“Terus apa?”
“Temenin gue bentar. Sampe lampunya nyala.”
“Hah?” Aksa menjauhkan ponselnya dari telinga, takut salah dengar.
“Hah heh hoh aja lo!”
“Serius mau gue temenin?” tanya Aksa agak tidak percaya.
Di rumah depan, Rainy cemberut mendengar pertanyaan Aksa.
“Ya udah kalo nggak mau. Gue matiin aja–”
“Eh, iya iya. Sini gue temenin. Kenapa sih? Lo takut, ya?”
Jika Rainy ada di hadapannya, pasti Rainy sudah melihat senyum Aksa yang menyebalkan.
“Nggak juga. Gara-gara cerita Bagas gue agak … ”
“Takut?” Aksa tersenyum miring.
“Ck! Dikit doang!”
“Iya, gue paham. Lo minta gue temenin karena takut.”
Tak ada sahutan dari Rainy, membuat Aksa menggunakan kesempatan itu untuk keluar dari kamarnya dan mencari lilin. Tentu saja sambil membawa ponsel yang juga ia jadikan senter.
Tiba di dapur, Aksa melihat mama Clarissa sedang menyalakan lilin.
“Ma, Aksa minta satu lilinnya,” kata Aksa.
“Ambil aja.” mama menunjuk lilin yang barusan di nyalakan kemudian menyalakan lilin lainnya.
Mama Clarissa sempat melirik ke arah ponsel Aksa yang menyala, kemudian kembali menatap Aksa. “Lagi telepon sama siapa?” tanya mama Clarissa.
“Rainy,” jawab Aksa.
“Ohhh … ” Mama menahan senyum. “Lagi sleep call ceritanya?”
Aksa tahu kalau mamanya tengah menggoda dirinya, tapi Aksa tidak tahu kalau dia bisa salah tingkah karena ucapan mamanya. Tubuhnya tanpa sadar merespon dengan tangan yang menggaruk-garuk kening padahal tidak gatal sama sekali.
“Nggak lah, sleep call apaan,” kata Aksa.
“Kenapa nggak jadian aja, sih! Mama restuin kok kalian pacaran,” ucap mama Clarissa.
Aksa tidak tahu harus menjawab apa, tapi pasti Rainy mendengar apa yang mamanya ucapkan.
“Jangan HTS terus, nanti kalau Rainy ada yang suka terus pacaran sama orang lain kamunya nangis.” Mama Clarissa memanas-manasi Aksa.
“Maaa … ”
“Nggak percaya? Ya udah, tunggu aja,” kata mama Clarissa sambil tersenyum yang bagi Aksa seperti tengah menakutinya.
Tak ingin Rainy berpikir aneh-aneh, Aksa melihat ponselnya sambil berkata, “Jan! Jangan dengerin kata– Loh? Kok mati?”
Entah sejak kapan, ternyata Rainy sudah mematikan sambungan teleponnya.
*
*
*
Maaf baru up, aku sebenarnya udah nulis tapi karena waktu aku mau nyalin teksnya malah ke hapus. nyesek banget aku, setengah bab hilang padahal tinggal update. maaf banget 😭