
Pagi harinya, Rainy terbangun dengan kepala yang sedikit pusing. Tapi pusing di kepalanya tidak membuat Rainy untuk tidak pergi ke sekolah. Rainy tetap bersiap dan terlihat seolah masih sehat di hadapan Tante Risa.
Seperti biasa, Tante selalu menyiapkan sarapan, meski Rainy kadang merasa tidak enak, tapi perlakuan Tante Risa tak urung membuat Rainy terkadang merindukan sosok ibunya.
“Tante, hari minggu nanti aku mau ke makam Mama,” ucap Rainy mengutarakan keinginannya.
“Iya, pergi aja. Tante juga kadang sebulan sekali dateng buat ngecek bersih apa nggak makam Mama kamu. Mau berangkat sendiri atau Tante temenin?” tanya Tante Risa.
“Sendiri aja, Tan. Aku juga masih inget kok letak makannya Mama.”
Tante Risa mengangguk lagi, mereka melanjutkan sarapan dan Rainy kembali ke kamar setelah sarapan selesai untuk meminum obatnya. Rainy selalu membawa kotak P3K untuk jaga-jaga. Jika sakit, selain diri sendiri yang mengobati lalu siapa?
Rainy tidak punya siapapun saat ini yang bisa dia andalkan.
Rainy pamit pada Tante Risa saat akan pergi ke sekolah, ojol yang dipesan sudah hampir sampai. Tapi, ketika Rainy keluar dari rumah, Rainy terkejut melihat Aksa yang sudah nangkring di atas motornya ada di depan rumahnya.
“Aksa, lo ngapain di sini?”
“Nungguin lo,” kata Aksa dengan wajah datar.
“Kenapa nungguin gue? Ojol gue juga udah mau nyampe.”
“Cancel aja, biar lo bareng gue.”
Rainy menyipitkan matanya, “Ya nggak bisa gitu! Kasian Abangnya kalo gue cancel,” kata Rainy sambil berdecak.
Baru Aksa akan membalas ucapan Rainy, tiba-tiba sebuah motor datang dengan seseorang yang mengenakan jaket berwarna hijau. Rainy tersenyum miring ke arah Aksa.
Cowok itu berdecak karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ayo, Bang. Berangkat,” Rainy menepuk pundak pemilik motor setelah ia mengenakan helm.
“Siap, Neng,” sahut Abang ojol yang dipesan Rainy.
Aksa terpaksa dan hanya bisa mengikuti Rainy dari belakang. Meskipun di jalan mulutnya terus mendumel karena ojek satu itu jalannya lambat. Tapi, akhirnya tetap bisa sampai ke sekolah meskipun Rainy hanya diturunkan di depan gerbang.
Aksa langsung menghadang Rainy, membuat gadis itu mengernyit heran.
“Dari gerbang ke kelas masih jauh. Naik motor gue aja,” kata Aksa, menawarkan.
“Nggak sampai sepuluh menit juga, lo kenapa sih keukeuh banget pengen gue naik motor lo?”
Akhirnya Aksa mengalah lagi, cepat-cepat Aksa menaruh motornya di parkiran kemudian lari menyusul Rainy yang baru saja tiba di bawah tangga. Kali ini tak ada adegan membagongkan lagi seperti kemarin.
Tapi dengan Aksa yang mengikuti Rainy membuat beberapa siswi melihat ke arah Rainy dan itu membuat tidak nyaman. Seolah semua pusat perhatian hanya tertuju pada dirinya.
Rainy kembali memasang earphone di telinganya, mencoba menepis perasaan tidak suka akan perhatian orang-orang padanya.
Vania, menjadi orang pertama yang menyapa Rainy begitu sampai di kelas. Sementara Aksa langsung mendudukkan dirinya di belakang Rainy.
“Kok gue perhatiin kayaknya lo sama Aksa sering bareng, ya?” tanya Vania penuh selidik.
Rainy mengangkat bahunya cuek, kembali gadis itu memasang earphone di telinganya. Tapi Vania malah mengguncang tubuh Rainy, gadis itu menghela napas dan menatap Vania dengan alis terangkat.
“Lo ada hubungan apa sama Aksa?” tanya Vania lagi, kali ini tatapannya lebih serius.
“Nggak ada hubungan apa-apa, emang kenapa sih?”
“Syukurlah kalau nggak ada, pokoknya jangan sampai deh, soalnya fans Aksa itu banyak. Nanti lo nggak sanggup—”
“Gue denger, Vania!” celetuk Aksa.
Cowok itu menatap Vania tajam, sementara si pelaku cuma bisa nyengir tanpa rasa berdosa.
“Lagian kenapa cewek-cewek pada suka sama Aksa?” Rainy bertanya seolah Aksa cowok biasa saja.
Vania tak menjawab, tapi Aksa menyahut dari belakang. “Lo ngeraguin pesona gue, Ai?” tanya Aksa balik dengan nada tidur percaya.
Rainy menoleh ke belakang, matanya memicing untuk melihat Aksa lebih intens. “Memang apa pesona lo? Selain agak ganteng dikit, itupun dikit banget, lo punya pesona apa? Di mata gue, kelakuan lo itu minus banget.”
Aksa melongo tidak percaya mendengar penuturan Rainy, seburuk itukah Aksa dimata gadis itu?
Tapi, “Lo mau tau pesona gue? Nanti gue tunjukin pelan-pelan.” Aksa tersenyum miring, tapi Rainy malah menatapnya datar dan kembali sibuk dengan dunianya sendiri.
Meskipun tidak peduli, tapi Rainy sepertinya harus memikirkan kata-kata Vania tadi. Fans Aksa itu banyak, ada dimana-mana dan seperti Jailangkung. Seperti sekarang ini, ketika Rainy baru saja keluar dari toilet, dan dia terkejut saat melihat ada dua orang cewek sedang berdiri di depan pintu.
Seolah sengaja menunggu Rainy keluar dari sana.
“Apa?” tanya Rainy.
Salah satu ada yang Rainy kenal wajahnya, dia sekelas dengan Rainy tapi Rainy tidak tahu siapa namanya.
“Lo Rainy?” tanya salah satu yang Rainy tebak adalah ratunya, sementara satunya lagi ya babunya.
“Bukan.”
“Bener kok, dia Rainy. Dia sendiri yang bilang,” ujar gadis dengan nama Wina di dadanya.
Sementara Rainy menaikkan satu sudut bibirnya. Gadis yang bertanya pada Rainy tadi lantas menatap Rainy semakin kesal.
“Nggak usah bohong lo!”
“Oke. Gue emang Rainy, kenapa?”
“Lo ada hubungan apa sama Aksa?” tanya Gadis yang Rainy lihat namanya adalah Widya.
Rainy tergelak mendengar pertanyaan itu. Baru dua jam yang lalu Vania memperingatinya, tapi sekarang Rainy benar-benar harus menghadapi fans Aksa yang tiba-tiba melabraknya.
Ini baru dua cabe, belum nanti cabe-cabean yang lain. Padahal Rainy tidak ada hubungan apa-apa dengan Aksa.
“Nggak ada hubungan apa-apa.”
“Bohong!” Widya membentak.
Rainy memutar bola matanya. “Udah nanya tapi masih nggak percaya. Emang kenapa sih kalau gue ada hubungan sama Aksa? Dia pacar lo? Iya?”
Widya tampak kehabisan kata, tapi gadis itu masih tidak mau menyerah dengan menyingkir dari hadapan Rainy.
“Gue calon pacarnya, lo cuma siswa baru yang nggak tau apa-apa soal Aksa. Dan satu sekolah ini juga tau kalau gue suka sama Aksa!” ucap gadis itu menahan emosi.
Rainy menggeleng dan tersenyum miring. “Masih calon kan? Belum jadian. Dan emangnya Aksa juga suka sama lo? Nggak malu lo suka sama orang tapi udah koar-koar sementara orangnya belum tentu suka sama lo?”
Widya melotot dengan emosi yang semakin meluap. “Berani ya lo!” ucapnya dengan tangan terangkat, hendak menampar Rainy tapi dengan cepat Rainy menangkisnya.
“Gue bisa laporin lo ke guru bimbingan dengan kasus pembullyan. Meskipun gue anak baru, tapi lo nggak bisa macem-macem atau lo sendiri yang kena akibatnya.” Rainy menghempas lengan Widya dan mencengkramnya kuat.
Widya meringis, tapi gadis itu semakin menatap Rainy yang pergi menjauh dengan penuh amarah. “Gue akan bales lo!”
“Terserah.” Rainy kembali memutar bola matanya.
Siswa seperti dua cabe tadi sudah sering Rainy jumpai. Entah apa salah Rainy, tapi di sekolah lamanya pun Rainy sudah sering dilabrak begini.
Tapi Rainy tidak mau ambil pusing, cukup karena permasalahan keluarganya yang membuat Rainy ingin menyerah, jangan ditambah pusing dengan memikirkan orang-orang yang membencinya karena itu percuma dan Rainy malah takut kalau kewarasannya hilang karena memikirkan hal yang tidak penting.
Rainy pergi ke kantin, tempat temannya berada. Sekarang sudah waktunya jam istirahat pertama, jadi Rainy menyusul Vania dan Alika yang katanya sudah memesan satu mangkuk seblak untuknya.
Tapi begitu sampai di kantin, Rainy malah melihat rombongan Aksa juga sedang duduk di meja yang sama dengan Alika dan Vania. Rainy mendekat, duduk di samping Vania dan berhadapan dengan Aksa.
“Sejak kapan sih kita deket kayak gini?” tanya Vania menatap anak-anak cowok satu persatu.
“Emang sebelumnya kita nggak deket?” Bagas bertanya balik.
“Ya lo pikir sendiri!” Vania mendengus, tatapannya terlihat kesal pada Bagas yang malah balik bertanya.
“Mungkin semenjak Aksa suka nemplok sama Rainy,” sahut Dylan.
Aksa melotot kemudian memukul belakang kepala Dylan. “Heh! Lo ngatain gue cicak?”
“Kapan gue bilang kalau lo itu cicak? Dih, makanya punya kuping di bersihin,” balas Dylan dengan tatapan meledek.
Aksa mendengus tanpa menimpali ucapan Dylan.
“Kalau gue sih, semenjak Aksa, Dylan, Bagas sering pergi bareng. Ya gue ikut doang gitu,” kata Ardi yang mungkin cowok paling waras di antara mereka berempat.
“Emang lo nggak deket sama anak buah lo yang lain?” tanya Rainy pada Ardi yang sedang makan gorengan.
“Anak buah?” beo Ardi tak mengerti.
“Anak-anak di kelas maksudnya, kan nggak cuma tiga Curut ini buntut lo,” kata Rainy membuat tiga anak cowok yang di sebut curut seketika tersedak ludahnya sendiri. Sementara Ardi sudah tertawa terbahak-bahak.
“Anjrot, cowok ganteng kayak gue di bilang curut,” sahut Dylan, hatinya terasa cenat-cenut mendengar ucapan Rainy.
“Bener sih kata Rainy, lo emang mirip curut. Alias tikus yang kecebur got,” timpal Bagas.
Dylan melotot tak terima. Saling ledek, mereka akhirnya ribut sendiri. Anak-anak di meja itu lantas menggeleng dan kembali fokus pada makanannya. Tidak mempedulikan duo curut yang masih ribut tidak jelas.
Tiba-tiba Aksa mengacak-acak rambut Rainy, gadis itu kelas lalu menepis tangan Aksa. “Apa sih, Aksa? Rambut gue berantakan gara-gara lo!”
Aksa tertawa, “Kalo gue curut, terus lo apa dong?”
“Ya gue orang lah!”
“Bukan bukan. Kalo gue curut, berarti lo curut betinanya kan?” Aksa tersenyum jahil.
“Serah lo deh,” Rainy malas menanggapi, ia tetap makan seblaknya meski pembahasan mereka sudah entah kemana.
Aksa terkekeh. Rainy akui, saat Aksa tersenyum itu cukup manis. Tapi tidak membuat Rainy terpana. Malah, arah pandang Rainy bertemu dengan tatapan tajam Wina dan Widya, alias dua cewek yang tadi menghadangnya di kamar mandi. Alias lagi Duo Cabe yang sedang melotot ke arahnya.
Rainy tersenyum miring.