Rainy

Rainy
Kebohongan



Pulang sekolah, Rainy langsung bersiap untuk pergi. Berbeda dengan hari biasanya ketika pulang sekolah maka Rainy akan merebahkan dirinya di atas kasur. Lain dengan hari ini, hari pertama Rainy bekerja di cafe.


Begitu semangat Rainy mengingat bahwa dia akan bisa menghasilkan uang sendiri. Meskipun tidak sebesar uang jajan bulanannya, tapi Rainy tetap senang karena uang yang dia dapatkan nanti bukan hasil mengemis seperti yang pernah ibu tirinya katakan.


Setelah mengganti pakaian, Rainy langsung keluar dari kamar. Lebih dulu gadis itu menuju kamar sang tante, tapi bukan untuk memanggil karena Rainy tahu, tante Risa sedang tidak ada di rumah.


Tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dan membuat tante Risa khawatir, akhirnya Rainy memutuskan untuk menulis kemana dirinya pergi dan perkiraan jam pulang agar tante Risa tak khawatir di sebuah kertas memo yang akan Rainy tempelkan di depan pintu kamar tantenya.


“Maaf, Tante. Aku udah bohong, tapi aku nggak mau Tante khawatir,” gumam Rainy.


Apa yang Rainy tulis di kertas itu tak sepenuhnya jujur dan bukan berarti semuanya bohong. Rainy hanya tak menyebutkan cafe dimana dirinya bekerja, jadi Rainy menulis sedang 'melakukan tugas di rumah teman.'


Setelah itu, barulah Rainy bisa tenang dan segera keluar dari rumah. Sayangnya, ketika baru saja keluar, Rainy berpapasan dengan mama Clarissa, mamanya Aksa. Tetangga depam rumah Rainy.


“Mau kemana, Rainy?” tanya mama Clarissa.


“Mau ke rumah temen, Tante,” jawab Rainy tersenyum tipis.


Meskipun terlihat tenang, tapi dalam hatinya Rainy terus mengucapkan kata maaf.


“Oh, naik apa? Di anter Aksa aja, mau?”


“E-eh, nggak usah, Tante. Aku udah pesen ojol, bentar lagi dateng ojolnya.”


Rainy menolak sambil menggelengkan kepalanya, raut wajahnya jadi tak enak tapi mama Clarissa malah tersenyum dan mengangguk.


“Hati-hati, ya. Jangan kemaleman pulangnya,” kata mama Clarissa.


Benar apa kata Rainy, karena beberapa menit kemudian ojek online pesanannya datang. Dan membawa Rainy untuk pergi ke tempat kerjanya yang tak begitu jauh dari komplek perumahannya.


Rainy mendorong pintu kaca sampai loncengnya berbunyi. Begitu masuk, Rainy langsung di sambut oleh Azura, wajah gadis yang lebih tua dari Rainy itu tampak sumringah.


“Selamat bergabung dan selamat menjalankan tugasnya, Rainy,” ucap Azura dan beberapa karyawan lainnya.


Rainy mengucapkan terima kasih, terharu karena di sini dia tidak sendirian.


Hari itu, Rainy memakai apron yang memang di khusus untuk waitress seperti dirinya. Dengan rambut yang dikuncir kuda, Rainy tampak semangat untuk mulai bekerja di hari pertamanya.


Awalnya memang menyenangkan, tapi namanya bekerja akan merasakan lelah. Begitupun dengan Rainy. Semangat hanya di awal saja, begitu hari menjelang malam, barulah Rainy mulai merasakan lelah dan pegal-pegal. Terutama bagian kaki.


“Ternyata kerja nggak semudah yang aku pikirin ya, Kak? Salut aku sama orang yang kerja dari pagi sampe ngelembur,” ucap Rainy pada Azura yang tengah duduk sambil meluruskan kakinya.


Azura tertawa, sampai beberapa karyawan melihat ke arah mereka.


“Namanya juga kerja, kan biar dapet duit. Jadi nggak bakalan semudah kita minta sama orang tua.”


Rainy mengangguk, membenarkan ucapan Azura. Sesulit itu menghasilkan uang sendiri.


“Kamu pulang naik apa? Mau Kakak anter gak?” Azura melepas aprok miliknya, begitu juga Rainy.


“Aku pesen ojol aja, Kak.”


“Emangnya malem gini nggak susah dapet ojol?”


“Nggak kok, masih jam delapan. Aku udah pesen, kayaknya bentar lagi nyampe deh ojolnya,” kata Rainy sambil melirik ponselnya.


“Oh, ya udah, biar Kakak temenin sampe ojolnya dateng,” ucap Azura membuat Rainy berterima kasih.


Tebakan Rainy entah kenapa selalu tepat, tak sampai sepuluh menit menunggu ojek online-nya benar-benar datang. Rainy berpamitan pada Azura dan yang lainnya.


Sesampainya di rumah, ternyata tante Risa sudah menunggu kedatangannya. Begitu masuk ke dalam, tante yang tengah menonton TV langsung beranjak untuk menghampiri Rainy.


“Kok pulangnya malem banget, Ai?”


“Maaf ya, Tan. Aku agak susah dapet ojolnya,” dusta Rainy.


Dalam hatinya Rainy terus mengucapkan kata maaf, entah sampai kapan kebohongannya bisa bertahan. Tapi Rainy hanya berharap tante tidak melarangnya untuk terus bekerja. Karena Rainy memang benar-benar butuh.


“Ya udah, buruan mandi. Habis itu makan, tadi Tante udah duluan, maaf ya. Nanti Tante temenin kamu makan,” kata tante Risa sambil mengusap pucuk kepala Rainy.


Wajah khawatirnya terlihat jelas membuat Rainy merasa sangat bersalah.


“Harusnya aku yang minta maaf, Tante.”


***


Besok dan besoknya lagi, Rainy melakukan aktivitasnya seperti biasa. Pagi berangkat sekolah, pulang sekolah langsung pergi ke cafe. Bedanya, dalam dua hari itu Rainy tidak lagi pulang bersama dengan Aksa. Karena Aksa akan latihan basket sepulang sekolah selama seminggu ke depan.


Tapi, yang jadi masalah Rainy adalah tante Risa. Baru tiga hari tapi sudah membuat Rainy bingung. Alasan apalagi yang bisa Rainy pakai untuk bisa pergi ke cafe?


Tidak mungkin mengerjakan tugas, karena tante Risa tahu, tak setiap hari anak sekolah akan diberikan tugas individu maupun kelompok.


Untungnya, ini hari minggu, hari Rainy libur sekolah maupun bekerja di cafe. Rainy bisa beristirahat sepuasnya.


“Kamu hari ini nggak kemana-mana kan, Ai?” tanya tante Risa ketika Rainy tengah mencuci sepatunya.


“Nggak kok, Tante. Aku libur, emangnya kenapa?”


“Nggak papa, Tante cuma mastiin aja, takutnya kamu ke rumah temen kamu lagi,” kata tante Risa dengan nada yang membuat Rainy merasa bahwa tante sudah mencurigainya.


Rainy menelan salivanya dengan susah payah, kemudian menggelengkan kepalanya. “Aku seharian ini di rumah terus, nggak kemana-mana,” ucapnya yang kemudian mendapat anggukan dari tantenya itu.


Belum sempat ada yang mengeluarkan suara, dari luar terdengar derum mobil yang membuat Rainy dan tante Risa saling berpandangan.


“Tante ada tamu?” tanya Rainy yang dibalas gelengan oleh tante Risa.


Kemudian pintu di ketika, tante Risa bergegas pergi ke depan untuk membuka pintu, sementara Rainy mencuci tangannya setelah itu pergi menyusul tantenya.


Ketika Rainy sampai, Rainy melihat tante Risa tengah di peluk oleh seorang pria. Rainy terkejut, sampai menyadari bahwa pria yang memeluk tante Risa adalah suaminya, yang biasa Rainy panggil dengan 'om Abra'.


Rainy mundur, hendak pergi dari sana dan tidak mengganggu pasangan yang tengah melepas rindu itu. Tapi sepertinya gagal karena om Abra sudah melihat ke arahnya hingga pelukan mereka terlepas.


“Eh, Rainy, ya?”


Rainy menganggukkan kepalanya, “Iya, Om.”


“Sudah besar rupanya kamu. Kabarnya gimana?”


“Baik, Om.”


“Masuk dulu, baru lanjutin ngobrolnya di dalem. Masa ngobrol di pintu,” tutur tante Risa.


Mereka bertiga masuk ke dalam, setelah itu Rainy menyalami om Abra yang sudah sangat lama tidak bertemu dengannya.


Om Abra adalah dokter yang sedang tugas di kota lain, jadi tante Risa dan om Abra menjalani hubungan LDR, terdengar sulit tapi Rainy salut karena mereka bisa menjalaninya.


Om Abra akan pulang sebulan sekali dan berada di rumah selama tiga atau empat hari. Yang bagi Rainy itu waktu yang sangat singkat. Mungkin jika itu Rainy, ia tidak akan sanggup. Tidak bertemu selama sebulan dan hanya bisa bertemu selama tiga hari.


“Bhara gimana kabarnya? Papa kamu juga,” tanya om Abra ketika mereka sudah duduk di ruang keluarga.


Tante Risa hendak membawa koper suaminya ke dalam kamar, tapi segera Abra tahan dan mengajak tante Risa ikut duduk.


“Bang Bhara baik, dia lagi kuliah. Kalo Papa, baik juga,” mungkin, ringis Rainy dalam hatinya.


“Oh ya? Kuliah dimana sekarang?”


“Di Inggris, Om.”


“Jauh sekali, pasti kamu kesepian- Auhh!” Om Abra menjerit kesakitan ketika tante Risa tiba-tiba mencubit pahanya.


“Udah, Mas. Kamu kayak lagi interogasi Rainy tau gak?”


“Iya-iya, kan cuma nanya, Sayang.”


Tante Risa melotot mendengar kata Sayang dari mulut suaminya. Pasalnya masih ada Rainy di sini, tapi malah Rainy merasa bahagia dengan kedekatan mereka.


Setelah itu tante Risa langsung menyuruh suaminya untuk membersihkan diri, dan tante akan membuat makan siang. Sementara Rainy melanjutkan kegiatan mencuci sepatunya.


***


“Mas,” panggil Risa.


“Hm?” Abra mengulum senyum, menatap Risa yang tengah berjalan ke arahnya setelah mengunci pinru.


Kemudian dia merentangkan tangan, membuat Risa mendekat dan memeluknya.


“Kangen,” Abra berbisik di telinga istrinya.


“Kangennya bisa nanti dulu, nggak? Aku mau minta tolong sama kamu.”


Karena Abra merasa ini agak serius, jadi Abra menyuruh Risa untuk duduk di pinggiran kasur. Mereka saling berhadapan.


“Mau ngomong apa?”


“Kamu bisa bicara sama Mas Hamza nggak? Atau sama Bhara juga nggak papa, soal Rainy.”


Hamza adalah ayahnya Bhara dan Rainy, kakak ipar Risa dulunya, sebelum ibunya Rainy meninggal dunia.


“Bicara apa?”


“Apa mereka punya masalah keuangan, sama kasih tau kalau sekarang Rainy kerja setiap dia pulang sekolah. Bukan maksud aku ikut campur, tapi aku kasihan ke Rainy, dia harusnya istirahat atau seneng-seneng sama temennya, bukan malah kerja buat dapet uang,” kata Risa membuat Abra terkejut.


“Rainy kerja? Kerja apa?”


“Di cafe,” ucap Risa sambil mengingat kembali dari mana dirinya tahu.


Kemarin, di hari ketika Rainy akan pulang malam, Risa memang sudah mulai curiga. Dua malam berturut-turut Rainy pulang di jam yang sama, dan ini kali ketiga Rainy meminta izinnya dengan alasan yang berbeda.


Kebetulan hari itu Risa tidak kemana-mana dan kembali menemukan memo tempel di pintu kamarnya, meskipun agak curiga, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena tidak tahu pasti dimana posisi Rainy, sampai ketika Risa pergi untuk belanja di supermarket. Ketika akan pulang, Risa terkejut melihat Rainy sedang membuang sampah dengan memakai apron.


Firasatnya sudah tidak enak, jadi Risa langsung menuju cafe yang berada tak jauh dari tempatnya belanja. Tak ada lagi Rainy karena sudah masuk ke dalam pintu itu, dan tak ingin membuat keponakannya terkejut melihatnya, jadi Risa lebih memilih bertanya pada salah satu orang yang juga memakai apron sama seperti Rainy.


“Maaf, Dek, bisa saya minta waktunya sebentar?”


“Bisa, Bu. Azura, panggil Azura saja,” kata perempuan itu.


Risa tersenyum dan mengangguk. “Baik, Azura, ada yang mau saya tanyakan.”


“Silakan, Bu.”


“Kamu kenal dengan gadis yang barusan buang sampah? Dia kerja di sini? Sebagai apa?”


“Dia Rainy, Bu. Iya, memang kerja di sini baru tiga hari ini. Rainy kerja jadi waitress di sini, kebetulan dia lagi butuh uang katanya. Emang kenapa, Bu?”


“Oh enggak, saya cuma ngerasa nggak asing sama wajahnya,” kata Risa yang dipercayai oleh Azura.


Abra terdiam mendengar cerita istrinya, kemudian menganggukkan kepalanya sambil mengusap punggung Risa yang terlihat sangat khawatir.


“Nanti Mas coba hubungi salah satu dari mereka.”