Rainy

Rainy
Sakit



Hari ini hari senin, hari paling sial dibanding hari-hari lainnya dalam hidup Aksa, apalagi memikirkan nanti ia harus menepati janjinya pada adik kelas laknatnya itu. Tapi, meskipun begitu, Aksa tetap bersemangat untuk pergi ke sekolah.


Jika kalian pikir Aksa semangat karena guru dan pelajarannya, maka sangat salah. Aksa bersemangat hanya karena pagi ini, Aksa ingin berangkat bersama Rainy. Jika bisa sampai besok dan seterusnya.


Entah ada apa dengan dirinya, Aksa sendiri tidak tahu. Aksa hanya merasa senang saja saat dia bersama dengan Rainy. Mulai dari obrolan yang ngalor-ngidul sampai yang absurd pun Aksa tetap suka.


Tapi, semangat itu mendadak lenyap ketika melihat Rainy keluar dari rumahnya dengan wajah yang terlihat cukup … pucat.


“Lo sakit?” tanya Aksa.


Rainy menatapnya kemudian menggeleng, “Nggak. Gue nggak sakit.”


Aksa tidak percaya. Padahal sudah jelas sekali wajah yang biasanya cerah itu tampak lelah dan pucat, sesekali kening Rainy mengerut seolah menahan sakit di kepalanya. Dan meskipun Rainy menutupi dengan make up tipis, tapi tetap Aksa bisa melihatnya.


“Lo sakit. Gara-gara gue,” kata Aksa merasa bersalah.


Rainy menatapnya dengan datar. “Gue bilang, gue nggak sakit. Lo jangan nyalahin diri lo sendiri, karena gue juga lebih tau apa yang tubuh gue rasain.”


Aksa terkesiap, nada Rainy yang datar membuat Aksa akhirnya bungkam. Tapi tetap rasa bersalah itu membuat Aksa gelisah. Rainy sakit, dan itu karena dirinya. Karena Aksa yang memaksa pulang padahal hujan masih sangat deras.


Tapi, apa daya? Saat itu Aksa sedang tidak bisa berpikir karena apa yang dilihatnya.


Hening menemani perjalanan mereka menuju sekolah. Sepanjang jalan, Aksa tak henti-hentinya menatap Rainy lewat spion. Netra gadis itu sayu, bibir kering dan tidak merona seperti biasanya.


Ketika mereka tiba di lampu lalu lintas yang berubah menjadi warna merah, Aksa menghentikan motornya dan kali ini bisa berbicara dengan Rainy.


“Kalau lo ngerasa sakit, lo bilang gue. Jangan di tahan, sakit itu nggak enak,” kata Aksa sambil tatapannya tak lepas dari wajah Rainy yang terlihat lewat spion.


“Gue nggak sakit, Aksaa. Lo nggak percaya banget!” ujar Rainy yang terlihat cemberut.


Tentu tidak! Rainy sakit dan Aksa tidak percaya saat gadis itu bilang dirinya baik-baik saja.


“Anjayyy, gue yang sakit mata liat lo berdua!”


DUGH!


Rainy kejedot kepala Aksa … lagi, saat hendak menoleh ke arah sumber suara yang familiar di telinga mereka berdua.


“Haish … ” Rainy meringis, untung saja tak langsung mengenai kepalanya karena Rainy menggunakan helm.


Aksa menoleh terkejut, ketika tatapannya bertemu dengan tatapan meledek dari … Bagas. Sementara Rainy sendiri juga sama terkejutnya, sambil menahan pening di kepalanya, Rainy mencoba untuk biasa saja, meskipun jantungnya sudah berdebar hebat.


Padahal kan mereka harusnya biasa-biasa saja, hanya sebatas berangkat sekolah bersama di satu motor yang sama. Tidak perlu merasa terciduk seolah telah melakukan kesalahan fatal.


“Apa lo?!” tatapan Aksa berubah tajam.


Bagas sendiri masih meledek Aksa. “Woah, diem-diem lo berdua ternyata udah jalan bareng. Nggak nyangka gue, tega banget lo!” kata Bagas membuat Aksa dan Rainy mengernyit bingung.


“Tega kenapa anjir? Lo mikir apa'an dah?” Aksa yang masih bingung tak menyadari ekspresi Bagas yang berubah dan tersenyum miring.


Bagas mengeluarkan ponselnya dari saku celana, membuka aplikasi kamera dan mengangkat ponselnya untuk memfoto mereka bertiga.


Tentu Rainy panik dan Aksa menyumpahi Bagas dalam hatinya.


“Gue dapet berita yang bakalan bikin heboh kalau ke sebar. Tapi tenang, karena lo temen gue, fotonya cuma gue sebarin ke grup kita aja.”


Bagas berkata sambil mengutak-atik ponselnya sebelum dia letakkan kembali ke saku celana dan mulai melajukan motornya ketika lampu merah sudah berubah jadi warna hijau.


Aksa berdecak kesal. Memang senin tanpa kesialan itu tidak akan lengkap. Padahal masih pagi, tapi sudah di buat emosi.


“Bagas nggak bakal beneran nyebarin fotonya kan?” tanya Rainy ketika mereka hampir tiba di sekolah.


Aksa melihatnya, raut panik di antara wajah pucat Rainy. Laki-laki itu menggeleng. “Nggak bakal berani. Kalaupun beneran nyebar, gue bakal tonjok dia sampai babak belur.”


Setelah mengatakan itu, Rainy memukul pundaknya membuat Aksa mengaduh. “Nggak perlu du tonjok juga kan?”


Aksa terkekeh dan menggeleng lagi. Tadi itu Aksa hanya bercanda. Kemudian mereka menyusul Bagas, membiarkan Bagas jalan di depan sampai mereka tiba di sekolah.


Mereka bersama lagi, ketika di parkiran dan ingin ke kelas. Karena mereka sekelas, dan jelas akan memasuki kelas yang sama, Bagas merasa tidak masalah ada di antara mereka berdua.


Padahal yang Aksa inginkan, Bagas lebih dulu pergi dan tidak membuat kekesalannya bertambah. Apalagi membuat kehebohan seperti saat ini.


“Gue pap lagi ah! Kurang bagus foto yang di lampu merah tadi.”


Bagas mengeluarkan ponselnya lagi. Mulai berpose yang membuat Aksa bergidik sendiri. Mereka masih berjalan di koridor menuju tangga. Kedua tangan Bagas tak henti-hentinya mengetik di gawai bahkan membuat Bagas hampir salah arah dan menabrak tiang.


GRUP BACOTERS SQUAD


Bagas


[Mengirim pap mereka bertiga yang masih berjalan]


Perdana! Gue tiba-tiba ketemu Hujan dan Huruf di lampu merah lagi bonceng-boncengan manjahh.


Pengen di biarin tapi nggak bisa gue biarin. Hot news ini, jangan dilewati.


Dylan


Hujan dan Huruf nggak tuh [emot menangis]


Ardi


Terus, yang bikin jadi hot neyuws apa'an anjir.


Boncengan mah udah biasa. Iya kalo habis di bonceng Rainy tiba-tiba hamidun. Itu baru hot neyuws.


Dylan


Anjiir, perkara di bonceng jadi hamidun. ToT.


Di luar nurul otak lo, Ar.


Ngakak gue, sampe cepirit dikit.


Vania


AKSA! Lo berani macem-macem sama sahabat gue, gue sunat lagi lo!


Dylan


Anjir, anjir, habis dong kalau di sunat lagi.


Aduh, cape gue. Sumpah!


Alika


Sabar Vania. Orang sabar pantatnya lebar:)


Dylan


Anjing! Cukup woi! Sakit perut gue!


^^^Aksara Arkatana Diraya^^^


^^^GUE GILES OTAK LO SEMUA KALAU MIKIR YANG ANEH-ANEH.^^^


^^^NGGAK ADA BONCENG-BONCENG MANJA!^^^


***


Seperti biasa, setiap hari senin akan diadakan upacara bendera. Aksa yang biasanya memilih berdiri di barisan paling belakang kini memutuskan untuk berada di tengah.


Alasannya?


Karena ingin di dekat Rainy. Mengamati gadis yang saat ini sedang tidak sehat. Berjaga-jaga jika saja Rainy sudah tidak kuat, maka Aksa akan membantunya meskipun itu adalah tugas anak PMR dan UKS.


Aksa masih merasa bersalah tentu saja. Jika saja kemarin ia tahan untuk tetap di sana lebih lama, maka Rainy tidak akan sakit. Meskipun konsekuensinya Aksa akan terus mengeluarkan keringat dingin bahkan kebelet buang air kecil.


Tapi, ternyata Rainy berhasil bertahan sampai upacara selesai. Aksa bernapas lega setelah semua siswa-siswi dibubarkan dan diperkenankan untuk kembali ke kelas.


Aksa terus mengekori Rainy, tentunya gadis itu juga berjalan bersama dengan Vania dan Alika. Sementara Aksa bersama tiga buntutnya yang akhir-akhir ini semakin dekat dengannya.


Ardi menyenggol lengan Aksa yang tengah menatap Rainy (cukup) intens.


“Lo kenapa sih? Gue liatin dari tadi kebanyakan ngelamun sambil liatin Rainy,” tanya Ardi penasaran.


“Ditolak cintanya sama Neng Rainy?” tambah Ardi yang bercanda.


Aksa mendengus kasar. “Ngaco lo kalo ngomong!”


“Lagian tatapan lo lekat banget ngeliatin Rainy. Kek berasa Rainy bakalan ilang kalo lo nengok sebentar.”


Aksa sendiri sedang bingung. Hanya saja, rasa bersalah lebih besar dibanding perasaan lainnya. Jadi, ya Aksa merasa ia hanya merasa bersalah karena telah membuat Rainy sakit.


“Lo pernah liat hantu nggak sih?” tanya Aksa tiba-tiba.


“Hah?” itu bukan hanya suara Ardi, tapi juga suara Bagas dan Dylan yang terkejut mendengar pertanyaan Aksa.


“Ck!” decak Aksa. Teringat lagi jadinya tentang apa yang telah dilihatnya kemarin. Entah kenapa sulit sekali hilang dari ingatannya


“Kalo hantu jadi-jadian sih sering liat. Tapi kalau yang real hantu dunia ghaib belum. Jangan sampe deh, bisa kencing berdiri gue,” tutur Ardi yang mendapat pukulan di kepalanya dari Bagas.


“Gobloks sih! Terus lo kalo kencing tiap hari gimana kalo gak berdiri? Nungging?”


Aksa memutar bola matanya jengah, percuma curhat dengan tiga curut itu. Tak ada gunanya sama sekali. Mereka tiba di kelas, Rainy dan dua temannya sudah duduk lebih dulu di tempatnya masing-masing.


Sepanjang jam pelajaran pertama ini, Aksa sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya terus tertuju pada Rainy yang terlihat diam saja. Tak aktif bertanya seperti kemarin-kemarin.


Ketika jam pelajaran pertama sudah selesai dan guru yang mengajar sudah pergi, Aksa lagi-lagi bernapas dengan lega. Tapi, Aksa terkesiap saat tiba-tiba Rainy menoleh ke arah belakang, melihat Aksa yang masih terkejut.


“Jadi kan ke perpustakaannya?” tanya Rainy untuk pertama kali setelah mereka tak berbicara sejak di parkiran tadi pagi.


Aksa mengerjap, tak lama kemudian mengangguk tapi menggeleng juga. Membuat Rainy mengerutkan dahinya.


“Nggak jadi?” tanya Rainy lagi.


“Ah, bukan nggak jadi. Tapi, lo nggak papa pergi ke perpustakaan? Nggak mau ke UKS aja?”


Rainy menyipitkan kedua matanya, wajah pucat itu menampakkan kekesalan karena ucapan Aksa.


“Udah berapa kali gue bilang kalo gue nggak sakit?”


“Tapi-”


Ucapan Aksa terpotong ketika tiba-tiba Rainy berdiri dan menarik tangannya untuk membuat Aksa ikut berdiri.


“Gue mau ini cepet selesai. Biar urusan kelar dan gue tenang. Ayo!”


Aksa pasrah saja saat Rainy benar-benar menariknya untuk keluar dari kelas. Tentu saja pemandangan itu tak luput dari beberapa pasang mata yang terus mengamati interaksi mereka sejak tadi.


“Belok ke UKS aja, yuk!” ajak Aksa.


Tapi Rainy malah menatapnya tajam. “Lo mau gue tendang?” tanyanya mengancam.


Aksa lekas menggeleng dan menutup mulutnya. Bahkan sampai mereka tiba di perpustakaan, mereka belum berbicara lagi. Di sana, ternyata Aldo sudah menunggu dengan senyum lebarnya dan sebuah kamera yang menggantung di leher.


“Gue kira lo nggak bakalan dateng, Kak,” ujar Aldo tersenyum sumringah.


“Gue nggak pernah nggak nepatin janji,” kata Aksa memutar bola matanya.


Sementara Rainy memicing karena tak percaya dengan kata-kata Aksa.


“Kita langsung mulai aja, ya? Waktu istirahat kita nggak banyak, habis ini gue juga ada ulangan.”


Aksa dan Rainy kompak mengangguk. Kemudian Aldo mulai mengarahkan posisi mereka dengan pose yang cukup amanlah. Tak aneh-aneh tepat seperti perkataan Aldo tempo lalu.


Pertama, mereka berfoto di depan rak buku yang menjulang tinggi.


“Coba posisi Kak Rainy pura-pura mau ambil buku yang paling atas, terus Kak Aksa di belakang Kak Rainy buat bantuin Kak Rainy ambil buku karena Kak Rainy nggak sampe.”


“Bukunya random aja nih?” tanya Aksa yang mendapat anggukan kepala dari Aldo.


“Iya, random aja.”


Aksa mengangguk, lalu melakukan pose sesuai intruksi dari Aldo. Aksa mendekat, berdiri tepat di belakang Rainy. Membuat Aksa bisa mencium aroma shampoo Rainy yang wangi.


Tapi, berbeda dengan Aksa yang menikmati, Rainy malah merasa tegang. Pasalnya, posisinya dengan Aksa sangat dekat, bahkan mereka hampir bersentuhan.


Tangan Rainy terulur, hendak mengambil buku di bagian paling atas, kemudian di susul tangan Aksa yang hendak membantunya. Rainy merasa jantungnya berdetak kencang dan tidak normal serta lututnya terasa lemas.


Dia kenapa sih?


Tangan mereka bersentuhan, saat itu juga Aksa bisa merasakan betapa hangatnya pergelangan tangan Rainy. Membuat Aksa semakin merasa khawatir.


“Lo sakit,” ucapan Aksa dengan suara pelan.


Untuk kesekian kalinya, topik mereka hanya sebatas Aksa yang yakin Rainy sedang sakit sementara Rainy terus mengelak tebakan Aksa.


“Serius dulu,” bisik Rainy kesal.


Oke, Aksa diam. Sampai mereka Aldo menyuruh mereka untuk ganti pose.


“Nah, sekarang posisinya Kak Rainy sama Kak Aksa hadapan. Masih di tempat yang sama, tapi bedanya sekarang Kak Rainy pegang buku. Bukunya di buka, halaman berapa aja tersersh, terus Kak Rainy natap mata Kak Aksa,” kata Aldo memberi arahan.


“Kayak eye to eye gitu. Nah, tangan kanan Kak Aksa nyender di rak buku, anggap aja Kak Aksa lagi ngehadang Kak Rainy atau mau ngukung Kak Rainy, terus Kak Aksa agak nunduk, ikut natap mata Kak Rainy,” tambah Aldo.


Aksa melakukan sesuai intruksi dari Aldo. Tapi, tunggu! Kenapa rasanya berbeda dengan yang tadi?


Jika tadi Aksa merasa biasa-biasa saja, maka tidak dengan kali ini. Aksa merasa terkunci dengan tatapan Rainy dan jantungnya berdebar lebih kencang dari pada biasanya.


Sama seperti Rainy yang kembali merasa tegang. 'Bahaya ini, bahaya!' pekik Rainy dalam hatinya.


Selesai dengan posisi itu membuat Rainy dan Aksa sama-sama bernapas dengan lega. Kemudian mereka lanjut pada pose-pose berikutnya. Sampai Aksa merasakan Rainy yang terlihat semakin lemas.


Dan …


BRUGH!


Rainy terjatuh dalam pelukan Aksa, meskipun sudah tidak kuat untuk berdiri lebih lama lagi, tapi Rainy masih sadar. Masih sangat sadar untuk melihat dan mendengarkan kepanikan dari Aksa.