
Bhara tidak tahu apa yang papanya pikirkan sampai tidak memberi Rainy uang jajan membuat adiknya harus bekerja di cafe hingga malam hari. Sebenci itukah papa kepada Rainy? Tapi kenapa? Apa alasannya? Berbagai pertanyaan berputar di dalam benak Bhara.
Pertanyaan yang sudah ada sejak lama tapi tak juga terjawab.
Mendengar suara tangis Rainy membuat Bhara ikut merasakan sakit. Tentu juga menimbulkan kemarahan pada papa.
Bhara mengingat bagaimana dia bisa mengetahui jika Rainy pergi bekerja setiap pulang sekolah.
Malam itu, pukul satu malam waktu London, Bhara yang akan pergi tidur tiba-tiba mendapat telepon dari nomor tidak dikenal.
Awalnya Bhara ingin mengabaikan, tapi melihat angka awal pada nomor telepon dengan kode +62 yang berarti berasal dari Indonesia, membuat Bhara akhirnya menekan tombol hijau.
“Halo, dengan siapa?” tanya Bhara sambil menyenderkan tubuhnya pada headboard ranjang.
“Halo, Bhara. Ini Om Abraham, suaminya Tante Risa, maaf mengganggu waktu tidur kamu.”
Awalnya Bhara terkejut, untuk apa pamannya menelepon malam-malam begini?
“Om Abra ternyata, nggak mengganggu kok, Om. Ada apa, ya? Rainy baik-baik aja, 'kan?”
Jika bukan karena Rainy, pasti om Abra tidak akan sampai meneleponnya malam-malam begini, pikir Bhara.
“Dia … baik, gimana kabar kamu?”
“Bhara juga baik, Om.”
Bhara menunggu dengan cemas tentang apa yang akan om Abra sampaikan selanjutnya. Sebuah pertanyaan terlontar yang membuat Bhara sedikit kebingungan pada awalnya.
“Maaf, Bhara. Bukan maksud Om untuk ikut campur urusan keluarga kamu atau mengganggu privasi keluarga kamu, tapi ini menyangkut Rainy.”
Jantung Bhara sudah berdebar kencang karena mendengar nama Rainy disebut. Kekhawatiran tercetak jelas di wajahnya. Ia yang semula sudah mengantuk kini matanya terbuka sempurna. Kantuk sudah hilang entah sejak kapan.
“Iya, Om. Nggak masalah, memang apa hubungannya dengan Rainy?”
“Apa keluarga Bhara sedang kesulitan keuangan? Atau memang Rainy sedang ada masalah dengan keluarganya? Maaf jika pertanyaan Om sudah menyinggungmu.”
Bhara semakin bingung, tapi tetap menjawab pertanyaan Abra tanpa ada yang ditutup-tutupi. “Sama sekali nggak, Om. Bahkan usaha Papa semakin maju. Kalau soal Rainy memang ada sedikit masalah dengan Papa, tapi Bhara juga tidak tau kenapa Papa bisa begitu.”
“Baik, Om hanya ingin beritahu kamu, kalau sekarang sepertinya Rainy sedang kesulitan keuangan, mungkin Bhara tau kenapa? Karena sudah beberapa hari ini ternyata Rainy pergi kerja di cafe setiap pulang sekolah. Itupun karena Tante kamu yang melihat, kalau tidak, entah sampai kapan kami tidak tau kalau Rainy pergi bekerja.”
Bhara merasa jantungnya tertusuk ribuan pisau ketika mendengar penuturan pamannya. Rainy bekerja? Kenapa tidak memberitahu dirinya? Bahkan saat bertanya pun, Rainy selalu menjawab tidak ada masalah.
“Maaf, Om. Bhara tak tau, beberapa hari lalu saat Bhara tanya apa Rainy punya masalah, adik Bhara itu menjawab tidak ada apa-apa. Nanti Bhara coba tanya Rainy lagi, dan terima kasih sudah beritahu Bhara, Om.
“Sama seperti Om, kalau Om Abra nggak kasih tau Bhara, mungkin Bhara nggak akan tau sampai Rainy sendiri yang jujur ke Bhara.”
Bhara masih berusaha bicara dengan nada sehalus mungkin meskipun dalam hatinya sudah merasa marah, dan benak banyak bertanya-tanya tanpa bisa di utarakan.
“Sama-sama, di sini Om hanya bisa membantu sebisanya. Awalnya Om ingin bicara dengan Mas Hamza mengenai masalah Rainy, tapi ternyata sulit di hubungi. Jadi Om lega sekali karena Bhara mau mengangkat telepon dari Om.”
Sampai di sini sepertinya Bhara sudah kesulitan menahan amarahnya, bahkan satu tangannya sudah mengepal kuat sementara satunya lagi memegang ponsel.
“Baik, Om. Sekali lagi terima kasih. Maaf, ya, Om. Bhara titip dulu adik Bhara yang satu ini. Kalau Rainy ada salah, nggak papa marahin aja, Om. Maaf kalau Rainy juga ngerepotin. Nanti kalau Bhara sudah bisa pulang, pasti Bhara mampir ke sana buat jenguk. Hanya sekarang Bhara masih masih repot dengan tugas, karena kurang dari setahun lagi Bhara mau ujian akhir,” kata Bhara.
Bhara mendengar om Abraham terlekeh di seberang sana, sayangnya Bhara tidak bisa menimpali kekehan itu karena saat ini rasanya Bhara ingin meledakkan amarahnya. Hanya masih berusaha ia tahan.
“Tentu. Di sini Rainy akan jadi tanggung jawab Om. Kamu jangan terlalu khawatir, ya? Baik, sampai sini dulu. Kamu pasti lelah dan mau cepat-cepat tidur, selamat malam Bhara.”
Bhara pun mengucap hal yang sama setelah itu sambungan telepon benar-benar terputus. Niat awalnya ingin langsung menelpon Rainy, tapi mengingat sekarang sudah larut malam, dan Bhara yakin saat ini Rainy tengah di sekolah membuat Bhara mengurungkan niatnya.
Amarahnya memang bisa ditahan, tapi tidak dengan kekhawatirannya pada Rainy. Bhara marah pada Rainy tapi lebih marah pada papanya yang sepertinya semakin kesini semakin membuat Bhara emosi.
Sepanjang sisa malam itu, Bhara sulit memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada Rainy yang katanya setiap pulang sekolah pergi bekerja. Sekalinya mata terpejam, Bhara akan terbangun lagi. Begitu terus sampai pagi tiba dan Bhara merasa kepalanya sedikit pusing.
***
Pukul dua siang waktu London.
Bhara yang harusnya hari ini hangout dengan temannya membatalkan janji, ketika temannya bertanya, Bhara, hanya menjawab dirinya sedang kurang enak badan. Ditambah kantung mata di bawah matanya begitu terlihat hingga bisa dijadikan bukti.
Setelah sampai di kos, Bhara langsung menuju kasur. Tangannya bergerak cepat untuk menelepon Rainy. Setelah diangkat, Bhara tak langsung meledak. Pelan-pelan dia bertanya tapi ternyata Rainy tak ingin menjawab hingga akhirnya Bhara berkata apa yang sudah diketahuinya dari om Abra.
Awalnya Rainy masih mengelak, tapi Bhara terus mendesaknya hingga akhirnya Rainy jujur.
“Papa berhenti kirim uang.”
Satu kalimat yang terdiri dari empat kata itu mampu membuat Bhara tak bisa berkata-kata saking tidak percayanya.
Sampai Bhara mendengar isak tangis dari Rainy, membuat Bhara juga berkaca-kaca. Bhara tidak suka mendengar adiknya menangis, karena dia juga akan merasakan sakitnya, apa yang Rainy rasakan bisa Bhara rasakan.
Bahkan di saat seperti ini, Rainy memohon padanya untuk tidak marah pada ayah mereka. Tidak! Bhara tidak bisa, amarahnya sudah ada sejak semalam, tidak bisa Bhara hentikan dan tanpa mau menuruti keinginan Rainy, Bhara mematikan sambungan telepon meskipun Rainy tengah memohon padanya.
Bhara mengusap air mata yang lolos di pipi kirinya, hanya karena Rainy mendengar suara Rainy yang terisak membuat Bhara juga sulit menahan perasaannya.
Sekarang, Bhara tengah menelpon papanya, panggilan pertama tidak diangkat. Panggilan kedua pada nada dering ketiga barulah papa mengangkatnya.
“Ada apa Bhara? Kamu tau kan Papa tidak suka diganggu? Kalau kamu butuh sesuatu tinggal kirim pesan atau hubungi sekretaris Papa saja.”
Baru ingin berbasa-basi, tapi mendengar kalimat yang keluar dari mulut papanya membuat Bhara langsung meledakkan amarahnya.
“Begitu? Selalu begitu! Apa Papa sama sekali tidak peduli dengan anak-anak Papa? Jika ada apa-apa selalu hubungi sekretaris, semuanya sekretaris. Harusnya yang jadi ayah kami itu sekretaris Papa, bukan Papa.”
“Begitu juga kalau Bhara kecelakaan, hubungi sekretaris supaya datang menjenguk dan bayar administrasi. Rainy menikah, suruh sekretaris yang jadi wali. Bhara dan Rainy pergi selamanya, suruh sekretaris yang mengurus! Jangan ganggu Papa! Jangan hubungi Papa! Papa sibuk! Dan selamanya begitu?!”
“Kamu ini bicara apa Bhara?! Tidak sopan menggunakan nada tinggi ketika bicara pada orang tua!” Papa tak kalah membentak, tapi Bhara sudah melupakan sopan santunnya berbicara mendengar kalimat pertama papa tadi.
“Orang tua macam apa yang tak memberikan hak putrinya? Bahkan menelantarkan seolah dia sampah!”
“Apa maksudmu Bhara?” tanya Papa tidak mengerti.
“Masih bertanya?! Apa Papa sudah lupa dengan putri kedua Papa? Adik Bhara? Dia bekerja sekarang demi mendapat uang padahal dia masih punya keluarga yang bisa memberikan uang lebih! Kenapa Papa sampai setega itu? Bahkan berhenti mengirim uang jajannya!!”
“Dengar! Siapa yang berhenti mengirim uang? Papa tidak tau-menahu, karena yang mengurus semuanya itu sekretaris Papa. Jadi jangan bahas perihal itu dengan Papa, lalu Papa tidak menelantarkan siapa-siapa, anak itu saja yang memutuskan pergi. Dia pergi atas kemauannya sendiri!”
“Dia bekerja? Bukannya itu bagus? Dia bisa cari pengalaman, bisa belajar mandiri. Jangan terus menyusahkan orang lain. Dan Papa sebenarnya masih ingin menghukum dia, tapi dia malah lari dari tanggung jawab! Bahkan dia lupa dengan adiknya yang telah dia celakai.”
Bhara semakin tidak percaya dengan ucapan papanya, bisa-bisanya papa-
Bhara tertawa sumbang, dengan menelpon begini berharap apa sih dia? “Oh, Bhara lupa kalau Papa masih punya satu anak yang paling disayang dan perlu diperhatikan. Benar kata Rainy, tidak perlu bertengkar dengan Papa karena tak ada gunanya. Papa tak tahu apa-apa, Papa hanya tau Rainy salah dan harus bertanggung jawab sampai Papa lupa apa yang sudah Rainy berikan untuk kalian.”
“Ingat, Pa. Riana bisa hidup karena Rainy, tapi satu kesalahan Rainy membuat Papa lupa dengan seribu pengorbanan Rainy. Dan mungkin suatu saat Papa benar-benar akan lupa jika Papa punya anak seperti Rainy setelah Rainy pergi. Mungkin juga Papa nggak akan tau bagaimana keadaan Rainy, sakit atau sehat, waras atau gila, bahagia atau menderita.”
Bhara tahu, sangat tahu kalau ucapannya ini keterlaluan, seolah Bhara tengah mendoakan keburukan untuk Rainy. Tapi bukan itu maksud Bhara, dia hanya ingin papanya sadar bahwa ada satu anak yang masih butuh sosok papa. Perhatian, kasih sayang serta dukungan. Tapi sepertinya papa masih menutup mata untuk itu.
“Dia sejak tumbuh remaja sudah menyusahkan, selalu buat masalah. Hanya mendonorkan sedikit darahnya kamu sampai bicara begitu dengan Papa. Waras kamu Bhara? Dia bahkan punya hutang dengan Papa karena telah membesarkan dia, memberikan dia uang, makan dan tempat tinggal. Tapi kamu lihat sekarang, dia kabur tanpa bicara apa-apa.”
“Tidak! Bhara sudah gila! Gila jika terus menjadi anak Papa. Kami berdua akan gila! Mungkin itu sebabnya Rainy milih kabur, keputusannya tak salah, hanya mereka yang tak juga mengerti yang salah, bukan Rainy! Oh ya, Bhara juga akan menganggap semua yang Papa berikan ini hutang. Hutang yang harus Bhara lunasi suatu saat nanti.”
TUT!
Tanpa mendengar respon papa selanjutnya, Bhara langsung menekan tombol merah. Dia yang awalnya berdiri kini terduduk di lantai dan kepalanya bersandar pada pinggiran kasur.
Bara menutup wajahnya dengan lengan, ponsel sudah tergeletak diatas lantai yang dingin. Semua percakapan tadi terus terngiang di benakmu Bhara seperti radio rusak.
Bhara ingin menangis, tapi masih coba dia tahan. Perasaannya sama hancurnya dengan Rainy saat ini. Kemudian memori masa kecil sampai ia tumbuh dewasa kembali terulang dalam ingatan.
Dan alasan mengapa Bhara terus membela Rainy ketika sang papa dan ibu tirinya menyalahkan Rainy ketika Riana masuk rumah sakit. Riana jatuh dari tangga dan semua itu ulah Rainy, itu yang mereka semua percaya, tidak dengan Bhara.
Rainy telah menjelaskan masalah itu dari awal hingga akhir serta membuat Bhara bisa menyimpulkan siapa yang salah. Hanya saja mereka semua menutup telinga membuat Rainy terus menerus menjadi tersangka.
Tapi Bhara tidak tahu, karena tindakannya hari ini akan membawa masalah yang lebih besar dikehidupan Rainy selanjutnya.