
Rainy dan Aksa saling berpandangan dengan wajah yang sama paniknya. Meskipun foto yang Bagas kirim itu blur, alias tidak jelas. Tapi Rainy dan Aksa tahu, kalau yang ada di foto itu adalah mereka berdua.
“Anjir! Kok bisa ada fotonya sih?” Aksa mengerang sambil mengacak-acak rambutnya hingga berantakan.
Rainy menggigit kuku jarinya. “Kalau ada yang tau itu kita gimana? Kalau semisal fotonya di viralin gimana? Gue nggak mau sampai dikeluarin dari sekolah.”
Pikiran-pikiran buruk itu memenuhi kepala Rainy sampai membuatnya hampir menangis. Tapi Aksa memegang pundaknya supaya Rainy melihat ke arah Aksa dan mengatakan kata-kata yang belum bisa menenangkan Rainy.
“Nggak bakal di viralin. Fotonya blur, pasti Bagas juga belum tau kalau itu kita. Lagian itu kejadian nggak sengaja, bibir kita cuma nempel beberapa detik, malah kayaknya nggak sampai lima detik. Ingat! Nggak sengaja, itu cuma nempel, kita juga nggak cup-cup beneran.”
Bukannya tenang, Rainy malah memukul mulut Aksa dengan perasaan kesal.
“Mulut lo! Kalau ada yang denger gimana?”
“Perpustakaan sepi!” kata Aksa meringis, sambil mengusap mulutnya yang dipukul Rainy.
“Tapi suara lo keras! Bisa-bisa ada yang dengar walaupun sepi!”
“Palingan cuma guru pengawas.”
“Itu lebih bahaya, Aksaaa!” Rainy geram.
“Kita tanyain Bagas aja, dia dapet dari mana fotonya. Nanti kita cari orang yang punya foto selain Bagas biar di hapus,” kata Aksa yang membuat Rainy akhirnya menganggukkan kepala.
Rainy dan Aksa memutuskan untuk pergi dari perpustakaan saat itu juga. Mereka melangkah dengan agak cepat sampai Rainy merasa kakinya sedikit lemas. Napasnya pun ngos-ngosan karena jarak perpustakaan dan kelas cukup jauh. Apalagi harus menaiki tangga.
Aksa melihat Bagas sedang duduk di bangkunya, sambil bermain ponsel dan memakai headset. Lekas Aksa menghampiri Bagas diikuti oleh Rainy. Bagas belum menyadari keberadaan mereka berdua, jika saja Aksa tidak mengambil ponselnya dan Rainy yang melepas headset dari telinganya, mungkin Bagas tidak akan terlonjak seperti sekarang.
“Woy—”
“Shhttt.” Aksa menutup mulut Bagas dengan sebelah tangannya.
Bagas melotot. “Leo afwa-afwaan swihh??” tanya Bagas dengan mulut yang masih ditutupi oleh tangan Aksa.
“Anjirr, ludah lo nempel,” kata Aksa refleks mendorong mulut Bagas sampai kepala Bagas terhuyung ke belakang.
Aksa menggosok-gosok telapak tangannya pada seragam Bagas. Sementara Bagas mendengus sendiri melihat kelakuan temannya yang satu ini.
Rainy tertawa, melihat tangan Aksa yang mungkin saja akan bau— karena terkena air liur Bagas, Rainy berinisiatif mengambil parfum dari tasnya dan memberikannya pada Aksa.
“Biar tangan lo nggak bau,” kata Rainy.
Bagas mendengus lagi. “Lagian salah siapa coba nutupin mulut gue?”
“Itu karena lo pasti mau teriak!” kata Aksa berdecak keras.
Setelah menyemprotkan parfum pada telapak tangannya, Aksa mengembalikan botol parfum itu pada Rainy. Aromanya masuk ke indra penciuman Aksa, yang mana wanginya terasa manis dan segar tapi tidak menusuk hidungnya.
“Gue mau teriak karena gue kaget! Siapa coba yang nggak kaget waktu lagi enak-enak main hp tiba-tiba hp-nya diambil?”
Aksa melirik sinis. “Lo kek cewek, nggak mau di salahin. Nge-bacot terus,” katanya.
“Karena gue nggak salah, lo yang salah,” balas Bagas.
Aksa semakin sinis, tapi Bagas tak kalah sinis. Rainy sampai menggeleng melihat dua laki-laki itu. Setelah meletakkan parfumnya kembali dan Rainy duduk di kursinya. Berhadapan dengan Bagas dan Aksa yang juga mencari tempat duduk.
“Kalo udah selesai debatnya, sekarang kita ngobrol. Ada yang mau gue sama Aksa tanyain ke lo,” Rainy menunjuk Bagas.
“Gue?” Bagas menunjuk dirinya sendiri.
“Iya. Soal foto yang lo kirim ke grup baru itu,” ujar Aksa.
“Ohhh, emang kenapa sama fotonya?” tanya Bagas.
“Lo dapet dari mana foto itu?” tanya Aksa balik.
Bagas memicingkan matanya, menatap Aksa dengan heran.
“Buat apa lo tau?”
“Jawab aja elah,” Aksa berdecak.
“Kenapa? Oohhh, atau jangan-jangan yang orang yang ada di foto itu lo berdua?”
Deg!
Aksa dan Rainy saling pandang dengan sedikit panik. Tapi, cepat-cepat Aksa menetralkan raut wajahnya dengan melotot ke arah Bagas.
“Ngaco lo! Bukan lah, gue cuma nanya!”
“Kirain. Biasa aja dong!” Bagas melirik Aksa sinis kemudian melanjutkan, “Eh, tapi, emang orang yang ada di foto itu agak mirip lo. Walaupun blur, tapi kan warna tasnya keliatan. Sama kayak lo juga, terus warna tas ceweknya mirip sama … ”
Bola mata Bagas melirik-lirik ke arah depan. Jantung Rainy rasanya hampir copot ketika Bagas melihat ke arah tasnya yang berwarna abu-abu. Lalu menunjuknya.
“Nah nah, itu tuh, tas ceweknya mirip kayak punya Rainy. Abu-abu,” kata Bagas. Lalu, “Tunggu-tunggu, atau jangan-jangan nggak lain dan nggak bukan itu lo berdua? Iya kan? Yang ci***an di bawah tangga itu lo ber—”
Plak!
“Anjing!”
Bagas mengumpat, ketika bibirnya tiba-tiba di tabok Aksa. Bahkan suaranya terdengar nyaring sampai beberapa siswa melirik ke arah mereka. Tapi, Lebih dari itu Bagas merasa bibirnya berkedut dan terasa perih karena tabokan Aksa benar-benar keras.
“Mulut lo!”
“Nggak perlu nabok juga AkSu, lo pikir bibirnya gue di templokin sama nyamuk??” kata Bagas kesal.
“Makanya lo nggak usah nuduh-nuduh orang sembarangan.”
“Apanya yang nuduh semb—”
“Mendingan lo diem! Terus kasih tau kita siapa yang kirimin lo foto itu?”
Tidak mau kena tabok lagi, Bagas pun menjawab pertanyaan Aksa. “Adek kelas.”
“Namanya? Kelas berapa?” tanya Aksa.
“Aldo, sepuluh IPA empat,” Bagas menjawab dengan malas.
Aksa mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Rencananya, setelah pulang sekolah nanti, Aksa dan Rainy akan mencari adik kelas itu dan memintanya untuk menghapus foto itu.
Meskipun agak curiga, tapi Bagas tidak bertanya apa-apa lagi, alasannya cuma karena ingin menyelamatkan bibirnya dan anggota tubuhnya yang lain dari tangan lemas Aksa.
***
Sekarang waktunya istirahat, dan mereka bertujuh kembali duduk di satu meja yang sama. Siapa lagi kalau bukan Rainy, yang duduk sebaris dengan Aksa meskipun agak sedikit jauh. Lalu Alika dan Vania di kursi yang ada di samping Rainy, serta tiga buntut Aksa alias Bagas, Dylan dan Ardi yang duduk berhadapan dengan Rainy dan Aksa.
Suasana di kantin itu berisik, tapi lain halnya dengan meja yang di huni tujuh orang itu. Meskipun beberapa dari mereka tengah menikmati makanan pengganjal lapar, tapi suasananya benar-benar berbeda membuat mereka yang tengah makan sedikit sulit menelan makanannya.
Bagaimana tidak? Aksa tengah menatap ketiga temannya dengan tatapan tajam. Kedua tangan bersedekap di depan dadanya, entah apa salah mereka, mereka sendiri tidak ada yang tahu.
“Lo kenapa sih, Sa?” Ardi menjadi yang pertama bersuara.
“Hm?” Aksa menyahut.
“Ham hem ham hem, lo bikin kita kayak orang yang lagi di interogasi tau gak?” kata Ardi.
Bagas di sampingnya mengangguk setuju, “Gue mau makan aja sampe susah nelennya. Ini gimana kalau gue keselek pentol gara-gara lo pelototin terus?”
“Tau tuh, padahal kita udah kasih lo ruang buat duduk sebelahan sama Rainy, sampe kita bertiga sempit-sempitan di kursi ini.”
“Lah goblok! Malah di omongin lagi anjrit,” ucap Bagas.
“Oh, maksud lo bertiga pengen gue deket-deket sama nih anak ujan?” kata Aksa.
Kepalanya mengangguk, satu tangannya menunjuk Rainy yang kaget namanya di sebut-sebut. Kemudian tangan Aksa semakin maju sampai menyentuh pipi Rainy dan kembali menunjuk-nunjuk.
“Anak ujan pala lo,” dengus Rainy sambil menepis tangan Aksa.
“Salah siapa nama lo Rainy, Rainy kan artinya hujan,” Aksa terkekeh, niatnya ingin menunjuk pipi Rainy lagi tapi tidak jadi karena Rainy lebih dulu menabok tangannya.
“Si anjir, gue kira marah beneran,” Bagas menggerutu, tapi Aksa masih bisa dengar.
“Eh, itu Mak Lampir ngapain jalan ke arah sini?” kata Vania.
Mereka semua yang ada di meja itu lantas menoleh ke arah yang Vania tunjuk. Rainy menggaruk pelipisnya ketika sadar siapa yang di sebut mak lampir.
“Maksud lo Wina sana Widya?” tanya Rainy.
“Iyalah, siapa lagi?” sahut Alika.
“Ngapa di panggil mak Lampir? Perasaan kagak ada mirip-miripnya sama mak Lampir.” Dylan bertanya dengan bingung.
“Nggak tau sih, tapi mungkin karena tingkah lakunya yang mirip mak Lampir.” Vania meringis.
“Pasti mau nyamperin Aksa nih. Udah bisa nebak gue,” kata Ardi yang terkekeh, apalagi ketika melihat Aksa yang langsung menunjukkan raut wajah tak suka.
“Eh, iya beneran ke sini,” seru Bagas.
Baru di bicarakan, dua gadis itu langsung menghampiri meja Rainy dan teman-temannya. Sambil membawa nampan berisi makanan, keduanya tersenyum dan meletakkan nampan itu ke atas meja.
“Boleh gabung nggak? Meja lain penuh, kita nggak kebagian,” kata Widya tersenyum manis sampai membuat Rainy mual melihatnya.
“Lo nggak liat kursi di sini juga penuh?” ucap Rainy, menunjuk kursi yang memang hanya ada tiga. Dan itu sudah ditempati semua.
“Masih muat kok. Gue duduk di deket Aksa, terus Wina duduk bareng Vania.” Widya berkata sambil mendudukkan dirinya di dekat Aksa, tanpa persetujuan dari orang-orang di sana.
Karena Aksa duduk agak ujung, jadi Aksa bersentuhan dengan Widya, membuat cowok itu akhirnya menggeser tubuhnya untuk menjauh dengan tatapan kesal. Tapi, bergesernya Aksa membuatnya lebih dekat dengan Rainy.
“Ngapain sih lo geser-geser?” Mata Rainy mendelik tajam.
“Tempat lo masih lebar,” kata Aksa.
Dibilang begitu, Rainy jadi ikut geser lagi supaya agak berjarak dengan Aksa. Tapi, Widya yang melihat itupun ikut bergeser, semakin mendekat ke arah Aksa.
“Ngapain lo ikut geser anjir?” Aksa menatap Widya dengan dingin.
“Karena lo juga geser,” ujar Widya.
Aksa berdecak kesal, kemudian ia kembali membuat tubuhnya semakin dekat dengan Rainy. Tentu saja yang ada di ujung semakin kesal. Rainy meletakkan sendoknya setelah menyuapkan seblak ke dalam mulut.
“Gue udah di ujung, jangan geser lagi dong!”
Rainy mencoba untuk agak bergeser sedikit. Benar-benar sudah di ujung, jika mereka bergeser lagi mungkin Rainy akan terjatuh. Sementara itu, teman-teman Aksa dan Rainy hanya bisa menggeleng.
“Kalau kalian jatuh, Aksa bakal menang banyak,” ucap Dylan membuat yang lain tertawa.
Aksa menatap Dylan tajam. Menyadari Widya yang geser lagi dan lengannya menyentuh lengan Aksa tanpa sadar membuat Aksa ikut bergeser. Tentu Aksa jadi bersentuhan dengan Rainy, membuat gadis itu tersentak dan refleks menggeserkan tubuhnya yang memang sudah di ujung.
Vania yang melihat Rainy pun panik, “Eh, Rainy jangan geser lagi, nanti lo jat–”
Brak!!
Brugh!!!
Kursi yang berat sebelah jadi terangkat miring. Dikarenakan Widya yang masih terus bergeser tanpa melihat kondisi Rainy hingga membuat Aksa ikut-ikutan. Rainy yang tidak memiliki tempat lagi itu pun terhuyung ke samping.
“Aaaa … ” Rainy berteriak sambil menarik lengan Aksa untuk dijadikan pegangan.
Tapi naas, tubuh Aksa pun ikut terhuyung karena memang kursi sudah terangkat sebelah. Rainy jadi orang yang paling menderita di sini. Setelah menarik lengan Aksa dan gagal, Aksa ikut terjatuh dan menimpanya kemudian di ikuti Widya yang juga terjatuh.
“Anj-” umpat Aksa yang berusaha menahan tubuhnya supaya tidak benar-benar menimpa Rainy.
Sementara itu, teman-teman Aksa yang memang lucknut itu malah tertawa. Dan tentunya kejadian itu dilihat hampir semua siswa-siswi yang datang ke kantin.
“Rainy!” Alika dan Vania panik, mereka berdiri dari duduknya dan tanpa diduga, Wina yang duduk di ujung ikutan terjatuh karena beban kursi yang tidak seimbang. Alias berat sebelah.
Brugh!
“Woi, Anjing,” Wina berteriak. Merasakan pantatnya yang nyeri.
“Lo, Widya, bangun anjir. Gue mau berdiri,” ucap Aksa dengan nada kesal.
“Apanya tuh yang mau berdiri,” sahut Bagas dengan pikiran anehnya, tentu saja setelah itu ia mendapatkan pelototan dari Aksa.
Widya yang menimpa Aksa itu pun menggeleng, “Gak mau, kalau gue bangun gue nggak bisa peluk lo.”
Rainy menatap Widya tak percaya, dirinya tengah mati-matian menahan tubuh Aksa yang berat di tambah malah mendengar ucapan Widya yang … “Anjir lah, lo gila? Nggak liat gue udah mau mati ditimpa kalian berdua? Bangun nggak lo!” ucapnya dengan agak berteriak.
Alika yang panik itu membantu Wina bangun lebih dulu, sementara Vania pergi ke tempat Rainy dan mencoba menarik tubuh Widya yang malah mencari kesempatan dalam kesengsaraan orang lain.
“Minggir Widyol, temen gue kesakitan itu,” katanya sambil menarik Widya yang menolak berdiri.
Ardi dan dua temannya masih tertawa, tapi tetap membantu dengan mengangkat kursi panjang yang sudah terbalik. Kemudian Dylan ikut membantu Vania dan menarik Widya supaya berdiri dari tubuh Aksa.
“Bangun bego! Nggak tahan lagi gue! Lo mau gue patah tulang hah??” teriak Aksa pada Widya.
Itu hanya ancaman, karena Aksa tidak benar-benar merasa terlalu berat, tapi karena posisinya dengan Rainy yang amat sangat tidak baik, membuatnya takut akan benar-benar menimpa Rainy.
“Anjirr, nggak tahan lagi katanya,” celetuk Bagas.
“Gue sumpel mulut lo pake mangkok kalo nggak mau diem,” ancam Aksa pada Bagas.
Setelah berhasil menarik tubuh Widya sampai gadis itu kesal, akhirnya Aksa bisa berdiri dan bernapas dengan lega. Rainy yang telentang itu pun dibantu berdiri oleh Alika.
“Lo nggak papa? Ada yang sakit nggak?” tanya Alika khawatir sambil memeriksa bagian tubuh Rainy, takut ada yang terluka.
“Gue nggak papa, cuma agak pusing aja karena kejedot lantai tadi,” Rainy meringis.
Kemudian Rainy melihat Widya dengan tatapan tajam. “Gue udah bilang jangan geser-geser lagi! Lo kenapa batu banget sih?”
Widya memutar bola matanya. Tidak terlihat rasa bersalah sama sekali di wajahnya itu membuat Rainy rasanya ingin mencakar wajah Widya dan menjambak rambutnya.
“Serah gue lah, ngapain gue nurutin lo?” ucap Widya sinis.
Rainy tersulut emosi, “Lo-” tubuhnya maju, hendak menyerang Widya tapi langsung ditahan oleh Aksa.
Cowok itu memegang kedua pundak Rainy sambil mengatakan, “Kalau lo mau masuk BK nggak bakal gue halangi. Tapi, bukannya lo bilang lo nggak pernah punya kasus?”
Ucapan Aksa menyadarkan Rainy, gadis itu lantas mendengus kasar dan segera pergi dari kantin setelah menitipkan uang pada Vania. Tatapannya tajam ketika melewati Widya.
Ketika Vania dan Alika hendak menyusul, Aksa pun menghalangi. “Biar gue aja, kalian bisa lanjut makan. Bentar lagi udah mau bel.”
Aksa pun pergi setelah mengatakan itu. Widya yang melihat tentu memanggil Aksa. “Aksa! Gue ikut,” katanya.
“Diem anjir, lo nggak malu udah bikin heboh di sini? Mau nambah masalah lo?”